Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Last Chaos in Boneyard - Crimson Lake




Crimson Lake


DI TENGAH PERJALANAN menuju tanjung di timur pulau, tangga hitam menjadi alternatif untuk meninggalkan Wisteria Academy,  Arion berpapasan dengan Claryn. Senior yang terkenal berperilaku dingin ketika baru dikenal, tetapi akan menjadi ramah dan bersikap jail ketika sudah kenal dekat. “Claryn!”


“Eh, Anjing! Siren Cantik itu, di mana?”


“Sialan, kau! Ashlen sedang bersama tim. Sudah kubilang berkali-kali, bukan Anjing, tapi Serigala.”


Fallen Angels dengan warna iris mata yang berbeda itu mengedikkan bahu tak acuh. “Sama saja. Kau memiliki moncong yang sama.” Ia menepak bahu Arion yang menampilkan muka-muka minta dinista baginya. “Tolong jangan pasang tampang seperti itu. Aku tidak tahan untuk menghinamu sekarang.” Menghadapi Claryn memang harus punya stok sabar.


Mata Arion beradu pandang dengan Elf tinggi semampai yang tubuhnya dihiasi perhiasan berlian, menandakan kasta tinggi, Leena. Gadis ber-cover tomboi itu beberapa kali mengigiti telunjuknya. “Hei, kau kenapa?” Leena dengan iris keabu-abuannya terlihat mengkhawatirkan sesuatu.


Junior tim Claryn yang paling kecil dan pendek, tiba-tiba menyerobot dan menepis lengan Arion yang hendak menepuk Leena. Ia khawatir, jika Werewolf yang satu ini menjahati sahabatnya. “Jangan sentuh-sentuh. Kuman, nanti!”


Arion mengacungkan cakar beracun ke arah Ayaka. “Nih, kuman!”


“Ih, jijik! Sana-sana!” Ras Human  yang kehadirannya dianggap tabu di Autumnland tersebut, bersembunyi di balik tubuh Leena, menjadikan sahabatnya sebagai perisai. Leena memberikan peringatan pada Arion, tetapi laki-laki itu tak mengacuhkan ancamannya. Awas saja nanti!


“Dia kenapa?” Arion bertanya Claryn.


“Maksudmu, Leena?” Arion mengangguk. “Oh .... dia mengkhawatirkan Cyrus. Sudah sepuluh menit berlalu, tapi Rambut Salju itu sepertinya hilang di toilet. Mungkin diculik. Entahlah.”


“Kalau gitu, cepat cari.”


“Tanpa perlu kau suruh, kami juga akan mencari dia,” sahut Ayaka. Nada kesal yang digunakannya menunjukkan bahwa Human tersebut masih dendam pada Arion.


“Baiklah. Kalau gitu, aku duluan!”


“Sana-sana, tak perlu pamit segala, Tuan Buta Arah!”


 Ledakan yang menggemparkan  berasal dari seberang pulau Wisteria Academy, bagian tenggara dari Wizardium Castel. Tepatnya, di Crimson Lake. Danau berwarna merah muda menawan, berasal dari bakteri alga merah, menjadi penghasil garam berkualitas terbaik untuk pembuatan macam-macam ramuan.


Tim dikejar waktu yang terbatas—sebelum masa Aphelion tiba, saat posisi matahari berada pada titik paling jauh dengan Bumi—Arion harus menyayangkan pengunaan ramuan exploding potion, cairan berwarna asam kehijauan yang sempat diambilnya secara diam-diam ketika pembelajaran ramuan di Maple Academy bersama komplotannya, Miguel. Ah, tiba-tiba dia merindukan Fallen Angel yang orang-orang bilang misterius.


Cairan ledakan tersebut hanya menyisakan serpihan kaca yang berserakan di sisi danau, sebagian lagi tertutup rerumputan sebatas mata kaki.


Arion berkata dengan suara pelan sambil berdecak. Ia memunguti serpihan botol kaca yang sudah pecah. “Ck, seandainya Kepala Sekolah mau mengganti rugi barang-barang rusak milik siswa, aku tidak akan sungkan untuk meminta barang baru.” Arion merasa kesal karena salah satu koleksi ramuan yang diambilnya jadi berkurang.


