Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Dandelion Field




Dandelion Field


MATAHARI TELAH MELEWATI puncaknya. Lyria, Mkalea, Alanon, dan Zanesha sampai di Dandelidune, surga bagi bunga-bunga putih halus untuk tumbuh dan menyebarkan kelopaknya. Zanesha bersin, tetapi karena keberadaan Alanon, alergi gadis Werewolf itu segera teratasi.


Sembari berjalan beriringan dengan timnya, Lyria menatap langit dengan pemandangan yang tidak bisa dilihat di belahan benua manam pun. Langit cerah Dandelidune, langit berawan dan berubang Hollowind, dan langit kecokelatan berpasir Windune.


“Ah, tempat ini mengingatkanku ketika aku dan Grey kabur dari rumah. Aku jadi merindukan Grey,” ucap Lyria kala ia melihat kuil pagoda di tengah ladang bunga dandelion.


Zanesha mengorek kantongnya. “Siapa itu Grey?”


“Adik laki-lakiku. Dia anak yang penakut, pemalu, dan selalu mengikutiku. Aku sempat takut kalau dia tidak punya teman karena selalu bersamaku, tapi dia bilang tidak apa.” Lyria tersenyum. “Toh, dia juga suka membantuku ketika sedang melakukan eksperimen.”


Alanon menyeringai. “Adikmu pasti sama pendeknya sepertimu.”


“Dia tidak pendek. Tingginya kira-kira 150cm, sedikit lebih pendek dari Zane. Berbeda denganku yang gennya condong ke Dwarf seperti Ayah, gen Grey condong ke Wizard seperti Ibu. Makanya punya tubuh yang tinggi.”


Lyria menghela napas. “Dia sangat pandai menggunakan sihir, berbeda denganku yang harus menggunakan evolblaster untuk mengendalikan sihir. Jika aku tidak menggunakan evolblaster, maka sihirku akan meledak dan melukaiku. Berbeda denganku juga, anak itu pengendali sihir api. Kata Ayah, sihir api itu berasal darinya. Aku sampai sekarang sebenarnya tidak yakin karena belum pernah Ayah menggunakan sihir.”


Lyria kembali menghela napas. “Aku sangat iri kepadanya dan dia malah bilang, ‘Aku tidak suka sihir. Aku lebih suka teknologi seperti kakak’. Padahal, dia bodoh dalam teknologi, tapi tetap ingin mengikuti jejakku. Saat ia mendapatkan tongkat sihirnya, ia meminta ayah dan aku untuk membantunya mereka-reka tongkat itu agar bisa berubah menjadi senjata. Aku dan ayah membantunya, membuat tongkat itu bisa berubah menjadi halberd ketika ia mengalirkan sihir ke tongkat itu. Halberd itu keren, dan entah kenapa aku jadi iri lagi kepadanya.”


Alanon tertawa kencang. “Malang sekali nasibmu, Bocah Ajaib”


Lyria pun menendang tulang kering Alanon lantas menjauhinya.


Angin berembus, membawa kelopak-kelopak dandelion ke angkasa. Vera dan Sol berkejar-kejaran. Mereka terus berjalan hingga sebuah kuil pagoda dengan patung lelaki berjubah longgar di depannya terlihat.


“Mengapa kuil itu ada di tempat sepi seperti ini? Siapa sosok patung itu?” tanya Mikalea.


“Beliau adalah Baro, pahlawan yang menyelamatkan Windville dari kehancuran. Dia juga sosok yang kukagumi.” Lyria tersenyum. “Pada awalnya, Windville adalah padang rumput berbahaya dengan puluhan tornado raksasa yang terus berputar dan menghancurkan semua hal yang dilewatinya. Namun, setelah Baro datang, semua tornado itu ia masukkan ke kotak kaca dan menjadi inti dari perkembangan Windville.


“Kau sendiri lihat, kan, menara yang ada di Windcluster? Itu tempat di mana kotak itu berada dan dijaga oleh keturunan Baro secara langsung.”


“Lalu, apa bunga raksasa yang ada di sana?” Zanesha menunjuk bunga dandelion raksasa yang tumbuh di tengah padang. “Apa itu bangunan juga?”


