
Blue Harbor
DARAH SEGAR AKIBAT tembakan anak panah sepanjang satu hasta belum terhenti, dikarenakan Ashlen hanya mengikat luka tersebut dengan sapu tangan pemberian Evander. Tiada waktu untuk mengurusi lukanya, pacuan kuda dari kesatria itu masih terdengar jelas. Beruntung mereka berhadapan saat Humanday seperti ini, jadi para Kesatria Sihir tidak bisa menggunakan sihir mereka. Kalau tidak, mereka pasti tidak akan selamat.
Ashlen menggeram akibat sakit yang diderita, sekaligus kesal dengan kesatria yang belum menyerah mengejar mereka. Ashlen menoleh pada Evander dan Candra yang menunggangi Rusa Kerineia. Sepintas, mereka terlihat seperti kakak-beradik dengan rambut pirang serupa, andaikata Evander tidak menunjukkan tampang permusuhan yang kentara pada laki-laki yang telah kehabisan mana tersebut. “Evan, kau masih memiliki ramuan anti-kantuk, bukan?”
“Untuk apa kau menanyakannya? Lukamu saja belum diobati,” Evander mencibir Ashlen yang menolak tawaran untuk mengobati luka pada lengannya. “Kau berniat tetap terjaga, begitu? Ck, tidak usah pura-pura kuat, Ketua.”
“Cepat berikan saja ramuan itu!” Ashlen menerima botol ramuan berukuran sejengkal dengan penutup berbahan kayu. Seketika, aroma menyengat dari campuran bahan baku ramuan itu membuatnya mengerutkan dahi. “Segera minum ramuannya. Jangan lupa berikan pada Candra juga.”
Ashlen meminta mereka untuk bersembunyi di balik rimbunannya pohon-pohon setinggi tiga meter. Karena festival Humanday belum berakhir, tetapi mereka sudah terlanjur ketahuan menggunakan sihir, meski dalam skala kecil—bagi mereka—Ashlen memutuskan untuk memanggil Boss, pet contract-nya yang berwujud tikus itu memiliki keahlian mimikri layaknya bunglon. Hal tersebut memudahkan bagi Ashlen untuk mendekati para kesatria sihir tanpa terlihat.
Arion meneguk ramuan sehitam tinta yang menjijikkan dengan terpaksa. Sementara itu, Rusa Kerineia milik Evander sudah menjadi serpihan-serpihan es ketika ia diperintahkan pergi.
“Sumpah! Aku tidak akan pernah meminumnya lagi seumur hidup!” Arion mengusap tepi mulutnya. “Rasanya jauh lebih buruk daripada racikan Nastradamus yang gagal.”
Evander menyela, “Wajar saja. Nastradamus itu seniorku.” Lalu dia menepuk punggung Arion dengan kencang dan membuat laki-laki bermata hijau tersebut terbatuk-batuk, hingga terdengar suara sendawa. “Bagus. Efek ramuannya akan jauh lebih baik jika kau bersendawa.”
“Hei, kau pasti sengaja!” Protes Arion, dibalas oleh senyuman menyeringai dari Evander.
“Diam!” Titahan Ashlen membuat Arion yang hendak bersuara, terdiam. Dia menatap Ashlen, meminta agar laki-laki berambut hitam-panjang dengan ikat rambut merah untuk segera melepaskan bakatnya.
Ketua tim tak acuh dengan sikap protes Arion. Sebelum meninggalkan tim, Ashlen menjelaskan, “Perlu kalian ingat, ketika aku bernyanyi nanti, aku harap kalian saling menjaga satu sama lain agar tetap terjaga.”
Meskipun sudah meminum ramuan anti-kantuk, mereka baru menyadari bahwa pesona keturunan Siren memang patut diwaspadai. Tiap bait yang mereka dengarkan dari Ashlen, menambah intensitas rasa kantuknya. Candra yang cenderung pendiam, mendadak lebih pendiam akibat rasa kantuk yang bertambah. Karena merasa bosan, Arion memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkap tudung jubah milik Candra.
“Sebaiknya kau diam saja daripada mengganggu privasi orang.” Candra menendang tulang kering Arion cukup keras, lalu melangkah menjauh dan menutupi kembali kepalanya. Candra paling benci ketika wajah terkutuk itu terekspos oleh orang lain, sedangkan Arion adalah satu dari sebagian orang yang gemar merecokinya.
Kuda-kuda yang dikendarai oleh Kesatria Sihir itu mendadak tertidur, menjatuhkan beberapa kesatria yang belum siaga, menimbulkan kekacauan di antara para pengejar. Ashlen segera mendatangi kelompok. Ia menatap satu-satunya Wizard di kelompoknya. “Can, apa kau tahu tempat di mana kita bisa mendapatkan informasi penting di luar wilayah kota?”
