Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Uninvited Guest for Betelgeuse - 5




5


TIDAK ADA KEJADIAN ditangkap kesatria sihir saat tertidur. Tidak pula kekhawatiran-kekhawatiran yang lain. Uang yang dibawa Kannika masih aman. Bulu Betelgeuse masih tersimpan di saku dalam Akkadia, meski awalnya Galavidi yang ditunjuk untuk menyimpannya dan berujung penolakan. Tim Charming menyadari itu sebagai keanehan yang betulan.


“Aku tidak mengerti.” Sam menghela napas dalam-dalam memenuhi dadanya yang sesak.


Galavidi mengangguk. Dia juga tidak paham. Dalam beberapa detik saja rangkaian kejadian muncul satu per satu, menjadi kejutan tanpa jawaban. Seandainya Kannika benar-benar mencuri seperti tuduhan yang dilemparkan, kejar-kejaran dengan kesatria sihir tidak perlu sedrama itu. Akan tetapi, seandainya pelaku pencurian yang diceritakan bukan Kannika—dan mereka benar-benar mengetahuinya—maka permainan buronan tidak perlu terjadi.


Namun, ada yang lebih penting. “Tidak peduli situasi yang sebenarnya, apa pun motif kejadian ini, kita benar-benar merasa diteror. Ini bagaikan pukulan telak. Kita tidak bisa melakukan apa-apa meski tau akan dipermainkan,” ujar Galavidi.


Kannika mencerna. “Namun … ketika tuduhan dilayangkan dan wajah sudah diketahui oleh masyarakat, aku akan dikucilkan. Diskriminasi penjahat di Autumnland sangat buruk. Kesatria sihir mendapat laporan lalu mencari buronan. Bukankah ada seseorang yang menjaga gerbang masuk kota? Mereka bisa menjadi saksi tambahan kalau aku datang bersama kalian jauh setelah pencurian itu terjadi.”


Galavidi melotot. “Tidak pernah ada diskriminasi kepada siapa pun di Autumnland.”


“Kamu tau dari mana informasi ini?” Akkadia menaruh curiga.


“Sam yang mengatakannya.” Jawaban Kannika membuat yang lain menoleh ke arah Sam.


“Memang benar, Galavidi yang mengatakannya kepadaku.”


“Aku?” Galavidi terkejut bukan kepalang. “Kapan?”


Ketimbang mengintimidasi, tatapan Sam lebih ke tujuan mengamati dan menerka-nerka. “Kamu benar-benar tidak ingat saat kita menunggu Kannika dan Akkadia datang? Meski aku pelupa, tapi kejadian ini masih melekat di otakku. Kamu menceritakan Autumnland dan aku melanjutkan ceritanya ke Kannika karena Akkadia asyik melihat ikan di kolam air mancur.”


“Saat di kolam air mancur, aku bertemu dengan Galavidi yang keluar dari toilet umum,” kata Akkadia.


Galavidi memijat kepalanya. “Aku mengalami sakit perut yang parah dan akhirnya mendekam di toilet cukup lama.”


“Namun, kamu datang lima menit setelah itu, lalu kannika dan Akkadia terlihat saling membopong.” Sam berucap sangat yakin.


“Tidak ada yang berpura-pura menjadi kita, ‘kan?” celetuk Akkadia.


Samar-samar, wajah setiap anggota terlihat saling mencurigai. Alih-alih menemukan penyelesaian, mereka lebih berkecamuk dengan pemikiran masing-masing. Meski gemerisik angin di pohon rimbun tempat mereka berteduh sedikit berisik. Meski kecipak air dari ikan-ikan berekor warna-warni di kolam air mancur terdengar menarik. Meski air mancurnya tidak kalah seperti gemercik hujan yang menenangkan. Meski menara jam berdentang sebagai pertanda matahari telah sampai puncaknya. Dan bahkan dengan kolaborasi suasana seindah itu, mereka tetap bergeming. Enggan menuduh dan enggan menanggapi.


Mata Sam bergerak ke setiap wajah. Tidak ada yang aneh dan berbeda. Mereka tidak menyangka misi sesimpel itu berubah seserius ini. Benar atau tidak, tim Charming selalu berani dalam hal beropini. Mereka jauh dari kata tim yang ceroboh. Sejak awal, mereka adalah kombinasi yang terbaik meski cekcok sering terjadi.


“Baiklah, kita akan memasukkan kemungkinan itu.” Kupluk jubah dan tangan kanannya menutup rambut dan salah satu mata Galavidi, juga tatapan yang intens itu menunjukkan betapa seriusnya dia terhadap masalah ini. “Namun, sekarang aku tidak bisa memercayai siapa pun.”


Penyihir itu terpejam setelah meraup wajahnya dan bersandar di pohon. Kesadarannya lenyap seiring cahaya di pelupuk matanya menghilang, lalu muncul kembali dengan aroma bunga mawar yang menyengat. Galavidi merasakan keganjilan. Anis tidak mendengar panggilannya. Meski begitu, dia cukup yakin kakinya menapaki tanah basah. Dia berjalan tanpa pelita. Tidak apa, dia sudah terbiasa. Sesekali Galavidi berteriak memanggil nama-nama yang diingatnya, mulai dari kepala sekolah, guru-guru, dan siswa-siswi Maple Academy. Tidak ada jawaban. Sebenarnya apa yang Galavidi harapkan meski tahu pendengarannya hanya dipenuhi suara jeram?


