
Boneyard
JIKA ADA PERTANYAAN yang menanyakan, “Apa yang kamu dapatkan setelah menjalankan misi?” Pada kesempatan itu Candra akan menjawab dengan lantang, “Akhirnya, orang paling malas berolahraga bisa menjuarai lomba lari maraton.” Karena sepanjang menjalani misi, entah kenapa kaki kurusnya terus dipaksa untuk berpacu cepat, jika tidak ada kendaraan atau hewan kontrak yang membantu acara kabur mereka.
Candra harus menahan mual akibat kecepatan Rusa Kerineia. Dari sekian kendaraan yang pernah dia rasakan, sensasi melakukan perjalanan dengan pergerakan cepat adalah hal yang paling tidak diinginkan. Walaupun demikian, akhirnya nyawa mereka bisa selamat. Entah para Necromancer menganggap mereka sebagai bocah-bocah pengganggu yang tidak akan mengancam kerajaan atau ada alasan lain. Tim berhasil mendarat di tanah lapang Boneyard.
Wilayah timur di Autumnland, sekaligus perbatasan bagian timur di Darksville, keadaan Boneyard dianggap cukup sakral oleh penduduk setempat. Di gerbang Boneyard terdapat antrean penduduk yang melakukan tukar-banding dengan tulang-belulang yang dibawa. Ketika mendekat ke arah Boneyard, Ashlen merasakan serpihan cermin milik Navarro bergetar, seolah mendapatkan amunisi yang dapat meledak kapan saja.
Ashlen menyerukan nama Candra, hingga membuat laki-laki itu menoleh. “Tangkap!” Ia melemparkan serpihan cermin, lantas kembali berujar, “Coba gunakan elemenmu, apa getaran itu memang dikarenakan wilayah yang kita pijak sekarang ini atau tidak.”
Ketika serpihan cermin sebesar telapak tangan orang dewasa berpindah tangan pada Candra, ia juga ikut menunjukkan reaksi serupa ketika Candra merasakan gejolak Lucifer dalam tubuhnya. “Kita menemukannya!” serunya girang. Tim mengacungkan jempol, merasa beban yang mereka pikul rontok sebagian. “Bagaimana kalau kita masuk ke pusat Boneyard? Mungkin getarannya akan lebih terasa?”
Sejak usulan dari Candra diterima, mereka sepakat menerobos antrean penduduk di gerbang Boneyard dan mendapatkan caci-maki karena dianggap sembrono. Tim masuk ke Boneyard dengan mengandalkan kecepatan Rusa Kerineia dan kemampuan mimikri Boss. Sehingga, walaupun bertubrukan dengan penduduk, mereka hanya akan memaki angin yang lewat, sebab keberadaan tim tersamarkan.
Getaran pada cermin semakin meningkat ketika mereka mendekati kuil Boneyard yang berada di senter tanah lapang. Penduduk Darksville sering menyebutnya sebagai Offering Shrine. Bangunan megah yang terlihat mencolok di antara tanah lapang yang didominasi oleh tumpukan tulang itu merupakan altar suci yang digunakan oleh penduduk, khususnya kalangan Necromancer untuk beribadah.
Bias cahaya yang masuk ke Boneyard lebih sedikit jika dibandingkan wilayah Darksville lainnya. Meski terdapat jamur beragam ukuran dengan kilauan cahaya yang membantu penglihatan, tetap saja dengan minimnya intensitas cahaya yang didapatkan menyulitkan mereka untuk mengenali lingkungan sekitar.
Ketika Candra dan tim sampai di kuil suci, ia terkejut melihat keadaan kuil tersebut masih terpelihara. Sebab, terakhir kali dia mengunjungi Offering Shrine di Boneyard saat kecil, kuil tersebut hanyalah sebuah bangunan yang terbengkalai dengan ukiran tiga dimensi kepala tengkorak setinggi ukuran setengah tangga. Pada bagian luar kuil terdapat tangga spiral yang bersebelahan dengan dua patung raksasa berwajah seram setinggi 4 meter yang dibekali senjata tempur, lengkap dengan zirah dan alat pelindung lain, membuat keberadaan patung itu layaknya makhluk hidup yang mengawasi tanah Boneyard.
Tidak seperti hari besar, Offering Shrine saat ini tampak sepi. Namun, aura mencengangkan dari kedua patung yang seakan-akan sorot matanya mampu menembus makhluk tersembunyi seperti mereka, membuat tim tidak nyaman.
“Aku memang penakut,” ungkap Arion pelan, nyalinya sedikit menciut. “Namun, aku merasa patung-patung itu memang … hidup.” Susah payah ia menelan salivanya dengan jantung yang berdebar.
“Kau memang penakut.” Evander mengejek, tampak puas dengan mimik ketakutan Makhluk Berbulu itu. “Lain kali, kau harus berjalan tegap dengan berani.” Tahu-tahu ucapan Evander berganti dengan jeritan, lalu disusul suara dentuman godam perak dari salah satu patung penjaga yang menghalangi jalan mereka menuju pusat altar. Ternyata patung itu hidup!