“Itu adalah monster yang menjaga tempat ini, Dandendondendandendondendan. Namanya panjang dan tidak ada yang boleh mengejanya dengan salah jika tidak ingin monster itu menyerang. Meskipun kau mengatakannya di dalam hati, monster itu akan tahu jika—”


Tanah di bawah kaki keempat siswa Maple Academy itu tiba-tiba bergetar. Monster raksasa bertubuh putih dan bulat mencuat dari tanah. Bunga dandelion raksasa yang mereka lihat mengeras dan berubah menjadi tanduk monster hijau pucat itu. Di saat yang sama, puluhan monster dengan ciri sama, tetapi bertubuh lebih kecil juga muncul.


“Oh, tidak.” Lyria mengeluarkan evolblaster dari grimoire-nya. “Sudah kubilang, kan, jangan mengeja namanya dengan salah? Kalian pikir aku hanya bergurau?”


Lyria membalikkan badan dan berlari. Zanesha dan Alanon yang tertegun melihat monster itu membalikkan badan, kemudian ikut berlari di samping Lyria. Mikalea melebarkan sayap pedangnya dan terbang membawa Alanon yang tertinggal jauh dari kedua gadis itu.


Lyria menembakkan sihir anginnya ke monster dandelion kecil yang menghalangi jalan. Urat kepalanya muncul. Langkahnya sempat terhenti kala monster raksasa di tengah padang melompat.


Alanon mengikat monster yang berniat menyerang Zanesha dari samping. “Aku juga tidak mengeja nama monster itu dengan salah, Kucing! Aku juga berani bersumpah!”


“Itu adalah salahku. Maaf,” aku Mikalea.


Sekumpulan monster dandelion kecil berada di jalan Lyria. Gadis itu mengubah mode tembak evolblaster-nya dan mengempaskan puluhan monster.


Alanon berdecak. “Ternyata seorang Mikalea saja bisa salah.”


“Aku tidak peduli siapa yang salah di sini! Yang jelas, kita harus cepat-cepat pergi dari sini!”


Monster dandelion raksasa kembali melompat, membuat langkah Lyria dan Zanesha kembali terhenti. Monster-monster dandelion kecil memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang. Namun, Vera berhasil menahan mereka dengan perisai angin.


Mikalea menjatuhkan Alanon ke tengah-tengah kedua gadis itu, lantas terbang menukik, mengalahkan monster-monster yang ada di sekitar mereka.


“Zane, bawalah Alanon. Lyria, lindungi mereka. Aku akan membukakan jalan bagi kalian menuju Hollowind.”


Fallen Angel itu langsung memelesat ke kerumunan monster sebelum Alanon dan Zanesha melayangkan protes. Mereka berdua mengembuskan napas. Zanesha mengangkat tubuh Alanon. Lyria tersenyum simpul. Mereka pun berlari di jalan yang dibersihkan Mikalea.


“Tubuhmu berat, Hijau!”


“Aku juga benci diangkat seperti karung olehmu, Kucing. Harga diriku mau dikemanakan?”


“Memangnya kau punya harga diri?” Zanesha membuang muka. “Lagi pula, kenapa, sih, salah satu dari kalian tidak melakukan kontrak dengan hewan yang bisa dinaiki?”


“Harusnya aku yang bilang seperti itu kepadamu, Kucing! Kenapa kau tidak mempunyai hewan kontrak? Enak saja kau menyalahkan orang! Kalau saja kau punya hewan kontrak yang bisa ditunggangi, kita pasti tidak akan kelelahan seperti ini!”


Lyria mengarahkan evolblaster ke monster-monster di samping mereka sembari berlari. Vera melindungi Lyria dari serangan Dandendondendandendondendan dari belakang.


“Kalian berdua, bisa tidak diam dulu di saat-saat seperti ini? Telingaku sakit mendengar kalian bertengkar!”


Mereka pun membisu setelah mendengar bentakkan Lyria. Zanesha kembali fokus dan Alanon pasrah digendong oleh Zanesha.


“Kapan serangan-serangan ini akan berakhir?” gumam Lyria kesal.


Setelah sampai di Hollowind, monster-monster itu tidak akan menyerang, Nona, jelas Vera.


“Aku tahu itu, jangan mengajariku di saat genting begini!”