Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Uninvited Guest for Betelgeuse - 6




6


GALAVIDI MENGERJAP. DIA tidak mengatakannya kepada siapa pun tentang mimpinya. Ketimbang tidak memercayai teman-temannya, dia lebih malu mengungkapkan pertemuan dengan suara aneh dan tidak sopan. Meski dia tidak mengetahui identitas sang Ibu; meski bukan keturunan bangsawan; hanya penyihir bertipe pendukung yang lebih sering duduk di baris paling belakang; dan meski menjadi budak sekalipun, pasti dia akan membenci suara itu. Alih-alih mimpi, Galavidi lebih suka menyebutnya sebagai penyabotasean. Bisa-bisanya seseorang mengendalikan dimensi bawah tidurnya dengan mudah.


Tidak peduli sekeras apa pun Galavidi mengabaikannya, nasehat suara itu terngiang-ngiang. Akhirnya, dia benar-benar kepikiran. “Akka, serahkan bulu itu.” Galavidi menodongkan tangan.


Bulu hitam legam sangat cocok dengan kepribadian Betelgeuse. Galavidi tidak menyangka kalau bulunya benar-benar indah dan lembut. Memang pantas dipuji kalau sayap Betelgeuse lebih indah dari Sam karena malaikat berdarah iblis itu sangat menyukai perawatan diri. Sebenarnya, Sam juga menyukai perawatan, tetapi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan hewan kontraknya, Johnny.


Galavidi menangkupkan tangan setelah bulu Betelgeuse diletakkan di salah satu telapaknya. Sekarang dia harus menenangkan diri. Setelah terpejam, pendengaran, penciuman, dan perasanya tajamkan. Hanya indra itu yang berfungsi sangat baik. Bukan masalah, yang terpenting adalah hati. Tidak lama, perasaannya mendayu tatkala seberkas emosi masuk ke pikirannya. Layaknya balon yang makin berisi gas bukan layang-layang yang diikat benang, dia merasakan sensasi kebebasan.


Berbeda dengan sebelumnya, Galavidi sangat yakin jiwanya telah tergerak melakukan sesuatu. Ini bukan mimpi. Ke mana? Dia tidak tahu. Tahu-tahu matanya berfungsi baik di tempat yang sangat indah. Setelah sekian lama, dia kembali merasakan warna-warna dunia saat siang hari. Galavidi terbawa angin, terbang tanpa sayap dan kemapuan. Di bawahnya terdapat hamparan air yang biru dan jernih sampai-sampai terlihat dasarnya. Keseruan bertambah saat titik-titik hujan membasahi seragamnya. Senyumnya lebar. Wajahnya cerah. Tentu saja sebelum tubuhnya dijatuhkan dari ketinggian dan tercebur ke dalam air. Dia tenggelam.


Galavidi gelagapan lalu tersadar. “Wilayah Rainville. Kita harus ke sana.”


“Apa itu jauh?” tanya Sam.


“Beruntungnya, tidak. Tepatnya di Cristal Lake. Jika ditarik garis dari pelabuhan, itu akan lurus ke arah selatan. Hanya itu yang bisa kukatakan.” Galavidi menyimpan bulu Betelgeuse di sakunya. “Kamu keberatan?” tanyanya setelah melihat ekspresi Akkadia.


Tidak ada jawaban.


Ya, suasana tim Charming sekarang memang seperti itu.


“Aku lapar.” Kannika memegang perutnya. “Bukankah hubungan tim kita sekarang rumit? Saling menggantungkan hidup, tapi juga saling mencurigai satu sama lain seolah jika lengah sedikit saja akan mati. Sial! aku tidak suka dengan situasi ini.”


Bertahan di timeline  yang jauh dari waktu asalnya tidaklah mudah bagi sekelompok siswa berdarah muda. Dari dulu, Maple Academy memang memiliki misi yang tidak masuk akal. Akan tetapi, ini yang paling sulit—setidaknya bagi mereka, bukan Kepala Sekolah.


