Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Lost in the Fest




Lost in the Fest


SORAK-SORAI KERAMAIAN TANPA jeda menusuk indera pendengar Lyria. Aroma makanan dari kios-kios, bau keringat yang menguar dari tubuh setiap orang, serta bau hangus dari kios yang salah mencampurkan ramuan sihir berpadu menjadi satu.


Lyria sangat menyukai festival, tetapi di saat yang sama juga membenci kerumunan orang-orang bertubuh lebih tinggi darinya. Meskipun tubuh Dwarf kuat, tetap saja ia akan merasa jengkel apabila ada orang asing tanpa sengaja menyikut kepalanya.


“Kita sebaiknya mencari tempat sepi dan mendiskusikan langkah selanjutnya,” ujar Mikalea sembari mengambi brosur yang diletakkan di meja kecil dekat gerbang. “Aku ingin memberitahu beberapa hal mengenai Hilarion.”


Alanon mengambil brosur lain dan mengipasi kepalanya. “Kau benar Kale, tempat ini sangat panas dan berisik. Mungkin kita bisa pergi ke perpustakaan yang biasanya sepi atau … ke taman.”


Mikalea membuka brosur dan membaca peta Wisteria Academy. Ia memandu jalan, diikuti Alanon, Lyria, dan yang paling belakang adalah Zanesha. Alanon terus mengipasi kepalanya, sementara Lyria terkagum-kagum dengan megahnya arsitektur akademi. Hal paling menarik bagi Lyria adalah menara jam yang menunjukkan pukul 9.22 dengan lonceng raksasa. Ia selalu penasaran tentang bagaimana caranya orang-orang dulu bisa membangun menara jam raksasa, terlebih mengangkat lonceng emas ke puncak menara pasti tidaklah mudah.


Zanesha bersin, hidungnya merah setelah melewati Tunnelove. Ia terus mengeluh kepada dirinya yang dilahirkan dengan keadaan alergi serbuk bunga serta mengeluh kepada orang yang telah membangun terowongan dengan berbagai jenis bunga wisteria tersebut. Seorang siswa pemilik kios ramuan menghampirinya, menawarkan ramuan pereda alergi. Zanesha yang tertarik, berniat untuk membeli ramuan itu. Namun, setelah Lyria menyadari Zanesha tidak ada di belakangnya, ia langsung menarik tangan temannya itu.


“Hei, apa yang kau lakukan, Cebol!” Zanesha bersin. “Aku ingin membeli ramuan itu, aku tidak tahan dengan alergi sialan ini!”


“Kucing, tahanlah alergimu dan berpikirlah sedikit! Kau memangnya tidak lihat mereka membeli menggunakan uang apa? Wizer! Meskipun mapleaf yang kau bawa itu banyak, uang tersebut tidak akan diterima!”


Zanesha melepas tangan Lyria lalu kembali ke penjual ramuan itu. Ia ingin membeli ramuan, akan tetapi, saat memberikan empat keping hexaleaf, penjual tersebut mengernyitkan dahi.


“Maaf, ini uang dari daerah mana? Kami tidak bisa menerima uang selain yang berlaku di Autumnland.”


“Kau bercanda?” Zanesha bersin.


Pedagang itu menatap Zanesha dengan curiga. “Kamu benar-benar siswa Wisteria Academy?”


Lyria datang di saat yang tepat. “Tolong maafkan teman saya yang satu ini. Semoga dagangan kalian laris manis.” Lyria mengambil uang di tangan penjual tersebut, lantas kembali menarik tangan Zanesha. Lyria melirik ke sana-kemari, tetapi ia tidak menemukan Mikalea ataupun Alanon. Akhirnya, ia membawa Zanesha ke pinggiran sebuah bangunan.


“Karena kau, kita jadi terpisah. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku, sih? Aku, kan, sudah bilang, mapleaf  kita tidak berlaku di sini.”


Zanesha menggosok-gosok hidung merahnya. “Kau juga harusnya memahamiku, Cebol. Aku alergi serbuk bunga!”


