
1
ADA LANGIT-LANGIT DAN hutan yang membentang luas, juga satu sumur. Tubuh-tubuh baru yang membawa misi rahasia meluncur dari sumur, menyapa burung, lalu berselancar dengan angin, dan berakhir menggebrak tanah. Galavidi, wanita penyihir yang memiliki mata, bulu mata, alis, dan rambut yang semuanya putih terbangun lebih dulu dari ketiga temannya yang lain. Tongkat sihir di tangannya yang biasa disebut sebagai Wand of Two Characters membantunya berdiri, tetapi sia-sia. Punggungnya terasa nyeri sampai ke tulang sumsum. Dia meraba-raba tanah sekeliling sampai tangannya menyentuh gumpalan daging yang empuk.
Wanita berambut panjang seperti birunya malam meringkuk dan pingsan sebab kepalanya terbentur sesuatu. Galavidi berusaha berdiri lagi, lalu menendang pantat temannya beberapa kali untuk memastikan Demigod keturunan Ishtar dan Nannar itu belum mati. Akkadia namanya. Sedangkan Kannika, wanita bertubuh paling mungil di antara mereka terlihat mencari sesuatu. Memang, ada satu anggota kelompok yang menghilang. Di mana Sam? Keberadaannya menjadi tanda tanya sebelum ditemukan sedikit jauh dan tersangkut terbalik di pohon willow, sebagai hasil paling ekstrem di timnya karena melakukan perjalanan mundur dari tahun 2.242 menuju 1.777, sekiranya hampir 465 tahun. Terlihat si Sumur sudah pilih kasih.
Ketika Galavidi dan Anis—hewan kontraknya berupa capung yang bertugas mengirim data penglihatan, sebagai pengganti kebutaannya selama dua puluh jam—telah siap; Akkadia berhasil menenangkan kepalanya yang sempat nyeri; juga Sam yang berhasil turun dengan bantuan Kannika, perjalanan misi dimulai dengan semangat yang menggelora. Meski sejauh mata memandang, hanya terdapat jalur dengan topografi tidak rata. Tanah-tanah berpasir dan bebatuan membuat kaki tergelincir, juga tangan yang berdarah-darah untuk menggaet sesuatu agar bernasib tidak lebih buruk dari ini.
Kannika menumpu tubuh dengan kaki depan, berhenti sejenak untuk istirahat. Pepohonan yang semula rimbun menjadi lebih renggang. Dada mereka sesak dan makin buruk ketika tanjakan demi tanjakan berhasil terlewati. Namun, makin lama tubuh-tubuh itu mencapai batasnya.
Saat matahari makin naik, Galavidi memajukan kupluk jubahnya untuk menutupi wajah, jika tidak kulitnya akan memerah dan terasa terbakar. Beruntung style seragam Wisteria Academy miliknya, yang terganti secara ajaib masih sama seperti biasanya. Di sisi lain, mata Kannika memindai, mencari tempat yang baik untuk berteduh. “Aku kehausan,” ujar Kannika, “kalau Avi tidak melarang menggunakan burung anzu milik Akkadia dan Sam terbang dengan sayapnya, kita tidak akan merasakan ini.”
Galavidi bersandar di pohon alder. “Sudah kubilang, kesulitan ke Wisteria Academy ada di pertengahan. Jika kita terbang di awal perjalanan, ada kemungkinan kita mati karena terlalu banyak mengeluh dan tidak pernah ditemukan. Dengar, area Well of Time dikelilingi air laut dan di sisi tenggaranya terdapat pegunungan, jadi pasti ada muara. Itu menjadi patokan jarak ke Wisteria Academy makin dekat.”
“Aku tidak sabar membuat wajahku terlihat lebih segar. Akan berbahaya bagi seorang bangsawan jika ada yang melihat penampilannya berantakan.” Akkadia berceloteh.
Sam yang juga seorang bangsawan menyahut, “Aku tidak, tuh.”
Bibir atas Akkadia berkedut. Dia ingin membalas, tetapi diurungkan sebab Galavidi lebih dulu berucap, “Yosh! Sepertinya kita bisa menggunakan jalur udara sampai muara, lalu bersih-bersih sejenak. Setelah itu, kita berjalan lagi untuk sampai ke akademi. Bagaimana menurutmu, Ketua?”
Sam mengangguk-angguk sambil mengacungkan jempol, “Bagus.”
“Kenapa harus jalan lagi?” Akkadia mencebik.
