
Fire Mirror
SEBATANG ANAK PANAH cahaya memelesat ke arah mereka dan menyerempet pergelangan tangan Cyrus. Sepertinya itulah yang dimaksud tangan dibalas tangan. Cyrus kesakitan, sehingga genggamannya pada gadis Elf berambut pirang itu mulai melemah. Leena pun balik menggenggam tangannya agar tidak terjatuh. Ia sedikit mual, burung api yang membawa mereka tidak bisa terbang dengan tenang karena harus menghindari setiap anak panah cahaya yang dilepaskan oleh Aleesia.
Gadis berdarah campuran itu makin dekat. Meskipun ia terbang sambil memanah, kecepatannya tetap stabil, sementara Cyrus tidak bisa menyerang balik. Kedua tangannya berpegangan pada sesuatu dan ia juga enggan menggunakan mantra sihir.
“Leena, lakukan sesuatu!”
Gadis Elf itu menggeleng. “Tidak bisa, kabur saja.”
“Kau pikir kita ini sedang apa? Kalau begitu, lepaskan tanganku dan pegang saja kakiku!”
Sesuai perintah, Leena melepaskan tangannya. Meskipun agak menyeramkan, karena ia bisa saja gagal berpegangan kembali dan terjatuh di atas karang.
Cyrus meluruskan tangan ke depan, kobaran api kecil membakar darah yang menetes dari lukanya, kemudian membesar dan membentuk sebuah bola api seukuran tubuhnya. Ia berharap serangannya cukup kuat karena tidak ingin berlama-lama berurusan dengan anggota skuad Half-Blood Noblesses itu.
“Mungkin ini tidak bisa membunuhmu, tapi berhentilah mengejar!” teriaknya sambil melempar bola api ke arah Aleesia. Gumpalan itu memelesat, hampir menyamai kecepatan panah cahaya. Dengan ukuran besar sekaligus jarak target yang cukup dekat, seharusnya tidak bisa dihindari,
Benturannya menyebabkan satu ledakan yang sangat dahsyat di udara.
Lelaki berambut putih itu yakin serangannya cukup kuat untuk melukai sang Putri Elvangel. Ia terus memerhatikan bagian bawah area ledakan, menunggu sesosok makhluk bersayap jatuh dari sana, tetapi ternyata tidak. Gadis itu justru keluar dari dalam kepulan tanpa luka sedikit pun. Cyrus tercengang melihatnya, memang ia hanya menggunakan satu tangan dan tidak terlalu lama memusatkan energi, tetapi hasil ini terlalu mengecewakan.
“Kukira keras, ternyata kertas.” Aleesia kembali melaju sambil mengarahkan busur.
Tidak hanya lawan, teman yang nyawanya kini bergantung pada Cyrus pun ikut menatap dengan remeh. “Itu terlalu lemah, Cyrus!”
“Sangat lemah. Sekarang, ucapkan selamat tinggal pada dunia. Mati satu lebih baik daripada mati dua-duanya, ‘kan?” sindir Cyrus. Dalam hati, ingin sekali membakar kaki dan menjatuhkan teman perempuannya itu.
Aleesia menembakkan tiga anak panah sekaligus. Apa lagi yang bisa dilakukan mereka jika panah itu tiba-tiba sudah di depan mata? Tentu saja pasrah dan membiarkan burung api terbang sekencang-kencangnya untuk menghindar. Satu anak panah meleset, dua sisanya berhasil menancap di dada dan tangan Cyrus. Entah apa salah lelaki itu sampai semua anak panah mengarah padanya, padahal Leena adalah sasaran yang lebih mudah.
Akhirnya, di tengah-tengah keputusasaan mereka, datanglah pahlawan kesiangan. Claryn dan Ayaka yang tadi sudah jauh di depan berputar balik. Mereka khawatir dengan kedua temannya, apalagi setelah melihat ledakan besar tadi.
Claryn terbang di sebelah gadis Elf itu lalu berbisik, “Kalau aku memberikan aba-aba, langsung gunakan kekuatanmu, Leena!” Tim berhenti, membuat gadis yang mengejar ikut berhenti agak jauh dari mereka.
Aleesia menurunkan busur, merapikan rambutnyayang sedikit berantakan, kemudian berkata, “Kembalikan serpihan cermin itu kalau kalian masih sayang nyawa!”
