Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
An Unexpected Adventure in Windville - Hole of the Wind




Hole of the Wind


LYRIA, ALANON, DAN Zanesha merebahkan tubuhnya begitu tiba di wilayah dengan rerumputan pendek Hollowind. Kawanan Dandendondendandendondendan kecil diam di perbatasan antara rumput hijau dan bunga-bunga putih. Mereka tidak melangkah keluar dari tempat bunga-bunga putih itu tumbuh. Mereka pun kembali setelah Mikalea mendaratkan.


Lyria memasukkan evolblaster dan mengeluarkan dua botol air putih berwarna merah muda dengan tempelan beruang di beberapa bagiannya. Ia meneguk air dari botol dan memberikan botol lain kepada Alanon dan Zanesha. Gadis berambut kepang dua itu menawarkan botol yang sudah dihabiskannya setengah botol kepada Mikalea.


“Tidak usah, aku tidak haus.”


“Jangan menolak. Kau harus minum juga, Kale.”


Mikalea mengambil botol berwarna merah muda Lyria dan menghabiskan air itu dalam beberapa kali teguk. Mikalea mengembalikan botol itu ke tangan Lyria.


Alanon dan Zanesha bertengkar memperebutkan minuman. Lyria dan Mikalea menatap tajam mereka. Werewolf dan Zaadia itu pada akhirnya diam dan membagi airnya dengan adil.


“Omong-omong, apakah Hilarion tahu jika kita ada di sini?” tanya Zanesha.


“Tidak mungkin dia tahu. Kita, kan, juga sudah tahu kalau jarak tempat ini dan Wisteria Academy sangatlah jauh. Tidak mungkin Hilarion itu bisa mendeteksi cermin waktu yang kita curi dari jarak sejauh itu,” jawab Alanon.


“Namun, dia adalah pemilik cermin, Al.”


“Jarak kita jauh, Zane. Perjalanan melintasi pulau dan pergi ke tempat ini juga tidaklah mudah. Ia harus menaiki kapal terlebih dahulu untuk sampai ke Wind—”


“Tidak, dia bisa naik kereta terbang untuk sampai ke sini dengan cepat. Kau benar, Zane. Kemungkinan besar Hilarion tengah menuju tempat ini mengejar kita jika memang dia mengetahui keberadaan cermin itu.” Lyria menelan ludah. “Baik, lupakan soal itu. Kita harus fokus mencari cara menghancurkan cermin itu daripada cemas memikirkan hal yang belum pasti. Sekarang, bagaimana dengan cermin itu, Kale?”


Mikalea mengeluarkan serpihan cermin waktu dari kantongnya, bersamaan dengan sekuntum bunga merah. Kedua benda itu memendarkan cahaya hijau.


Zanesha bangkit dan berdiri di sisi Mikalea. “Bunga apa itu?”


“Caerulea, kita akan menghancurkannya dengan ini.”


Gadis berambut merah itu menggaruk kepala. “Menghancurkan cermin menggunakan bunga? Kau bercanda?”


Mikalea memejamkan mata, memfokuskan kekuatannya kepada sekuntum bunga caerulea itu. Bunga itu pun berubah menjadi pisau bermotif akar.


“Oke, baiklah, aku paham. Ayo kita hancurkan cerminnya sekarang.” Zanesha menampakan giginya dan tertawa kecil. “Oh iya, di sini ada banyak sekali lubang raksasa. Menarik sekali! Apakah lubang-lubang itu adalah sarang kelinci atau domba?”


Mata Zanesha menguar, menyaksikan kelinci-kelinci dan domba-domba liar di sekitar lubang-lubang itu. Kala ia melihat seekor domba terperosok masuk ke dalam lubang itu, sebuah pemandangan spektakuler terihat. Domba itu terpental ke langit dan wujudnya tidak terlihat lagi.


Keringat dingin muncul dari kening gadis itu. “Tidak, lubang itu tidak menarik. Maafkan aku.”


Alanon tertawa. “Kau sedang melawak, Zane? Kau lucu sekali!”


“Tidak, terima kasih, Nona Kucing.”


