
Shattered Mirror and the End of Adventure
PERTARUNGAN ANTARA HILARION melawan keempat siswa Maple Academy itu dimulai. Lyria menarik pelatuk evolblaster dan menembakkan proyektil angin, sedangkan Mikalea dan Zanesha melompat menuju Hilarion. Hujaman peluru sihir, deretan pedang, serta serangan cakar dapat dengan mudah dihindari oleh laki-laki bernetra kuning menyala itu.
“Apa hanya seperti itu kemampuan kalian?” ejek Hilarion. “Setelah menyerang dan mencuri serpihan cermin miikku saat Humanday, kalian pikir bisa lolos begitu saja?”
Sayap pedang Mikalea mengembang semakin lebar. Lelaki berambut perak itu kembali memelesat menyerang Hilarion. Sol terbang di atas pertarungan, menyebarkan benih kecil sehingga Alanon dapat menggunakan kemampuannya untuk mengikat kaki Prince of Half-blood itu.
Tongkat di pinggang Hilarion berubah menjadi pedang hitam mengilap. Ia menahan serangan Mikalea, lalu melompat ke belakang. Sulur Alanon seakan tidak memberikan dampak apa pun kepada pemilik serpihan cermin waktu tersebut. Hilarion menengok, lantas membelah hujaman proyektil angin yang mengarah kepadanya dengan pedang.
“Kalian pikir serangan menggelitik itu adalah ‘serangan’? Kalian benar-benar payah!” Hilarion menunjukkan deretan gigi depannya, menyeringai. “Biar kutunjukkan apa yang disebut sebagai ‘serangan’!”
Hilarion berlari cepat menuju Lyria. Vera menciptakan pelindung, Zanesha berlari menangkap tubuh Lyria dan menjauh. Akan tetapi, Hilarion dengan mudah menyobek pelindung angin milik Cupipa tersebut dan langsung memelesat mengejar Zanesha.
“Swift.”
Lyria melompat dari pangkuan Zanesha, lantas menembakkan peluru sihir besar dengan jangkauan pendek. Peluru tersebut meledak. Namun, tidak membuat sosok Prince of Half-blood itu goyah. Hilarion mengayunkan pedangnya ke arah Lyria, membuat gadis itu dengan refleks mengangkat senapan sihirnya untuk melindungi diri. Evolblaster Lyria hancur dan ia terkena luka sayat yang dalam di pundaknya. Grimoire gadis bernetra hazel itu tertutup dan jatuh ke tanah bersamaan dengan evolblaster yang menghilang. Hilarion lantas melompat menuju Zanesha dan melukai kakinya.
Target Hilarion sekarang adalah Alanon. Ia memelesat sembari mengacungkan pedangnya ke arah Zaadia tersebut. Mikalea terbang cepat, melindungi Alanon dengan sayap pedangnya. Zanesha kembali bergabung ke pertempuran setelah lukanya sembuh berkat sulur Alanon dan kemampuan regenerasi dirinya yang hebat.
Apa yang akan kita lakukan sekarang, Nona? tanya Vera.
“Aku tidak tahu.” Lyria menarik napas dalam-dalam sembari menahan nyeri di pundaknya. “Aku tidak bisa bertarung tanpa evolblaster.”
Lyria menyaksikan pertarungan sengit antara Hilarion melawan Mikalea dan Zanesha. Meskipun hanya seorang, Hilarion tetap unggul melawan kedua rekannya itu. Jika saja tidak ada bantuan energi penyembuh dari Alanon, mungkin mereka sudah tidak mampu bertahan lebih lama melawan sosok Prince of Half-blood tersebut.
Lyria memutar kepala. Tidak ada harapan jika mereka terus melawan. Makin lama bertarung, kondisi tim makin buruk. Terutama kondisi Alanon yang terus menggunakan kekuatannya tanpa jeda untuk memulihkan tim. Lyria harus melakukan sesuatu.
“Vera, lindungi Alanon. Aku harus menggunakan sihir itu .... Aku harus bertaruh.”
Baik, Nona, jawab Vera.
Pupil mata keabuan Mikalea berubah menjadi merah. Fallen Angel itu menyerang Hilarion secara membabi buta. Namun, Hilarion mampu menghindari dan menangkis serangan yang dilontarkan pemilik sayap pedang tersebut dengan mudah.
“Kau masih sangat lamban untuk menyentuhku, Payah!”
Serangan Mikalea semakin cepat setelah Hilarion mengejeknya dengan ekspresi kecewa. Zanesha mundur, membiarkan sulur Alanon menyembuhkan luka sayatan pedang. Napasnya memburu. Gadis itu juga kelelahan.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Zanesha sembari menghapus peluh di keningnya.
Lyria tersenyum. “Percaya saja kepadaku.”
Netra kuning Zanesha berubah menjadi ungu, membuatnya mampu memprediksi setiap gerakan lawan meski harus menguras tenaga dua kali lipat. Ia menggendong tubuh Lyria kemudian memelesat menuju pertarungan antara Hilarion dan Mikalea yang tidak seimbang. Saat Mikalea terpental karena mengenai tendangan Hilarion, Zanesha melihat sebuah celah. Zanesha langsung berlari ke belakang Hilarion dan Lyria meluruskan tangan kanan lalu mengarahkannya ke sosok pemilik serpihan Cermin Waktu tersebut.
