
Future
CLARYN MENAIKI KUNANG-KUNANG raksasa, kemudian maju ke arah Aleesia dengan bantuan sayap perisai. Remaja berdarah bangsawan itu pun kabur sambil tetap menembakkan anak panah. Meskipun tidak bisa mendekat, setidaknya tim mampu menahannya agar tidak terbang ke Gohol, tempat yang dituju oleh Cyrus.
Namun, kenyataan tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Aleesia menarik busur dengan kuat, memusatkan energi pada sebatang panah cahaya, dan baru dilepaskan setelah lewat sepuluh detik. Panah tersebut memelesat, melebihi panah cahaya biasanya. Claryn menahan dengan sayap perisai, karena sangat cepat, mereka tidak sadar kalau ujung panah sebenarnya tumpul. Panah cahaya itu memang tidak menempus sayap perisai, tetapi mampu mementalkan ketiga remaja beserta kunang-kunangnya. Claryn pun menabrak batang pohon tulang, dua temannya terpental jauh hingga terbarut tanah, sementara kunang-kunang berpecah dan berserakan di mana-mana.
“Selamat tinggal!” seru Aleesia.
Kobaran api biru menjalar di permukaan, membentuk seekor makhluk berkaki empat dengan tubuh tegap. Cyrus menunggangi kuda api tersebut, kemudian berangkat menuju Gohol. Setiap rerumputan yang dipijak akan terbakar sehingga meninggalkan jejak api. Meski begitu, cara ini lebih aman daripada terbang menaiki burung. Karena selain takut dengan penjaga, ia juga belum tahu Aleesia berhasil ditahan atau tidak.
“Ignis, bantu aku!”
Makhluk api keluar dari dalam tubuh Cyrus. Dari kejauhan, tidak terlihat sama sekali tanda-tanda penjaga. Oleh karena itu, ia menyuruh Ignis terbang duluan melewati Gohol untuk memancing mereka keluar. Makhluk itu pun berubah menjadi wujud raksasa dengan tinggi tiga setengah meter. Penampilannya masih sama, hanya muncul selaput sayap di kedua tangan yang membesar sehingga tampak seperti kelelawar.
Beberapa saat kemudian, Ignis menjauh dari kawasan hutan tersebut, diikuti oleh empat orang Wizard yang menaiki semacam lingkaran sihir yang melayang. Karena tidak ingin membuang terlalu banyak waktu, lelaki itu langsung melaju secepat mungkin menuju Gohol. Sesampainya di depan hutan, kuda api dihilangkan untuk menghapus jejak, tetapi karena salah perhitungan, ia pun terpental.
Cyrus mendarat tepat di tepi jurang dengan posisi telentang. Tubuhnya aman, tetapi kepalanya sudah tidak menempel pada daratan. Andai kuda api dihilangkan sedetik lebih lama, mungkin sekarang sudah terjatuh ke dalam. Lelaki itu bangun, mengamankan kepala dari atas perapian abadi. Ia melanjutkan jalannya menuju ke tengah-tengah hutan, karena kekuatan elemen di tepi masih tergolong lemah.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, ia akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk penghancuran cermin. Selain memiliki elemen yang kuat, tanahnya juga cukup luas dan jauh dari pepohonan sehingga tidak akan terjadi kebakaran.
Cyrus menyandarkan serpihan Mirror of Time pada sebuah patung kecil aneh yang mungkin berbentuk roh. Ia juga meletakkan Blue Light Stone pada patung lain yang berada tidak jauh dari sana dengan posisi saling berhadapan. Saat Claryn bilang pusaka tersebut dapat memantulkan serangan, ia jadi teringat dengan cara kerja cermin. Meski sedikit aneh, karena sekarang yang memantulkan malah batu, bukan cerminnya.
Lelaki itu tiba-tiba melamun dan tidak sengaja menjatuhkan buku sihir. Ia melihat pusaka dan serpihan cermin dengan tatapan kosong. “Apa yang aku lakukan ini benar?” Seketika Cyrus ingat kepada teman-temannya. Aleesia memang tidak mungkin membunuh orang, tetapi kemungkinan terburuk adalah mereka bertiga tertangkap.
Tidak perlu ragu. Jika aku berhasil menghancurkan serpihan cermin ini, aku akan kembali menemui mereka.
The Sparkle of Eternal Flame melayang bersamaan dengan tubuh Cyrus yang mulai terbakar. Hawa panas menyelimuti tempat tersebut, membuat rumput serta daun-daunan di ujung pohon ikut terbakar meski jaraknya sudah cukup jauh.
“Tüz!”
Kobaran api muncul di udara setelah mantra diucapkan. Cyrus menyentuh api tersebut dengan kedua tangan kemudian membesarkannya. Tidak hanya ukuran, warnanya juga mulai berubah menjadi biru karena suhu makin meningkat. Lelaki itu fokus mengerahkan seluruh kekuatannya, sampai sesosok perempuan bersayap emas tertangkap oleh matanya.
Aleesia terbang dari selatan sambil membidikkan busur. Cyrus tidak peduli berapa banyak panah cahaya yang akan menancap di tubuhnya nanti, ia tetap fokus, karena sebentar lagi bola api itu akan sempurna. Putri Elvangel hendak melepaskan anak panah, tetapi tiba-tiba makhluk api raksasa memelesat dan menabrak tubuh mungilnya. Gadis itu terpental hingga menabrak sebatang pohon.
