Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Last Chaos in Boneyard - Gantor




Gantor


KETIKA ORANG-ORANG DI atas geladak kapal kelimpungan akibat ulah Ashlen yang tiba-tiba menceburkan diri dan menambah kehebohan, raut wajah tak berdosa itu muncul dari permukaan. “Apa-apaan? Suara kalian lebih kencang daripada bunyi badai!” Ashlen menyahuti teriakan adik kelasnya sambil mengusap wajah. “Aku hanya tergoda untuk menceburkan diri karena kegerahan.”


Setelah dibantu untuk naik ke kapal, Ashlen berdiam diri dengan berbaring santai di tepi kapal sambil minum teh hangat dan membaca buku tanpa takut merasa tenggelam. Sementara itu, tim melongo melihat kelakuan ketua mereka. “Apa cuma aku yang merasa kalau Ashlen itu terlalu berani?” bisik Arion yang kakinya masih gemetaran.


“Bukannya tidak kenal takut itu bagus?”


“Maksudnya bukan gitu, Can.” Arion mengamati orang-orang sekitarnya yang masih berlomba-lomba menyembunyikan diri dari bahaya, bahkan Evander terdengar sedang berdoa.


“Oh, Tuhan, jika kau ingin mencabut nyawaku, berikan kesempatan untukku makan lezat, sehari saja.” Yah, walaupun permintaannya tidak jauh dari urusan perut, tetapi orang-orang tetap panik!


Karena merasa diamati, Ashlen menoleh dan berkata dengan tenang, “Kalau kalian jatuh, nanti kutangkap. Ingat itu sebagai utang nyawa, sewaktu-waktu kutagih.” Seolah-olah keadaan badai sekarang ini merupakan hal biasa untuknya.


 Wilayah di Darksville lebih minim pencahayaan daripada wilayah lain di Autumnland. Itu disebabkan oleh keberadaan Gloongi, jamur yang hanya tumbuh di dataran Darksville lahir dari mayat petarung zaman dahulu dan energinya mampu menyerap cahaya matahari. Malam hari di daerah ini tidak dapat ditembus oleh pencahayaan apa pun, kecuali menggunakan sihir tingkat tinggi.


Ketika mereka tiba di pelabuhan Gantor, langit kelabu berubah menjadi ungu lembayung. “Sejak kapan hari berlalu dengan cepat? Bukankah jadi tersisa satu hari lagi? Bagaimana cara kita menemukan daerah elemen terkuat dalam waktu 24 jam!” Pertanyaan beruntun dari Arion menambah panik tim.


“Kita berangkat waktu subuh dan sampai pada waktu subuh juga. Bagus, Can, pilihan tempat yang baik.” Sindiran Elf itu ditunjukkan dengan terang-terangan pada Candra. “Aku bahkan merasa kita akan mati kelaparan karena tidak makan selama seharian penuh,” keluhnya lagi.


“Makanan saja yang kau pikirkan, Pirang!”


“Tentu saja, Rion! Kau tidak mampu berpikir ataupun bergerak tanpa tenaga dari makanan.”


“Aku yakin makanan yang kau cicipi itu mengendap di dalam otak. Benar-benar tak habis pikir.”


Ashlen melerai pertengkaran kedua bocah itu dengan perkataan, “diam!” sehingga mampu membuat kedua bibir itu berhenti mengoceh. Kepalanya dirasa pening memikirkan pembicaraan omong kosong yang selalu mereka lakukan. Bisa-bisa rambutnya menjadi rontok akibat stress mengurusi bocah-bocah timnya.


“Ini masih siang, tapi saking gelapnya Darksville, maka siang hari akan tampak seperti waktu subuh,” jelas Candra sambil memimpin jalan. Daerah Darksville memang tidak ditumbuhi oleh pepohonan atau rumput seperti biasanya, hanya ditumbuhi jamur berwarna-warni yang cahayanya mampu bertahan hingga petang.


Gloongi memang sejenis jamur yang tidak berbahaya, akan tetapi memiliki citarasa yang hambar, seperti mengunyah segenggam pasir. Jalan menuju pusat Gantor sering ditemukan berbagai hewan yang berevolusi. Hewan bercahaya yang sering dipakai oleh warga di Darksville adalah Shine, serupa kancil muda dengan tubuh berpedar cahaya biru terang.


Pusat pengoperasian Gantor yang mendapatkan dana terbesar dari Archimage tampak megah walaupun minim pencahayaan, tetapi keagungan dari tempat setinggi ratusan kaki itu terlihat layaknya dusun dengan salah satu bagian wilayahnya setengah dari luas Wisteria Academy. Wajar saja, tempat rehabilitasi bagi mantan kriminal yang hendak dikembalikan ke masyarakat dibuat semirip mungkin dengan kehidupan masyarakat agar para napi merasa terbiasa.


