
Offering Shrine
PERTEMPURAN DENGAN PENJAGA Altar disertai perlengkapan armor yang lengkap, mengakibatkan cedera pada tubuh Candra. Fraktur pada lengan kiri sudah menghambat pergerakannya untuk mengelak serangan. Belum lagi, Penjaga Altar itu tampak tertarik untuk membekuk kakinya guna dijadikan persembahan bagi para Dewa.
Makin banyak kelelahan yang Candra terima akibat pertarungan, membuat suntikan mana pada Lucifer bertambah banyak. Ia tidak boleh lengah, jika Lucifer kehilangan kontrolnya, makhluk itu akan mendatangkan petaka berupa Gate of Hell. Walaupun cara tersebut berguna untuk melumpuhkan Penjaga Altar, tetapi akan berdampak bagi penduduk yang tinggal di sekitar Boneyard.
Letak geografis Boneyard yang menerima sedikit cahaya menjadi pertimbangan bagi Candra untuk menggunakan mantra tingkat tinggi. Masalahnya, ia belum pernah menggunakan mantra tingkat tinggi secara berturut-turut. Apalagi jika skalanya cukup luas. Jika dipikirkan, selama pertarungan dengan Penjaga Altar, Candra baru menyadari kalau makhluk itu cenderung menghindari cahaya. Meski cahaya itu berasal dari pantulan jamur-jamur.
Mengingat waktu untuk menghancurkan serpihan cermin makin terbatas, menghemat mana akan menjadi pilihan bijak.
“Baiklah, Penjaga Altar. Mari kita ubah ritme permainan, oke!”
Ketika lengan kanan Candra mengendalikan Lucifer untuk menghalau serangan Penjaga Altar, dengan terpincang-pincang, ia berusaha mengendalikan tulang-tulang untuk mengumpulkan jamur yang berkilau sebanyak mungkin.
Serangan godam yang beruntun membuat konsentrasi Candra buyar. “Ck, merepotkan!” Akibatnya, karena telat menghindar, tiga jari kiri kakinya remuk terkena pukulan. Jika tidak mengingat gender maskulin, Candra yakin bahwa ia tidak akan segan-segan untuk menangis saat itu juga!
Puluhan jamur bersinar yang sudah berhasil Candra kumpulkan segera dilemparkannya ke arah Penjaga Altar yang menghindari kilauan Gloongi. Karena Gloongi menyerap cahaya matahari, jamur itu menjadi musuh yang berhasil memukul mundur Penjaga Altar. Benturan antar Penjaga Altar tak terelakkan.
“Kerja bagus, Nak!” Teriakan Ashlen dibalas acungan jempol oleh Candra.
Melihat Penjaga Altar yang saling bertarung karena merasa terancam akibat benturan, Candra merapalkan mantra cahaya dengan tongkatnya. Wand of Bloodstone berpedar keemasan, sinarnya mengakibatkan ledakan cahaya di udara. Tubuh kelelahannya terempas dan menubruk Ashlen yang ikut terbanting menghantam pilar kuil. “Agh … sepertinya aku ketularan penyakit ceroboh Evan,” gerutu Candra dengan batuk-batuk.
Posisi matahari bergerak mendekati petang, anggota tim dengan masing-masing luka, berkumpul pada titik tertinggi altar di Boneyard. Pada pusat altar, terdapat tengkorak raksasa berbadan utuh dengan dikelilingi piringan emas berujung runcing di bagian belakang. Kedua tangannya menopang jantung altar yang ditikam oleh tujuh bilah pedang keemasan.
“Evan, apa kau masih mampu untuk memulihkan tenaga kami?” tanya Ashlen. Ia sebenarnya simpati melihat wajah pucat Tukang Makan itu, tetapi selain Evander, di timnya hanya Elf tersebut yang memiliki kekuatan medis.
“Beri aku waktu lima menit, Ketua.”
“Baiklah. Lakukan sepecatnya, kita dibatasi oleh waktu.”
Ashlen menyentuh batu yang tersusun membentuk persegi panjang di bagian bawah tengkorak.
“Apa tempat ini digunakan untuk menyimpan persembahan?”