Kannika menoyor kepala Akkadia sampai tubuhnya terhuyung ke depan. “Bodoh! Hari ini kita dilarang menggunakan sihir, kamu tidak ingat pesan Lord of Darkness? Jadi, kita harus pandai-pandai menggunakan kesempatan dalam kesempitan.”
“Akhirnya kamu menjadi pintar.” Sam bertepuk tangan meski cuma dua kali, lalu membentangkan sayap dan terbang terlebih dahulu, nyaris saja terkena pukulan telak dari Kannika.
Angin berembus tidak terlalu kencang. Dari atas, mereka bisa melihat pemandangan dengan puas, sampai sensasi kesegaran mampu melegakan hati dan pikiran pasca menggunakan keringat dan darah di perjalanan jalur darat sebelumnya. Kannika melenturkan sendi-sendinya dan Akkadia menata kembali penampilannya. Dua yang lainnya duduk-duduk di bebatuan besar tepi muara, sekadar melihat Kannika dan Akkadia yang sibuk. Sampai di sini, tidak ada masalah besar yang timbul dan Sam cukup lega dengan permulaan yang bagus itu.
“Lihat.” Sam sedikit mendongak dan menujuk suatu tempat. “Pintu gerbang sudah terlihat dari sini, meski masih cukup jauh untuk ukuran berjalan kaki.”
Galavidi mengangguk. “Namun, itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan perjalanan kita sebelumnya.”
Ucapan itu terbukti benar, mereka berempat telah menginjak pintu gerbang akademi tanpa keluhan. Keramaian menyambut mereka di depan gerbang dan mereka pun langsung menuju antrean dan berbaris rapi untuk memasuki akademi.
Setelah melewati antrean gerbang yang cukup menyebalkan, terutama bagi Galavidi, terowongan bunga wisteria dengan sulur-sulur yang menggantung menyambut mereka. Di ujung jalan terdapat secercah cahaya terang. Galavidi juga mendengar hiruk pikuk orang-orang meski samar-samar. Dugaan mereka datang saat Humanday makin jelas. Galavidi masih ingat tentang kebenciannya, bahwa Humaday bukanlah festival, melainkan pelarangan menggunakan sihir yang sangat menyusahkan. Jika benar, maka hiruk pikuk itu berasal dari stan-stan yang menjual berbagai jenis barang dan makanan. Juga pastilah ada kesatria sihir yang berpatroli. Jadi, Galavidi menjelaskan berbagai kemungkinan dan situasi saat Humanday terjadi. Di sana, di terowongan itu mereka mulai berencana.
“Aku tidak bisa menggunakan Anis sepanjang waktu, jadi aku tidak bisa melihat sesuka hati. Kesatria sihir sangat sensitif dengan pergerakan mana sekecil apa pun. Aku membutuhkan Akkadia yang bisa memahamiku.” Galavidi memberi jeda lalu memutuskan penglihatan dari capungnya. “Kita akan terbagi menjadi dua yang akan menyisir kastel sebelah kiri dan kanan. Bagaimana, Ketua?”
Lagi-lagi Sam mengacungkan jempolnya. “Bagus. Bagus. Lajutkan!”
Sam manggut-manggut. “Oke.”
“Sip! Sana laksanakan jangan seperti timku yang udah bau-bau mengenaskan.” Tiba-tiba lelaki tengil telah menguping rencana tim Charming. Suaranya terdengar lebih dulu sebelum kedua tangannya menyibak kepala Sam dan Kannika, lalu memunculkan wajahnya yang terhias mata hijau dibarengi senyuman tanpa dosa. Anggap saja dia beruntung karena Kannika mendadak ingat makhluk hina di sampingnya itu sebelum melayangkan pukulan seberat puluhan kilogram. Arion, Werewolf dari tim sebelah—yang Kannika yakini akan menjadi beban abadi dalam timnya.
Galavidi langsung digandeng Akkadia setelah mereka berempat keluar dari terowongan bunga wisteria, berbelok mengambil sisi kanan. Sedangkan Sam dan Kannika ke arah sebaliknya. Mereka tidak ada waktu untuk melihat-lihat stan karena selain sedang dalam misi, Kepala Sekolah tidak memberikan uang saku, hanya seragam Wisteria Academy yang kosong melompong.
Namun, setelah berkeliling dari lapangan, kantin, ruang kelas, tempat ekstrakurikuler, kamar mandi, perpusatakaan, bahkan mengintip ruang guru, seseorang yang dicari tidak ditemukan kecuali seorang lelaki tidak asing yang terlihat bersantai dengan mata terpejam. Kannika segera menghampiri dan menepuk kening lelaki itu keras-keras. “Hei, Kunyuk! Kamu ngapain di sini?”