“Namaku Lyria, bukan Cebol!” Lyria menghela napas. “Oke, baiklah, aku yang salah. Puas? Untuk sekarang, mari kita berdamai terlebih dahulu. Kita harus segera bertemu dengan Kale dan Al. Mereka pasti sekarang sedang mencari-cari kita. Kau bisa, kan, menahan alergimu itu, kan ... Zane?”


Zanesha bersin, kemudian menggosok-gosok hidungnya. “Aku akan berusaha.”


Lyria dan Zanesha bergabung kembali dengan kerumunan dan berjalan tak tentu arah. Lyria menyesal tidak mengambil brosur yang ada di gerbang. Ia juga tidak bisa kembali ke sana hanya untuk mengambil brosur, kerumunan di depan Tunnelove semakin ramai dan ia tidak ingin alergi Zanesha semakin parah. Meskipun Zanesha bisa menahan bersin-bersinnya, tetap saja ia merasa kasihan.


Kedua gadis itu sekarang berada di tengah halaman kastel. Lyria naik ke pundak Zanesha dan melihat sekeliling, mencari keberadaan Mikalea atau Alanon, tetapi nihil. Terlalu banyak orang. Lyria juga menemukan banyak capung yang terbang di langit, tetapi itu hanya kumpuan capung biasa, bukan Soul Dragonfly milik Alanon.


“Apakah kau menemukan mereka?”


“Tunggu, sepertinya aku melihat seseorang yang kita kenal.” Lyria memicingkan mata dan fokus memperhatikan rambut putih seorang lelaki. “Cyrus .... Ah, iya! Dia Cyrus, Zane!”


“Lelaki suram itu?” Zanesha bersin. “Mengapa dia ada di sini juga?”


“Kau punya dendam kepadanya? Apakah sebaiknya kita datangi saja dia?”


“Tidak usah. Aku tidak suka dengannya.” Zanesha menggosok hidungnya. “Apakah kau sudah menemukan Alanon dan Kale sekarang?”


“Belum.” Lyria turun dari pundak Zanesha. “Tetapi, aku menemukan satu hal yang menarik.”


 “Selamat datang di Technosilian Go! Kami menerima jual beli peralatan teknologi yang Anda miliki!”


Lyria dan Zanesha tiba di depan sebuah kios bertenda hijau yang letaknya berada di paling ujung kanan atas halaman kastel. Ada banyak sekali barang yang menggabungkan antara teknologi dan sihir, alias Magicnologi. Barang-barang lawas, sangat lawas dari yang biasa Lyria gunakan jika berada di masa depan.


“Apakah itu yang kau maksud menarik, Lyria? Apa yang akan kau lakukan?”


Zanesha menggosok hidungnya. “Memangnya apa itu?”


“Evolcore kosong. Sebenarnya aku ingin mengisi ini dengan sihirku tadi, agar aku memiliki cadangan ketika evolcore yang ada di evolblaster-ku habis. Namun, sepertinya ada hal yang lebih penting daripada menjadikan ini cadangan.”


“Kau benar-benar akan menjual itu?” Zanesha bersin.


Lyria mendekat ke kios itu dan menerima senyum ramah dari pria pemilik kios. Zanesha memperhatikan seorang siswa berambut hitam di kios lain yang membawa tongkat sihir dengan kristal kuning di pinggangnya sebelum akhirnya kembali menyejajarkan posisi berdirinya dengan Lyria.


“Selamat datang di Technosillian Go, Nona Manis. Apa yang Nona inginkan?” tanya penjual berkemeja hitam berlengan ketat dan jubah berwarna violet.


“Aku ingin menjual ini. Evolcore. Teknologi mutakhir yang bisa digunakan Elementer sebagai tempat cadangan sihir.”


Penjual itu mengambil evolcore Lyria dan mulai mengamatinya. “Apakah benar ini bisa digunakan sebagai tempat penyimpanan sihir, Nona?”


