Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Uninvited Guest for Betelgeuse - 10




10


“DUA RATUS WIZER untuk empat orang.” Akkadia membayar biaya naik kapal.


Awalnya, mereka berencana naik kapal lalu terbang di tengah perjalanan. Namun, dengan kondisi Sam yang separah ini, rencana itu tidak akan berhasil. Mereka tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu kondisi Sam lebih baik—walau sedikit. Dengan memar-memar, luka di perut yang masih menjalar, juga kehabisan mana bukanlah kondisi baik. Seharusnya, Sam mendapatkan pengobatan lebih cepat dari pada menyelesaikan misi. Namun, pengobatan itu tidak bisa terjadi kalau belum kembali ke Maple Academy.


Sam dibaringkan di ruang istirahat kapal, dikelilingi oleh anggota tim. Tidak ada ekspresi melegakan yang tercipta.


Di sini, Galavidi yang paling terlihat susah. “Mungkin status Cristal Lake saat ini sangat membahayakan. Lonjakan energi sihirnya bisa mengacaukan mana dan membuat cacat kemampuan seumur hidup. Aku tidak tau pastinya, sih. Aku hanya pernah membaca sebuah buku tentang kondisi Cristal Lake saat fenomena festival terjadi tiga hari berturut-turut.” Dia menatap Sam. “Aku khawatir Ketua mendapatkan hal yang lebih buruk dari ini.”


“Bagaimana untuk manusia sepertiku?” Kannika menatap Galavidi dalam-dalam.


Galavidi mengendikkan bahu “Entah. Jika teori kesoktahuanku benar, kamu akan baik-baik saja. Manusia tidak memiliki mana yang cukup  untuk menggunakan sihir, dan kamu juga tidak memiliki sihir, ‘kan? Masalahnya adalah aku tidak tau batas seseorang dikatakan aman mendekati Cristal Lake saat fenomena ini terjadi. Sedangkan dari empat anggota tim, ada tiga yang bisa menggunakan sihir.”


Kannika mengangguk paham. Dia menjadi lebih lega mendengar ucapan itu meski terbilang teori kosong.


“Kita harus memberinya ramuan pereda nyeri.” Akkadia menunjuk Sam yang mulai sadarkan diri.


Galavidi dan Kannika menoleh ke arah Sam.


“Kau benar,” kata Galavidi. “Setidaknya, Ketua tidak terlalu merasakan sakit.”


Sam menenggak ramuan pahit itu lalu dengan terbata-bata dia berkata, “Tidak ada waktu lagi. Kita harus menghancurkan cermin secepat mungkin.”


Deru ombak semakin kencang menabrak kapal yang mereka naiki. Menangkis keheningan di antara mereka. Kapal itu berjingkat sedikit dan nyaris membuat kepala Sam terantuk.


“Tidak bisakah kita mengundur pemecahan cermin?” Kannika bertanya, tatapannya yang terlihat mengejek kondisi Sam.


“Tidak!” tolak Sam dengan tegas.


Galavidi mengembuskan napas berat. “Baiklah. Mari kita berpikir bersama, bagaimana menghancurkan cermin itu.”


“Equalize,” jawab Sam.


“Kupikir tidak masalah.” Sam memegang perutnya.


Galavidi menatap ke luar jendela. “Sebentar lagi kita sampai ke pelabuhan wilayah Rainville. Kita akan menggunakan pedati yang nyaman untuk sampai ke Cristal Lake supaya kondisi Ketua tidak memburuk.”


Rainville, wilayah kelahiran Galavidi yang dipenuhi dengan danau dan kristal-kristal paling menawan di daratan Autumnland. Dari cerita rakyat yang beredar di Rainville, wilayah ini adalah wilayah paling suci dan penuh perlindungan karena selalu taat dengan kepercayaan dan dewi mereka, Dewi Bulan. Swanhorn, salah satu tempat di wilayah Rainville yang berisi penduduk-penduduk taat dan patuh. Mereka sangat memercayai firman yang diturunkan dan diterjemahkan di kuil bulan. Oleh karena itu, Galavidi tidak bisa menampik bahwa Rainville dipenuhi orang-orang kolot dan terkadang suka mendiskriminasi jenis penyihir lain seolah seer adalah satu-satunya penyihir terbaik. Beruntung, Galavidi tidak dibesarkan dengan pemikiran semacam itu.


