Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Uninvited Guest for Betelgeuse - 2




2


RAK-RAK TINGGI BERJAJAR, berisi kotak-kotak kayu yang menyimpan barang-barang lama, juga lantai yang membuat sepatu mereka berduli, menjadi bukti bahwa gudang akademi tidak terurus sama sekali. Betelgeuse bertanggung jawab mengatasi itu setelah ketahuan memasukkan Shrink Potion—ramuan pengecil—ke dalam minuman teman sekelasnya, karena bosan melihat stan-stan dan dikejar-kejar penggemar fanatik. Lagi pula itu hanya ramuan. Betelgeuse tidak menggunakan sihir sesuai peraturan festival. Namun tetap saja, dia dijewer dan disidang tiga guru sekaligus. Tidak apa, sebab itu sudah menjadi rutinitas. Biasanya para guru akan membebaskannya setelah mengoceh selama lima jam secara bergantian dan dia hanya akan duduk, mengupil, mengetuk-ngetuk meja, melihat tumpukan buku, dan sesekali tertidur sembari mengiler. Hanya saja, kesabaran para guru mencapai batasan.


Begitulah, Betelgeuse berakhir dihukum membersihkan gudang lama akademi yang tidak pernah dibuka selama tiga puluh tahun dan harus selesai sebelum festival Humanday berakhir. Hal itu menjadi kesempatan Kannika untuk bertransaksi. Atas kepandaiannya, bantuan tenaga bersih-bersih dihargai dua belas wizer per orang oleh Betelgeuse, harga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup satu hari.


Di masa pengerjaannya, dua orang sering batuk-batuk karena debu. Siapa lagi kalau bukan Sam dan Akkadia, sang bangsawan yang tidak pernah hidup susah. Toh, sesusah apa pun, mereka berdua tidak pernah melakukan pekerjaan kasar, dan meskipun tidak ada keluhan sama sekali, mereka berdua hanya bertahan mati-matian agar palu Kannika tidak melayang dari tas pinggangnya. Manusia mungil itu tidak segan-segan meremukkan sesuatu, termasuk tangan atau kaki seseorang jika diganggu saat mood-nya buruk. Pola pikir, sifat, dan kelakuan yang tidak berbeda dengan ayahnya, sang mantan narapidana dengan kasus pembunuhan, kecuali cara Kannika memperlakukan seseorang yang lebih tua sebagai tanda ada darah dari perempuan berbudi luhur dalam tubuhnya.


Dari lima orang yang bekerja, Galavidi terhitung paling bersantai ria, hanya duduk-duduk sampai salah satu di antara mereka memanggil untuk membantu sesuatu. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh seseorang yang buta. Andaikata Betelgeuse tidak memberinya upah, itu sudah wajar. Jadi, hanya ada 36 wizer yang akan masuk ke kantong tim, atau akan lebih jika Betelgeuse bermurah hati.


Ketika hari makin gelap, halaman akademi mulai berkilap-kilap dan ledakan-ledakan kecil dari kembang api memunculkan warna-warni di langit malam, gudang lama telah selesai dibersihkan. Kannika duduk di kotak kayu yang belum dimasukkan ke rak sembari menggeretakkan jari-jari tangannya. Akkadia terlentang, meluruskan punggung dan merasakan sensasi dingin dari ubin.


Sorot cahaya dari lentera minyak yang dibawa Sam meluruhkan gulita bersama lengkingan tawa Betelgeuse yang menenteng sekantong roti dan dua botol air minum. “Hahaha! Makanlah para pembantuku, aku sangat menghargai kerja keras kalian semua.”


Sam menggeletukan Gigi. Dia ingin mengumpat, tetapi Betelgeuse ada di sampingnya. Sam pikir sikap kurang ajar dan semena-mena semacam itu didapatkan setelah diangkat menjadi Lord of Darkness, ternyata salah. Betelgeuse sudah minim akhlak sejak muda, bahkan mungkin sejak belum ditakdirkan lahir ke dunia.


“Sini-sini, kita berkumpul. Santai saja, jangan berebut karena rotinya sangat banyak. Bagaimana? Bukankah aku sangat baik hati?” Betelgeuse meletakkan kantong roti dan botol minumnya.


Kannika menatap tajam Betelgeuse. “Hei, Kunyuk! Kamu tidak ingin berterima kasih dahulu sebelum menghina kami?”


Betelgeuse duduk bersila dan mengambil sepotong roti setelah Sam meletakkan lentera minyak. “Kenapa harus berterima kasih? Aku, kan yang membayar kalian?” ucapnya santai dengan mulut penuh roti.


Kannika geram. “Anak ini—”


“Sudahlah, jangan diteruskan.” Galavidi menegur dengan halus. “Kita harus makan, Ann. Kamu bisa menuntunku? Kurasa Akka sudah bergabung bersama yang lain.”


“Ya.”


Tidak ada pembicaraan selain dingin yang menusuk kulit, sedangkan cahaya dari lentera minyak makin meredup. Sebenarnya, gudang lama memiliki sumber pencahayaan. Namun, lampu-lampu gudang lama sudah diganti dengan lampu sihir, sehingga tidak berguna seperti saat ini. Itu menjadi sebuah suasana yang menyambut Galavidi saat penglihatannya terbuka. Dan berkat lentera yang meremang, dia bisa melihat rupa Betelgeuse meski samar.


“Kamu tidak bersama teman-temanmu?” Galavidi membuka suara.