Kedatangan tim di Gantor disambut dengan pria setinggi 2 meter dengan jenggot panjang putih mencapai siku, mempersilakan mereka memasuki ruang tamu. Tentu saja dengan kelihaian Ashlen dalam berkomunikasi, membantu mereka untuk mendapatkan izin agar melihat-melihat seluk-beluk Gantor dengan dalih penelitian siswa Wisteria Academy. Hal itu diperkuat dengan lisensi sihir yang dimiliki oleh Candra sebagai anggota penyihir yang memiliki hubungan dengan Darksville.


“Setidaknya berhenti tertawa dan bantu kawanmu!” Evander berusaha mengelak tiap kali pria mantan napi itu berusaha menangkapnya, mungkin dikira hendak memeluk. “Can, katakan sesuatu! Kali ini fungsikan mulutmu itu.”


Keributan pun menyebar dari sayap kiri Gantor akibat salah satu mantan napi yang tertarik dengan Evander. Jika bukan dikarenakan perangainya yang kalem, Ashlen sudah dari tadi meledakan amarahnya. Apalagi Arion menambah kekacauan dengan—tidak sengaja, katanya—mencakar salah satu mantan kriminal. Padahal jika dipikir ulang, cakar beracun Arion tidak sembarangan muncul ketika dia tidak berniat menggunakannya. Yang benar saja! Walaupun alasannya tidak logis, yaitu membantu Candra untuk melampiaskan amarahnya karena dianggap sebagai wanita dengan tubuh paling kurus di antara anggota tim.


Candra hendak bersuara, tetapi didahului oleh Ashlen yang menggunakan bakatnya untuk menghentikan kekacauan. Tak hanya sampai di situ, penyihir tua berjenggot yang menyambut mereka tadi datang bersama staf Gantor dengan wajah murka!


 Kesalahpahaman yang terjadi antara staf Gantor dan tim terselesaikan ketika mereka melihat reka ulang kejadian pada bola kristal. Arion hampir saja diboyong ke The Bed, tempat bagi para kriminal diproyeksikan kesalahan mereka dengan penderitaan yang membuatnya tidak sadarkan diri.


“Kali ini nyawamu hampir terenggut dengan alasan konyol, Rion. Lain kali jangan mudah terprovokasi,” tegur Ashlen ketika mereka sudah keluar dari Gantor. “Kamu juga,” Ashlen menunjuk pada Evander. “Lain kali jangan ceroboh masuk ke sembarangan tempat. Tidak mungkin kita mati sia-sia dengan alasan konyol. Itu tidak lucu.”


Perkataan serius Ashlen membuat tim merasa bersalah dengan kelakuan masing-masing. Mereka serempak menggumamkan perkataan maaf pada ketua tim. Namun, sepertinya Arion memang bebal untuk diceramahi. Ia menyikut lengan Evander dan menyulut api emosi Elf itu.


“Kau sepertinya harus mengikuti Candra untuk memakai topeng, Evan. Kita tidak tahu jika nanti-nanti ada yang jatuh cinta padamu lagi.”


Suara cekikikan Arion yang menertawakan kejadian itu membuat Evander mengalungkan tangannya ke pundak Arion, memberikan sedikit tekanan sehingga terlihat seperti mencekik. “Urusan kita nampaknya belum selesai, 'kan?”


“Arion, Evander, kalian berhentilah bertengkar sebentar. Stok kesabaranku hampir menipis,” keluh Ashlen yang sudah mulai kelelahan mengurusi adik tingkatnya. “Aku tidak menjamin tidak akan membuat kalian berhenti berbicara bahasa manusia. Setidaknya, tirulah Candra. Dia lebih bisa diandalkan saat ini.”


“Diandalkan bagaimana, Ketua?” tanya Arion.


“Lihatlah, Candra  …. loh, di mana anak itu?”


“Dia seperti anak kecil yang lebih tertarik dengan hewan berkilau dan meninggalkan kita di sini, Ketua,” jelas Evander dengan suara lemah.


“Astaga, kalian ini benar-benar membuatku pusing!” Ashlen lalu menunjuk Arion, “segara endus keberadaan Candra dan temukan dia! Ce.pat!”


“Evan, mari kita bertaruh. Aku menjamin jika selesai misi ini, Ashlen membutuhkan peregangan untuk wajahnya yang bakalan terlihat lebih tua daripada Mr. Navarro karena sering marah-marah.”


Sebelum mendengar jawaban dari Evander, suara teriakan Ashlen lebih mendahului. “Arion, apa yang kamu bicarakan! Cepat cari Candra!”


“Iya-iya, Kapten!”


Gantor