Lyria menghela napas. “Oke, Kale. Karena dua orang itu sudah diam, apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Kita harus mencari tempat yang bisa membuat cermin ini bereaksi semakin kuat.” Lelaki berambut abu-abu itu menatap sekitar. “Mungkin ada satu tempat yang memiliki energi angin paling kuat di sini. Sebaiknya kita berkeliling dulu.”


Mereka mengangguk dan berjalan di belakang Mikalea.


 “Apakah cermin dan caeruela itu masih belum menunjukkan reaksi kuat, Kale?” Lyria menatap langit. “Sepertinya sekarang sudah pukul tiga. Kita sudah berjalan sejam mengelilingi tempat ini.”


Langkah keempat siswa Maple Academy itu terhenti. Alanon duduk di rumput, diikuti Zanesha. Sol dan Vera pergi dan kembali membawa tumbuhan herbal.


“Apakah kau benar-benar ingat bagaimana cara menghancurkan cermin itu, Kale?” Lelaki dengan benih di kening menguap. “Atau apakah ini adalah tempat yang salah?”


“Tidak, Al. Ini adalah tempat yang benar dan aku benar-benar ingat tata cara penghancuran cermin ini.”


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa mungkin kita harus menunggu waktu yang tepat? Sampai malam? Tidak mungkin, ‘kan?”


“Kau benar. Mungkin kita harus menunggu sekarang.”


“Baiklah kalau begitu, Kapten Mikalea. Kami akan menunggu sampai cermin waktu dan bunga itu sampai bereaksi.” Alanon merebahkan dirinya di hamparan rumput. “Tolong bangunkan aku jika selesai, Kapten Mikalea.”


Urat di kepala Mikalea tertarik setelah mendengar ejekan dari Alanon. Ia memunculkan sayap dan mencoba mengancam lelaki berambut hijau itu. Namun, Lyria menghalangi niatnya.


“Tenangkan dirimu, Kale. Kau seharusnya sudah tahu kalau makhluk hijau itu selalu berkata pedas. Bertengkar tidak akan mendapat jalan keluar dari masalah ini.” Lyria tersenyum. “Kau tahu juga, kan, kalau Tuan Rumput itu memiliki fisik yang sangat lemah sekali. Dia sangat sensitif seperti wanita yang sedang datang bulan dan tidak mau diejek meski terus mengejek orang-orang di sekitarnya.”


Zanesha bangkit dan ikut menahan amarah Mikalea. “Itu semua benar, Kale. Makhluk hijau itu terus mengejek Lyria dengan sebutan Bocah Ajaib dan mengejekku dengan sebutan Kucing. Saat aku dan Lyria menyebutnya Hijau dan Tuan Rumput, dia malah marah. Dia orang aneh yang susah dihentikan.”


“Hei! Aku mendengar semua perkataan kalian dari sini!” Alanon bangkit dan tersenyum simpul. “Oke, aku mengalah. Aku salah. Kau tidak asik diajak bercanda. Maafkan aku, Kale. Mulutku memang tidak tahu diri sejak dari biji.”


Mikalea menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya. “Maafkan aku juga. Aku tidak terlalu pandai mengendalikan emosi.”


Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar.


Mikalea memutar tubuhnya, mencari sumber suara tersebut. Mata Lyria membelalak. Zanesha dan Alanon bangkit. Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah menjadi tegang.


“Sungguh drama pertemanan yang tidak mengharukan.” Hilarion tertawa mengejek. “Akhirnya aku menemukan kalian, bocah-bocah sialan yang sudah mencuri cerminku!”


Lyria mengeluarkan evolblaster dari grimoire, Mikalea melebarkan sayap pedangnya, Sol terbang tinggi, dan Zanesha mengubah kaki dan tangannya ke mode Werewolf.


“Wow, kalian sepertinya serius sekali! Bagus ... bagus. Padahal aku akan berbaik hati jika kalian menyerahkan cermin itu secara sukarela.” Hilarion bertepuk tangan, mata birunya berubah menjadi kuning menyala. “Saatnya memberi pelajaran ke pencuri-pencuri nakal yang datang dari negeri antah berantah ini!”