Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
The Fire of Eternity - Fire Friend




Fire Friend


CYRUS BERDIRI SENDIRIAN di depan gerbang, tidak tahu harus berbuat apa. Claryn dan Ayaka telah bersekongkol, mencuri perhiasan Leena dengan bantuan gas pelumpuh, kemudian kabur ke dalam keramaian. Anehnya, gadis itu mengejar meski tidak tahu ke mana teman-temannya pergi.


Cyrus bersandar pada batang pohon sembari menatap langit yang sebentar lagi gelap. Lelaki itu membuka telapak tangan ke atas, mengeluarkan kobaran api yang perlahan mulai membentuk wujud baru. Makhluk yang tidak diketahui jenisnya, hanya bola api dengan sepasang tangan mungil serta ekor memanjang ke bawah mirip hantu. Ada satu hal yang kurang dari makhluk ini, wajahnya terlihat sangat murung.


“Ignis, kau dengar aku?” panggil Cyrus. Salah satu hal yang membedakannya dengan ciptaan lain, sebuah nama.


Makhluk api itu menjawab, “Ya, aku dengar.”


“Tunggu, kenapa kau terlihat sedih?”


“A-Apa maksudmu? Aku baik-baik saja.” Ignis tersenyum paksa.


Cyrus menyipitkan mata, sedikit curiga. “Ini bukan pertama kali, dulu kau juga begini saat datang ke Fyreville sampai akhirnya aku juga merasakan hal yang sama.”


“Sama?”


“Jeritan penyiksaan, teriakan seseorang dari dalam jurang, dan tangisan. Apa-apaan? Kenapa seolah-olah aku mendengar semua itu padahal tidak ada apa-apa?”


Ignis menciptakan kaki sendiri kemudian bertengger pada bahu Cyrus. “Jangan tanya aku, aku hanya makhluk yang isi otaknya tidak jauh beda denganmu.”


Lelaki itu memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan diri sejenak. Namun, tiba-tiba sebotol air dingin menempel di pipi, membuatnya terperanjat. Lagi-lagi ini ulah Claryn. Tim kembali dengan membawa tas belanjaan, yang berarti perhiasan Leena telah terjual. Gadis Elf itu terlihat biasa saja, malahan ia memakan roti hasil menjual perhiasannya dengan santai.


Ayaka merogoh tas lalu memberikan dua potong roti berbentuk aneh kepada Cyrus. Tidak banyak yang mereka beli, hanya delapan potongroti yang rasanya enak ditambah dua botol air minum berbentuk labu.


“Leena, tidak apa-apa, ‘kan?” tanya Claryn, memastikan kalau gadis itu benar-benar ikhlas.


“Tidak apa-apa. Aku baru ingat kalau cincin itu barang yang aku benci.”


“Kenapa begitu?”


“Aku tidak ingin menceritakannya, ini masalah perjodohan.”


Ayaka tersedak, kaget dengan ucapan Leena. Mereka sudah sangat akrab, tetapi ia tidak tahu kalau temannya ternyata punya tunangan. “Leena, cerita—”


“Tidak perlu! Yang terpenting adalah kita akan lanjut atau istirahat?” potong Cyrus sembari memakan roti. Ayaka pun langsung menggembungkan pipi karena kesal.


“Bukankah terlalu berisiko kalau bepergian malam-malam?” tanya Claryn. Ia khawatir kejadian di Forest of Echoes akan terulang lagi.


Lelaki berambut putih itu menggeleng. “Justru lebih berisiko kalau kita tidak segera menghancurkan serpihan cermin ini.”


 Matahari terbenam, lampu dari gerbang menyinari keempat remaja itu di bawah pohon. Mereka masih berpikir, tidak juga memberikan jawaban dari pertanyaan sederhana Cyrus. Padahal ia tidak ingin memaksa, jika mereka tidak mau maka tidak akan dilakukan.


Ayaka berjalan mendekatinya lalu berkata, “Kita takut gelap, ja—”


“Lebih cepat lebih baik, tapi tidak terburu-buru juga. Memangnya kau tahu di mana tempat dengan elemen terkuat?” potong Claryn. Tujuan mereka sama, tetapi ia ingin alasan yang lebih bagus untuk beristirahat.


“Terkuat? Kenapa kau baru bilang?”


“Belum, ya? Kita butuh wilayah di Fyreville dengan kekuatan sempurna agar serpihan cermin bisa dihancurkan. Sihirmu saja tidak akan cukup.”