Candra mengangguki pertanyaan Ashlen. Dia meletakkan serpihan cermin di atas batu hitam berukuran tiga hasta. “Kita bisa mulai dari sini.” Tidak ada penolakan dari kelompoknya. Candra mengembuskan napas lelah. Dia bersiap untuk memulai penyelesaian misi.
“Tunggu dulu!” cegah Evander, “sebaiknya kuobati dulu lukamu. Kau tidak ingin melakukan kecerobohan lagi, kan?”
Candra menerima tawaran Evander untuk mengobati fraktur lengannya. “Kata siapa?”
“Ashlen cerita.”
Candra melirik pada ketua tim yang tampak tak acuh dengan pernyataan Evander. Wizard itu berjanji, kelak ia harus meminta maaf pada Ashlen atas kelalaiannya.
Ketika dirasa lumayan pulih, Candra menggunakan Wand of Bloodstone yang binar keemasannya menguat. “Shine!” Ia terkesiap, pantulan elemen kegelapan menerjang ke arahnya. Candra menjauhi pantulan tersebut. “Hati-hati!” ungkapnya guna memberikan peringatan pada tim untuk siaga.
“Aku kira, kita hanya akan menonton saat proses penghancuran cermin, tapi …. sial!” Salah satu pantulan dari cermin itu hampir mengenai leher Arion jika ia tidak segera mengelak. “Candra, jinakkan anak cermin itu atau kau bisa-bisa membunuh kami!”
Mulut Arion langsung dibekap oleh Evander yang berada di sisinya. “Tahan dulu keluhanmu. Jangan ganggu konsentrasi dia! Fokus saja untuk menghindari pantulan itu.”
“Sejak bergaul dengan Ashlen kau jadi mirip dia, Evan.”
“Kami tidak mirip!” Ungkapan itu terucap dari Evander dan Ashlen secara bersamaan.
Arion berusaha menahan tawanya, meski gagal. “Iya, iya, tidak mirip ….”
Ketika pantulan cermin meredup, Candra mengulangi peruntungannya. Ia merapalkan mantra, “Shine!” Lalu bayang-bayang hitam dan tongkatnya kembali bergesekan dengan serpihan cermin. Kali ini pantulannya menembus jantung altar. Ketujuh bilah pedang, tercabut bersamaan.
Belum pulih dari keterkejutan, tim dihadapkan dengan ketujuh pedang yang hendak menghunus ke arah mereka. Ashlen relatif lebih cepat. Ia mengubah tato cincin yang terukir pada jemarinya untuk membentuk perisai besar yang mampu melindungi mereka dari hunjaman pedang. Trang!
Suara pekik Arion berujung kelegaan. “Gila! Ini bukan lagi misi, tapi percobaan untuk bunuh diri!”
“Diam, kau! Bisa-bisa telingaku pekak karena ulahmu,” gerutu Evander dengan mengosok kedua telinganya hingga memerah.
Arion menyengir polos. Punggungnya terasa ngilu akibat membentur bangku panjang yang tersusun rapi untuk peribadatan. Evander turut mengerang karena sikunya mengenai pecahan jendela berukuran sedang. Ashlen dan Candra jatuh tengkurap. Masing-masing di sisi keduanya menancap sebilah pedang yang hampir membuat mereka meregang nyawa.
Tangan Arion menepak punggung Candra. “Can, gimana ini! Bangun! Misi belum selesai, jangan dulu sekarat, Bung!”
Ashlen sudah lebih dulu diberikan pertolongan pertama oleh Evander. Ia menyingkirkan Arion untuk berjarak dengan Candra. “Dia pingsan, Bodoh! Percuma kau teriak-teriak. Evan, urusi temanmu ini.” Setelah Evander mengobati Candra dan menyeret Arion untuk menjauhi pusat altar, Ashlen mengamati retakan tipis yang terbentuk pada serpihan cermin.
“Baru segini saja, susahnya .... Astaga!” Cermin itu mendadak melayang di udara, lalu melekat pada jantung altar. Ashlen berdecak, tugasnya jadi bertambah banyak.
