Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
The Fire of Eternity - Fire Region




Fire Region


“ITU BUKAN PENYUSUP, hanya murid Wisteria Academy.”


“Astaga, mereka mencuri buah-buahan lagi. Kenapa orang-orang itu tidak becus menjaga hutan?” ujar seorang Alkimia, lalu menginjak apel bekas gigitan.


Di sisi lain, tim yang merasa panik langsung kabur menaiki kunang-kunang raksasa. Kali ini tiga orang berada di atas tubuh serangga tersebut, karena lebih cepat dibandingkan Claryn harus membawa salah satu. Meskipun sebenarnya tidak ada satu pun dari Alkimia Gunung yang mengejar, mereka tetap harus waspada. Karena dua penjaga merelakan, bukan berarti yang lain akan diam saja.


“Syukurlah, kita selamat,” kata Ayaka sambilberbaring di atas kunang-kunang raksasa.


“Terlalu cepat untuk bilang selamat. Cyrus, kapan kau bisa menggunakan kekuatanmu?” tanya gadis berambut cokelat yang terbang sendiri dengan sayap. Ia berharap lelaki itu turun agar mengurangi beban hewan kontrak kesayangannya.


Cyrus melirik, kembali mengawasi sekitar, lalu menjawab, “Tiga jam jika dihitung dari saat aku menonaktifkannya, itu paling cepat. Sebenarnya ... bisa lebih lama lagi.”


 Setelah terbang lurus berkecepatan kuda, akhirnya kilauan cahaya mulai terlihat dari pepohonan yang berimpit. Itulah jalan keluar mereka. Aliran sungai besar memanjang dari laut menjadi perbatasan antara wilayah Stoneville dengan Lightoville. Ketiga gadis itu tampak lega karena bisa terbebas dari kejaran Alkimia Gunung, tetapi entah kenapa Cyrus selalu berbeda. Lelaki itu justru terlihat lebih panik daripada saat dikejar penjaga, membuat wajahnya yang sudah pucat menjadi makin pucat.


Angin berembus kencang menyambut kedatangan tim di tepi sungai. Kunang-kunang raksasa pun melambat agar mereka bisa sedikit bersantai usai kejar-kejaran tiada henti. Ayaka melihat perairan di bawah. Banyak ikan berbagai ukuran berenang ke permukaan, mengingkannya pada jam makan siang.


“Cyrus, sepertinya ikan bakar bisa jadi makan siang kita.” Gadis berambut hitam itu melihat ke arah lelaki yang dari tadi menengadah sambil terpejam. Ia mengernyit lalu bertanya, “Kau baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja,” jawab Cyrus, masih tetap pada posisinya.


Claryn memandang dengan penuh keseriusan, hanya ada satu kemungkinan yang muncul di kepalanya. “Cyrus, kau ... takut air, ‘kan?”


“T-tidak, kata siapa? Jangan seenaknya menyimpulkan!”


Gadis Fallen Angel itu tersenyum jail. “Anak-anak, lebih rendah lagi!” Kunang-kunang raksasa mengikuti perintah dan mulai terbang lebih rendah, kurang lebih satu meter di atas permukaan. Claryn mendekati pria itu kemudian berkata, “Lihat, Cyrus! Airnya jernih, ‘kan? Panas-panas begini kau pasti ingin berenang.”


“Jangan menggangguku! Kapan kita sampai ke daratan?”


“Ini sudah sampai,” tipu Claryn. Sebenarnya mereka masih di tengah-tengah karena sungai tersebut sangat lebar, sementara kunang-kunang terbang lambat.


Cyrus menunduk kemudian membuka mata perlahan-lahan. Lelaki itu terkejut, perairan terbentang luas di hadapannya. Ia mencoba untuk tetap tenang, tetapi tidak bisa. Seluruh tubuhnya gemetar, jantungnya berdebar-debar, dan wajahnya mulai dibasahi keringat. Ia kembali memejamkan mata, meski rasa takut membekas karena gambaran sungai masih teringat jelas. Sementara Claryn hanya tertawa, tidak menyangka kalau laki-laki yang terlihat dingin ternyata menyimpan ketakutan.


“Cyrus, kalau kau takut melihat ke bawah, lihat aku saja. Namun, jangan naksir, ya!” Gadis itu tersenyum. Ternyata benar, orang kalau sedang takut jadi mudah dibodohi.