“Silovy Vietor!”
Angin bekekuatan dahsyat meluncur dari tangan Lyria. Hilarion yang memutar tubuh dan siap menyerang kedua gadis tersebut langsung terpelanting ke lubang angin dan terpental ke langit. Nasib sama juga terjadi kepada dua gadis itu. Mereka terpelanting ke arah berlawanan. Vera memelesat menuju mereka dan menciptakan perisai, mencegah Lyria dan Zanesha agar tidak terjatuh ke dalam lubang di sisi lain.
Lyria mengerang kesakitan. Tangannya patah dan membengkak setelah mengeluarkan sihir berkekuatan besar tersebut. Zanesha bangkit, mencoba melakukan sesuatu kepada tangan gadis berdarah setengah Dwarf itu. Namun, ia mengurungkan niat karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Alanon berlari menuju Lyria dan Zanesha. Tanduk hijau mencuat dari keningnya. Ia menjatuhkan benih ke pundak dan pergelangan tangan Lyria, memfokuskan sulur penyembuhnya untuk mengobati tangan gadis bertubuh mungil tersebut.
“Apa yang kalian lakukan!” bentak lelaki Zaadia itu. “Apa kalian sudah gila?”
Zanesha bergeming, mulai menitikkan air mata.
Lyria melirik Mikalea sembari menahan rasa sakit. Melihat pendar hijau serpihan cermin dan belati caeruela di tangan Mikalea berubah menjadi menyilaukan, Lyria berteriak, “Kale, hancurkan cerminnya!”
Mikalea menghantamkan belati caeruela ke serpihan cermin waktu. Suara retak kaca tiba-tiba muncul memekakkan gendang telinga. Lubang-lubang angin Hollowind bereaksi, menciptakan embusan angin kencang bak tornado di seliling Mikalea. Alanon mengikat tubuh Lyria, kaki Zanesha, dan kakinya ke tanah, sedangkan Vera menciptakan perisai untuk melindungi mereka.
Siluet Hilarion dan pedangnya yang kini mengeluarkan semburat cahaya kuning terlihat. Ia memelesat menuju Mikaea kala kilau cahaya dari caeruela dan serpihan cermin waktu semakin terang. Usahanya gagal. Ia tidak mampu menembus putaran angin, terpelanting menuju lubang Hollowind. dan terempas menuju langit kelabu.
Alanon memperkuat ikatan sulurnya sementara Vera membuat pelindung yang lebih kuat untuk melindungi tuan dan kelompoknya. Ketiga siswa Maple Academy itu refleks melindungi kedua bola mata mereka dari cahaya sampai suara retak kaca dan cahaya itu berakhir. Cermin waktu dan belati caeruela menghilang dari tangan Mikalea. Angin besar dari lubang-lubang Hollowind pun perlahan kembali menenang.
Lyria tersenyum lirih saat Mikalea menghampirinya dengan tergesa-gesa. Gadis itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tidak mampu keluar. Ia menggerakan bibir yang seolah berkata, Kita berhasil, kawan-kawan.
Mikalea, Alanon, dan Zanesha duduk mengitari tubuh gadis itu. Mereka tampak mengatakan banyak hal kepadanya, tetapi Lyria tidak bisa mendengar satu patah kata apa pun. Sol mondar-mandir membawa rumput herbal yang tidak gadis itu ketahui. Sementara hewan kontrak gadis tersebut menghilang.
Kelopak mata Lyria terasa berat. Penglihatannya mulai memburam. Meskipun begitu, mata hazelnya terus bergerak ke sana kemari mencari keberadaan Vera. Ia ingin menanyakan ke mana perginya hewan kontraknya itu kepada kawan-kawannya. Namun, seluruh tubuhnya benar-benar lelah setelah mengeluarkan sihir berkekuatan dahsyat tanpa bantuan evolblaster.
Sulur-sulur Alanon melilit semakin kencang dan menyembuhkan Lyria, tetapi hal tersebut tidak membuat tubuh mungilnya semakin membaik. Mikalea dan Zanesha terus mendebatkan suatu hal yang tidak bisa ia dengar. Lyria tahu bahwa mereka sedang panik karenanya dan ia juga tahu bahwa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menenangkan mereka.
Sebelum Lyria benar-benar tak sadarkan diri, gadis itu melihat sebuah portal hijau tercipta secara dramatik di hadapannya. Ia bertanya-tanya bagaimana portal itu bisa muncul di Autumnland yang memiliki medan magnet kuat. Namun, di saat yang sama, ia juga merasa bahwa portal tersebut merupakan kabar baik bagi timnya.
Mikalea memangku tubuh Lyria, Alanon terus menyalurkan kekuatannya, sementara Zanesha mengikuti mereka masuk ke portal sembari menahan tangis. Portal menghilang setelah keempat siswa yang telah menghancurkan cermin itu masuk. Mereka telah kembali ke waktu asal sebelum masuk ke dalam sumur, disambut dengan tatapan empat orang siswi yang penuh akan keterkejutan.