“Tentu saja. Aku menjamin itu dengan darah Dwarf yang mengalir di tubuhku. Jika Anda seorang Elementer, Anda bisa coba mengalirkan energi sihir kecil ke dalam evolcore. Cukup mudah, lalu—”


Pria itu menggebrak meja kios dengan ekspesi terkejut. “Anda seorang Dwarf?”


“Ya, tentu saja. Meskipun setengahnya adalah darah Wizard, aku bisa menjamin bahwa evolcore tersebut berfungsi.” Lyria berdeham. “Oh iya, jika ingin melepaskan sihir yang sudah Anda masukan ke evolcore, Anda bisa mengarahkan bagian berlubangnya ke target yang diinginkan, kemudian tekan tombol yang ada di bagian tengah itu. Aku ingin Anda mencobanya dulu, tapi karena Humanfest, sebaiknya jangan.”


“Tidak, tidak, tidak. Saya akan mencobanya besok. Saya percaya karena Anda seorang Dwarf. Ras ahli dalam menciptakan teknologi yang berbeda dari ciptaan ras lain. Maafkan saya yang tadinya menganggap Anda hanya anak kecil yang ingin bermain-main saja,” ucap pria itu sembari menundukkan kepala.


“Tidak apa.” Lyria tersenyum. “Jadi, Anda akan membayar berapa untuk evolcore itu?”


“2 vine, 70 wizer. Apakah itu cukup?”


Lyria cemberut. “Apakah Anda bercanda, Tuan?”


“3 vine, 20 wizer?”


“Tidak. 3 vine 80 wizer.”


Pedagang itu diam sejenak. Ia bimbang akan pilihannya sendiri. “Baiklah, 3 vine 50 wizer. Aku harap tidak lebih dari itu, Nona. Aku tidak membawa banyak uang sekarang.”


Lyria memegang dagu sebelum akhirnya tersenyum. “Oke, deal!”


Pedagang itu membuka laci, menghitung uang beberapa saat kemudian memberikan kantong berisi uang. Lyria dan pedagang itu bersalaman, lantas pergi.


“Memangnya, Dwarf sangat dihormati seperti itu?” tanya Zanesha.


“Kata kakekku, Dwarf memang sangat dihormati dulu. Ketika kaum Dwarf bilang, ‘Aku menjamin dengan darah Dwarf yang mengair di tubuhku,’ ketika menjual barang, maka siapa pun berani untuk membayar mahal untuk barang tersebut. Dwarf tidak akan menjual barang gagal, kira-kira seperti itu kata Kakek. Namun, seiring berjalannya waktu dan makin maju teknologi, Dwarf jadi kurang dihormati.”


Lyria berjalan menuju kios ramuan, membeli dua botol ramuan pereda alergi seharga 10 wizer, kemudian memberikannya kepada Zanesha.


Zanesha menenggak satu botol langsung. Hidung merah dan alerginya mereda dalam sekejap. “Aku berutang budi padamu, Lyria.”


“Kau memang harusnya begitu!” Lyria menyunggingkan bibir tipisnya. “Oh, iya, aku melihat kau tadi memperhatikan seorang laki-laki terus. Ada apa?”


“Tidak. Aku hanya merasakan kekuatan sihir hebat darinya ... atau lebih tepatnya dari kristal di tongkat sihir dan barang yang disembunyikannya di balik kantongnya.”


“Bukannya semua tongkat memiliki energi sihir? Lalu apa yang ada di kantongnya itu?”


Zanesha menggeleng. “Tongkat itu memiliki energi paling kuat dari tongkat-tongkat sihir lain yang pernah kutemui. Kalau barang di kantongnya, aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya. Aku hanya mengetahui ada barang di sana dari energi sihirnya.”


Seekor Soul Dragonfly tiba-tiba menghampiri dan hinggap di atas kepalanya Lyria. Capung itu kembali terbang dan berputar-putar di hadapan kedua gadis tersebut, seolah memberi isyarat.


“Sepertinya itu Soul Dragonfly milik Alanon. Ayo kita ikuti dia, Zane.”