Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Rabbit with Butterfly Wings




Rabbit with Butterfly Wings


“TACK VARE VINDEN.”


Garis-garis hijau timbul dan membentuk pola unik dari bahu hingga telapak tangan kanan Lyria. Ia sedang mengisi evolcore yang telah dicopot dari evolblaster dengan sihir angin. Grimoire bersampul cokelat gadis tersebut mengambang di udara, tidak terpengaruh akan guncangan gerobak kuda bermuatan bir kala melibas kerikil.


Tangan kiri Lyria memasukkan barang bawaan yang mereka beli kemarin dari tangan Alanon ke dalam grimoire. Topeng kucing dan kain penghilang yang mereka beli bisa masuk. Namun, tidak bagi Serpihan Cermin Waktu yang mereka curi. Cermin waktu kembali di pegang Mikalea.


Keempat siswa Maple Academy itu telah meninggalkan Windcluster saat matahari menyembul di ufuk timur. Alanon menggosok mata. Hewan kontraknya keluar dari saku kemeja dan terbang di atas perdu-perdu di sisi jalan. Zanesha tertidur pulas, sementara Mikalea menyaksikan kincir menara pusat Windcluster dari dalam gerobak tumpangan.


Alanon menguap. “Omong-omong, bagaimana caranya topeng itu tiba-tiba bisa berubah menjadi cermin? Apa yang kalian lakukan malam kemarin setelah makan?”


“Cermin itu berubah setelah aku memberikan uang bayaran kepada nenek Enchantro itu kemarin. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuat topeng itu bisa berubah.”


“Memangnya apa yang dilakukan nenek itu sampai-sampai topeng itu berubah menjadi cermin?”


“Nenek itu hanya bilang, ‘semoga Dewi Fohn dan Baro membantu kalian’.”


“Oke, meski tidak meyakinkan, baiklah. Mari kita anggap ada sebuah keajaiban yang membantu kita karena permintaan dari nenek tersebut,” jawab Alanon sembari menggaruk kepala. “Oh, iya, apakah kalian pernah terpikirkan jika hal yang kita lakukan sekarang dapat berpengaruh terhadap masa depan?”


“Tujuan kita ke masa lalu dan menghancurkan cermin, kan, memang untuk menyelamatkan masa depan dari kehancuran. Maka dari itu masa depan akan berubah,” jelas Lyria dengan nada malas.


“Bukan begitu maksudku ... aku hanya berpikir jika misalnya, Nenek Enchantro dan anak kecil itu harusnya mati kelaparan. Jika tidak kau selamatkan, bisa jadi, kan, ada suatu hal yang berubah nanti? Misal saja, anak kecil itu menjadi seorang pedagang sukses. Bisa saja, nanti ada gedung raksasa di samping Markmind atau anak itu jadi penjahat dan menghabisi orang penting bagi perkembangan Windville. Bisa juga, kan, Windville jadi daerah yang tidak berkembang?”


Lyria dan Mikalea langsung melirik Alanon. Sol kembali ke gerobak, membawakan Alanon tumbuhan berwarna merah pekat. Roda gerobak yang melibas lubang membuat Zanesha membuka mata.


“Kalian membahas apa?”


“Hal yang tidak akan pernah sampai di otakmu, Kucing,” ejek Alanon.


Zanesha tersenyum masam, lantas kembali membungkuk dan menutup mata. “Kalau begitu, bangunkan aku jika sudah sampai. Aku benci hal rumit. Jadi, selamat membahas hal yang tidak-akan-sampai-di-otakku itu dengan tenang.”


“Kau tidak marah aku ledek seperti itu?”


Zanesha menatap tajam Alanon. “Kau ingin aku pukul?”


“Tidak, terima kasih. Silakan lanjutkan mimpimu, Nona Kucing.”


Gadis berambut merah itu kembali menutup mata. Lyria tertawa puas melihat Alanon. Mikalea memicingkan mata, memerhatikan sesuatu yang mengikuti dari balik semak.


 Satu jam beralu, mereka akhirnya tiba di Windustry, tempat yang menjadi pusat perkembangan teknologi di Autumnland. Gedung-gedung industri berdiri kokoh, mengepulkan asap pekat dari setiap cerobongnya. Ribuan orang telah mengoperasikan alat-alat berat bertenga sihir seperti crane untuk mengangkat kayu-kayu besar ke dok pembuatan kapal angin.


