Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
The Fire of Eternity - Run Away




Run Away


“LIHAT, ALEESIA KEMBALI!”


Para siswa berlarian mengerubungi sang Putri. Hal ini sering terjadi ketika Aleesia tidak bersama Half-Blood Noblesses lainnya dan para siswa bebas dari pengawasan guru. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki, tetapi tidak sedikit juga penggemar perempuan. Mereka bertiga terkejut, tetapi Cyrus sudah menduga ini akan terjadi. Ia kembali mengurungkan niat untuk menyerang dan segera menjauh dari keramaian penggemar Aleesia.


“Ada yang tahu dia dari mana?” tanya Claryn. Ia mengira semua murid akan berada di dalam akademi, tetapi Aleesia justru dari luar saat mereka mencarinya.


“Tanya orangnya, jangan tanya saya,” sahut Ayaka lemas, wajahnya tampak kesal karena yang mereka lakukan seharian ini ternyata sia-sia.


Aleesia dan rombongannya mulai menjauh, terlihat sedang berjalan menuju asrama. Bisa dipastikan kalau rencana awal mereka gagal. Humanday memang mempermudah, tetapi akan sama saja jika gadis itu selalu dikelilingi banyak orang.


“Kapten Claryn, kita mundur atau maju? Jika maju, mungkin ini akan menjadi pertama dan kedua kalinya aku melanggar,” ujar Cyrus sembari menatap segel api yang menyala di tangan kirinya.


“Kau mau menggunakan sihir di depan orang sebanyak itu? Jangan bercanda!”


“Lalu, kita harus bagaimana?”


“Tidak gimana-gimana.”


 Malam telah tiba, mereka memutuskan untuk menunda pencurian cermin di hari berikutnya. Bisa saja tim menyelinap ke tempat Aleesia malam itu, tetapi kemungkinan besar kamarnya dikunci. Selain itu, untuk mengeluarkan serpihan cermin, diperlukan seorang Wizard, dan mereka tidak memercayai Cyrus. Aleesia adalah seorang putri yang sangat cantik dan semua laki-laki terpikat olehnya, jadi akan sangat berbahaya jika Cyrus dibawa ke sana. Meskipun lelaki berambut putih itu terlihat tidak terlalu tertarik dengan lawan jenis, tim tetap tidak bisa percaya.


Cyrus menciptakan api yang sangat besar. Karena tidak ada bahan bakar, kemungkinan tidak akan bertahan lama. Malam itu, mereka beristirahat di luar akademi, tepatnya di antara karang-karang besar Black Coral. Ia duduk berhadapan dengan Ayaka, menunggu dua orang teman yang dari tadi pergi ke pantai untuk menangkap ikan.


Suasana sangat sepi, ditambah keduanya tidak berkomunikasi sama sekali. Mereka sama-sama diam memandangi api tanpa memedulikan sekitar.


“Cyrus,” panggil gadis kecil berambut hitam itu, mencoba memulai pembicaraan.


Lelaki yang dipanggil memejamkan mata sejenak kemudian membalas dengan tolehan, malas untuk bersuara.


“Kenapa kau tidak ikut mencari ikan?”


“Yang jelas bukan untuk menemanimu di sini,” balas Cyrus ketus.


Gadis itu terdiam, tidak mau bertanya apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, Claryn dan Leena kembali. Namun, hasil pancingnya sedikit mengecewakan. Mereka hanya mendapatkan dua ekor ikan sebesar telapak tangan. Tidak akan cukup untuk berempat, apalagi mereka belum makan sedari siang. Kedua gadis yang baru kembali menyerahkan tugas membakar ikan pada Cyrus, lalu duduk santai di dekat api.


“Kau bilang empat hari itu singkat, tapi sanggupkah kita bertahan selama itu tanpa uang sepeser pun?” keluh Ayaka, tatapan matanya kosong ke arah kobaran api.


Claryn tersenyum, melirik rekannya yang tadi ikut menangkap ikan. “Kita mungkin tidak punya uang, tapi kita punya barang-barang yang bisa ditunaikan.”


Gadis Elf di sebelah lantas bersedekap, sambil menarik jubah seragam untuk menutupi tangan. Ia memiliki cincin dan juga kalung berlian, mungkin itulah yang dimaksud oleh seniornya.


Claryn menepuk pundak Leena keras, senyumnya terlihat makin seram dan mengancam. “Ayolah, jangan pelit!”


“Jangan! Kenapa kau tidak jual barang-barangmu sendiri saja?”


