Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Is the Mask a Mirror?




Is the Mask a Mirror?


MATAHARI SEDANG BERADA di puncaknya, menghantarkan aura panas yang membuat siapa pun mengurungkan niat untuk berpergian. Tangga hitam menuju tanjung menjadi rintangan terakhir bagi tim Lyria dan kawan-kawan untuk meninggalkan Wisteria Academy. Beberapa perahu nelayan terlihat terombang-ambing dari ketinggian tempat mereka melangkah, mengantarkan orang-orang baik dari wilayah Wizardium Kingdom ke Wisteria Academy, maupun sebaliknya.


Alanon masih setia dengan brosur yang dijadikan kipas dan membiarkan Sol keluar-masuk kantong kemejanya. Mikalea fokus mengamati topeng Hilarion yang terbungkus kain penghilang, sementara Zanesha menyaksikan pemandangan tanjung tempat perahu-perahu menepi.


"Uang awal kita setelah Lyria menjual evolcore adalah 3 vine 50 wizer.” Zanesha mengangkat tangannya seolah berhitung. “Barang yang sudah kita beli dengan uang tersebut adalah dua ramuan pereda alergi untukku yang totalnya 10 wizer, dua topeng kucing 8 wizer, satu kain penghilang seharga 30 wizer, dan tiga ramuan penghilang dengan total 45 wizer. Jadi, uang kita tinggal berapa, Lyria?"


Lyria mengembuskan napas sembari menyapu peluh dengan lengan kemeja. "Kau sungguh bodoh, Zane. Perhitungan seperti itu saja tidak bisa. Kita, kan, membeli barang-barang itu bersama. Masa kau tidak ingat dengan total uang yang kita miliki? Lalu, biar aku tegaskan satu hal, uang itu adalah uangku, bukan uang kita."


"Kau memang orang yang kikir, Bocah Ajaib."


"Aku memang bodoh soal perhitungan. Maafkan aku."


Alanon dan Zanesha membalas ucapan Lyria berbarengan. Mereka berdua saling tatap. Di sisi lain, Lyria memutuskan untuk tidak peduli. Ia bertanya-tanya, apakah mungkin alasan Mikalea lebih banyak diam karena pusing mendengarkan celotehan mereka?


"Hei, apakah kau tidak kesal dengan ucapannya, Kucing?"


"Hah? Lagipula itu memang benar uangnya. Kenapa kau sewot sekali, Rumput?"


"Kau membela bocah itu? Padahal, sejak pertama kita sampai di sini, kau kesal dengan omongannya."


Dua orang Kesatria Sihir yang mengeluhkan bagian kerja menjaga tempat tersebut sejenak memerhatikan mereka. Mikaea menatap tajam Alanon dan Zanesha, membuat pertengkaran keduanya seketika terhenti.


"Siap, Kapten," jawab Alanon, mengerti maksud dari tatapan laki-laki bertubuh tinggi dan berotot itu.


 Setelah menyaksikan biru laut dan kumpulan Birdfish yang terbang memakan capung, Lyria dan anggota timnya sampai di sebuah desa nelayan paling utara di wilayah City of Light. Selama perjalanan di perahu, Alanon melindungi saku kemejanya, takut jika para Birdfish tersebut akan memangsa Soul Dragonfly miliknya seperti capung-capung lain.


Seorang gadis kurus bertudung biru lusuh menghampiri tim Lyria begitu mereka mendaratkan kaki di galangan kayu. "Selamat siang kakak-kakak dari Wisteria Academy! Aku menjual bunga, apakah kalian mau membelinya untuk oleh-oleh? Atau mungkin kalian mau membeli roti untuk perjalanan?"


Alanon tertawa. "Lihatlah, Bocah Ajaib. Bahkan bocah itu lebih tinggi darimu."


Gadis dengan keranjang anyam di lengannya itu tampak salah tingkah.


"Tuan Rumput, bisakah kau tidak mengejek orang sehari saja?" Lyria menoleh ke anak tersebut. "Abaikan saja orang itu, Gadis Kecil. Oh, iya, bisakah kamu mengantarkan kami ke stasiun? Aku akan memberimu 5 wizer."


Mata gadis berkulit kecokelatan itu berbinar. "Tentu saja!"


Lyria menendang tulang kering Alanon dan pergi.


Gadis bertudung biru itu membawa Lyria, Mikalea, dan Zanesha menerobos hiruk-pikuk pasar ikan. Alanon meminta mereka untuk menunggunya. Gadis bertudung biru itu sempat membalikan badan dan berniat untuk membantu Alanon, tetapi Lyria menahannya dan meminta untuk mengabaikan Zaadia tersebut.