Cyrus berdecak. “Suruh saja orang lain untuk memandangi wajahmu!” ujarnya sambil mengangkat tangan di udara, segel api yang muncul menandakan kalau bakatnya telah aktif. Ia pun menciptakan burung api raksasa kemudian terbang meninggalkan teman-temannya yang lambat itu.


 Tim akhirnya tiba di daratan. Kunang-kunang raksasa berpencar, mengecil, dan masuk ke tubuh Mr. CR, lalu menghilang. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka membasuh muka di sungai terlebih dahulu karena siang hari sangat panas. Namun, ada suatu keanehan, lelaki yang takut air itu tidak kelihatan sama sekali batang hidungnya.


Ayaka menyipitkan mata lalu melihat sekitar. “Kira-kira dia ke mana?”


“Mungkin tenggelam,” sahut Leena.


Tiba-tiba seekor burung api kecil terbang menghampiri. Ia berputar di udara seakan ingin menunjukkan sesuatu. Karena tahu itu makhluk ciptaan Cyrus, jadi mereka langsung mengikutinya. Burung api itu terbang lurus, tidak peduli pepohonan atau apa pun yang ada di depan, membuat tim kesulitan mengejar. Makin lama, tubuhnya makin kecil dan sepertinya akan segera padam.


Awalnya, mereka mengira kalau burung itu padam maka Cyrus akan ketemu. Namun, kenyataannya ada burung api pengganti yang akan menuntun mereka lebih jauh lagi.


“Kapan kita sampai? Di mana Cyrus?” keluh Ayaka, tubuhnya benar-benar lemas karena kekurangan cairan, berbanding terbalik dengan sebatang kaktus.


“Jangan-jangan dia sudah berjalan jauh dan burung ini adalah penunjuk arah kita.” Leena mengusap rambut yang sudah mulai kusut. Berbeda dengan Ayaka, gadis Elf itu lebih mementingkan penampilan daripada makanan, apalagi sudah sehari mereka belum mandi.


Claryn mengabaikan mereka, perhatiannya tidak lepas dari lokasi yang dituju oleh burung api. Dari tempatnya berpijak, tampak perbukitan terjal yang menjulang, sampai-sampai puncaknya melebihi awan di sekeliling. Ia mengepakkan sepasang sayap kemudian terbang beriringan dengan burung api itu.


 Burung api yang masih pada ukuran awal tiba-tiba padam, seorang lelaki bermata merah menyala berjalan menghampiri mereka di bawah bukit. “Benar-benar lambat.”


Claryn mendekati Cyrus dengan wajah penuh kekesalan, kemudian menarik kerah kemejanya. “Kenapa kau meninggalkan kami?”


“Tidak usah emosi, Nona! Aku hanya malas bersama kalian.” Lelaki itu melepas tangannya dengan kasar. “Cepat ikuti aku!”


Tim berjalan menuju sebuah stasiun di bawah bukit terjal. Namun, ini bukanlah stasiun biasa dengan rel serta kereta dari mesin. Ini Snail Station, tempat para siput raksasa. Lelaki itu memimpin di depan, kemudian memberikan sekeping koin perak bernilai satu wizer kepada penjaga stasiun


Pria berbadan besar itu langsung mengambil uang koin dari tangan Cyrus lalu berteriak, “Nomor empat, satu wizer!”


Salah satu pintu garasi yang terletak di dinding bukit terbuka perlahan. Dari dalam, keluarlah makhluk raksasa berlendir dengan cangkang berwarna kelabu. Ayaka berteriak ketakutan dan langsung memeluk tangan sahabatnya. Tubuh Leena memang terlihat meyakinkan, tetapi mukanya tidak menunjukkan kalau ia berani. Mungkin ini kesempatan Cyrus untuk balas dendam usai kejadian di sungai tadi. Namun, anehnya ia juga ikut khawatir. Bukan karena siput, melainkan tarif yang dikeluarkan.


Aku lupa harga standar keong ini, semoga di masa lalu lebih murah. Namun, mau bagaimanapun aku lebih suka kereta masa depan. Kita tidak perlu bayar ke penjaga karena siput sudah kenal uang.


Uang memang diterima, tetapi bukan itu masalahnya. Percayalah, kecepatan siput raksasa sebenarnya tergantung pada bayarannya. Mereka pun berjalan mendekati siput. Ayaka menempelkan wajah pada punggung Leena, tidak berani melihat bentuk dari makhluk itu. Dari luar, cangkangnya memang terlihat biasa tanpa ada celah sedikit pun, bahkan mereka sempat mengira akan menunggangi siput itu, apalagi setelah melihat tarifnya yang murah. Namun, ternyata tidak demikian ketika pintu di samping cangkang bergeser.


