Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Time for Adventure




Time for Adventure


LYRIA GROUNDROSE MENENGADAH, menatap langit biru setelah ia terpental beberapa meter dan menghantam batang pohon di sekitar Well of Time. Ia berdiri, membersihkan rok dan jubah berwarna violetnya dari kotoran, lantas merekahkan senyum. Meskipun tidak tahu alasan kenapa pakaiannya berubah menjadi seragam berlogo Wisteria Academy, ia tetap merasa senang karena ini adalah awal dari petualangan yang selalu ia impikan.


Berbeda dengan Lyria, kondisi kawan di kelompoknya berbanding terbalik. Alanon Klorofia, laki-laki berdarah Zaadia dengan rambut dan mata hijau tersebut memegang perut dan memuntahkan isinya. Zanesha, Werewolf itu tergeletak tak sadarkan diri, dan terakhir adalah Mikalea Midagad, seorang Fallen Angel sekaligus satu-satunya anggota kelompok Lyria yang masih bisa berdiri meskipun harus memegang batang pohon.


“Hei, Kenapa kau masih baik-baik saja setelah keluar dari sana, Bocah Ajaib?” tanya Alanon yang sekarang terduduk, lantas memuntahkan kembali cairan perutnya ke semak-semak.


Lyria menatap jijik, tidak ada niat untuk membantu sama sekali meskipun ia menyimpan dua botol air di grimoire miliknya. Baginya, sebutan bocah, anak kecil, ataupun hal lain yang menggambarkan sosoknya sebagai anak kecil adalah sebuah penghinaan.


Zanesha siuman dan memandang linglung sekitar. Gadis berambut merah dengan potongan pendek itu memegang perut, lantas melakukan hal serupa dengan Alanon di semak lain.


Lyria memegang kening. Untuk pertama kalinya, ia bersyukur terlahir sebagai Dwarf setelah melihat kedua teman seangkatannya tersebut tak berdaya dan menghancurkan awal petualangan yang seharusnya seru seperti dalam cerita pahlawan. Lyria memutar kepala, melihat Mikalea yang masih memegang batang pohon untuk berdiri.


“Kale, kau baik-baik saja, 'kan?”


“Aku tidak apa-apa,” jawab Mikalea sembari melepas pegangannya pada batang pohon. “Bagaimana denganmu?”


“Tentu aku baik-baik saja. Dwarf memiliki tubuh dan ketahanan sihir yang kuat.” Lyria mengibaskan rambut kepang sebelah kirinya lalu berkacak pinggang. “Meskipun aku kecil, aku tidak lemah seperti mereka yang terus muntah.” Lyria kembali melirik Alanon dan Zanesha.


Seekor capung keluar dari saku kemeja putih Alanon dan terbang melintasi Lyria. Setelah beberapa saat, capung itu menghilang dan kembali dengan membawa beberapa benih lalu menjatuhkan satu butir ke tangan setiap anggota, kecuali Lyria. Benih itu berubah menjadi sulur hijau yang menusuk telapak tangan Alanon, Zanesha, dan Mikalea.


“Bukankah Mr. Navarro melarang kita menggunakan sihir ketika keluar dari sumur?” tanya Zanesha.


Alanon mengatur napas. “Ia tidak ada di sini, jadi kita tidak akan ketahuan. Lagi pula, ini cara instan menyembuhkan pusing dan mual. Kau juga tidak ingin, kan, terus memuntahkan isi perut di tempat ini?”


Zanesha menggeleng.


Tidak butuh waktu lama, kondisi ketiga siswa Maple Academy itu mulai membaik. “Kita sepertinya sudah pulih. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Zanesha sembari membantu Alanon berdiri. “Wah, aku baru sadar kalau kita memakai seragam yang berbeda.”


“Tentu saja kita akan pergi ke kastel itu,” jawab Lyria sembari menunjuk bangunan besar yang ada di puncak karang-karang terjal. “Kita harus mencari informasi megenai Hilarion. Iya, kan, Kale?”


Mikalea mengangguk. “Kamu benar.”


Lyria mengangkat tinjunya ke udara dan melebarkan senyum. “Demi menghancurkan Cermin Waktu dan menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia, ayo kita berangkat!”


“Kau terlalu melebih-lebihkan, Bocah Ajaib,” ejek Alanon.


Lyria yang tidak terima langsung menendang tulang kering Alanon dan meninggalkannya ketika sumur kembali mengeluarkan suara aneh.


 Lyria, Mikalea, Alanon, dan Zanesha berjalan beriringan melewati deretan pepohonan di sekitar Well of Time. Mereka melintasi tombolo yang menghubungkan pulau Well of Time dengan pulau karang-karang terjal, tempat kastel Wisteria Academy berada. Entitas-entitas seperti hewan sihir dan tumbuhan yang baru pertama kali mereka lihat menjadi teman sepanjang perjalanan.


“Omong-omong, apakah mereka bercanda dengan memberikan kita tugas untuk mencuri dan menghancurkan Cermin Waktu dari orang yang bisa dibilang sama kuatnya dengan mereka?” Zanesha melompati tiga anak tangga curam di antara dua karang. ”Kita terlempar ke masa lalu, terlebih lagi kita juga tidak diberikan informasi sedikit pun mengenai Hilarion itu. Konyol sekali!”


Lyria melompati anak tangga satu per satu dengan mudah. “Maka dari itu kita harus mencari informasi dulu,. Apakah kau bodoh? Mencari informasi juga salah satu keseruan dari yang namanya petualangan, tahu!”


