
Light Arrows
ALEESIA MENCIPTAKAN SEBATANG pohon dari cahaya kemudian menembakkan tiga anak panah sekaligus. Claryn pun mengepakkan sayap perisainya untuk melindungi teman satu tim. Serangannya memang berhasil ditahan, tetapi itu juga membuat gadis di bawah pohon makin brutal. Akhirnya, mereka ditembaki panah cahaya secara terus menerus dan malah terjebak di balik sayap.
Leena mencoba membantu seniornya dengan menciptakan bayangan tim dalam jumlah besar. Serangan Aleesia yang bertubi-tubi berfokus pada sayap perisai, sehingga ia tidak akan bisa langsung melenyapkan mereka. Saat ratusan bayangan berlarian, tim pun mengikuti arus dan menghindari setiap panah cahaya yang ditembakkan. Namun, itu menguras banyak sekali mana, apalagi panah yang ditembakkan Aleesia juga makin banyak.
Ayaka melihat sahabatnya mulai berkeringat karena beradu kecepatan dengan Putri Elvangel. Ia kasihan, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan di sana. Akhirnya, gadis itu pun maju ke arah Aleesia, sementara Leena yang terlambat memperingatkan hanya bisa melindungi dengan bayangan.
Hati-hati! ucap gadis Elf itu dalam hati. Ia tidak ingin posisi mereka ketahuan.
Tembakan panah cahaya berhenti, fokus Aleesia kini berganti ke arah bayangan-bayangan yang mendekat dari tiga arah, salah satu di antaranya terdapat Ayaka. Gadis kecil itu melempar enam jarum racun, tetapi tidak ada satu pun yang kena karena sang Putri berlindung di balik pohon cahaya.
Setelah posisinya ketahuan, Aleesia pun langsung menembakkan panah cahaya. Ayaka hanya bisa pasrah, kakinya sudah terlalu gemetar sehingga tidak sanggup untuk menghindar. Namun, di saat semua bayangan di depan lenyap, terdapat seseorang yang menahan panah dengan tangan kosong.
Lelaki berambut putih itu menatap darah di tangannya setelah panah cahaya menghilang, lalu tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa. Hidup dengan tubuh yang bisa beregenerasi bukanlah kesenangan, banyak siksaan didapat setiap hari karena semua orang tidak segan-segan untuk melukai dirinya. Tubuh Cyrus perlahan mulai berapi-api dan sebentar lagi akan berubah.
Ketua tim berteriak, “Jangan berubah, Cyrus!”
“Apa? Kenapa?” tanya lelaki itu terkejut.
Aleesia menurunkan busur lalu bertanya, “Kalian sudah menyerah?”
“Ya, kami menyerah,” jawab Claryn sambil mengangkat tangan.
Dua orang yang di depan terkejut. Ayaka menatap Leena, lalu dibalas dengan anggukan. Sepertinya ini memang bagian dari rencana. Gadis berambut cokelat sebahu itu berjalan ke arah Cyrus kemudian mengulurkan tangan, meminta serpihan cermin. Pria itu menggeleng, tidak mau memberikannya.
“Kau tidak berpikir kalau aku benar-benar menyerah, ‘kan?” bisik Claryn.
“Tidak, tapi kenapa kau melarangku berubah?”
“Aku punya rencana dan kuharap kau mau melakukannya.”
Cyrus berbalik melihat Aleesia, tidak ada tanda-tanda curiga dari gadis itu. “Hanya kali ini, demi misi akan aku lakukan.”
“Kaburlah! Hancurkan serpihan cermin itu sendiri! Aku tidak peduli di mana, yang penting kau pergi dari sini.”
“Kalau yang seperti ini tidak bisa.”
“Kau sudah berjanji. Ini perintah dari senior sekaligus ketua, jangan membantah!” titah Claryn. Ia menepuk telapak tangan lelaki itu dengan keras lalu menciptakan serpihan cermin palsu dari cahaya.
Cyrus menggeleng. “Tidak, lebih baik aku berubah dan menghabisi wanita itu.”
“Kalau berubah sekarang, kau tidak akan bisa menggunakan bakatmu. Kau juga tidak mau menggunakan sihir, jadi bagaimana cara menghancurkan cerminnya?”
Lelaki itu tertawa pelan sambil menutup kedua matanya. “Terima kasih karena sudah menganggapku kuat. Luka ini akan membunuhku jika tidak segera disembuhkan.”
“Mau tidak mau, kau memang harus menggunakan sihir. Cepat atau lambat akan ada orang yang datang ke sini. Kau pasti tidak berpikir kalau pertarungan singkat tadi bisa memancing para penjaga, ‘kan? Mati tiga lebih baik daripada empat, jadi lakukan saja!” Claryn menepuk pundaknya lalu berjalan menghampiri Aleesia dengan serpihan cermin palsu.
Aku tidak pernah memenangkan debat, mungkin karena aku selalu mengalah dengan ucapan orang lain.
Cyrus menuju arah yang berlawanan dengan ketua. Ia berhenti, menatap kedua temannya. Hal yang selalu dipikirkan adalah alasan kenapa mereka berdua harus ia benci. Lelaki itu membenci Human karena kejam terhadap Wizard, tetapi ia juga membenci Wizard karena kejam terhadap sesama rasnya. Ia tidak menyukai keributan atau keramaian, tetapi ia benci kesepian. Selama ini, Cyrus selalu menganggap dirinya tersiksa saat bersama tim, padahal sebenarnya ia bersyukur memiliki teman bicara. Sekarang mungkin akan jadi hari terakhir ia berbicara dengan mereka, baik selamat ataupun tidak.
