
Stealing
SOUL DRAGONFLY MILIK Alanon mengudara bersama capung-capung liar di halaman akademi, mencari sosok Hilarion di keramaian perayaan Humanday. Lyria, Mikalea, Alanon, dan Zanesha menuruni tangga pualam yang telah mereka lewati. Alanon terus mengeluh karena lelah, tetapi ia harus tetap mengikuti langkah ketiga timnya.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sebelum mencuri Cermin Waktu dari Hilarion? Tidak mungkin, kan, kita mencuri barang dari seorang yang memiliki darah Werewolf dan Wizard tanpa adanya persiapan?” tanya Alanon kepada Mikalea.
“Kita harus melakukan persiapan seperti menyembunyikan identitas dan mencari keberadaan Hilarion sebelum mulai melakukan pencurian cermin. Kita akan membagi tugas. Alanon, kamu sebagai pemandu. Aku, Lyria, Zanesha yang mencuri cermin.”
“Baiklah. Selama tidak berlari-lari, aku tidak masalah.”
“Ah, Kale. Kita akan membeli barang-barang terlebih dahulu. Ada banyak benda yang bagus sebagai alat untuk pendukung menyembunyikan identitas kita. Aku ingat ada kios yang menjual topeng, kain penghilang, dan ramuan penghilang. Kain penghilang bisa kita gunakan untuk menyembunyikan cermin. Itu pasti akan sangat membantu kit—”
Langkah dan penjelasan Lyria terhenti, diikuti Mikalea, Alanon, dan Zanesha karena merasakan getaran dari anak tangga. Mata mereka tertuju pada ledakan dahsyat di Crimson Lake yang menerbangkan alga-alga merah.
“Apa yang terjadi?”
“Entahlah, Zane. Karena orang-orang Autumnland tidak mungkin menggunakan sihir, mungkin itu perbuatannya tim Galavidi, Cyrus, atau Arion.”
Fokus mata mereka kini tertuju ke Tunnelove yang dipenuhi oleh Kesatria Sihir. Sebuah keributan sedang terjadi di sana. Pengunjung, baik yang akan masuk maupun keluar tertahan di gerbang. Mikalea mengubah wujudnya menjadi Kesatria Sihir.
“Aku akan bergabung dengan kesatria-kesatria itu. Kalian berdua, cepat beli keperluan. Alanon, cari keberadaan Hilarion. Aku akan membantu kalian keluar masuk Tunnelove dengan wujud ini.”
Mata Alanon terpejam di bangku dekat dengan Tunnelove, berbagi penglihatan dengan Sol sembari memegang ramuan dan kain penghilang yang dibeli Lyria dan Zanesha dengan tergesa-gesa. Seorang penjaga sempat curiga terhadap lelaki berambut hijau itu karena merasakan energi samar yang keluar darinya. Akan tetapi, lelaki itu sukses mengelabui penjaga tersebut dengan kemampuannya dalam bersilat lidah.
Zaadia memiliki fisik yang lemah dan akan mengeluarkan sedikit energi saat memulihkan diri, seperti itulah alasannya. Alasan tersebut juga makin kuat karena ras dengan ciri khas benih yang menempel di kening tersebut belum diketahui asal-usulnya pada masa itu.
Mikalea telah bergabung dengan kelompok kesatria, ikut mengecek pengunjung yang terduga sebagai pelaku keributan bersama kesatria penjaga lainnya. Lyria membuka ikat rambut dan membiarkan rambut panjangnya tergerai.
Sol terbang ke luar akademi, mencari sosok lelaki bertato menyerupai bekas cakaran itu setelah berputar-putar di halaman akademi. Menit demi menit berlalu, Alanon akhirnya membuka mata.
"Hilarion ada di luar gerbang, diam di karang terjal yang tersembunyi. Cepat keluar, Sol akan menuntun kalian." Alanon menyerahkan sebuah kantong kepada Lyria. "Kalian akan melewati karang berbahaya. Di sana, sebarlah benih-benih ini. Meski nanti kekuatanku tidak maksimal, setidaknya aku bisa membantu memperlambatnya."