“Bagaimana dengan Blue Harbor? Pelabuhan itu termasuk tempat pertukaran informasi yang menjanjikan.” Tatapan Candra teralihkan pada kain putih yang kini berwarna campuran merah dan kecokelatan, membungkus luka Ashlen. “Kita juga dapat mengunjungi Potion Industry untuk mendapatkan beberapa ramuan.”
Kini Arion menaruh lengannya pada bahu Evander seraya menjentikkan jari. “Kau tenang saja, Tukang Makan, aku punya jaminan kita bisa makan enak dengan gratis.” Pandangan Evander yang meremehkan membuat Arion tertawa kecil. Ia menepuk bahu Evander sambil berkata, “Itulah salah satu alasanku dapat bebas dari interogasi kesatria.” Lantas Arion menoleh pada Candra, “Kau tadi bilang Blue Harbor, 'kan? Ayo kita ke sana!”
“Memangnya kau tahu jalan menuju ke sana? Jalan menuju toilet saja kau sering lupa,” sindir Evander.
Arion menggeleng. “Tentu saja aku lupa. Namun, bukankah kita punya Candra? Sir Candra, silakan pimpin jalan.”
Dari arah belakang ketiga laki-laki satu angkatan itu, Ashlen memerhatikan interaksi mereka. Ia menghela napas dan mengeluh pelan, “Sekarang aku paham penderitaan yang dialami Mevel sewaktu field trip.”
Terletak di penghujung Selatan dari Wizardium Castel, pelabuhan kapal-kapal kerajaan memiliki keramaian dua kali lipat dibandingkan Light of City. Tempat bagi segudang informasi bisa didapatkan. Serta-metra dengan kemampuannya, Ashlen bisa saja memiliki puluhan vine—mata uang Autumnland—jika dia dalam keadaan yang cukup sehat. Tentu saja, ia tidak akan menyebabkan laki-laki setinggi 180 sentimeter itu kehilangan beberapa ramuan untuk ditukar dengan ramuan yang mereka butuhkan.
“Terima kasih, Evan.” Ungkapan tulus itu datang dari Ashlen karena Evander membantunya mengobati luka bekas anak panah yang sekarang sudah mengering.
Setelah mendapatkan informasi tentang rumah Johanes, Arion dan Candra kembali ke Potion Industry, tempat di mana Evander dan Ashlen menukar beberapa ramuan milik Evander. Mereka berencana untuk membuat uji coba terhadap elemen pada serpihan cermin yang mereka rebut dari Navarro.
Setiap wilayah di Autumnland memiliki elemen masing-masing yang merupakan ciri khas dari daerah tersebut. Bahkan tidak jarang, tiap wilayah memiliki tanaman dan hewan langka maupun endemik yang keberadaannya mewakili daerah bersangkutan.
“Setidaknya kita tinggal membutuhkan ramuan yang memiliki esensi dari tanaman kaktus, electric lily, dan teratai air.” Candra menjelaskan rencananya. “Untuk tanaman gloongi dan holy basil, kita dapat menggunakan magic dari tongkatku yang memiliki esensi dari dua tanaman itu.”
Candra merapalkan mantra, beberapa botol berukuran sama besar, setinggi lima sentimeter dengan lilitan akar-akar kecil menutupi hampir seluruh botol tersebut pun muncul. Laki-laki dengan pupil hitam legam yang akan berubah menjadi merah ketika kutukannya sedang kambuh itu memberikan kelima botolnya pada Evander. Sebelum pecinta makanan itu bersuara, Candra mendahului, “Semoga botol-botol ini cukup untuk ditukarkan dengan beberapa botol tanaman yang kita butuhkan.”
Karena esensi dari Bloodstone—yang merupakan sumber daya paling langka di Darksville—serta akses ke wilayah tersebut yang cukup berisiko, tentu saja nilai satu botol berisikan serbuk Bloodstone memiliki nilai jual lumayan tinggi di Potion Industry. Sehingga dengan empat botol lain berisi serbuk holy basil itu ditukarkan, tanaman kaktus, electric lily dan teratai air akhirnya dapat terkumpul.
Kemudian mereka bermukim sementara di kediaman Johanes dan meminjam halaman belakangnya yang tampak luas. Tim hendak memulai uji coba. Ketika hari sudah berganti, kembang api warna-warni meledak di cakrawala malam sebagai pertanda festival Humanday telah berakhir, artinya penggunaan sihir sudah diperbolehkan.
“Apa kau yakin ini akan berakhir baik-baik saja?” Arion tampak gugup, meskipun sudah dijelaskan bahwa Humanday telah berakhir. Ia sedikit jera jika dihadapkan dengan Kesatria Sihir untuk ketiga kalinya. “Jika kau menggunakan sihir 'itu', Mr. Navarro ataupun Kesatria Sihir itu tidak akan datang ke sini, 'kan?”
Candra menjawabnya dengan gelengan. Sementara itu, mereka serempak menoleh pada satu-satunya orang yang dapat mereka andalkan.
“Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?”