
7
DALAM KEHENINGAN, TANPA mereka sadari jalanan telah renggang. Pedati-pedati yang ditarik kuda, kadal, siput, bahkan hewan kontrak mengisi kekosongan kota. Gosip-gosip mulai tersebar dari pedagang yang berpulang setelah memasok dan menjual barang dagangan dari wilayah sebelah. Sorot matahari nyaris sampai ke penghujung dan sebentar lagi malam akan tiba.
Satu pesan yang selalu diberikan oleh angkatan-angkatan lama, yakni jangan mengharapkan tidur nyaman selama misi. Tidur terbalik dan menggantung di pepohonan seperti kelelawar atau burung hantu. Tidur tanpa alas di tanah becek dan dingin, lalu paginya meriang, mengeluarkan ingus berwarna hijau pekat. Tidur berkerumun dengan tubuh meringkuk sampai-sampai kaki tidak bisa digerakkan karena gua terlalu sempit, berakhir terancam pegal linu di usia muda. Jika benar-benar beruntung, maka penginapan berlevel rendah dengan kasur sedikit keras pun menjadi anugerah terbesar.
Jika semalam Tim Charming tidur di gudang Wisteria Academy, setidaknya hari ini mereka tetap bisa tidur di dalam ruangan dan hangat.
“Ayo ke kuil yang berada di dekat pintu masuk Blue Harbor,” ajak Galavidi.
Di sana ada kuil terbengkalai. Namun, ada kemungkinan masih digunakan pada masa ini. Lebih baik begitu, sehingga mereka akan dikasihi oleh pengurus kuil. Berakting menjadi anak terlantar dan memasang wajah melas itu mudah. Lagi pula, Kepala Sekolah pernah mengatakan hal berfaedah sekaligus menjengkelkan di saat murid-murid berkeluh kesah dan meminta uang tunjangan selama misi. Katanya, kalian, kan tidak cacat. Masih ada sepasang tangan yang bisa dibuat ngemis. Entah disebabkan Kepala Sekolah memiliki visi misi untuk mencetak kemandirian siswa atau karena bendahara sekolah memiliki sifat keterlaluan hemat, yang pasti ada alasan lebih masuk akal dan terpatri dalam ingatan para siswa. Bahwa di seluruh jajaran Maple Academy, tidak ada yang benar-benar manusiawi.
Mereka mencari sasaran empuk. Seorang kusir tua ditemani anaknya yang seumuran dengan mereka, wajahnya masih terlihat segar karena baru memulai perjalanan menuju Blue Harbor. Target telah dikunci. Sebelum itu, Kannika mengambil tanah dan melumurkannya ke seragam semua anggota. Penampilan sebagai murid miskin dan sedang kesusahan pun tercipta.
Akkadia menghentikan pedati kuda dengan napas terengah-engah. Jangan lupakan suara tangisnya yang terisak-isak dan ujung mata yang berair. Bahkan, seorang bajingan pun akan terkejut, penasaran, dan iba. Memang tidak salah menugaskan keturunan Ishtar untuk memunculkan kesan pertama yang diinginkan.
Di pinggir jalan, Sam sedang dibopong Kannika dan Galavidi setelah sendi belakang lututnya dicubit keturunan narapidana itu dan meninggalkan rasa nyeri berkepanjangan. Dibanding berakting, Sam dibuat sakit sungguhan. Tidak heran jika ekspresinya terlihat paling alami.
“Tolong! Tolong kami!” ujar Akkadia.
Kusir itu menjawab dengan sopan. “Ada apa, Nak?”
Akkadia meluncur ke tanah seolah kakinya telah dipaksakan untuk berdiri. “Ah! Ka-kami harus mengantar ketua berobat, tapi tempatnya masih jauh. Ka-kami juga tidak bisa kembali langsung ke akademi karena misi yang diberikan belum selesai.”
Tidak ada kebohongan dalam ucapan Akkadia. Sebagai orang tua, tentu saja kusir itu merasa kasihan dan akhirnya memberikan tumpangan. Awalnya, tim Charming bersorak dalam hati. Namun, itu tidak bertahan waktu lama, perut mereka serasa diaduk karena pegas pedati kurang berfungsi. Dengan ruang yang hanya cukup mereka duduki, tetapi sulit dibuat bergerak, Galavidi bingung jika ingin muntah. Sialnya, mereka tidak mempunyai ramuan penawar mabuk.
Setelah menahan diri selama enam jam di dalam pedati, akhirnya Galavidi bisa muntah sepuasnya di bawah pohon sambil menangis. Sedangkan Kannika menggosok-nggosok tangannya. Ekspresinya terlihat jahat, terutama seringai yang tersinari cahaya bulan. “Sekarang kita memiliki dua anggota yang sakit sungguhan,” ujar Kannika lalu menggendong Galavidi di pundaknya, persis seperti karung tanpa harga diri.