“Kau masih bisa menggunakan mana, Can?”
“Kurasa ....,” jawab Candra tampak ragu.
“Sebentar lagi. Ayo, tahan dulu.”
Candra mengangguk. Mereka kembali pada posisi.
Wand of Bloodstone kembali mengendalikan bayang-bayang hitam untuk mengelilingi serpihan cermin seperti yang diinstruksikan Ashlen. Mereka bertahan cukup lama, hingga teriakan Evander membuat semuanya menjadi gusar.
“Can, buruan! Banyak warga menuju kemari!”
“Sial!”
Ashlen masih menerka situasi dan memprediksi peralatan yang kemungkinan berpengaruh pada retakan cermin. Evander melemparkan puing bebatuan kecil yang mengenai kepalanya. Saat ia hendak memarahi, Elf tersebut menunjuk ke arah jendela berukuran sedang yang hampir membentang sepanjang kuil.
“Ketua, cepat! Aku yakin keributan kita mengakibatkan mereka mendatangi kuil ini!”
“Tunggu dulu. Aku sedang berpikir!”
Memikirkan ulang jantung altar yang bermula menancap ketujuh pedang, berasal dari keyakinan tersebut Ashlen mengubah tato cincinnya menyerupai ketujuh pedang yang sekilas dilihatnya sebelum pedang-pedang itu lenyap akibat berbenturan dengan perisainya.
“Arch ....,” Mulut Ashlen memuncratkan darah. Penggunaan mana-nya sudah diambang batas toleransi.
“Kau tak apa-apa, Ashlen?”
Pertanyaan Candra hanya dibalas oleh gelengan kepala. Ketika Candra memusatkan kekuatannya pada serpihan cermin, Ashlen berhasil membentuk ketujuh pedangnya dengan sempurna. Ia melontarkan pedang panjang keemasan tersebut secara bersamaan.
“Wow .... i-itu cermin tidak pecah?” Arion yang melangkah mundur, tampak takjub sekaligus ngeri melihat gumpalan aneh yang bertambah besar. “Ashlen! Sebenernya, apa kau perbuat sampai ‘itu’ jadi begitu!”
Rasa panik itu tertular pada Evander, “Hei, Rion, kau bisa sihir perlindungan, kan? Cepat gunakan itu, jika kau tidak ingin mati konyol!”
“Jika bukan karena keterbatasan mana, sudah semenjak tadi aku menggunakannya. Sebaiknya, transferkan sini kekuatan mana-mu.”
“Enak saja!“
Gumplan hitam dengan pedang yang menghunjam sudah hampir sebesar patung tengkorak. Suara retakan pada dinding membuat mereka siaga. Tak berselang lama, langit-langit kuil menjatuhkan batu-batu beragam ukuran seperti hujan batu. Rupanya keretakan sudah mencapai atap kuil.
“Kenapa cerminnya belum hancur juga? Kau pasti ceroboh seperti Evan, kan?” tuduh Arion karena terlalu panik menghindari bebatuan supaya tidak mengenai kepalanya.
“Entahlah. Mungkin dia meminta tumbal makhluk berbulu sepertimu.”
Arion menggeleng, “Astaga! Bisa-bisanya kau bercanda di saat seperti ini, Can!”
Jendela-jendela seketika pecah. Getaran di bawah kaki mereka kian membuat tim menjadi panik. Arion bergegas berjongkok di bawah kursi. “Gempa bumi ... !”
Evander mengumpat melihat Arion. “Bukan bersembunyi di sana, Bodoh!” Kemudian dia menyeret Arion supaya menjauhi jendela.
Evander memanggil Rusa Kerineia Karena sama-sama kelelahan dan sekarat mana, mereka berimpitan menunggangi pet contact-nya.
Kecepatan Rusa Kerineia terhambat akibat menuruni anak tangga sekaligus menghindari bebatuan yang terus menghujani mereka. Sementara itu, gumpalan hitam layaknya balon yang terisi udara itu sudah berhasil memenuhi aula pemberkatan!
“Loncat sekarang, Evan!” titah Ashlen.