Betelgeuse merasakan tatapan dari Galavidi pun menjawab, “Wah, ternyata matamu masih berguna, ya?” Dia terpukau. “Aku tidak tahu mereka ke mana. Mungkin ada urusan dengan teman-teman kali—“ Betelgeuse tiba-tiba berhenti berbicara.


Tim Charming saling berpandangan. Salah satu gosip terkenal yang diedarkan anti-prefek di Maple Academy adalah saat LoD masih muda memiliki sekawanan bernama Half-Blood Noblesses Squad. Namun, seberapa pun terkenalnya kelompok itu, kenakalan Betelgeuse lah yang paling populer. Jika sudah begitu, bukankah normal kalau teman-temannya tidak peduli kesusahan yang dibuat Betelgeuse sendiri?


Sam menyengir lalu bergumam, “Fallen Angel kalau berkulit badak, ya begini jadinya. Tidak tau malu.”


Alis Betelgeuse terangkat satu setelah mendengar gumaman Sam disampingnya. “Bagaimana kamu bisa tau kalau aku Fallen Angel?” Dari suaranya, Betelgeuse terlihat lebih penasaran, padahal Galavidi melihat ekspresi wajahnya yang sekilas curiga.


“Pertama, aku adik kelas yang mengikuti gosip. Namamu sudah sering mengiringi gosip-gosip itu. Kedua, karena aku bisa mengenal rasku sendiri.” Sam menjawabnya dengan lancar meski itu hanya karangan. Bukankah dia berbakat dalam berbohong?


“Kamu Fallen Angel? Woah, aku … biasa saja, sih.” Betelgeuse tertawa lagi.


Mata Sam berkilat. “Kamu tidak akan berkata begitu jika pernah bertemu dengan Ashlen.”


“Sam itu tampan, tapi karena tidak mau denganku, dia jadi jelek,” ejek Galavidi.


Betelegeuse menikmati malam itu dengan ocehan omong kosong mereka, tidak lama dia mengeluarkan kantong dan meletakkan koin-koin wizer berjumlah lebih dari kesepakatan di sebelah lentera minyak yang sekarat. “Stan-stan sudah ditutup. Kita harus kembali ke asrama, kan? Jika aku membutuhkan pembantu lagi, aku akan mengabari kalian.”


“Kami tidak ke asrama.” Kannika bangkit, lalu mengeluarkan beberapa kotak kayu dari rak. Sebelum Betelgeuse bertanya, Sam berkata, “Kami juga dihukum karena sudah mengacau asrama.”


Betelgeuse berseru, “Dasar bocah nakal!”


“Kamu pun sama,” ucap Galavidi, “Ngomong-ngomong, kamu mau bersenang-senang dengan kami?”


“Kamu menantangku?” Betelgeuse menatap Galavidi dengan remeh.


“Tidak. Aku hanya menawarkan keseruan.”


Senyum asimetris khas Betelgeuse muncul. “Katakan!”


Akkadia dan Sam memperhatikan Galavidi saat menepukkan tangan sekali. “Yosh! Besok hari Beerfest, perayaan bir yang dinantikan oleh orang-orang dewasa. Saat itu, para siswa diperbolehkan keluar akademi untuk menikmati festival dari luar.”


“Kamu mengajakku lomba minum bir?”


“Bodoh!” Kannika berteriak, lalu bersiap tidur di kotak kayu yang sudah ditata memanjang dan cukup untuk empat orang.


Galavidi menahan tawa. “Besok pagi kita bertemu di belakang tembok akademi sebelah selatan. Jangan lupa membawa semua ramuan yang kamu punya. Sekarang, Tuan dipersilakan pergi. Pintunya sebelah sana, ya.”


Sam, Galavidi, dan Akkadia memperhatikan Betelgeuse sampai menghilang dari pandangan, lalu menutup pintu gudang.


“Apa yang kamu rencanakan?” tanya Akkadia setelah mereka berkumpul di atas kotak kayu.


Galavidi memasang wajah serius. “Kira-kira di bagian mana cermin itu disimpan?”


“Yang pasti di bagian yang tidak tersentuh.” Kannika menyahut. Manusia itu tidak benar-benar tidur meski matanya sudah dipejamkan.


Sam berpikir keras. Sejauh yang dia tahu, Betelgeuse memiliki kemampuan Dark Magic dan Mind Control, bukan regenerasi sel. Padahal, misi mereka adalah mengambil serpihan cermin dari tubuh. Jadi, seseorang yang meletakkan serpihan cermin itu sudah pasti memikirkan banyak pertimbangan, termasuk kemungkinan terburuk semacam ini. Meski serpihan cermin sangat berharga, wadahnya jauh lebih berharga mengingat tidak sembarang orang yang bisa menahan efeknya.


“Sayap, itu adalah bagian tubuh yang tidak berisiko dan jarang ditunjukkan,” ujar Sam.


“Benar.” Galavidi mengacungkan jempol, lalu berhenti berbicara karena tingkah Sam memisahkan kotak-kotak kayu yang sudah ditata Kannika “Apa yang kamu lakukan?”


“Aku takut akan ada respons normal yang diberikan tubuh saat tidur karena perubahan pembawa pesan kimiawi antar sel jika tidak memisahkan diri dengan kalian.” Sam duduk membungkuk, meraup wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada paha bersamaan helaan napas. “Jangan pedulikan aku, lanjutkan saja ucapanmu.”


Sebentar, Galavidi merasa ada yang berbeda, lalu membatin, Sam kenapa?