“Jika kau sangat menginginkannya, maka ambillah!” Ayaka pun melempar serpihan cermin ke depan, sehingga jatuh sedikit dekat dengan Aleesia.
Gadis berambut hitam panjang itu menoleh ke bawah. Ia memang tidak percaya, tetapi itulah pengalihannya. Setelah kembali meluruskan pandangan, gas tebal berwarna ungu sudah ditembakkan ke arahnya. Sebuah pelindung transparan pun diciptakan, berhasil menangkis beberapa jarum racun. Aleesia melewati gas tersebut dengan pelindung. Sangat di luar ekspektasi, bukan empat remaja lagi yang kabur, melainkan 28 orang dan setiap kelompok terbang ke arah berbeda.
Duplicate Trick adalah bakat Leena yang mampu membuat bayangan suatu objek dalam jumlah banyak. Bayangan bersifat permanen dan baru bisa hilang jika terkena sihir atau terlalu jauh dari penggunanya.
Aleesia hanya tersenyum, kemudian menghilangkan busur cahaya. “Tidak masalah. Aku tahu ke mana mereka akan pergi.”
Tim asli terbang ke arah jam satu, sudah cukup jauh mereka kabur sehingga Aleesia tidak terlihat lagi. Mereka bertiga bisa bernapas lega, tetapi tidak untuk Cyrus. Satu-satunya lelaki di tim itu tidak kelihatan sehat, tubuhnya dipenuhi luka panah dan darah terus bercucuran.
“Cyrus, kau baik-baik saja?” tanya Ayaka khawatir.
Lelaki itu menggeleng sembari menutup luka di dada agar tidak membasahi seluruh bagian seragam. “Khawatirkan saja temanmu ini. Jika aku mati, mungkin dia akan ikut mati.”
Claryn pun mendekat, kemudian menyenggol lengannya pelan. “Jangan bercanda! Kalau butuh bantuan, bilang saja!”
“Kita mendarat atau berikan tumpangan lain, karena aku tidak bisa terus di udara.”
“Itu mudah. Ayaka, pegangan!” Gadis Fallen Angel itu memutar telapak tangan dan muncullah seekor kunang-kunang berukuran besar di sampingnya. “Dia Mr. CR, hewan kontrakku.”
Kenapa namanya jelek sekali? batin Ayaka, tidak berani berucap karena takut dijatuhkan.
Karena tidak ada siapa-siapa lagi di kakinya, Cyrus mengubah seluruh tubuhnya menjadi api. Perlahan-lahan, ia mulai membaik, luka yang berada di dada dan juga tangan menghilang seketika. Namun, sebagai ganti, bakatnya jadi tidak aktif untuk sementara waktu, sehingga burung api lenyap dan ia terjatuh di punggung kunang-kunang raksasa.
“Kau kejam, Claryn. Padahal siang adalah waktu bagi kunang-kunang untuk istirahat,” ujar Ayaka dengan santai pada orang yang kini tengah membawa tubuh sekaligus nyawanya.
Gadis berambut sebahu itu tersenyum jahat lalu berkata, “Jika aku mau, aku bisa membunuh kalian bertiga.”
Akhirnya, tim mendarat di tepi sungai dekat hutan bernama Forest of Echoes. Mr. CR dan anak-anaknya kembali menghilang bersamaan dengan sayap Claryn saat mulai memasuki hutan tersebut. Angin sejuk berembus, menimbulkan kersik daun-daun dari pepohonan.Tempat yang cukup nyaman bagi mereka untuk beristirahat usai mabuk udara.
Tidak sedikit satwa liar yang berlalu-lalang seperti rusa dan babi hutan, membuat gadis terkecil di tim itu meminta untuk menangkap salah satunya. Namun, hutan itu merupakan sumber daya alam terbesar wilayah Stoneville yang dijaga ketat oleh Alkimia Gunung. Tentu saja mereka tidak boleh masuk sembarangan, apalagi sampai memburu hewan-hewan di sana.
Sepuluh menit beristirahat, Claryn mengeluarkan sepihan cermin dari saku, karena benda yang dilempar Ayaka tadi sebenarnya hanyalah manipulasi cahaya, ia pun menunjukkan kepingan kaca itu di hadapan tim, lalu bertanya, “Kalian tahu, ‘kan?”
“Tidak,” jawab mereka kompak, kecuali Cyrus.