Melewati Swanhorn sebelum sampai di Cristal Lake, pedati yang mereka sewa berhenti di sebuah tempat lapang. Akkadia, Sam, dan Galavidi menaiki Anz dan akan masuk setelah Kannika mendapatkan tempat aman dan titik buta dari jangkauan penjaga.


 “Cristal Lake paling besar yang akan kita tuju. Tempat itu terbuka dan dapat dilihat dari atas. Ingat! Mungkin kesempatannya hanya sedikit dan kita harus melakukannnya cepat-cepat,” kata Galavidi sebelum Anz terbang.


Sekarang tim Charming bisa melihat permukaan Cristal Lake dari atas. Galavidi menggunakan Anis, capungnya, untuk berkeliling dan melihat mengikuti Kannika.  Setelah mendapatkan tempat aman dari pandangan kesatria sihir—yang niscaya dihalagi oleh semak-semak dan pepohan rimbun berbentuk seperti payung—Galavidi turun hati-hati dengan bantuan Sam dan Akkadia turun dengan berayun memanfaatkan pancingnya. Mereka harus pandai mengira-ngira jarak Anz dengan tanah. Akan berbahaya jika ketahuan hanya karena kepakan sayapnya. Meski sebenarnya mereka juga tidak yakin mengingat tubuh Anz tidak sekecil serangga dan bisa dilihat dari kejauhan.


Sam, Akkadia, dan Galavidi mulai merasa sesak.


“Selesaikan dengan cepat!” jelas Galavidi lalu mengeluarkan bulu sayap Betelgeuse.


Dibantu oleh mana Akkadia, Sam mengeluarkan pusaka malaikat berbentuk tengkorak, Equalizer. Saat itu, bulu sayap Betelgeuse berubah menjadi serpihan cermin dan reaksinya saling berlawanan. Di titik ini, tenaga Sam dan Galavidi merosot drastis sampai-sampai ditopang oleh Akkadia dan Kannika.


Tidak ada waktu. Galavidi hanya bisa bertaruh. “Aku lempar dan tabrakkan.”


Langkah Sam terseok-seok meski telah dipapah Akkadia untuk menjaga jarak dari Galavidi. Tidak jauh, hanya tiga meter. Setelah dikira sesuai, dia pun mulai berhitung, “Satu, dua, tiga!”


Hanya berjeda sedetik setelah serpihan cermin waktu dilempar, Sam menabrakkan Equalizer-nya. Seketika, ledakan terjadi bersamaan cahaya berwarna ungu berpendar bercampur kepulan hitam. Suaranya pun melengking tinggi nyaris menyakitkan meski tidak seburuk nyanyian Wakepsek Maple Academy.


Getaran di area sekitar yang sehebat itu, mustahil Kesatria Sihir tidak mengetahui. Kesatria Angin menjadi riuh, air Cristal Lake pun bergelombang cukup tinggi dan menjadi pusaran yang mengerikan. Cipratan air danau membasahi mereka. Sam terbatuk-batuk dan tidak sadarkan diri. Galavidi dan Akkadia ikut muntah darah, mereka mencapai batasnya. Dengan kondisi semacam itu, terlihat jelas kalau Kannika panik.


Derap langkah kaki terdengar semakin jelas. Sudah dipastikan Kesatria Sihir mendatangi mereka. Manusia itu semakin khawatir jika identitas rasnya ketahuan. Usahanya berlanjut sendirian, meski sebatas menggendong Galavidi untuk mendekati Sam dan Akkadia.


“Kiamat. Benar-benar kiamat,” kata Kannika sebelum akhirnya mereka ditelan mentah-mentah oleh kepulan asap hitam dan menghilang tanpa jejak.


Sebuah portal menarik mereka untuk kembali ke masa depan. Ke masa mereka seharusnya berada. Bersama siswa lain di Maple Academy.