“Aku tidak bodoh, Cebol!”


“Kau juga cebol untuk ukuran serigala! Werewolf lain memiliki tubuh tinggi dan besar, kau malah pendek dan kurus seperti kucing liar.”


Urat di wajah Zanesha timbul dan kedua tangannya sudah mengepalkan tinju. Namun, ia memutuskan untuk diam setelah melihat Mikalea mendarat di sampingnya sambil membantu Alanon. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, melewati jalan yang masih berkelok.


Menit demi menit berlalu, suara keramaian pun akhirnya terdengar di telinga mereka. Setelah mendaki anak tangga terakhir, sumber dari keramaian yang mereka dengar terlihat di depan gerbang. Semangat yang menurun selama perjalanan melewati karang terjal yang menanjak dan berkelok-kelok, kembali bangkit.


Alanon terbengong-bengong melihat sekeliling dengan penuh antusias, sementara Lyria menarik-narik lengan baju Mikalea. “Kale, bisa tolong angkat aku? Tenang saja, tubuhku tidak berat, kok.”


Mikalea mengangguk dan mengangkat tubuh Lyria, membuat sosok paling mungil di kelompok itu mampu melihat apa yang diinginkannya sejak awal. Fokus gadis itu tertuju pada halaman luar di depan gerbang akademi yang berdiri dengan gagah. Ada bunga-bunga berwarna ungu muda menyembul dari lorong setelah gerbang yang disebut Tunnelove. Sekelompok Kesatria Sihir berpatroli, mengawasi siapa pun agar tidak menggunakan sihir selama perhelatan Humanday.


“Di saat Humanday, Wisteria Academy biasanya akan membuka gerbang untuk umum. Meskipun begitu, pada hari festival ini juga semua ras yang hidup di Autumnland tidak boleh menggunakan sihir, kekuatan, perubahan, dan lainnya. Semuanya harus bertingkah layaknya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan. Di kota-kota yang ada di Autumnland pun biasanya akan ada pengawas yang menjaga jalannya festival ini,” jelas Lyria sambil turun dari pundak Mikalea.


“Hei, Bocah Ajaib, sebaiknya kita cepat-cepat masuk. Aku tidak suka tempat panas ini,” ucap Alanon.


“Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan sebutan Bocah Ajaib! Sebenarnya kau punya dendam apa, sih, sampai terus-terusan bilang seperti itu? Tidak di asrama, tidak di kelas, tidak di lab.” Lyria menunjuk-nunjuk Zanesha. “Kalau kau ingin meledek orang, ledek saja kucing garang tukang protes itu!”


Zanesha hendak protes, tetapi langsung dipotong oleh Mikalea.


“Kalian akan terus bertengkar dan membuang waktu kita di sini? Ayo masuk dan cari informasi mengenai Hilarion,” ucap Mikalea sambil memandang ketiga anggotanya bergantian. Mereka bertiga saling tatap dan akhirnya mengikuti langkah Mikalea dari belakang.


“Kalian, sih,” ketus Lyria.


Lyria, Mikalea, Alanon, dan Zanesha antre memasuki gerbang yang cukup ramai. Mikalea berada paling depan, disusul Alanon, lalu Lyria memegang pakaian bagian belakang Alanon, dan terakhir Zanesha.


Sebagian orang mengeluh karena lamanya pemeriksaan, sebagian memilih diam, dan sebagian lainnya—termasuk Zanesha—melayangkan protes terbuka. “Kenapa harus ada pemeriksaan seperti ini, sih? Membuat orang kesal saja!”


Lyria membalikkan badan dengan wajah datar. “Kau bodoh? Sudah pasti semuanya harus diperiksa. Jika ada seseorang dari luar akademi membawa barang berbahaya bagaimana? Kita, kan, tidak tahu jika ada seseorang yang mau menyelundupkan sesuatu dengan niat tidak baik. Memangnya kau mau bertanggung jawab?”


Ketika ia berbicara, orang yang berada di samping Lyria tanpa sengaja menyikut kepalanya. Lyria melotot meski orang yang menyikutnya sudah meminta maaf. Zanesha tertawa puas.


Lima menit di luar gerbang bagaikan neraka bagi Lyria. Makin dekat ia dengan gerbang, makin banyak pula sikutan tangan yang mengenai kepalanya. Ia terus melotot ke arah orang-orang yang menyikut, diiringi dengan tawa Zanesha dari belakang. Ia menarik-narik pakaian Alanon, tetapi laki-laki itu tidak memberikan respons apa pun.


“Aku benci jadi orang pendek,” gumam Lyria setelah akhirnya lolos dari pemeriksaan. Lyria berlari mendekati Mikalea dan Alanon yang menunggu di Tunnelove. Bunga-bunga wisteria yang menjadi ikon Wisteria Academy menggantung dari langit-langit terowongan tanpa ada celah. Bau khas bunga menyeruak dan terasa nyaman di hidung Lyria. Kelopak-kelopak dari bunga wisteria yang memiiki kontras berbeda berjatuhan sepanjang jalan, menciptakan perasaan tenang. Semua orang yang datang, kecuali Zanesha, pasti akan jatuh cinta dengan terowongan ini.


Semakin dalam mereka berjalan, sorot cahaya dari sisi lainnya semakin terang. Mereka pun sampai di halaman kastel Wisteria Academy yang dipenuhi oleh ingar-bingar perayaan festival.