Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
Last Chaos in Boneyard - Darksville




Darksville


LANGIT MASIH BERLATAR rembulan kala Evander dan Arion melakukan persiapan untuk eksperimen. Di atas meja persegi telah berjajar beberapa botol dengan warna berbeda. Blue bottle, vanker, dan sejenis botol lain berdasar bundar dan leher ramping sudah terisi esensi masing-masing tanaman.


“Lakukan dengan benar, Tukang Makan!” komentar Arion ketika melihat Evander bersigap menggunakan serpihan es untuk menguji kekuatan cermin dengan elemen serupa. “Kau sering bereksperimen, bukan? Jika gagal, sama saja kau tidak berguna.”


Evander tidak menanggapi. Ia memusatkan konsentrasi pada serpihan cermin. Ketika partikel es bersentuhan, tidak terjadi reaksi pada cermin. Evander mengeluh, memberikan kesempatan pada Arion untuk melakukan uji coba dengan serbuk holy basil dan teratai air yang mereka dapatkan dari Potion Industry.


Hasil yang diperoleh dari cermin kala bersinggungan dengan kedua tanaman tersebut adalah nihil. Arion mencak-mencak, rambut abu-abunya sudah berantakan akibat amarah. Evander bersedekap, tersenyum menyeringai seraya berkata, “Tidak berguna.”


“Apa? Ayo, katakan sekali lagi!”


“Tidak berguna.” Evander menikmati ekspresi wajah pemilik kulit sawo matang itu. Arion bersemu kemerahan karena emosi. “Bukankah kau sendiri yang tadi bilang?”


Arion sudah mencengkeram kerah jubah Evander, tangannya bersiaga melemparkan tinju, tetapi terhenti di udara oleh bakat Ashlen.


Ashlen menangguhkan perjalanan mereka untuk sementara waktu. Sambil menunggu giliran Candra yang bereksperimen dibantu oleh Arion. Evander turut duduk di samping Ashlen yang mengamati eksperimen electric lily. “Ada yang sedang kau khawatirkan, Ketua?”


“Tidak ada, hanya  ….”


Evander mengerutkan alis ketika melihat air muka Ashlen mendadak cerah. Serta-merta, ia mengikuti arah pandang Ashlen. Sedikit tertegun ketika melihat wilayah sekitar serpihan cermin dipenuhi kepulan asap hitam pekat yang bercabang. Masing-masing cabang asap hitam itu bergerak di udara, melingkar-lingkar, dan bahkan sampai melilit botol yang tengah dipegang oleh Candra yang berisi esensi dari Bloodstone.


“Baiklah, sepertinya kita telah berhasil menemukan elemennya.” Ashlen melirik pada Candra untuk memastikan. “Tempatnya di Darksville, 'kan?” tebak Ashlen, mengingat bangsawan Menhera tinggal di sana.


“Iya, tapi sepertinya kita harus bergegas ke sana. Belum lagi di Darksville ada sebuah pulau terpisah dari pusat kerajaan. Kita sebaiknya ke sana dulu.”


“Berapa banyak wilayah yang berada di pulau yang terpisah itu?”


“Hanya satu, tapi—”


Evander menyela pembicaraan, “Hanya satu? …. dan kau bilang kita harus ke sana? Bukankah itu akan sia-sia, jika daerah itu bukan wilayah terkuat di Darksville?”


“Ya …,” Candra mengusap tengkuk, kebiasaannya ketika ragu-ragu, “karena di sana tempat rehabilitasi para kriminal sebelum mereka dikembalikan ke masyarakat. Aku pikir …  dari tempat itu kita dapat mengetahui sesuatu karena letak pulau yang terpisah dari wilayah kerajaan Darksville.”


Ashlen mengapit dagu dengan jemari, kemudian mengangguk setuju. “Boleh-boleh. Jadi, nanti kita bisa perkecil lagi skala pencariannya.”


“Konyol.” Evander menggeleng. Lengan kanannya terjulur, sembari mendiktekan, dia melepaskan jubah yang membuatnya terasa sesak. “Jika itu berada di pulau terpisah, kita akan menghamburkan waktu. Belum lagi kita harus menghemat keuangan, kita tidak boleh sembarang membuang uang itu.”