Tiba-tiba angin berembus kencang, api meredup sehingga udara makin dingin. Leena pun langsung mendekap tubuh Ayaka untuk saling menghangatkan, sementara Claryn hanya bisa memeluk diri sendiri. Pandangan gadis itu beralih ke arah lelaki berkulit pucat yang sedang membakar ikan, bukan mengharapkan pelukan, melainkan ikan bakarnya.


Setelah matang, Cyrus memberikan kedua ikan itu untuk teman-temannya.


Claryn menaikan sebelah alis, keheranan. “Kau tidak makan?” tanya Fallen Angel berambut kecokelatan tersebut.


“Kalian lebih membutuhkannya,” jawab Cyrus. Ia membesarkan api unggun, dua kali lipat hingga menyamai tinggi badannya, kemudian sedikit menjauh dari anggota tim.


Tubuh Cyrus mulai memancarkan cahaya, daging dan tulang-tulangnya lenyap digantikan kobaran api. Ketiga rekannya melotot, hampir tidak percaya dengan yang dilihat. Lelaki pucat sedingin es itu tiba-tiba berubah menjadi manusia api mengerikan. Itulah salah satu bakat Cyrus—yang sering disebut kutukan oleh orang-orang di desanya—Fire Creature. Namun, tidak berselang lama, api tersebut padam dan terciptalah kembali kulit pucat beserta rambut seputih salju.


Wizard itu kembali duduk menghadap api unggun bersama teman-temannya. Ia menyadari tatapan mereka. Tadi menolak makanan kemudian menunjukkan wujud kutukan, Cyrus pasti sudah dianggap aneh.


Claryn berdeham sambil meletakkan ikan bakar di tengah-tengah mereka berdua. “Apa itu tadi dan kenapa kau melakukannya?”


“Salah satu cara untuk menonaktifkan bakatku. Jika kalian sadar, segel api di tanganku sudah hilang,” jawab Cyrus sembari menunjukkan lengan kiri. “Bakatku yang lain, Fire Instinct, membuatku tidak bisa merasakan hangatnya api, tetapi bisa merasakan dingin yang luar biasa. Jadi harus dinonaktifkan.”


Apa maksudnya senyum-senyum begitu? Cyrus menerima, memakannya sampai habis, lalu berkata, “Claryn, kau memang baik. Tapi maaf, aku tidak bisa mencintaimu.”


Gadis itu tersedak, terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut laki-laki di sebelahnya.


Ayaka panik dan langsung berteriak, “Claryn, jangan mati!”


“Jangan sembarangan! Aku hanya tersedak. Yah, durinya tertelan.”


 Keesokan paginya, mereka terbangun dengan tubuh kesakitan karena semalaman tidur bersandar pada bebatuan karang. Namun, berbeda dengan Ayaka yang tidur di pangkuan sahabatnya, ia tampak sangat nyenyak dan masih belum bangun sampai sekarang.


Claryn menguap sambil melakukan peregangan. Meskipun terasa sakit di punggung dan kepala, tetapi ia tidak merasa kedinginan sama sekali. “Api mati saat kami terlelap, tetapi kenapa aku merasa itu menyala semalaman?”


“Aku setuju,” sahut Leena, tangannya mengelus rambut gadis yang masih tertidur di pangkuan.


Claryn merapikan seragam Wisteria Academy-nya. “Leena, cepat bangunkan dia! Katanya hari ini masih ada festival. Kita lihat, apakah Aleesia akan sendirian? Karena dia cukup berbahaya, jadi kita butuh Ayaka untuk menenangkannya.”


Gerbang akademi sudah terbuka. Sebelum masuk, mereka mengintip terlebih dahulu, memastikan tidak ada orang karena takut ketahuan kalau habis dari luar. Namun, yang dilihat oleh mata lelaki berambut putih itu sangat mengejutkan, mungkin lebih mengejutkan daripada melihat matahari terbit dari utara.


Gadis incaran mereka sedang berjalan sendirian menuju gerbang. Tidak bisa dijelaskan kenapa fenomena ini terjadi, kemungkinan ia ingin lari pagi atau sekadar mencari ruang untuk sendiri.


“Percaya atau tidak, Aleesia berjalan kemari.”


“Dia itu memang cantik dan kau menyukainya, tapi jangan halu pagi-pagi begini,” ejek Claryn tidak percaya, akhirnya ia pun melihat sendiri ke dalam. Matanya terbelalak. Gadis itu langsung menyenggol temannya yang berdiri—mengumpulkan nyawa—di belakang. “Ayaka, bersiaplah,” bisiknya.