Lyria dan Zanesha meninggalkan pria berambut hijau itu dan menerobos antrean ke dalam Tunnelove dengan bantuan Mikalea. Lyria tegang, sementara Zanesha berbahagia karena efek obat pereda alergi masih membuatnya kebal dari bunga-bunga wisteria di lorong tersebut. Lyria, Mikalea, dan Alanon melihat sosok Navarro di lorong Wisteria, tetapi mereka melewatinya dan fokus ke tujuan awal, mencuri cermin Hilarion.
"Hati-hati. Lakukan secepatnya karena aku tidak bisa berada dalam wujud ini lebih lama lagi," ucap Mikalea sebelum ia berpisah dengan kedua rekannya itu.
Seekor Soul Dragonfly hinggap di kepala Lyria dan kembali terbang. Lyria menarik tangan Zanesha. "Ayo, Zane!"
Sol membawa Lyria dan Zanesha menuruni tangga-tangga yang telah mereka lewati setelah keluar dari Well of Time. Berbeda dengan tangga yang mengarah menuju tanjung, tangga yang mereka turuni itu sepi. Mereka berbelok masuk ke celah. Jalan terjal licin menyambut mereka.
Zanesha memakai topeng kucing berwarna hitam. “Apa kekacauan tadi penyebabnya adalah Mr. Navarro?”
“Aku tidak tahu.” Lyria memakai topeng kucing putih dengan motif yang berbeda. “Mungkin, itu kekacauan tim lain yang ingin mencuri serpihan Cermin Waktu dari kepala sekolah.”
Lyria dan Zanesha melompati karang-karang secara bergantian, mencari pijakan koral datar yang bisa dipijak. Tak lupa, Lyria nmenebarkan benih pemberian Alanon di setiap pijakannya. Saat menghadapi rintangan dengan karang tajam di sisi atas dan bawah, Zanesha mengubah kakinya menjadi kaki Werewolf dan membantu Lyria. melewati rintangan tersebut. Jika saja mereka tidak berhasil melewatinya, mereka akan mati karena tertusuk koral tajam.
Mereka berhenti dan bersembunyi di balik tebing setelah melihat Hilarion duduk bersandar pada sebongkah batu. Lelaki itu memegang topeng hitam berbentuk kepala serigala di tangan kiri, lalu memperhatikannya.
“Tunggu, mana cerminnya?”
Mata kuning Zanesha berubah menjadi ungu, ia memperhatikan kembali topeng dan tongkat sihir yang ada di samping leleki tersebut. "Sepertinya, topeng itu adalah cerminnya."
“Kau yakin?”
"Tunggu." Jantung Lyria berdebar kencang. Ia membetulkan posisi topengnya, menghela napas panjang, dan mempersiapkan diri.
"Cepatlah, sebelum Hilarion menyadari keberadaan kita."
Lyria mengeluarkan evolblaster dari grimoire dan membidik tangan Hilarion. Jari telunjuknya yang menyentuh pelatuk bergetar. Lyria kembali menguatkan hati.
Bunyi tembakan terdengar. Proyektil sihir keluar dari selongsong evolblaster dan memelesat. Sayangnya, tembakan tersebut meleset dan membuat Hilarion langsung menyadari keberadaan mereka. Lyria kembali fokus ke tangan kiri Hilarion yang hendak memasukkan topeng ke dalam kantong. Zanesha mengubah kakinya ke bentuk Werewolf.
Tembakan kedua meluncur dari selongsong evolblasteri. Kali ini tepat sasaran. Zanesha langsung melompat, merebut topeng Hilarion setelah ia menendang sosok Prince of Half-blood itu. Zanesha langsung memelesat, membawa tubuh Lyria di pundaknya, lantas melompati kembali rintangan yang sudah dilalui tadi.
“Pencuri sialan! Kalian pikir bisa lari dariku?”
Hilarion mengejar. Netra birunya fokus menatap kedua gadis itu. Meskipun ia tidak mengaktifkan kekuatan Werewolfnya, ia bisa mengimbangi kecepatan Zanesha. Lyria membidik Hilarion dan menghujaninya dengan proyektil sihir. Meski tidak ada satu pun peluru yang mengenainya, peluru-peluru angin tersebut berhasil memperlambat Hilarion. Benih yang disebar Lyria menumbuhkan sulur-sulur kecil. Walau tidak ada sulur yang berhasil menggapai kaki Hilarion, sulur itu turut andil dalam memperlambat langkahnya.