Lyria, Mikaea, Alanon, dan Zanesha turun di gerbang Windustry yang padat akan pengunjung, berterima kasih kepada kusir gerobak bir yang telah bersedia memberikan tumpangan kepada mereka. Mereka berjalan ke barat, meninggalkan Windustry karena tempat itu memang bukan tujuan mereka.


“Sekarang masih pukul 8 pagi,” ujar Alanon setelah melihat jam raksasa Windustry melalui pengelihatan Sol. “Apakah kau yakin, tidak ingin mengajak kami untuk melihat seperti apa Windustry, Bocah Ajaib?”


“Aku pun sebenarnya ingin mengajak kalian masuk ke sana. Namun, aku tidak ingin membuang-buang waktu. Kita harus cepat-cepat pergi menuju Hollowind atau untuk menghancurkan cermin. Tidak tahu kapan Hilarion akan muncul.” Lyria menggerakan tangan kanan yang masih menyalurkan energi angin ke evolcore. “Lagi pula, semakin cepat semakin ba—”


Seekor hewan berbulu hijau tiba-tiba muncul dari semak, merebut evolcore dari tangan Lyria. Hewan itu lantas memelesat ke udara, kemudian masuk ke rerumputan.


“Hei! Kembalikan evolcore-ku, cupipa sialan!” Lyria berlari mengikuti hewan endemik Windville tersebut.


Gadis itu menerobos rerumputan, melacak hewan bertubuh mungil bak anak kelinci itu. Kala matanya menemukan pergerakan aneh, ia langsung melompat menghampirinya. Namun, tidak ada satupun usaha yang dilakukan gadis bernetra hazal itu yang berhasil.


Lyria menghela napas. Evolcore itu satu-satunya yang ia miliki sekarang. Tanpa benda itu, Lyria tidak bisa bertarung dan hanya akan menjadi beban bagi tim. Ia tidak menginginkan hal itu. Maka dari itu, ia harus merebutnya kembali.


Pergerakan demi pergerakan aneh tersebut membawa Lyria ke sebuah lubang besar. Ia berdiri di samping lubang yang hanya bisa dimasuki olehnya itu. Tak lama, ketiga rekannya tiba di samping Lyria.


“Aku harus masuk ke dalam sana, mengambil kembali evolcore-ku,” ucap Lyria sebelum rekan-rekannya yang terlihat kesal membuka suara.


“Setelah kau bilang kalau kita harus bergegas pergi, kau malah ingin membuang waktu?”


“Aku membutuhkan evolcore itu, Zane.”


“Tapi, Lyr—”


“Terima kasih, Kale. Aku akan kembali dengan cepat.”


Lyria melompat ke dalam lubang dan mendarat dengan posisi terduduk. Kegelapan yang menyambut gadis tersebut sirna begitu hewan kontrak Mikalea tiba di sampingnya. Gadis berdarah setengah Dwarf itu bangkit, membersihkan roknya.


“Mohon bantuannya, kunang-kunang.”


Kunang-kunang itu mengitari kepala Lyria sebagai jawaban.


Lyria melangkah, pandangannya menelusuri dinding lorong setinggi satu setengah meter tersebut. Ia memeriksa lubang-lubang berisi barang-barang curian, seperti cermin, sisir, roda gerigi, dan lainnya. Akan tetapi, tidak ada evolcore miliknya di sana. Lyria menemukan jalan bercabang saat ia berada semakin dalam.


Selamat datang, Nona. Apa yang Anda cari di sini?


Lyria melirik ke dua lorong bercabang, mencari sumber suara pria tua misterius yang tiba-tiba terdengar.


“Aku mencari barangku, evolcore yang baru saja dicuri oleh cupipa. Mungkin cupipa itu salah satu dari kawananmu.”


Lorong sebelah kiri Lyria mengeluarkan cahaya biru. Kemarilah, Nona. Saya akan membantu Anda.


Gadis berdarah setengah Dwarf itu menuruti arahan suara tersebut. Saat di ujung lorong, sebuah ruangan luas tempat berkumpulnya puluhan Cupipa dan seekor Cupipa berukuran raksasa terlihat. Gadis tersebut terkejut, karena ini adalah kali pertaman ia mengetahui sarang Cupipa.


Selamat datang, Nona. Cupipa raksasa menunduk, menunjukkan keramahan. Maafkan atas ulah salah satu dari kawanan kami, Nona Yang Baik Hati.