Cyrus menciptakan burung api lalu terbang meninggalkan tim. Claryn belum sempat menunjukkan serpihan cermin, tetapi Aleesia sudah curiga dan langsung terbang mengejar temannya. Dengan mana yang tersisa, Leena pun menciptakan banyak bayangan untuk mengepung anggota skuad Half-Blood Noblesses itu. Ayaka melemparkan jarum racunnya lagi. Namun, ternyata tidak berhasil karena sebuah perisai telah dipasang oleh Aleesia di bagian yang berhadapan dengan tim.
Elf berambut pirang itu telah kehabisan mana, berarti bayangan monster api yang dikejar penjaga akan menghilang. Claryn memanggil Mr. CR lalu terbang mengejar Fallen Angel bersayap emas. Mereka tidak bisa membiarkannya makin jauh. Kunang-kunang raksasa pun mempercepat terbangnya dan segera menyalip gadis itu.
Aleesia kembali membidikkan busur. “Sepertinya kalian tidak takut mati!”
“Bagaimana denganmu? Jangan berpikir kalau kau itu jauh di atas kami!” sahut Claryn. Setelah berhasil melewati Aleesia, ia terbang di belakang kunang-kunang raksasa dan bersiap dengan sayap perisai.
Di sisi lain, Cyrus terpaksa berubah menjadi api karena tidak sanggup lagi menahan luka di tubuhnya. Ia tidak mau memikirkan tim atau bagaimana cara mereka menghadapi Aleesia karena itu semua hanya akan membuatnya makin ragu. Terus melihat ke depan adalah satu-satunya hal yang baik untuk dilakukan saat ini.
Setelah beberapa menit, tubuh lelaki itu akhirnya kembali seperti semula. Burung api pun terbang rendah sebelum menghilang, sehingga tidak terlalu sakit saat jatuh. Cyrus berhenti, kemudian bersandar pada sebatang pohon yang terbuat dari tulang. Ia belum keluar dari Sunset Love karena masih bingung di mana serpihan cermin harus dihancurkan. Gohol memang terletak tidak jauh dari hutan menakutkan tersebut, tetapi untuk masuk ke sana sangatlah sulit, apalagi sekarang ia hanya sendirian.
“Apa aku harus menghancurkannya di sini?”
“Tidak bisa. Kau ini Wizard, seharusnya tahu seberapa kecil kekuatan elemen di tempat ini,” ujar Ignis dari dalam tubuhnya.
Cyrus berdecak. “Kenapa baru muncul sekarang?”
“Sebenarnya aku ingin kau lebih bergantung pada teman-temanmu. Namun, karena sekarang kau sendiri, mau bagaimana lagi?”
Lelaki itu bangkit kemudian mulai berjalan. “Gohol adalah tempat untuk melakukan kontrak dengan roh. Apa menurutmu aku bisa mendapatkan kontrak di sana?”
“Di masa lalu ataupun masa depan, sebaiknya jangan! Darah Warlock dalam dirimu harus terus dirahasiakan.”
“Dari siapa? Kenapa?”
“Ayahmu tidak mungkin terjatuh dari jurang hanya karena terpeleset, ‘kan? Ini berhubungan dengan keluarga Ferront. Aku ceritakan setelah misi ini selesai saja. Sekarang kau harus membuka buku sihirmu dan rapal sebuah mantra!”
“Sial. Apa saja yang kau sembunyikan dariku?”
Grimoire Cyrus yang bernama The Sparkle of Eternal Flame melayang di udara. Lelaki itu tidak tahu harus merapal mantra apa, tetapi Ignis tiba-tiba mengeluarkan selembar kertas sihir dari dalam mulut apinya. Ia melihat kertas tersebut, terdapat tulisan dari bahasa asing yang tidak pernah dilihatnya, tetapi entah kenapa otaknya merespons dan bisa menerjemahkan kata demi kata.
“Api itu panas, bukan dingin; api itu terang, bukan gelap; api itu merusak, bukan memperbaiki; api itu naik, bukan turun; api itu plasma, bukan gas; api itu alam, bukan sihir. Ignis est corpus meum!”
Tiba-tiba terjadi ledakan hawa panas dari tubuh Cyrus, membuat sekeliling terbakar oleh api biru. Kobaran api tersebut terisap oleh tangannya, membentuk kembali segel yang telah hilang. Namun, kali ini berbeda. Segel yang sebelumnya berwarna kemerahan berubah menjadi biru, sesuai dengan tingkat kepanasan api. Cyrus bisa merasakan kalau suhu udara di sekitar menurun drastis, pertanda kalau bakatnya telah aktif kembali.
Pada umumnya, mana terkuras secara perlahan untuk mengembalikan segel api, sehingga waktu bakat untuk aktif bergantung pada jumlah mana yang tersedia. Tiga jam adalah waktu pemulihan tercepat dan terjadi ketika pengguna tidak sedang bertarung dan hanya ingin menonaktifkan bakat. Namun, berkat mantra aneh itu, Cyrus bisa langsung mengaktifkan bakatnya. Meskipun sebagai ganti, mana terkuras paksa sehingga membuat tubuhnya lemas.
Lelaki itu menatap teman apinya lalu bertanya, “Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Itu bukan mantra terlarang hasil curian atau semacamnya. Hanya kata-kata dalam pikiranmu yang aku rangkai. Jika aku tidak melakukannya, kau mungkin tidak akan sadar kalau itu mantra.”
“Aneh, tapi berguna. Terima kasih.”
“Kita hanya kabur dari penjaga. Kita tetap harus menahan wanita itu agar tidak mengejar Cyrus,” ujar Claryn sembari menahan tembakan panah cahaya dengan sayap perisai.
“Tapi bagaimana? Dari tadi kita hanya terbang lurus dan malah membiarkan Aleesia makin dekat dengan Cyrus,” sahut Ayaka.
“Makanya harus dimulai dari sekarang.”