Arion baru saja keluar dari rumah pasangan Johanes, ia membawa empat roti hangat berisi irisan daging yang dipotong memanjang dan sayuran, sambil menenteng sejumlah botol air minum yang serupa banyaknya. “Kurasa itu bukan uangmu, Evan, tapi milik Candra,” tegurnya.


“Sama saja.” Binar mata Evander langsung cerah dan ia melahap sepotong roti dalam suapan besar.


“Heh!” Teguran Arion tampak tidak dipedulikan oleh Elf tersebut, ia memilih duduk seraya meluruskan kaki di teras halaman.


Tak berselang lama, Arion ikut serta duduk di samping, walau dengan keadaan separuh hati. Candra dan Ashlen yang lebih dulu membereskan pekerjaan eksperimen mereka, ikut bersila. Candra terlihat paling enggan untuk menyingkap tudung jubah.


“Sesekali kau boleh bersantai sedikit, Can. Jangan terlalu tegang,” petuah Ashlen membuat Candra hanya mengulas sedikit senyum, meskipun tampak kaku.


 Setelah berpamitan pada keluarga Johanes dan mendapatkan kesepakatan tentang elemen cermin tersebut, mereka membagi kelompok menjadi dua. Ashlen dan Arion akan mengumpulkan berita terkini tentang keadaan Darksville dari Blue Harbor—karena ditakutkan kedatangan mereka akan memperparah intrik di Darksville—sedangkan Evander dan Can bertugas mengumpulkan perbekalan mereka untuk mendatangi Darksville. Usai keputusan Ashlen itu, Evander kentara sekali menyiratkan antipati pada Candra.


Elf pirang membatu, lalu mengangguk sekali. Ashlen dengan ancaman bukanlah perpaduan sempurna untuk memulai hari.


Layaknya rumor yang berkembang di Maple Academy mengenai kelompok Half-Blood Noblesses Squad, desas-desus tentang keahlian Ashlen memperoleh informasi sudah tersebar. Bahkan, banyak orang yang memberikan kekayaannya untuk ditukarkan dengan segenggam informasi milik Ashlen. Namun, sebanyak apa pun penawaran itu, asalkan mood-nya sedang baik, tentu tidak perlu susah-susah untuk mendapatkan secuil informasi. Ashlen akan dengan murah hati—bisa saja, memberikannya—ataupun tetap tutup mulut.


“Apa kau yakin akan tahan dengan Tukang Makan itu, Can?” Arion berbisik tatkala Evander sedang mendapatkan ceramah dari Ashlen akibat penentangannya.


Candra mengedik, sesekali membenahi jubah, kemudian merapikan rambut dengan jemari tiap kali embusan angin menerpa wajahnya. Sisi kanan dekat matanya menampakkan guratan tak beraturan akibat segelnya dengan hewan kontrak.


Arion menghela napas, kemudian berujar pelan, “Kau terlalu pendiam, Can.” Ia menarik penutup kepala pada jubah Candra, sehingga rambut pirang sebahu dengan sedikit kepangan hitam di sisi kiri wajahnya terlihat. “Percayalah bahwa setidaknya kau harus tampil percaya diri tanpa mengkhawatirkan kekurangan diri sendiri.”


 Kedua tim sudah berpencar, seketika terik matahari terasa sejengkal dari atas kepala. Mereka berhimpun di muka kapal yang hendak mengantar menuju Darksville. Geladak kapal sudah nyaris terisi penuh, perjalanan ke wilayah kegelapan memang memakan waktu yang cukup lama, terlebih bagi mereka yang hendak singgah di dermaga pelabuhan Gantor.


Persediaan ramuan anti-mual Evander tersisa sedikit, salahkan saja Werewolf tim mereka yang memiliki pencernaan tidak bersahabat ketika berhadapan dengan transportasi laut. Wajah Arion sudah pucat, makin mengikis warna sawo matang akibat gejolak pada perutnya.