Gadis itu menepuk jidat kemudian meletakkan cermin di atas tanah. “Kita akan menghancurkannya, tapi setelah tahu elemennya. Karena serpihan cermin hanya bisa dihancurkan dengan elemen yang sama.”
Ayaka mengernyit. “Caranya tahu?”
“Gunakan serangan elemen pada cermin! Selemah apa pun itu, pasti akan bereaksi jika elemennya sama.”
Claryn menggunakan serangan cahaya dan tidak terjadi apa-apa. Ia pun menoleh ke arah tim. Kedua gadis lain menggeleng, mereka tidak bisa menggunakan sihir elemen. Satu-satunya harapan dan juga kunci hanyalah Cyrus, seorang Wizard yang ahli dalam sihir.
“Cyrus, giliranmu!” titah Ketua.
Lelaki berkulit pucat itu ikut menggeleng. “Aku baru saja menonaktifkan bakatku, tidak bisa.”
“Kau itu Wizard, jangan membuatku tertawa dan gunakan sihirmu!”
“Menggunakan sihir? Jangan bercanda!”
“Lakukan atau aku akan berbuat jahat padamu!” ancam gadis berambut cokelat dengan tatapan seram.
Cyrus berdecak kesal, akhirnya ia membuka grimoire dan mulai merapal mantra. Kobaran api kecil pun muncul kemudian mengarah ke serpihan cermin. Saat mengenai permukaan, tiba-tiba terjadi ledakan yang cukup keras disertai kilatan cahaya. Tim berlari memeriksa, tidak ada goresan sama sekali, tetapi mereka yakin kalau itu bereaksi. Bisa dipastikan kalau elemen cermin memang api dan satu-satunya orang yang bisa menghancurkan adalah Cyrus.
Claryn mendekati pria itu lalu berkata, “Bawa serpihan cerminnya! Kita akan menghancurkannya sesuai wilayah elemen. Kau tahu di mana, ‘kan?”
“Wilayah terkutuk, tentu saja aku tahu.”
“Memangnya harus?” tanya Ayaka yang sudah malas berjalan lagi.
“Kau lihat tadi? Serpihan cermin tidak bisa hancur di sini.”
Mereka berempat berjalan mengikuti Cyrus ke arah barat laut, tepatnya menuju wilayah api, Fyreville. Baru jalan sebentar, tiba-tiba seekor burung gagak terbang menghampiri. Burung hitam tersebut menjatuhkan secarik kertas di depan lelaki yang memimpin. Sedikit mencurigakan, tetapi harus diperiksa. Cyrus pun mengambil lalu membaca sesuatu yang tertulis di atasnya.
Jika surat ini sampai ke tanganmu, itu artinya kau sudah bertemu dengan Aleesia. Ya, aku yang memintanya untuk keluar tadi pagi dan anehnya dia mau. Tenang, masalah penggemarnya, biar aku sendiri yang urus. Aku tahu sekarang kau sudah pergi jauh dari Wisteria dan mungkin tidak akan kembali. Aku juga tahu siapa kamu, asalmu, dan masa lalumu. Jangan salah paham, aku bukan peramal. Burung gagakku yang mengawasi kalian, tetapi aku sendiri yang melihat identitasmu. Karena kita tidak bisa bertemu lagi, aku hanya mengucapkan selamat tinggal. Kamu mungkin tidak mau, tetapi aku ingin kamu mengenalku. Aku Arcus Ferront dan ....
Lelaki itu berhenti dan langsung merobeknya, andai bakat masih aktif mungkin sudah dibakar. Ferront? Sangat kebetulan, tetapi tidak berguna juga.
“Apa itu?” Claryn mendekat, hendak merebut kertas.
Cyrus langsung mengangkat tangan sehingga gadis yang lebih pendek darinya itu tidak bisa meraihnya. “Hanya kertas biasa.”
Claryn yang mengalami, tetapi kenapa aku yang kesal. Dasar orang tinggi! batin Ayaka. Karena lapar, ia berjalan ke sebatang pohon apel kemudian memetik empat buah.
Tim makan dengan santai, sementara Cyrus langsung panik begitu menerima apel pemberian temannya. Memetik buah memang bukan masalah besar, tetapi ledakan serpihan cermin tadi. Ia baru ingat kalau di hutan itu tidak hanya ada mereka berempat. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berlarian dari arah belakang. Mereka menoleh, dua orang dengan jubah tertutup berwarna cokelat gelap sedang menuju ke arah mereka sambil berteriak.
“Penyusup!”