“Aku tahu kau meremehkanku, tapi tidak apa-apa. Aku tahu di mana tempatnya, tidak terlalu jauh dari sini.”


Seketika, wajah ketiga rekannya lemas. Tidak ada lagi jam istirahat, perjalanan akan tetap dilanjutkan. Cyrus pun menciptakan dua burung api sebagai pencahayaan mereka. Alasan ia selalu memilih burung adalah karena bisa terbang sehingga tidak membakar rerumputan yang dilalui. Lelaki itu baru saja ingin melangkah, tetapi tiba-tiba Ayaka menarik jubahnya. Ia bertanya, “Kira-kira seberapa jauh?”


Cyrus mendongak, memikirkan jawaban yang bisa membuat tim setuju untuk melanjutkan. Mungkin sedikit kebohongan tidak akan menjadi masalah. “Lima kilometer, tidak terlalu jauh, ‘kan?”


“Kita berjalan?”


“Cara aman dari penjaga memang bergitu, karena semua hewan yang kita punya bercahaya dan sangat mencolok.”


“Lalu mereka?”


Cyrus menengadahkan tangan, dua makhluk api pun kembali ke dalam tubuhnya, membuat sekeliling menjadi lebih gelap. “Maaf, aku kira kalian takut gelap.”


“Tu-tunggu, kembalikan mereka!”


 Tim akhirnya berangkat, dipandu oleh dua burung api penerang jalan. Ketiga gadis itu percaya dengan omongan Cyrus mengenai jarak lokasi penghancuran cermin sehingga lebih bersemangat. Mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan misi dan kembali ke masa depan. Meskipun belum tahu apakah Well of Time bisa digunakan lagi atau tidak. Selain sebagai pencahayaan, burung api sebenarnya adalah cara agar Cyrus bisa menjauh dari tim. Lelaki itu berjalan di belakang sambil mengawasi teman-temannya. Ia tetap merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka meski dari awal tidak ada pemaksaan sama sekali untuk melakukan perjalanan malam.


“Hei, bagaimana keadaanmu?” bisik makhluk api kecil dari dalam tubuhnya.


“Terima kasih.” Ignis pun keluar, pandangannya langsung tertuju pada tiga gadis cantik yang berjalan di depan. Sudah lama ia penasaran dengan mereka, tetapi tidak punya kesempatan untuk bertanya. “Siapa mereka?”


“Maksudmu tiga orang itu? Mereka tim sekaligus beban pikiranku.”


“Jawaban yang buruk. Kira-kira kau dekat dengan yang mana?”


Cyrus mengernyit, bingung dengan pertanyaannya. “Aku dekat denganmu.”


“Wow, jangan begitu! Maksudku, kau tidak ingin mencarikan menantu untuk Callista? Ingat pesan ibu!”


Lelaki itu berdecak. “Kau kerasukan apa? Tidak—”


“Cyrus, kau bicara dengan siapa?” teriak Leena. Mungkin karena telinga Elf lebih lebar, jadi bisa dengar. Ignis pun langsung menempel pada tangan Cyrus, menyamar menjadi api biasa.


“Lain kali kau harus membersihan telingamu!” elak pria itu.


Sudah tidak terhitung lagi jarak yang mereka tempuh, dari perjalanan lurus hingga memutar saking banyaknya jurang. Hanya kali ini berbeda, gadis yang biasanya cerewet mendadak jadi pendiam. Leena pun menepuk pundaknya pelan untuk memastikan kalau Ayaka baik-baik saja. Namun, responsnya sangat tidak terduga, gadis itu tiba-tiba tumbang. Beruntung Cyrus di belakang sehingga bisa langsung menangkapnya. Karena tahu perjalanan tidak bisa berlanjut, Cyrus menurunkan burung api ke tanah, membentuk  api unggun untuk bermalam.


Claryn melepas jubah, melipatnya, kemudian menjadikannya bantal. Ia berbaring lalu bertanya, “Apa nama tempat itu?”


“Tujuan kita? Crimson Forest, tempat yang tidak menyenangkan,” jawab Cyrus. Seperti biasa, ia tidak menatap lawan bicara, melainkan api unggun.


“Setelah kita menghancurkan serpihan cermin itu, kira-kira apa yang akan terjadi?” tanya Leena sambil mengelus rambut gadis yang tertidur di pangkuan.


“Dunia akan selamat. Setidaknya itu yang aku percaya,” jawab ketua tim.