Sesuai prediksi Candra, pasukan Kesatria Sihir yang berjaga di Crimson Lake tidak sebanyak di halaman kastel. Penjagaan Crimson Lake cenderung sepi, jumlah orang-orang yang bekerja saat festival dapat dihitung jari.


Salah satu pekerja, mendekati Arion saat suara ledakan itu terdengar. Seseorang dengan rambut putih dan bertelinga runcing, mengingatkan Arion pada Evander, sang Elf. Namun, garis wajah yang penuh luka, mengasumsikan bahwa dia bukan sebatas warga nelayan biasa. “Anak muda, apakah kau baik-baik saja?” tanya orang tersebut berambut


Arion tersenyum menanggapi. Dia menunjukkan pecahan dari wadah exploding potion yang berceceran di atas rumput. “Saya baik-baik saja, Sir. Terima kasih. Tadi saya tidak sengaja membuat ramuan yang hendak saya uji coba menjadi pecah.”


“Para Kesatria Sihir itu mungkin akan segera kemari. Berhati-hatilah.”


Orang-orang di Crimson Lake menjadi gentar ketika didatangi belasan Kesatria Sihir. Mereka sudah menebak kalau ledakan itu pasti akan memancing kehadiran para penjaga keamanan Autumnland. Kesatria Sihir berseragam sama, dengan mengenakan helm besi yang menutupi seluruh wajah, tubuh jangkung, dan mengeluarkan aura karismatik, disertai sebilah pedang panjang terselip di pinggang.


Arion menutupi kegelisahan akibat intimidasi yang diberikan penyandang gelar Kesatria Kerajaan itu. Pria bertubuh tegap, berdiri menjulang didepan Arion seraya berkata, “Jika Anda tidak menjelaskan penyebab kegaduhan yang diperbuat, Anda harus segera menyerahkan Lisensi Sihir untuk diverifikasi.”


Lisensi Sihir merupakan izin resmi bagi setiap ras Wizard untuk mempraktikkan kemampuan sihir. Masalahnya, Arion tidak memiliki bakat sihir dan bukan berasal dari Autumnland. Bagaimana bisa seorang Werewolf memiliki Lisensi sihir para Wizard? Tidak mungkin juga, bagi Arion untuk kabur saat ini, kan?


 “Wa-waktu  .... festival berlangsung, Laboratorium Wisteria Academy ditutup dan tidak mengizinkan siswanya untuk menguji coba ramuan,” Arion menjelaskan dengan gugup. Alasannya ia atur agar sesuai dengan kata-kata Candra sewaktu perpisahan mereka di Tunnelove, “karena potensi garam di Crimson Lake baik untuk ramuan dan letaknya jauh dari keramaian orang-orang, jika nantinya percobaan saya gagal, tentu tidak akan mencelakai siapa pun.”


Kesatria Sihir yang menginterogasi Arion membuka sebagian helmnya. Ia menampilkan kening berkerut, tampak meragukan alibi Arion. Elf tua di samping Arion, turut berargumen, “Seperti anak muda pada umumnya, dia masih labil dan penuh rasa penasaran, saya rasa yang dilakukan oleh anak muda ini …,” Johanes menepuk bahu Arion, “hanyalah pelampiasan atas rasa penasaran. Mohon pengertiannya, Tuan Kesatria.” Penjelasan dari Johanes diakhiri dengan membungkukkan badan. Arion yang sempat melirik, ikut menundukkan kepala.


 “Baiklah, jika kenyataannya seperti itu.” Kesatria Sihir itu akhirnya memilih mengampuni Arion, mengingat masih berlangsungnya festival. “Namun, perlu kau ingat untuk tidak membuat kegaduhan lain selama festival. Paham?”


“Ba-baik, Sir.”


 Kekuatan Evander hanya bisa digunakan sebanyak dua kali dalam sehari dengan durasi waktu terbatas. Meskipun tubuh Elf-nya memiliki darah campuran Fallen Angel, Evander tidak memiliki sayap seperti kebanyakan ras malaikat. Ia menutupi kekurangan dirinya dengan belajar ilmu pengobatan. Walaupun tidak semahir keluarganya, tetapi cukup berguna untuk keadaan darurat dan tidak membuatnya menjadi beban di tim.


Melihat keadaan tim yang terdesak disertai kecerobohan yang diperbuat, Evander memaksakan diri untuk menggunakan kekuatan penyembuhan demi menjaga stamina, walaupun penggunaannya juga terbilang singkat.