“Aku tau yang paling kamu butuhkan saat ini.”


Suara itu terdengar berbisik tepat di telinganya. Galavidi terkejut dan satu-satunya pertanyaan yang muncul di kepalanya dilimpahkan bersama ocehan, “Siapa?”


“Menyenangkan upilmu!”


“Aduh. Aduh. Aku terluka, lho kalau kamu bicara kasar begitu. Padahal kedatanganku ini murni membantu.” Suara itu berpindah ke telinga kanannya.


Galavidi menebas acak menggunakan wand of two characters-nya, tetapi wujud fisik yang diharapkan tidak ada. Itu berarti dugaan penculikan yang sempat terpikirkan adalah salah, walau dia sendiri meragukannya. Galavidi  mulai mengerti, tetapi sebelum mengatakan sesuatu, suara itu mencibir. “Wah, kamu telat menyadari kalau ini bukan kenyataan. Ternyata kamu bodoh, lho.”


Kasar. Ucapannya terlalu blak-blakan. Oleh karena itu, Galavidi tidak perlu menahan diri. “Hei! Aku—”


“Apa?” Tawa itu terdengar kembali setelah memotong perkataan seenaknya. “Sudahlah, kamu mau mendengar sebuah dongeng? Aku pendongeng yang andal, lho.”


“Menjijikan!”


“Jadi aku ditolak, nih?” Suara itu terdengar lebih girang. “Tidak peduli, sih. Jadi dengarkan saja karena sejak awal kamu tidak bisa memilih. Ya, kasihan, deh.”


Kepala Galavidi terasa pening. Entah kenapa, ada rasa sedang menonton teater di gedung yang megah dalam dirinya. Suara itu seperti berpindah-pindah, berputar-putar, dan bertingkah layaknya sedang memainkan peran. Itu berarti, memang ada seseorang yang bersama Galavidi dengan entitas lain.


“Dahulu, ada seseorang yang dihina karena dianggap sebagai anak sial. Kesalahannya hanya satu, terlahir dengan mata merah yang tajam dan mencolok. Sangat kontras dengan rambutnya yang seputih awan. Sebutan anak sial bermunculan saat ayahnya bangkrut dan ibunya sakit-sakitan.”


Galavidi merasakan sentuhan di mata, hidung, pipi, dan rambutnya seolah anak itu mirip dengannya. Kisah dimulai dengan suara rendah dan sedikit serak, membuat bulu tengkuknya merinding. Terdengar desih dari napas walau pelan. Gayanya bercerita terlalu dalam, tidak heran jika mengaku-aku sebagai pendongeng andal, setidaknya itu yang Galavidi pikirkan.


 “Anak itu tumbuh terlalu cepat. Kesehariannya diisi dengan pelatihan-pelatihan yang membahayakan nyawa. Keinginannya hanya satu, mati secepatnya. Padahal, permintaan ibunya adalah hiduplah dengan baik. Jangan terlalu mencolok. Jangan terlihat berbahaya. Hiduplah seperti batu. Tidak menarik dan tidak berharga, tapi tetap dibutuhkan. Meski begitu, dia tidak merasakan kebaikan dan keberkahan. Hingga gosip tentang sebuah kristal yang bisa mengabulkan apa pun tersebar.”


Dahi Galavidi mengernyit. “Kristal?”


“Ya, kristal.” Suara itu berembus di depan wajah Galavidi. “Kamu tau saat usia dan tingginya makin bertambah, kemampuannya menjadi tidak tertandingi? Sayangnya, memercayai sebuah gosip, seperti memancing ikan di kawah gunung berapi. Pada akhirnya, anak itu tidak mendapat apa-apa. Menyedihkan, ya? Ini cerita terbaik, lho.”


“Siapa yang mengatakannya?”


“Aku, dong.” Terdengar tawa lagi. “Mau mendengar kisah selanjutnya?”


“Sedikit,” ujar Galavidi dengan gengsi.


Lagi-lagi tawa yang menjengkelkan itu terdengar. “Namun, waktunya sudah mau habis. Aku terlalu asyik sampai melupakan sesuatu yang penting.”


“Apa?”


“Dengarkan aku, barang biasa akan hancur jika dibanting. Namun, segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki ceritanya masing-masing. Seperti anak itu juga, kamu yang memiliki asal muasal dan menoreh kisahnya sendiri.” Suara itu terdengar makin menjauh. “Terkadang, ada saatnya kamu perlu menggunakan seluruh indramu, Avi.”


Aroma bunga mawar memudar. Dia melayang perlahan dan kaki yang menginjak tanah basah itu kering kembali. Suara jeram makin samar. Galavidi mulai merasa keningnya ditepuk-tepuk dengan lembut. Kepalanya berbantalkan sesuatu yang empuk. Posisi sebelum dia tertidur digantikan oleh Akkadia. Niat memberikan senyuman pun gagal.


“Sudah bangun?” tanya Akkadia.


“Tidak, dia sudah mati.” Kannika menggerutu. “Lebih pintar lagi, dong, kalau mau basa-basi!”