Bau amis dan keringat meyeruak sepanjang perjalanan. Beberapa orang menjual dagangannya di kios, tetapi tak sedikit juga yang langsung menawari ikannya kepada pejalan kaki. Langkah Lyria dan rekannya sempat terhenti karena beberapa orang mengadang mereka untuk membeli ikan, tetapi mereka tolak.


Jam raksasa di atas stasiun menunjukkan pukul 01.44. Lyria memberikan 10 wizer kepada gadis itu setelah mereka sampai di depan stasiun. Gadis itu sempat bingung karena uang yang diberikan Lyria terlalu banyak, berbeda dari yang Lyria janjikan. Namun, setelah Lyria mengatakan bahwa dia tidak masalah, gadis tersebut menampakkan senyum bahagia dan pergi sembari melambaikan tangan.


"Omong-omong, kenapa kau meminta gadis itu untuk mengantarkan kita ke stasiun ini? tanya Zanesha setelah mereka bergabung ke antrean loket tiket kereta. “Padahal dari galangan kapal, kita, kan, sudah bisa melihatnya,"


"Aku hanya membantunya."


"Bukankah kita harus menghemat uang? Sekarang, berapa, sih, sisa uang kita?"


"2 vine 47 wizer." Lyria menyibak kepang rambut kirinya. "Dan tolong, Zane, kan, sudah kubilang dari awal kalau ini adalah uangku, bukan uang kita. Jadi, aku berhak memutuskan seperti apa uang ini akan dipakai."


Tim dari Maple Academy itu kembali menunggu antrean sampai giliran mereka pun tiba. Lyria membayar 48 wizer untuk 4 tiket kereta. Mereka masuk dan berdiri menunggu karena seluruh bangku di peron stasiun sudah penuh.


Alanon menyandarkan punggung ke tiang. "Omong-omong, jika dibandingkan dengan barang-barang sekali pakai yang kita gunakan untuk mencuri dan mengelabui Hilarion di Wisteria Academy, bukannya tiket kereta ini terlalu murah? Ramuan penghilang harga satuannya 15 wizer, sedangkan tiket kereta 12 wizer ...."


"Namanya juga festival. Terlebih teknologi di zaman ini tidak secanggih di zaman kita," jawab Lyria. "Ah, Kale, aku sejak awal penasaran, bagaimana caranya kita akan menghancurkan serpihan cermin itu?"


Mikalea yang sedang fokus memperhatikan topeng Hilarion yang terbungkus kain mengalihkan perhatiannya. "Serpihan Cermin Waktu hanya bereaksi dan bisa dihancurkan dengan elemen yang sama. Sampai saat ini, kita tidak tahu apakah topeng ini merupakan cermin yang kita cari atau bukan. Hal terburuk, jika topeng ini bukan serpihan cermin, maka kita harus menghadapi Hilarion kembali."


“Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui elemen cermin itu?”


Mikalea menggeleng. “Jika ini memang benar-benar cermin, seharusnya akan berubah


Pijakan peron terasa bergetar diiringi suara klakson khas yang menggema menusuk telinga. Semua orang berdiri, menyaksikan kereta api menghentikan lajunya. Petugas kereta membuka pintu, lalu orang-orang dengan mode pakaian berbeda berhamburan ke luar.


Lyria menepuk tangannya. "Mari kita pikirkan hal itu nanti. Pertama-tama, kita akan pergi ke Blue Harbor dan mencari kapal ke Markmind, pelabuhan sekaligus pasar di wilayah Windville. Jika semisal cermin kita ada di wilayah lain, kita bisa menaiki kereta terbang dari Windustry ke wilayah tersebut. Sebisa mungkin kita menjauh dulu dari Hilarion. Gelar 'Prince of Halfblood' miliknya pasti bukan pajangan semata."


Mereka pun naik ke gerbong kereta, lalu mencari bangku kosong, dan duduk saling berhadapan.


"Oh, iya, selama di Markmind nanti, tolong ikuti saja apa yang kukatakan tanpa protes, terutama kau Alanon. Pasar itu berbahaya bagi pendatang baru seperti kalian. Sebagai orang yang berasal dari sana, itu adalah peringatan dariku," pesan gadis berambut kepang itu sunguh-sungguh.


Alanon menyilangkan tangannya di belakang kepada lalu bersandar. "Apakah memang seberbahaya itu?"