“Hei, apa yang kau lakukan?!” Alanon, Zaadia yang paling Kannika benci telah menepis tangannya dan menatapnya.
Kannika melotot. “Aku barusan melihat Arion, sekarang kamu. Apa kalian hanya berkeliaran atau menjalankan misi?”
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Dasar, orang tidak waras yang menepuk jidat orang sembarangan!” Alanon menggaruk kepala. “Kau bertemu dengan Arion? Sungguh?”
Kannika mengatakan sesuatu sebelum berpaling untuk kembali ke timnya yang sedang melihat situasi ini dari jauh. “Entahlah, apa urusanmu? Terkadang misi Maple Academy memiliki banyak rahasia dan lebih baik tidak dipertanyakan lebih jauh. Ya … cukup tau aja.”
Bergabungnya Kannika ke timnya kembali disambut oleh sumpah Akkadia. “Andai nanti ketemu, aku akan memeluknya jika tampan dan sesuai standarku. Kalau tidak, aku akan menamparnya sangat keras!”
“Mari kita catat!” ujar Kannika dengan semangat.
Sam berkata, “Kalau sudah begini, kita lanjutkan bersama-sama.”
Galavidi menjulurkan tangan. “Ketua, gandeng,” rengeknya.
“Tidak sudi!” Sam menepis tangan Galavidi dan berjalan lebih dahulu.
Akkadia mengelus punggung Galavidi. “Sabar, Avi. Nanti aku carikan yang lebih tampan dan kuat daripada Sam. Lelaki seperti dia tidak pantas buat kamu.” Galavidi yang digandeng Akkadia dari depan diekori oleh Kannika.
Sesekali mereka mengamati, barangkali mangsanya terselip di keramaian, atau tengah berbangga menjual sesuatu, seperti salah satu stan yang melelang sobekan kain seragam bekas air liur—yang mereka yakini sebagai bekas si Begal Jus. Barangkali juga orang itu ikut menjual sehelai rambut atau bulu hidungnya sendiri sebagai bukti eksistensi dalam kancah akademi. Sungguh popularitas yang bukan main-main. Akkadia, bangsawan yang tidak kalah populer di kampung halamannya sampai dibuat bergetar. Dan di antara suasana yang tercipta dari festival itu, terdapat satu sudut yang menarik perhatiannya.
Sontak, matanya melotot, bibirnya bergetar, juga wajahnya memerah mengalahkan warna wajah Galavidi saat terkena cahaya matahari. Demigod itu berlari, menggeret Galavidi yang tidak mengerti apa-apa. Orang-orang bisa menebak kalau Akkadia sedang kesetanan. Sedangkan Sam dan Kannika membutuhkan waktu untuk mencerna situasi. Awalnya, mereka berdua berniat mengabaikan Akkadia seolah tidak mengenalnya. Akan tetapi, berubah setelah melihat tangan Galavidi tergenggam erat, membuat penyihir itu menabrak bahu orang lain, bahkan nyaris membentur pilar akademi. Demi kenyamanan dan kemajuan misi, Galavidi tidak boleh terluka apalagi tidak sadarkan diri.
Akkadia berhenti dan berseru, “Ya ampun! Ya ampun! Bagaimana ini? Aku harus memenuhi sumpahku karena wajahmu yang tampan di luar ekspetasiku. Sungguh, aku akan memelukmu berkali-kali.
Galavidi terpelanting, nyaris menggempur tembok jika Kannika tidak menahan seragamnya. Sedangkan Sam tertawa puas, sampai perutnya terasa nyeri ketika melihat seorang lelaki berponi belah tengah dengan lengan seragam yang terlipat sampai siku. Otot-otot tangan kanannya timbul sedikit karena beban seember air yang beriak, juga sebuah sapu di tangannya yang lain. Jangan lupakan kain pel berwarna hitam legam bertengger di pundak dan ekspresi kebingungannya menghadapi seorang wanita gila yang mengajukan diri untuk berpelukan.
Itu dia! Seseorang yang memiliki hubungan dengan misi mereka. Betelgeuse, pelajar dari Wisteria Academy yang akan menjadi Lord of Darkness mahamulia di masa depan. Namun, dia sekarang tidak lebih—bahkan mirip—seorang pelayan.
Mengagumkan!