Di dalam, dinding ruangannya berwarna merah, terdapat dua baris bangku putih yang searah. Memang tidak terlalu mewah, tetapi cukup rapi. Seketika, rasa takut mereka reda dan langsung memasuki cangkang itu.


“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Ayaka. Mereka masih bingung karena dari awal Cyrus tidak bilang apa-apa.


Pria itu bergeser sedikit menjauh dari Claryn. “Fyreville ada di atas,” jawabnya.


Pintu dan jendela tertutup rapat, tiba-tiba terjadi getaran yang menandakan kalau siput raksasa sudah mulai bergerak. Mereka memang tidak melihat, tetapi bisa dirasakan dari arah gravitasi kalau siput sedang memanjat permukaan terjal itu.


Tidak ada kejutan atau semacamnya, sepertinya memang masih lambat dengan uang segitu. Bersyukur sajalah, lagian uangnya juga hasil nemu, batin Cyrus.


Entah sudah berapa lama mereka berada di dalam sana, pintu tidak kunjung terbuka. Cyrus membuka jendela di samping dengen menggesernya, lalu melihat ke luar. Jauh dari kata setengah perjalanan. Pria itu mengelus jidat, perjalanan lama bukan masalah besar, tetapi ia tidak suka kalau harus bersama timnya.


Kalau begini lebih baik ti—


“Kenapa lama sekali? Cyrus, apa siput akan selamanya berkecepatan siput?” teriak Ayaka. Lelaki itu baru saja ingin mengistirahatkan mata, tetapi sepertinya memang mustahil dilakukan.


“Berisik! Kita mendapatkan apa yang kita bayar.”


Setelah bersabar cukup lama, akhirnya mereka berhenti juga. Tim keluar dari dalam cangkang dengan tubuh sempoyongan, bukan mabuk, melainkan karena ngantuk berat. Mereka tiba di daratan utama Fyreville, tanah para Warlock. Cyrus sempat bilang wilayah itu terkutuk, tetapi yang mereka lihat justru keindahan alam. Dedaunan dari berbagai warna dan jenis pohon berserakan di mana-mana usai berguguran. Ditambah dengan cahaya langit sore membawa perpaduan sempurna antara keduanya. Namun, karena kondisi sangat tidak memungkinan, mereka tidak bisa berjalan lebih jauh lagi.


“Ada pemukiman di dekat sini, kita jalan sebentar lagi saja,” ujar Claryn. Mereka bertiga mulai berjalan lagi, sementara Cyrus hanya diam dengan tatapan kosong menghadap daratan luas yang didominasi warna jingga kemerahan. Jika tanah kelahirannya Cryoville dipenuhi perbukitan serta hutan yang seluruh permukaannya tertutup salju, ditambah suhu udara yang sangat dingin, maka daratan ini lebih cocok ia tinggali karena tempatnya lebih hangat dan hanya memiliki satu musim, yaitu musim gugur. Namun, tidak semudah kedengarannya, perasaan aneh justru selalu muncul ketika ia menginjakkan kaki di sana.


Claryn mendekati lelaki itu, kemudian menepuk tangan tepat di depan mukanya. “Lambat, cepat jalan!”


Cyrus mengikuti mereka dari belakang. Kali ini ia tidak memimpin karena pemukiman sudah terlihat jelas di depan. Namun, lelaki itu tiba-tiba berhenti lagi, membuat tim makin kebingungan. Ia melamun ke arah jurang di sebelah, di bawah sana terdapat kobaran api abadi yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.


Ketua tim mulai kesal dengan tingkah laku Cyrus, kemudian bertanya, “Kalau mau lompat, silakan!”


“Aku pernah datang ke sini. Namun, aku tidak ingat apa-apa,” jawab Cyrus, membuat ketiga temannya geleng-geleng kepala.


“Kita tidak punya waktu, ini sudah sore, dan yang perlu kita lakukan adalah menggadaikan perhiasan Leena.”


“Jangan coba-coba!” sentak gadis Elf itu.


Mereka pun meninggalkan Cyrus sendirian di belakang, melanjutkan perjalanan menuju tempat yang seharusnya dari tadi mereka tuju. Lelaki itu memandangi segel api di tangan lalu bergumam, “Ignis, aku ingin bicara.”