Rasa mual yang sudah lebih baik kini menjadi makin parah ketimbang naik pedati dan Sam menahan tawa karena sekarang telah memiliki teman sependeritaan akibat ulah Kannika. Namun, betapa terkejutnya Galavidi setelah menyadari kuil itu lebih mengerikan daripada yang dia ketahui. Meski kepalanya pusing, Galavidi benar-benar yakin kalau mereka tidak salah tempat. Harapan mendapat belas kasih dari penjaga kuil mendadak runtuh. Atap kuil miring, satu pilar di sebelah kanan patah, dipenuhi jaring laba-laba, berdebu, dan sangat gelap. Siapa pun yang datang dan bermalam di sini akan berpikir dua kali—kecuali terpaksa seperti mereka. Beruntung suasana gelap bisa diatasi oleh penerang yang dibuat Akkadia dari cahaya bulan.
“Ya … setidaknya aku bisa berbangga diri sebagai Demigod keturunan Nannar yang paling tidak efektif karena kekuatanku hanya berguna di malam hari.” Akkadia tersenyum.
Beruntung dia rekrut menjadi siswa di Maple Academy, sehingga menambah sedikit rasa percaya dirinya. Lagi pula, sekarang dia bisa menyombongkan diri dengan kecantikan dan kekuatan uangnya sampai-sampai mendapat julukan Crazy Rich Student karena tidak ada siswa sekaya dia.
Suara uhu-uhu terdengar bersama kepakan kelelawar yang keluar dari dalam kuil. Hawa dinging menusuk pori-pori membuat rambut halus di sekujur tubuh berdiri. Mereka tidak habis pikir, kenapa misi pencurian menjadi sehoror ini?
Kannika menurunkan Galavidi dan menapaki lantai dingin dengan kakinya sendiri. “Sepertinya kuil ini akan direnovasi dan ditelantarkan kembali,” kata Wizard itu mengingat kondisi dan bentuk bangunan kuil berbeda di timeline hidupnya.
“Aku tidak suka tempat ini.” Tangan kiri Akkadia yang tidak membuat bola cahaya bulan mengelus-elus lengan kanan atas.
“Selamat datang! Aku sudah menunggu kalian sejak tadi, lho.”
Suara itu mengejutkan tim Charming, terutama Galavidi yang merasa tidak asing. Sontak dia tertuju dengan mata merah pekat yang menyala-nyala. “Siapa kau?”
“Perkenalkan, aku Atlas A. Wanted, anak malang yang pernah kuceritakan kepadamu,” ujarnya sembari tersenyum kecut.
Kepala Galavidi miring ke sisi kiri. “A?”
“Jangan tanya, anggap saja marga yang kulupakan.” Atlas bergeliat meluruskan punggungnya yang sedari tadi duduk dan bersandar pada kusen jendela.
Mengabaikan tim Charming yang waswas, Atlas mengoceh, ““Dahulu, setelah berjuang keras dan mulai merasa bosan, aku tertarik dengan seseorang. Di mataku, dia terlihat terbiasa melihat kematian. Aku terus menarik perhatiannya hingga kami melakukan perjanjian. Tentu saja karena aku pantas dipertimbangkan.”
Lelaki itu mulai mengoceh dan Galavidi terlampau malas menanggapi.
Atlas tidak peduli. Dia terus bercerita, “Sampai kekuatan dan kekuasaan jatuh di tangannya, aku mampu menjadi orang kepercayaannya. Namun, batas waktu cuma sepuluh tahun. Jika lebih dari itu, aku akan meminta bayarannya. Kamu tau berapa? hanya, ‘bunuhlah aku’. Intinya, sih, lebih cepat lebih baik.”
Setiap hari Atlas mencari alasan untuk hidup. Jika bukan karena pesan terakhir sang ibu, dia pasti akan melakukan bunuh diri. Pesan yang ambigu itu … heh, benar-benar memuakkan.
Hari ini pun, Atlas sedang melaksanakan tugas. Sebagai seorang enchanter berkemampuan di usia—yang masih pantas di sebut—muda, mengurus beberapa siswa bukan perkara susah. Dia bisa memanipulasi apa saja. Seperti saat tim Charming ditodong oleh kesatria sihir dan mereka terpecah, seluruh tragedi Kannika dan Akkadia, keputusan Galavidi pergi ke toilet, juga perasaan tim yang kacau. Beruntung, tugas Atlas dilakukan saat perayaan Beerfest; saat penjagaan menjadi lebih longgar.
“Kamu tau kalau esok ada Mardigras?” Atlas menatap Galavidi karena perempuan itu tidak kunjung memberikan tanggapan.