Tim serempak mundur untuk menjaga jarak. Paham akan situasi yang memungkinkan mereka untuk bertahan dengan cara bertarung, tim keluar dari persembunyian mimikri mereka. Tak hanya kedua patung besar yang hidup, mereka juga dikepung oleh lima orang berjubah hitam dengan wajah tertutup. Para Necromancer itu ternyata mengendalikan tulang-tulang di Boneyard!
“Sekarang aku akan bersumpah, ketika nanti kita berhasil keluar hidup-hidup, kau Ketua,” Evander menunjuk pada Ashlen, “harus rela mentraktirku makanan lezat sampai aku puas!”
“Karena aku hidup untuk makan, kalau tidak makan, berarti tidak hidup!” protes Evander.
“Daripada memikirkan perutmu, pikirkan dulu nyawamu, Evan. Percuma kau bisa makan, jika nyawamu sudah melayang.”
“Diam, kau Wizard sialan!”
Lima orang Necromancer dan dua raksasa penjaga kuil menjadi tekanan beban baru bagi tim untuk merampungkan misi. Walaupun mereka bisa memenangkan pertarungan dengan hasil babak belur, tetapi yang mereka incar adalah waktu Aphelion yang sebentar lagi tiba! Jika pertarungan berlanjut hingga malam hari, mereka akan kesulitan untuk melihat. Makanya, mereka perlu menyelesaikan pertempuran ini sebelum petang tiba.
Seperti biasa, untuk mengefektifkan waktu, tim dibagi dua. Di mana Evander bersama Arion akan menghadapi para Necromancer dan Candra bersama Ashlen akan menghadapi para penjaga secara terpisah.
Evander dan Arion dikepung oleh keberadaan para Necromancer. Mereka bukan hanya ahli dalam mengendalikan tulang-tulang, tetapi terampil pula dalam kutukan dan sihir bayangan.
Sial, kita terjebak!
Para Necromancer itu seperti mempunyai energi cadangan meskipun sudah berhadapan dengan Evander dan Arion. Jujur saja, keadaan Arion lebih mengkhawatirkan karena sesekali terkena sihir kutukan yang semakin melemahkan kemampuannya dalam bertransformasi. Evander berdecak kesal, ia sedikit menyesali tindakan berleha-leha yang diperbuatnya selama perjalanan ke Darksville. Padahal, cukup baginya untuk meramu beberapa ramuan jika ia ingin.
“Rion, bertahan sebentar!” Evander membagi fokus antara menyerang dan membantu memulihkan luka-luka Arion. Namun, hasilnya akan tetap percuma jika Arion mempertahankan mode pertahanannya. Elf itu tahu, jika Arion melepaskan dinding pertahanannya, yang terluka bukan hanya Arion, Evander juga akan terkena dampak dari sihir kutukan itu. Namun, jika Arion keras kepala seperti sekarang, kapan ia akan sembuh dari luka-lukanya!
Evander terpaksa menyingkirkan pemikiran makanan lezat penggugah selera dari tempurung kepalanya. Ia mulai menduga-duga, selihai apa pun kemampuan lawan, pasti ada kecacatan. Selezat apa pun masakan daerah lain, lebih lezat masakan daerah sendiri. Astaga, hentikan memikirkan makanan!
Kali ini bukan hanya matanya yang mengamati pergerakan Necromancer dan mengarahkan bidikan arah anak panahnya, tetapi fokusnya terbagi dengan berusaha membaca jeda bagi orang-orang berjubah itu kembali menyerang. Kepalanya terasa hampir pecah akibat memikirkan keselamatan Arion yang sudah berkali-kali mengeluarkan cairan hitam dari batuk-batuk.
Sepuluh detik. Targetnya terdeteksi. Tiga detik untuk menyerang, transfer energi penyembuhan lima detik, dan dua detik untuk bertahan. Setelah memantapkan pemikirannya, Evander bergumam pelan dalam hati, Baiklah, mari kita lakukan!
Tiga detik pertama, Evander gunakan untuk membidik tulang-tulang yang menjadi sumber Necromancer. Sehingga, tulang-tulang tersebut menjauh dari medan pertarungan. Lima detik kemudian, ia fokus untuk penyembuhan sihir kutukan pada Arion. Evander cukup bersyukur karena mereka tidak menggunakan sihir tingkat tinggi yang mengancam nyawa, sehingga proses penyembuhan berjalan lacar. Meski harus ia akui bahwa menggunakan mana berlebihan nantinya akan membuat Evander kehilangan kesadaran.
Dua detik tersisa digunakan Evander untuk pertahanan dengan menghentikan pergerakan para Necromancer melalui serpihan-serpihan es yang menggumpal di udara, menyerupai badai kecil yang mengelilingi lawan. “Sekarang giliranmu, Bung!” Evander menggunakan sisa tenaganya agar terjaga dengan mengkonsumsi ramuan yang tersisa. Kali ini, ia menaruh kepercayaan pada Arion dengan peruntungannya. Semoga kau tidak mengecewakan, Arion.