Aleesia menciptakan sebatang pohon cahaya lalu menyembuhkan luka. Ia kembali membidikkan busur ke arah Cyrus, hendak menembak, tetapi sudah terlambat. Sebuah bola api besar berwarna putih tercipta dengan sempurna oleh pemuda api itu. Cyrus pun menembakkan sinar api putih tersebut ke arah Blue Light Stone, kemudian dipantulkan ke serpihan cermin. Jika api biasa sudah bisa menimbulkan ledakan yang cukup keras, maka serangan ini adalah bencana.
Kilatan cahaya menyayat mata kedua remaja di sana, kemudian terjadilah ledakan api putih yang sangat dahsyat. Tidak hanya pepohonan, tanah dan bebatuan juga ikut terkikis oleh panasnya api. Aleesia berlindung di balik pohon cahaya. Pertahanan suci itu memang kuat, tetapi keberuntungan juga memihak. Ia masih jauh dari radius ledakan sehingga tidak terlalu parah.
Sementara itu, tim yang baru saja datang dengan menaiki gagak raksasa Arcus harus terhenti. Mereka tidak menyangka kalau efek dari penghancuran serpihan cermin akan separah ini. Setelah ledakan berakhir, asap tebal keluar menyelimuti lubang besar di bawah, menimbulkan kekhawatiran akan kondisi Cyrus. Namun, yang lebih baik dari semua itu adalah misi mereka telah selesai.
“Akhirnya, semua ini berakhir,” ucap Ayaka sembari meneteskan air mata bahagia.
“Berikan itu padanya!” teriak Arcus melalui gagak.
Tim terjatuh ke dalam kepulan asap, tetapi tidak mendarat di tanah. Ternyata sebuah portal tercipta setelah cermin dihancurkan dan itulah yang menarik tubuh mereka. Portal tersebut langsung menutup ketika keempat remaja itu berhasil masuk. Aleesia memandangi bekas ledakan dari kejauhan. Mereka semua menghilang, tidak ada lagi yang tersisa, kecuali asap-asap dari tanah serta seekor burung gagak raksasa di atasnya.
“Di mana aku?”
Cyrus bangun lalu melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa di sana, hanya tempat kosong berwarna hitam pekat, tanpa pemandangan, suara, ataupun kehidupan. Tidak ada siapa pun juga, ia sendirian. Benar-benar terlihat seperti masa depan, tetapi bukan yang ia tuju.
“Apa aku mati? Sepertinya tidak.”
“Maaf membuatmu menunggu,” ujar seorang pria berambut hitam dengan seekor gagak di bahunya. Orang yang seharusnya tidak bisa ia temui lagi, Arcus Ferront.
Cyrus berdecak. “Ini alam baka, pantas saja aku bertemu denganmu.”
“Terserah. Aku hanya ingin memberikan ucapan selamat sekaligus membocorkan rahasia tidak terlalu penting yang harus kau tahu.”
“Katakan saja! Aku tidak peduli, aku hanya ingin kembali.”
“Kita ini memiliki garis keturunan yang sama. Tidak salah lagi, kita memiliki mata yang sama. Jika kau ingin mengubah takdir ibumu agar lebih bahagia dan merelakan kehidupanmu, bunuh aku sekarang! Aku ikhlas.”
Cyrus menghela napas. “Itu tidak akan berhasil dan aku juga tidak ingin itu terjadi.”
Arcus tersenyum, meski sedikit aneh, tetapi itu benar-benar tulus. “Aku tahu siapa kau, asalmu, masa lalumu, seberapa buruk dirimu. Hal yang pasti aku lakukan tentu saja membuat keturunanku agar menjadi orang yang lebih baik. Itu tidak salah, faktanya perjalananmu ke masa lalu adalah takdir dan masa di mana kau harus berubah.”
“Aku tidak akan berubah, sekeras apa pun kau mengubahku. Aku akan menciptakan diriku sendiri, tanpa bantuan siapa pun.”
Cyrus membakar tangannya lalu menusuk dada Arcus, tepat mengenai jantungnya. Tidak ada kehidupan, maka tidak ada darah, tubuh lelaki berambut hitam itu perlahan-lahan memudar, menyatu dengan kegelapan.
“Aku mengerti. Kalian tenang saja, aku akan berusaha melupakan semua yang berhubungan dengan masa depan. Karena aku benci itu.”
Cyrus akhirnya sadar setelah berhasil membunuh Arcus di dunia ilusi. Lelaki itu mengangkat tangannya yang menggenggam sebuah gulungan kertas. Entah bagaimana caranya bisa di sana, tetapi sepertinya itulah yang menjadi perantara ilusi.
Beberapa saat kemudian, sekumpulan burung gagak terbang melintas dan menjatuhkan sehelai bulu di atas kepala. Lelaki itu berucap, “Raven.”
“Iya, apa kau memanggilku?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Cyrus terbelalak, ia baru sadar kalau saat ini sedang berada di atas pundak seekor kera emas raksasa. “Apa yang terjadi, kenapa aku bisa di sini?”
Cyrus menoleh ke arah siswa laki-laki berambut hitam kemerahan yang mengenakan seragam Maple Academy. Ia tidak terlalu ingat dengan nama-nama orang, tetapi dari responsnya tadi jelas kalau namanya adalah Raven. Lelaki itu juga bersama dengan senior wanita yang ia kenal, Claryn. Ini pertanda bahwa mereka benar-benar telah kembali.
“Selamat datang di masa depan!”