“Kupikir kita bisa menjual beberapa ramuan Betelgeuse untuk menambah uang,” saran Sam.


“Tidak butuh teman, ‘kan?” Ekspresi Akkadia terlihat tidak bersahabat.


“Tidak karena aku pejantan sejati.” Sam memilah ramuan-ramuan yang akan dijual.


Galavidi mengamati. Kannika kehilangan semangat hidup karena kelaparan. Akkadia dan Sam jelas-jelas saling mengejek. Tidak ada yang berbeda dengan mereka. Bolehkan aku menganggap ada seseorang yang sedang mempermainkan kami? Sudah jelas, sih, batin Galavidi.


“Seberapa mahal?” Akkadia mengejek dan tatapannya mengatakan, itu tidak lebih tinggi dari uangku. Sejak lahir, dia tidak menemukan barang yang pantas dicap sebagai barang mahal. Namun, setelah mengingat kondisi sekarang dan melihat puluhan keping wizer, Akkadia menarik kata-katanya lagi, baiklah, memang mahal.


Galavidi menelaah lalu berkata, “Memang mahal, tapi seharusnya tidak semahal ini. Kepada siapa kamu menjualnya?”


“Di toko ramuan sebelah kedai makanan yang menghadap timur. Awalnya aku berpikir sama seperti itu.” Sam duduk dan meletakkan bungkusan roti. “Karena orang itu baik, aku memanfaatkannya sedikit.”


Kannika langsung menyambar satu potong. “Trik apa yang kamu gunakan?”


“Aku mengatakan kalau kita sedang dihukum melakukan misi tanpa diberi uang dan bekal selama tiga hari. Tentu saja dia iba dan memberikan ini.” Sam menahan tawa.


Akkadia bertepuk tangan. “Wah, sepertinya Sam naik level dari pembolos ulung menjadi perayu ulung.”


Alih-alih senang, Sam justru memutar bola matanya. “Ugh!”


“Berapa jumlah uang kita sekarang?” Galavidi menarik kantong uang dan menghitungnya. “222 wizer ditambah 47 wizer dari hasil menjadi babu, jumlahnya menjadi 269 wizer. Ini cukup. Selanjutnya, kamu harus merayu orang lagi untuk mendapatkan makanan.”


Sam berceletuk. “Apa kamu Galavidi yang asli?”


Bibir Galavidi berkedut. “Apa?”


“Sejak tadi kamu tidak pernah memanggilku Ketua lagi.” Sam menatapnya dengan tajam.


“Hanya karena itu?” Galavidi tidak terima.


“Hanya? Itu hal penting,” jelas Sam.


Sekarang Galavidi tidak lepas dari pandangan Akkadia. Keturunan Ishtar itu seolah menelanjanginya. Meski mereka berkenalan sejak menjadi murid di Maple Academy karena tidur sekamar. Akkadia ragu, tetapi di waktu bersamaan ada keyakinan bahwa itu Galavidi-nya. Akhirnya, dia bimbang karena logika dan perasaannya tidak sejalan. “Aku tidak tau,” desah Akkadia.


Sebagai satu-satunya orang yang mengedepankan emosi ketimbang akal, Kannika memiliki sisi penilaian yang paling nyeleneh. “Aku tidak percaya siapa pun termasuk kamu, kamu, dan kamu.” Jarinya menunjuk secara lugas di depan wajah semua anggota. “Secara tidak langsung, kita telah sepakat untuk saling mencurigai. Sesekali aku bertanya-tanya tentang alasan kita memiliki perasaan saling tidak percaya. Sebenarnya, sejak kapan?”


Kata-kata itu memantul di seluruh ruang otak bagai momok mengerikan yang harus diketahui jawabannya. Mereka—kecuali Kannika—berpandangan seolah sama-sama berujar, iya, ya, sejak kapan?