Lyria menggaruk kepala. Ia tidak tahu apa maksud dari cupipa raksasa tersebut memanggilnya ‘Nona Yang Baik Hati’. Cupipa raksasa itu memutar tubuhnya, seolah berbicara dengan kawanan cupipa yang bersembunyi di lubang-lubang. Seekor cupipa keluar dari lubang, terbang menuju Lyria dan mengembalikan evolcore yang telah dicurinya.


Cupipa itu sekarang sudah bebas. Dia akan mengantarkan Anda kembali ke permukaan, ucap cupipa raksasa.


“Apa maksudmu dengan ‘bebas’ itu? Bukannya sejak awal kalian memang sudah hidup bebas?”


Cupipa raksasa itu menggeleng. Maksud saya, dia bukan lagi kawanan kami mulai dari sekarang. Cupipa yang membawa seseorang ke sarang akan langsung dikeluarkan dari kelompok, Nona.


Lyria mengernyitkan alis. “Apa kalian tidak kasihan kepadanya?”


Cupipa raksasa kembali menggeleng. Anda adalah orang yang baik, Nona. Namun, aku tidak mengampuni cupipa yang membawa hewan lain ataupun seseorang ke dalam sarang tanpa adanya izin dariku, pemimpin sarang. Ini peraturan yang tercipta sejak salah satu cupipa membawa hewan lain ke dalam sarang dan hewan itu memburu semua cupipa di sarang tersebut. Maaf karena saya tidak bisa menceritakan kelanjutannya. Anda sedang terburu-buru, ‘kan?


Cupipa itu sekarang sudah bebas dan urusan kita sudah selesai, Nona. Saya tahu bahwa anda adalah orang yang baik hati setelah menyaksikan ingatan Anda ketika di Markmind. Cupipa raksasa mengepakkan sayapnya. Tolong rahasiakan tempat ini. Lalu, tenang saja, saya hanya bisa menyaksikan pengihatan Anda dari kemarin malam. Selebihnya, saya tidak mampu karena kemampuan saya tidak memadai untuk melakukannya.


Cupipa yang telah mencuri evolcore Lyria mengangguk. Ia menarik tangan Lyria dengan ekor panjang berbentuk daunnya. Lyria berniat untuk protes, tetapi cupipa itu menghalanginya. Ia menerima nasibnya.


Cupipa, Lyria, dan kunang-kunang milik Mikalea kembali berjalan di lorong dan sampai di sebuah lubang berbeda. Cupipa itu diam, menggelungkan ekornya makin kuat di tangan Lyria. Ia seakan takut akan dunia luar tanpa adanya tempat untuk kembali.


“Hei, cupipa. Apakah kau mau menjalin hubungan pet contract denganku?” tanya Lyria. “Kamu ketakutan, ‘kan? Aku akan jadi temanmu.”


Sebuah hubungan tercipta antara Lyria dan cupipa itu. Gadis berdarah setengah Dwarf itu merasakan kesedihan dari cupipa.


Nona ... yakin? Saya ... yang sudah dikeluarkan dari kelompok. Saya juga sudah mencuri barang milik Nona. Saya tidak bisa memaafkan diri saya.


Suara lirih dari cupipa terdengar di telinga gadis berambut kepang itu. Lyria tersenyum. “Aku memaafkanmu, cupipa. Aku akan mengatakan sekali lagi, apakah kau ingin menjalin hubungan pet contract denganku?”


Cupipa itu melonggarkan gelungan ekornya lantas berputar mengitari tubuh Lyria. “Tentu, Nona!”


Lyria menggenggam kepala kelinci bersayap kupu-kupu itu dan menatap kedua matanya. Ia mendaratkan keningnya di kening cupipa, lantas menutup mata.


“Aku menerimamu sebagai hewan kontrak. Apakah kamu bersedia untuk menjalin kontrak denganku, sampai kelak aku mati?”


Saya bersedia. Berikan aku nama, Nona.


“Namamu adalah Veraina. Aku akan memanggilmu Vera.”


Hubungan yang tercipta antara Lyria dan Veraina mengikat makin kuat di kedua hati mereka. Jiwa mereka saling terhubung.


Mulai detik ini, nama saya adalah Veraina. Veraina membuka mata. Terima kasih telah menjalin pet contract dengan Saya, Nona Lyria.


Lyria tersenyum. “Sekarang, ayo kita keluar dari sini. Zane, Al, dan Kale pasti khawatir sudah khawatir kepadaku.”