"Pegangan erat!" Zanesha mengambil ancang-ancang untuk melompati rintangan tersulit, rintangan dengan karang tajam yang berada di atas dan dibawahnya. Lyria berhenti menembak dan mencengkeram tubuh Zanesha. Lompatan jauh terjadi. Hilarion dengan gesit ikut melompat dan hampir menyentuh tubuh Zanesha.
"Swift!"
Ujung senapan Lyria yang awalnya kerucut terbuka. Lyria mengarahkan senapannya ke Hilarion dan menarik pelatuk. Sebuah peluru angin berukuran besar keluar dan meledak, mengempaskan Hilarion. Zanesha yang juga terkena dampak dari empasan tersebut kehilangan keseimbangan. Mereka hampir jatuh ke jurang, tetapi sulur Alanon menyelamatkan.
Werewolf tersebut kembali melompati rintangan-rintangan.
"Senapanmu hebat!"
"Cepatlah, kita tidak tahu kapan Hilarion akan bangkit dan ...." Mata Lyria berhasil menangkap sosok laki-laki bertato cakar di wajahnya itu. "Hilarion ada di belakang kita!"
"Apakah dia gila? Bagaimana dia bisa bangkit dengan cepat?" keluh Zanesha. "Kita sebentar lagi sampai di tangga. Aku akan menurunkanmu."
Lyria memasukkan senapan sihirnya ke dalam grimoire. Zanesha mengubah kakinya menjadi kaki manusia, lantas menurunkan rekannya. Mereka berdua melewati celah lalu berlari menaik tangga sambil melepas topeng. Saat wajah Hilarion terlihat di celah, sulur Alanon berhasil mengikat kakinya.
Dua gadis itu berhasil sampai di depan gerbang, di saat yang sama, mereka juga melihat Hilarion dengan raut wajah murkanya. Lyria dan Zanesha menerobos kerumunan. Beberapa orang membentak mereka, tetapi mereka terus menyerobot antrean pemeriksaan. Seorang petugas pemeriksaan langsung membiarkan mereka masuk ke Tunnelove tanpa pemeriksaan sembari mengangguk.
Zanesha bersin. "Semoga antrean itu bisa menghambat Hilarion."
"Alergimu sungguh tidak bisa diajak kerja sama, Zane."
Lyria dan Zanesha mendekati Alanon yang sedang duduk di bangku taman. Gadis Werewolf itu menyerahkan topeng Hilarion ke Alanon. Laki-laki Zaadia itu membungkus topeng Hilairon dengan kain penghilang, lantas memberikan Lyria dan Zanesha ramuan sejenis. Mereka meminum ramuannya bersamaan, tetapi tubuh mereka tidak menghilang sedikit pun.
Lyria mengernyitkan dahi, "Hei, apakah dua kios itu menipu kita? Masa sebotol ramuan seharga 15 wizer, tetapi tidak membuat kita menghilang sama sekali? Kain seharga 30 wizer itu juga tidak membuat barangnya menjadi tidak terlihat!"
"Tidak. Setidaknya keberadaan kita sedikit tersamarkan berkat ramuan itu." Zanesha bersin. "Kain itu juga membuat energi sihir di cermin semakin tersamarkan. Kita bisa keluar dengan aman, terlebih sekarang juga sedang ramai. Aku dapat menjaminnya."
"Lantas, kenapa mereka tidak menamainya ramuan penyamar dan kain penyembunyi saja?"
Alanon bangkit. "Setidaknya ramuan dan kain itu berfungsi sesuai dengan namanya. Ayo, keluar dari sini!"
Mereka bertiga berjalan beriringan, bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Zanesha menenggak ramuan pereda alergi dan langsung mengembuskan napas lega. Sosok Hilarion terlihat, membuat jantung Lyria berdebar kencang. Namun, saat Hilarion tidak menyadari keberadaannya dan timnya, Lyria akhirnya meyakini efek dari ramuan dan kain tersebut. Zanesha menepuk bahu seorang Kesatria Penjaga dan pergi duduk di bangku taman luar akademi.
Mikalea yang telah kembali ke wujud aslinya setetah pergi dan kembali dari balik batu besar di samping tangga. "Sekarang kita pergi ke timur, menuju dermaga di sana dan menyebrang ke pulau sebelah menggunakan perahu."
"Siap, kapten Kale," celetuk Alanon.