Tinggal beberapa langkah lagi Aleesia melewati Tunnelove dan keluar dari pintu gerbang. Ayaka sudah bersiap di depan ketiga rekannya dengan jarum dan juga tangan beracun. Begitu gadis Fallen Angel berdarah Elf itu keluar, ia menembakkan gas pelumpuh dari tangan, disusul lemparan jarum beracun.


Aleesia terkejut dan langsung membuat pelindung transparan. Namun, terlambat. Ia sudah menghirup gas pelumpuh, jarum Ayaka juga menancap di kakinya. Dalam hitungan detik, dapat dipastikan Aleesia akan tergeletak dan tidak bisa bergerak seperti yang terjadi pada Cyrus sebelumnya.


Kalau semudah ini, kenapa ngotot pas Humanday? batin Cyrus.


Claryn dan Leena memindahkan tubuh putri Elvangel ke samping pintu gerbang agar tidak terlihat. Mereka tidak ingin jauh-jauh membawanya karena efek pelumpuh cukup singkat dan belum tentu bisa digunakan dua kali kepada Aleesia. Cyrus membuka grimoire, merapal sebuah mantra untuk memeriksa tubuh Aleesia. Terdapat semacam segel mantra yang tertanam di bagian perut.


“Cepat sedikit, Cyrus!” desak Ayaka. Ia kelihatan panik, takut kalau gadis berambut hitam panjang ini pulih sebelum serpihan cermin dikeluarkan.


“Zerstören!”


Lingkaran sihir mengelilingi tubuh Aleesia, lalu terdengar bunyi mendesis yang teredam. Tubuh Aleesia terlonjak sedikit dan segel pun berhasil dihancurkan. Cyrus mengeluarkan serpihan Cermin Waktu yang memancarkan cahaya keemasan dan memberikannya kepada Ayaka. “Simpan itu! Kalian pasti tidak mau tahu dari mana aku belajar mantra tidak berguna.”


“Kau itu Wizard, sudah seharusnya bisa menggunakan mantra,” ujar Leena.


“Jika aku tidak menggunakan mantra, sebut aku Elf!”


“Tidak ada waktu untuk mengobrol, cepat pergi dari sini!” titah Claryn.


Ayaka mengernyit, bingung dengan cara mereka kabur kalau hanya jalan kaki, sementara Aleesia itu Fallen Angel yang bisa terbang dan beberapa detik lagi akan bangkit untuk mengejar. “Tapi, bagaimana? Kita bahkan belum punya rencana untuk kabur.”


“Itu mudah, pertama-tama kita ....” Lelaki itu berhenti berucap, ekspresinya berubah jadi sedikit panik. Ia melihat ke bawah, sebuah tangan mungil menggenggam erat kakinya. Gadis yang tergeletak kini sudah mulai pulih. Cyrus berdecak kesal lalu berteriak, “Claryn, bawa Ayaka terbang bersamamu!”


Gadis berambut cokelat sebahu itu menoleh ke belakang setelah berjalan beberapa meter dari teman-temannya. Ia menatap Cyrus, sedikit ragu dengan keputusannya, tetapi keadaan sudah sangat mendesak. Tanpa berlama-lama, Claryn langsung mendekap Ayaka dari belakang lalu membawanya terbang.


Leena menatap kepergian dua kawannya dengan ekspresi tak terbaca. “Lalu apa selanjutnya?” Ia tidak tahu apa rencana Cyrus, yang jelas remaja itu telah menyuruh dua orang temannya untuk pergi. Menyisakan mereka yang masih memijak tanah.


Cyrus mengentakkan kaki, mengubah tungkainya menjadi api dan membakar pergelangan Aleesia. “Siapa yang butuh mantra kalau kau punya seni.”


Cyrus mengangkat tangan kiri, kobaran api yang sangat besar  menjilat-jilat udara di sekitar tubuhnya. Dari bawah, api itu mulai membentuk sepasang cakar yang mencengkeram tangannya. Makin ke atas, wujudnya makin terbentuk hingga seekor burung raksasa berbulu kemerahan tercipta. Makhluk api itu mengepakkan sayap, meninggalkan jejak hawa panas yang menghanguskan tanah. Cyrus langsung menggenggam erat tangan Leena dan membawanya terbang.


Alessia bangkit, menatap sekumpulan remaja yang kabur usai mencuri benda berharga miliknya. Ia memunculkan sepasang sayap berwarna emas dan menciptakan sebuah busur dari  cahaya. Satu anak panah diarahkan ke dua orang yang baru saja terbang menggunakan burung api itu.


“Jangan pikir kalian bisa kabur dengan mudah!”