“Terlalu mencurigakan. Kenapa misi sepenting ini diserahkan kepada siswa yang jelas-jelas baru memasuki tahun pertama di akademi?”


Gadis Fallen Angel itu tertawa. “Sebaiknya kau tidak meragukan keputusan Mr. Navarro. Sudahlah, jangan begadang! Istirahat sebentar, besok kita lanjut pagi-lagi.”


 Ayam jantan belum berkokok, tetapi keempat remaja itu sudah terbangun. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu, jam istirahat harus dibayar dengan kerja keras. Selain itu, tim juga menyimpulkan bahwa fajar lebih sepi dibandingkan malam hari, jadi akan lebih mudah bagi mereka untuk bergerak. Claryn memanggil Mr. CR dan Cyrus menciptakan burung api, mereka sudah siap mengejar waktu.


Ayaka mengusap mata usai dibangunkan oleh Leena. Otaknya masih lambat, ia bahkan lupa kalau sebelumnya telah melakukan perjalanan malam. “Kenapa jam segini?”


“Sadarlah, wahai anak muda, ini adalah hari terakhir kita di masa lalu!” ujar gadis Fallen Angel bersemangat.


Karena tidak bangun-bangun, akhirnya Leena pun membopongnya menaiki kunang-kunang raksasa. Claryn melihat dengan tatapan geli, ini bukan pertama kali ia berpikir kalau mereka berdua menjalin hubungan sesat.


Cyrus menciptakan burung api kecil, membuat tim mulai berfirasat buruk. “Selamat tinggal!” Lelaki itu memelesat, meninggalkan tiga orang teman yang masih menginjak tanah.


Claryn berdeham, melihat ke arah burung api yang ditinggalkan. “Tidak masalah, nanti kita beri dia pelajaran.” Ia pun mengepakkan sayap diikuti oleh hewan kontraknya, lalu terbang mengejar ketertinggalan.


Tim melalui jalur yang agak jauh dari pemukiman agar tidak menarik perhatian. Meskipun kebanyakan orang belum terbangun pada jam segitu, mereka tidak ingin mengambil risiko. Langit masih gelap, cahaya hanya berasal dari sinar redup bulan serta kilauan api abadi yang berasal dari jurang, membuat mereka terlihat seperti bintang jatuh.


Claryn sedikit menjauh dari cahaya kunang-kunang agar sosoknya tidak terlalu jelas. Di sisi lain, Cyrus yang memimpin sudah melihat hutan di depan sana. Tempat yang menjadi tujuan pribadi, Crimson Forest. Seperti namanya, pepohonan di hutan tersebut memiliki batang berwarna merah tua. Namun, karena masih fajar jadi tampak lebih gelap.


Lelaki itu ingin segera masuk, tetapi karena terdapat kilauan obor dari penjaga yang berkeliling, terpaksa ia harus menunggu teman-temannya. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di pemberhentian. Tidak hanya tim dan kunang-kunang, sebuah tamparan Fallen Angel juga mendarat di pipi Cyrus.


Lelaki itu berteriak, “Apa-apaan kau ini?”


“Tanganku gatal.”


“Pasti sakit,” tambah Leena.


“Terserah, kita akan melewati penjaga dan memasuki hutan. Ikuti aku!” titah Cyrus. Ia tiba-tiba berlari, membuat batin gadis mungil tidak berstanima itu tersiksa.


“Jangan khawatir!” Claryn mengulurkan tangan pada Ayaka lalu membawanya terbang. Kali ini gadis itu benar-benar seperti malaikat.


Keempat remaja itu berlari menuju sisi kanan hutan. Leena menciptakan bayangan kunang-kunang beserta dirinya, kemudian mereka semua terbang ke arah kiri. Awalnya ia ragu, tetapi ternyata itu sukses membuat para penjaga terpancing sehingga tim tidak perlu berputar terlalu jauh. Akhirnya, mereka pun berhasil menginjakkan kaki pada rumput merah.


Claryn melepas softlens, ingin menunjukkan sesuatu. “Cyrus, untuk menghancur—”


“Pergi!”


“Apa maksudmu?”


Tubuh Cyrus tergantikan oleh kobaran api. Namun, kali ini sosoknya lebih menyeramkan. Ia tidak terlihat ingin menonaktifkan bakat ataupun menghancurkan serpihan cermin, sehingga tim mulai panik. Dalam kegelepan, cahaya api dapat terlihat jelas, meskipun dari luar. Itu artinya penjaga akan menangkap mereka.


“Pergi! Ini bukan tempatnya.”