Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Getting Information




Getting Information


LYRIA DAN ZANESHA terus menerobos kerumunan, mengikuti Soul Dragonfly yang mereka yakini sebagai milik Alanon. Keduanya melewati kios penjual topeng, kios penjual ramuan penghilang, kios kain penyamar, dan kios-kios lain dengan keunikannya masing-masing.


Mata Zanesha menatap sekitar dan kembali menemukan sosok laki-laki dengan tongkat mengilap di pingganggnya. Wajahnya kali ini terlihat. Ada tato hitam dengan motif bekas cakaran yang memanjang dari mata kanan hingga ke pipinya. Werewolf bermata kuning itu sekarang menilik seragam Wisteria Academy milik laki-laki tersebut dari atas sampai bawah, kembali merasakan aura dari tongkat sihir dan barang yang disembunyikan di dalam kantongnya.


Soul Dragonfly makin mengangkasa, bergerak berlawanan arah dengan langkah laki-laki berambut hitam tadi. Zanesha kehilangan sosoknya. Gadis yang baru menyadari jika langkahnya melambat itu kembali menyejajarkan langkahnya dengan Lyria.


Lyria menarik-narik lengan kemeja Zanesha. “Sekarang, siapa yang kau perhatikan, Zane?”


“Laki-laki itu.” Gadis berambut merah pendek tersebut menatap Lyria. “Laki-laki yang kusebut tadi.”


Lyria memutar tubuhnya, mencari keberadaan sosok yang dimaksud Zanesha. “Mana?”


“Sudah tidak ada. Dia berbelok ke arah yang berlawanan dari kita.”


Gadis dengan rambut berkepang dua pun berdecak kesal sembari memutar tubuhnya kembali.


Lyria dan Zanesha melewati sebuah gerbang yang menghubungkan halaman kastel ke sebuah taman. Mulai dari sana, tidak ada satu pun kios dan kerumunan orang. Hanya ada beberapa siswa Wisteria Academy yang mengisi bangku-bangku taman di bawah rindangnya pohon, bergelut dengan buku tebal.


Kala capung yang mereka ikuti mulai menurunkan jaraknya ke tanah, seseorang memegang kedua pundak gadis tersebut. Lyria dan Zanesha refleks memutar kepala, merasa lega sekaligus bersalah saat melihat wajah yang mereka kenal.


“Ikuti aku,” titah Mikalea.


Dua gadis itu mengangguk dan berjalan di belakang Fallen Angel berambut pirang itu. Lyria dan Zanesha saling tatap, tersenyum masam seolah mengartikan, Alanon dan Kale pasti marah.


Mikalea membawa Lyria dan Zanesha ke belakang sebuah bangunan di tengah taman. Sosok Alanon yang sedang duduk di sebuah bangku terlihat. Ia berdiri, kemudian mendekat.


“Ke mana saja kalian? Tidak tahukah kalau aku dan Kale mencari-cari kalian?” Lelaki berambut hijau ikal dengan sebuah benih yang menempel di dahinya menatap Lyria dan Zanesha bergantian. “Karena kalian, kita sudah membuang waktu berpuluh-puluh menit untuk mencari informasi.”


Soul Dragonfly masuk ke kantong kemeja laki-laki beraut wajah kesal itu. Ia mengembuskan napas panjang.


Zanesha menundukkan kepala. “Hijau ... maaf, itu semua salahku.”


“Namun, kabar baiknya, kita mendapatkan banyak uang,” tambah Lyria, tepat setelah Zanesha menyelesaikan kalimatnya.


“Tumben akur. Kalian bersekongkol mencuri uang orang?”


Gadis pendek berambut kepang di kedua sisinya seketika melotot. “Tentu saja tidak, Bodoh! Harusnya kau berterima kasih kepadaku, bukan menuduhku yang tidak-tidak!”


“Oke, baiklah, aku yang salah! Maafkan aku, Nona Bertubuh Mini.” Alanon menggaruk kepala. “Omong-omong, aku tadi bertemu dengan ‘orang tidak waras’. Dia langsung menepuk kepala orang sembarangan. Dia juga bilang kalau dia bertemu Arion.”


“Aku dan Lyria juga melihat ‘orang suram’. Dia berjalan sendirian entah ke mana tujuannya.” jelas Zanesha. “Omong-omong, siapa ‘orang tidak waras’ yang kau maksud itu?”


“Kannika,” jawab lelaki itu singkat. “Lalu, ‘orang suram’ itu siapa?”


“Cyrus.”


“Kalian sebaiknya tidak mengejek orang seperti itu, Alanon, Zane,” ucap Fallen Angel berambut kelabu dengan tegas.


“Sebaiknya kita ke perpustakaan sekarang dan lanjut mencari informasi mengenai Hilarion," ajak Lyria.


Alanon melongo, semangatnya ciut.


Mikalea melangkah terlebih dahulu tanpa memedulikan raut wajah masam dari ketiga adik tingkatnya. Ia terus naik tanpa memedulikan drama yang terjadi di antara mereka.