Dari arah jam dua belas, Kesatria Sihir berderap dengan wajah murka mendekati Ashlen dan Candra. Tidak terdengar apa yang mereka bicarakan, tetapi kenyataan bahwa Navarro—sang target juga ikut angkat bicara—membuatnya risau. Namun, di saat bersamaan, Evander bersyukur karena dengan cara itu dia dapat memulihkan mana-nya.


Tampak ekspresi ketidakpuasan saat bernegosiasi dengan Kesatria Sihir. Ashlen yang biasanya terlihat santai, sekarang cenderung mengerutkan alis. Gestur Candra  menunjukkan kegelisahan. Ia menggosokkan jemari pada hidung beberapa kali. Hanya Navarro yang tidak menunjukkan perubahan pada mimiknya.


Angin bertiup dari arah barat, sebagian orang langsung menutupi kepala mereka dengan jubah, berlindung dari udara dingin. Mereka bergegas mencari perlindungan atau jika memungkinkan, memilih untuk segara berada di rumah.


Terlena dengan keadaan sekitar, tim kehilangan jejak Navarro. Terdengar suara umpatan dari mulut Evander. Ia menyusul Ashlen dan Candra yang berusaha mencari keberadaan Navarro.


“Dia pintar menghindar,” komentar Candra.


Kali ini Evander setuju. “Pantas saja nanti dia  bisa jadi kepala sekolah. Kemampuannya memang bukan tandingan kita.”


Tim menyusul ulang rencana untuk menemukan Navarro dan merebut cermin. “Kita pasti bisa merebut cermin itu sekarang.” Perkataan Ashlen yang penuh percaya diri, membuat Evander tertawa pelan.


“Entah kau terlalu sombong atau terlampau percaya diri, tugas ini terdengar sangat mudah ketika kau bilang seperti itu.”


“Aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak kuyakini, Evander,” kata Ashlen tajam, berusaha meyakinkan anggota timnya.


“Baiklah-baiklah. Terserah kau saja.” Evander duduk bersandar pada salah pilar toko yang kelihatan tidak terawat. Toko tersebut sudah tutup lebih awal dan jauh lebih kumuh dibandingkan toko-toko di sekitarnya.


Ashlen berdiam cukup lama, kemudian kembali berujar, “Kau sudah tahu di mana letak cermin itu, bukan?” Pertanyaan tersebut dibalas oleh anggukan kepala Wizard pirang-bertopeng. “Bagus. Setelah ini, kita hanya harus pergi ke Light of City.”


“Light of City? Mengapa dari banyaknya pilihan, kau memilih tempat itu?” Candra keheranan, walaupun sudah kehilangan jejak Navarro, tetapi pilihan yang diambil Ashlen justru wilayah yang berada di seberang pulang Wisteria Academy. Sungguh mencurigakan.


Evander memicingkan mata, ia melihat Ashlen tampak gembira saat menyebut wilayah Light of City, kota utama kerajaan Autumnland. “Jangan bilang, kau ke sana untuk bersenang-senang, Ashlen.”


Ashlen membalas dengan senyuman jenaka. “Kenapa tidak? Lagi pula, ini hari festival. Bersenang-senang sedikit, aku rasa tidak masalah.” Candra menunjukkan wajah murung ketika Ashlen menambahkan perkataannya. “Justru karena kota kerajaan, pastinya memiliki segudang informasi. Kita pasti bisa menemukan, setidaknya secuil informasi tentang Navarro dari sana.”


“Apa mungkin Navarro ke kota kerajaan untuk membelikan seseorang hadiah?” kata Candra tiba-tiba. “Misalnya, untuk seseorang yang dia suka?” sambungnya, tidak yakin dengan pendapat sendiri.


Evander tertawa kencang, Ashlen bahkan sampai terbahak.


“Apa ada yang salah?” tanya Candra.


“Tidak, tidak.” Evander mengibaskan tangannya, berusaha menahan tawa, tetapi gagal. “Aku bahkan tidak yakin bahwa Navarro pernah menyukai seseorang. Mustahil.”


Ashlen ikut menimpali, “Namun, bisa saja kita memang bertemu dengan Navarro di sana. Semoga saja kita beruntung.”