“Apa? Kau serius dengan itu?” Evander menunjuk pada lantai bawah yang sekiranya berjarak puluhan meter. Belum lagi bebatuan yang mengenai kepalan yang sekarang ini sudah sebesar kepalan tangan.
“Ck, bukan saatnya bertanya, Evan! Sudah, cepat!”
Baru ketika Rusa Kerineia menapakkan kakinya di lantai dasar, suara deguman disusul dengan tubuh lelah mereka yang terbanting secara terpencar. Rusa Kerineia sudah lebih dulu menghilang akibat kerusakan pada mana Evander yang dipakai secara berturut-turut.
Tubuh yang terbaring, belum diperbolehkan menarik napas, mereka harus bergegas menghindari puing-puing yang hendak menjepit mereka. Candra menggerakkan kekuatan Necromancer yang tersisa untuk membantu teman-temannya terhindar dari puing-puing bebatuan. Balasannya, Arion memangku tubuh kurus Wizard itu seperti menggotong sekarung gandum.
“Lakukan dengan betul, Can! Kita semua sudah babak-belur!”
Tim mencapai pintu kuil, tetapi suara sorakan penduduk membuat mereka berdecak.
“Mundur dengan hati-hati!”
Sesuai intruksi Ashlen, tim memilih mundur daripada berhadapan langsung dengan penduduk Darksville yang kemungkinan akan terjadi keributan yang lebih parah
Saat mereka kembali ke ruang utama, selain hujan puing-puing bebatuan, rupanya gumpalan hitam itu belum juga meledak dan malah membesar hingga menutupi anak tangga. Astaga!
“Kalau pedang itu dicabut, apa ada kemungkinan kalau gumpalan mengerikan itu bisa meledak?”
Candra tidak sepakat dengan usulan Arion. “Namun .... bagaimana dengan cerminnya? Gumpalan bisa meledak, tapi cerminnya memang hancur?”
“Tapi sepertinya, bisa dicoba dulu.” Kali ini Evander menanggapinya dengan serius.
Walaupun logikanya setuju dengan Candra, melihat tidak ada perubahan pada gumpalan itu, selain ukurannya yang kian membesar, Ashlen memutuskan untuk menarik salah satu pedang yang menancap pada gumpalan tersebut.
“Lakukan dengan hati-hati, Ketua! Kita sudah sekarat sekarang, jangan sampai kita mati betulan!” keluh Arion yang mendapat titah “diam” dari Ashlen.
Pedang yang berhasil dicabut oleh Ashlen rupanya tidak membuat gumpalan hitam yang bergerak-gerak itu pecah. Hanya menghentikan ukurannya. “Ini tidak akan selesai dengan baik. Apa kalian masih punya sisa mana? Sedikitpun tak apa. Asalkan kita mesti bekerja sama.”
Candra menyahuti paling awal, “Jika untuk sekali serang, aku sepertinya mampu.”
Evander memberi isyarat acungan jempol yang bermakna serupa dengan ucapan Candra. Sedangkan Arion sudah menghela napas dan menjawab pertanyaan Ashlen dengan wajah suntuk. “Baik, baik. Lagi pula tidak ada waktu untuk mengeluh, 'kan?” katanya seraya tersenyum paksa.
“Bagus.” Semburat jingga dari ufuk barat membuatnya resah karena malam akan segera tiba. “Saat aku nanti mengarahku pedangku ke sana ...,” Ashlen menunjuk pada gumpalan hitam, “Rion, pasang pelindung.”
“Baik!”
“Candra, kau bantu Arion untuk menghalau puing-puing itu.”
Guncangan di bawah tanah menyulitkannya untuk berkonsentrasi. Candra hanya bisa menyanggupi titahan Ashlen dengan setengah hati. Sungguh, jika boleh, dia ingin mengeluh seperti Arion.
“Dan, kau, Evan ...,” Ashlen menghindar bebatuan yang hampir mengenainya. “Siap-siap untuk bantu pemulihan.”