“Lyria, mau kugendong?” tanya Zanesha.


“Tidak perlu, Zane.”


Alanon membuang napas panjang. “Bocah Ajaib itu kuat. Kenapa kau tidak menawariku saja, Kucing?”


“Kenapa aku harus menawarinya kepadamu? Kau saja masih mengataiku Kucing.” Zanesha tersenyum sambil melangkah melewati beberapa anak tangga. “Ayo, cepatlah naik lelaki lemah, bergunalah sedikit saja.”


Lyria tertawa sembari mendekati Zanesha. “Ayo, Lemah. Kau ingin ditinggal?”


“Ayolah. Sebenarnya apa, sih, yang membuat kalian menjadi begitu kompak?” keluh Alanon setelah melihat seringai dari keduanya. “Oke, aku naik!”


Perjalanan menaiki tangga pun kembali dimulai. Setelah melewati tangga di koral-koral tajam, sekarang giliran tangga perpustakaan. Lima belas menit dilalui dengan keheningan Mikalea, serta lontaran ejekan dari Lyria dan Zanesha ke Alanon.


Lyria menyeka peluh di dahi dan menyaksikan Alanon yang merangkak dan tergolek lemas setelah mencapai puncak tangga. “Apakah Zaadia memang selemah itu, Al? Padahal hanya lima belas menit, lho, kita melewati tangga.”


“Iya, aku lemah ... kau pikir, saat mencari kalian berdua menggunakan Sol, aku tidak mengeluarkan tenaga?”


Lyria mengangkat bahu dan berpaling ke pintu kayu raksasa dengan ukiran indah yang terbuka lebar. Lantai dengan motif papan catur, jendela mosaik tinggi berjejer rapi, meja counter penjaga perpustakaan berbentuk bundar, serta lampu chandelier megah dapat mereka lihat dari luar perpustakaan.


Keempat siswa Maple Academy itu pun masuk setelah Mikalea membantu Alanon berdiri. Netra hazel Lyria menjelajah langit-langit perpustakaan megah bermotif indah dengan skema warna emas, violet, biru, dan putih. Seorang wanita berkaca mata fokus membaca buku di meja pustakawan, tidak menggubris kedatangan Lyria dan anggota timnya.


Mikalea mendekati meja pustakawan itu, ia bertanya di mana letak rak buku berisi informasi data murid. Wanita itu membetulkan kaca matanya dan menunjuk lorong sebelah kiri tanpa melontarkan kata apa pun, lantas kembali fokus ke buku bacaannya.


Mikalea memberikan isyarat tangan. Lyria, Alanon, dan Zanesha pun segera mengikutinya. Lyria, Mikalea, dan Zanesha berpisah untuk mencari buku berisi informasi dari rak yang berbeda-beda. Sementara itu, Alanon mendaratkan kepalanya di meja kayu, memejamkan mata sembari mengipasi kepala dengan brosur.


“Kau benar-benar tidak berguna, Al,” protes Lyria sembari mendaratkan sebuah buku tebal ke atas meja.


Alanon membalasnya dengan gerakan tangan yang seolah mengatakan, Jangan ganggu aku.


Lyria membuka buku itu dan membalikkan halaman demi halaman, mencari data Hilarion. Mikalea dan Zanesha datang hampir bersamaan dari rak berbeda, membawa buku informasi data murid dari tahun yang berbeda. Mereka tidak tahu Hilarion merupakan siswa Wisteria Academy angkatan ke berapa, maka dari itu mereka terus menggulir halaman dengan cepat dan kembali mengambil buku informasi data murid lain dari rak.


“Aku menemukannya! Prince of Half-Blood, Halfridious Hilarion. Memiliki darah campuran ....” Lyria berhenti sejenak, melihat potret wajah di halaman tersebut dengan saksama. “Tunggu, Zane, bukankah ini adalah laki-laki yang kau perhatikan tadi?”


Zanesha mendekat ke arah Lyria dan melihat wajah di selembar kertas tersebut. “Tunggu ... eh? Dia adalah orang tadi!” Raut wajah menampakkan keterkejutan. “Kau ingat orang yang kubilang tadi, kan, Lyria? Dia adalah orangnya!”


“Kau yakin, Zane? Orang yang kau bilang punya tongkat sihir dan barang berenergi sihir kuat di kantongnya itu?”


Zanesha mengangguk.


“Kalau begitu, ada kemungkinan jika barang yang ada di kantongnya itu adalah ....”


“Serpihan cermin waktu,” lanjut Mikalea setelah Lyria menjeda ucapannya. Mikalea bangkit dari tempat duduk. “Untuk sekarang, mari kita bereskan buku yang kita pinjam ini. Alanon, carilah Hilarion menggunakan penglihatan Sol. Kita akan mendiskusikan rencana kita setelah keluar dari perpustakaan.”


Alanon mengembuskan napas malas. "Oke ... baiklah.”