 Light of City merupakan kota utama di wilayah pusat kerajaan. Kota yang berada di bawah Highland itu menjadi pusat interaksi di wilayah Autumnland. Keramaian di Light of City melebihi kepadatan orang-orang di halaman kastel Wisteria Academy.


Mereka tiba di kota saat hari menjelang petang. Perahu yang mereka tumpangi kehilangan dayung. Ashlen sebagai dalang yang mahir berenang dan memiliki kemampuan pernapasan dalam air, terpaksa mendorong perahu. Belum lagi Evander yang mendadak mengalami mabuk laut, Ashlen merasa jadi pengurus Pangeran saja. Candra yang biasa tidak neko-neko, mendadak pingsan di pesisir pantai. Ashlen dibuat kesusahan. Syukur-syukur bocah satunya lagi tidak hadir, setidaknya kepala Ashlen masih bertahan waras menghadapi junior-juniornya.


Sebelum mencapai pusat kota, mereka beristirahat di tepian pulau. Ashlen menunggu mabuk Evander berkurang, sehingga dapat memulihkan Candra. Wizard itu pingsan selayaknya orang mati. Susah untuk dibangunkan. Mungkin efek kelelahan, tubuh kurus Candra kadang-kadang membuat Ashlen cemas juga kalau seandainya dia tertiup angin.


Keabsenan Arion, mengakibatkan tim tidak bisa makan. Mengingat solidaritas dan loyalitas yang diajarkan di Maple Academy. Lebih-lebih, uang saku yang diberikan pihak sekolah ataupun yang mereka miliki sungguh tidak berguna pada tahun sekarang. Sepertinya memang betul, Kepala Sekolah itu orang yang sangat berdedikasi sekali, misalnya berdedikasi melatih mereka untuk menahan lapar.


Matahari hampir terbenam di ufuk barat. Mereka sampai di pusat Light of City. Tim kembali berbaur di keramaian festival. Beberapa kali harus berpikir ulang agar tidak merebut makanan yang disajikan dengan aroma yang menggelitik hidung.


“Jika kalian tidak mengingatkan tentang Werewolf itu, aku sudah lebih dulu makan sekarang ini,” keluh Evander.


“Sabarlah sebentar lagi. Setelah ini selesai, kau bisa makan,” kata Candra tanpa menoleh pada kawannya. Dia sibuk memerhatikan orang-orang. Tudung jubahnya sengaja dibuat untuk menutupi rambut pirangnya, sekaligus tidak ingin membuat orang-orang memerhatikannya.


“Sebentar  ... sebentar  ... sebentar  ... terus aja gitu sampai mati kelaparan.”


 Kemampuan Ashlen dalam mendapatkan informasi memang patut diacungi jempol, terlebih karena kepopuleran Navarro sebagai salah satu siswa Wisteria Academy berbakat dengan latar belakang keluarga tersohor, makin memudahkan mereka untuk menggali informasi. Walaupun tidak jarang, ketiganya harus mencari dari satu kedai ke kedai lain di sepanjang kota. Kata orang-orang, mereka melihat Warlock berbakat itu sedang menikmati kudapan di salah satu kedai di sudut Light of City.


“Saat bertemu dengan Navarro nanti, sebelum kita merebut cermin darinya, bisakah kita meminta dia untuk membayari kita beberapa kudapan?” kata Evander di tengah perjalanan mereka.


Terdengar suara lenguhan dari Candra. “Memangnya kau pikir Navarro akan memberimu makan dengan percuma? Jangan mengada-ngada. Dia pasti sudah lebih dulu menghajarmu daripada membelikan makanan untukmu,” jawabnya dengan sarkas.


“Sudahlah kalian.” Ashlen menengahi perdebatan mereka, kemudian menunjuk seseorang yang keberadaannya mereka cari. “Seperti yang kuduga, kita memang beruntung,” ungkapnya bangga.


Evander tersenyum semringah. Layaknya melihat kudapan di tengah rasa lapar yang diderita, begitulah cara dia menatap Navarro saat ini. Penuh suka hati.


Misi selesai, waktunya makan, pikirnya. Sesegera mungkin Evander ingin menyelesaikan misinya hari ini.


“Haruskah kita mulai sekarang? Aku sudah tidak sabar untuk makan.”


“Walaupun niatmu tidak benar, tapi kenapa tidak?” balas Candra menanggapi.