Tepat ketika Ashlen melemparkan pedangnya ke tengah-tengah gumpalan, ledakan cahaya yang lebih besar dari sebelumnya terjadi. Ashlen terguling karena lokasinya paling dekat. Tubuhnya ditahan oleh bayang-bayang hitam Candra agar tidak membentur pilar. Namun, keseimbangannya terganggu akibat guncakan dasyat yang menggelegar.
Jendela yang tadi menyisakan setengah bagian yang tampak utuh, kini semua pecah. Suara retakan diiringi gemuruh itu memancarkan silau yang menghalangi penglihatan. Meskipun Arion dan Evander membantu pertahanan mereka, tubuh-tubuh penuh luka kembali menghantam dinding kuil yang hampir sepenuhnya akan roboh.
Rintihan kesakitan berpadu dengan napas penuh kelegaan. Mereka melihat jantung altar telah hancur. Bahkan kedua tangan tengkorak yang menompangnya tampak sudah tidak sesempurna sebelumnya. Namun, dari bagian sayap kiri kuil, sesosok tubuh yang dikelilingi bias kehijauan dan memandang mereka dengan wajah murka, meruntuhkan bangunan dekat tangga. “Kembalikan barang milikku, anak-anak nakal!”
Di hadapan keempat tubuh lebam itu berdiri Navarro yang menagih barang curian mereka. Oh, tidak! Jika mereka memaksakan pertempuran dengan Warlock yang satu ini, mereka tidak akan menjamin pulang dengan nyawa utuh. Satu hal yang terlintas pada pikiran mereka dengan fisik dan batin yang lelah, ialah … lari!
Ashlen yang pertama kali melihat asap tebal berwarna hitam yang berada di belakang Navarro, ia kemudian menyeret tubuh bongsor Arion. Formasi mereka tampak seperti menyerang, Navarro bersiaga. Diberi isyarat berupa lirikan mata oleh Ashlen, Candra memapah Evander menuju lokasi yang dimaksud. Tepat ketika Navarro hendak menyerang mereka, Ashlen lebih dulu mendorong adik-adik tingkatnya melintasi asap hitam yang ternyata portal.
“Barang milikmu mungkin akan kau dapatkan di masa depan nanti. Sudahi dulu kejar-kejarnya. Sampai jumpa nanti . . . .”
Tubuh Arion yang tidak seimbang ketika proses perpindahan waktu, berakhir dengan ciuman pada piringan hitam yang terbuat dari tembaga yang menampung tubuh remuknya. Seakan dendamnya belum terbayarkan, Evander menyusul dengan menimpa tubuh bongsor Arion. “Agh ... punggungku ....!” Laki-laki dengan bekas luka pada kening itu berguling ke samping, tak siap dengan perubahan, Elf itu ikut terguling.
Namun nahas, Evander hampir terjatuh pada sebuah lubang besar yang tak bermuara, jika saja Ashlen tidak berbaik hati menariknya ke tengah-tengah piringan hitam yang menuntun mereka menuju sebuah cahaya di ujung mata.
“Oh, God ... aku mau makan!”
Keluhan Evander membuat Ashlen mengurut hidungnya. Entah Evander sedang melindur atau memang kebutuhan perutnya yang minta diisi, ia sudah tidak bisa menerka lagi jalan pikir Elf pencinta makanan tersebut.
Lain halnya dengan Arion yang merintih kesakitan atau Evander yang meneriakkan makanan, Candra yang pingsan lebih membuat Ashlen tenang. Ia sendiri tidak yakin jika harus buka suara, bukan lagi keramahan yang tersisa, melainkan luapan emosi yang bisa saja membuatnya keriput. Oh, no!
Ketika piringan hitam itu semakin dekat dengan cahaya yang menyilaukan, Ashlen melihat empat siluet orang di balik cahaya tersebut. Awalnya hanya berbentuk kilasan karena cahaya tersebut berubah terang-redup bergantian. Namun, ketika jaraknya sudah kian dekat, dua sosok yang akrab dengannya membuat Ashlen bingung.
Belum pulih dari keterkejutan, tubuh lebamnya ditubruk oleh penyihir berbakat melihat. “Ashlen ... aku merindukanmu!”
Ada apa ini? Kenapa aku harus bertemu dengan Thann dan Nastradamus!