Sementara itu, Ashlen terlihat paling santai meskipun deburan ombak menghantam kapal. Bagian belakang dek kapal penuh dengan berbagai muatan bawaan. Tidak sedikit orang yang kian cemas akibat langit yang mendadak mendung.


“Sepertinya akan ada badai.”


“Mungkinkah badai musiman Darksville akan terjadi hari ini?”


“Entahlah. Aku hanya punya firasat buruk tentang atmosfer laut sekarang.”


Suara cakap-cakap itu terdengar jelas oleh tim. Karena khawatir dengan keselamatan anggota kelompoknya, juga dirinya yang kian siaga jikalau kejadian buruk menimpa tim, Ashlen menghampiri sang nakhoda yang berada di timur bagian kapal.


 “Heh, Can, apakah perjalanan ke Darksville sering terkena badai?” Arion menanyakannya dengan suara pelan, dagunya bertompang di sisi kapal.


Seperti biasa, Candra tidak membiarkan wajahnya terekspos akibat angin. Ia menghirup bau laut yang khas seraya mengatupkan mata. Meskipun cuaca sudah nyaris tidak baik, Candra selalu rindu dengan iklim dekat laut. Ia mengibaratkan hawa laut sebagai tamparan untuk tidak mengulangi kejadian di masa silam.


“Terkadang,” Candra menjeda kalimatnya, “tapi biasanya awal musim sering ada badai. Tidak besar, mungkin tergantung orang yang melewatinya.”


“Kau bicara seakan-akan orang yang berdosa memiliki keberuntungan yang sedikit,” cibir Arion. “Ah, tapi kurasa itu benar. Elf yang kurang ajar itu betul-betul sial, 'kan? Dia lagi-lagi harus menunda makan malamnya.”


Evander menyerobot percakapan, “Kau yang kurang ajar, Cerewet,” lalu pandangannya beralih pada Candra, “dan, kau, Penyihir,” tunjuknya, “jangan manakuti orang dengan rasa pesimisme itu!”


“Aku bukan pesimis, Evan,” bela Candra, “aku hanya memberitahukan faktanya dan seharusnya kau tidak perlu sewot seperti itu. Ingat perkataan Ketua, 'kan? Kendalikan emosimu.”


Candra melangkah menjauh, Arion yang lemas akibat rasa mual harus menghentikan 'sumbu pendek' Evander. Tangannya sudah terkepal, hampir melayang ke arah kepala Wizard yang kini sudah berada di sisi Ashlen.


“Anak itu!” ungkap Evander, geram.


Wilayah Darksville yang berada di tenggara Autumnlad berbatasan langsung dengan Cryoville di sebelah utara, menjadikan perjalanan ke wilayah Gantor—pulau terpisah dari Daksville—seringkali terkena badai akibat permukaan di Cryoville mengalami perubahan massa udara, sehingga mengakibatkan daerah geografis di sekitarnya mengalami badai.


Geladak kapal bergetar, badan kapal makin terombang-ambing ombak laut. Kilatan petir sudah tampak dari kejauhan, seperti mengelilingi bagian laut lepas. Orang-orang sudah kocar-kacir menyelamatkan diri—bahkan sebagian sudah melupakan barang bawaan—terlebih ketika air sudah merembes pada sisi kapal. Pekik wanita, anak-anak, serta seruan bariton saling menyahuti. Kecepatan angin sudah mencapai kisaran 67 knot, tak lantas melayangkan selebaran kain-kain penutup leher.


Nakhoda dan awak kapal serta relawan—termasuk Candra, Arion, dan Evander—turut membantu mengevakuasi orang-orang ke bagian kapal yang sudah dijamin keamanannya. Di sudut kapal, Ashlen berdiri membeku, tetapi pandangannya terkunci pada lautan lepas. Tiada yang mengetahui pemikiran ketua tim mereka. Termasuk ketika gelombang ombak setinggi 300 meter tepat berada di hadapan mereka. “Oh, Tuhan …. ” Ungkapan itu tak lepas bergema bersamaan.


Bahkan ketika Ashlen malah melompat ke arah laut dan membuat mereka serempak panik. “Ashlen!”