Maple High School Academy Year 3

Maple High School Academy Year 3
The Fire of Eternity - Be Found




Be Found


CYRUS TERGELETAK TANPA bisa bergerak sedikit pun. Ia lumpuh akibat jarum racun yang menancap di punggung, membuatnya gagal menghabisi ketiga murid itu. Namun, sekarang ia lebih khawatir pada orang yang menyerangnya. Melalui indra pendengaran yang masih berfungsi, terdengar langkah kaki mendekat, kemudian disusul dengan suara seseorang. Suara yang membuatnya terkejut sekaligus lega.


“Clar, kenapa kita masuk ke sini? Nanti ketahuan.” Ayaka berjalan ketakutan sambil memeluk tangan Leena. Sesekali ia melihat ke belakang, memastikan kalau tidak ada siapa-siapa. Gadis itu sadar di mana dirinya sekarang dan apa yang akan terjadi jika seseorang melihat mereka.


“Jika ketahuan, kita bisa ditangkap. Wajah kita akan ditaruh di buku sejarah sebagai orang mesum, lalu diperlihatkan kepada seluruh siswa angkatan baru Wisteria agar mereka tidak mencontoh perbuatan kita. Lebih buruknya lagi, kabar ini bisa sampai ke luar benua,” ujar Leena sembari menatap gadis berambut cokelat yang berjalan di depannya.


“Tidak boleh, itu tidak boleh terjadi. Ayo keluar, Leena!”


Ayaka pun menarik-narik tangannya. Niat awal ingin menakut-nakuti Claryn, tetapi ia lupa kalau sahabatnya itu jauh lebih penakut.


Claryn pantang mundur, meskipun sedikit tertekan dengan kata-kata Leena. Ia bergegas menghampiri lelaki itu kemudian mencabut jarum di punggungnya. Pandangannya tidak lepas dari tiga siswa Wisteria yang pingsan, tetapi ia tidak peduli karena tujuan awal mereka hanya untuk mencari Cyrus.


“Kira-kira efek—”


Hal yang sama terjadi, serpihan es kembali muncul dan tubuh mereka tidak bisa digerakkan. Tim makin dibuat khawatir, masalahnya hanya tubuh mereka yang berhenti, kesadaran mereka dan waktu masih berjalan. Jadi, ada kemungkinan tiga siswa Wisteria tersebut akan sadar sebelum mereka keluar dari sana.


Leena yang kesal berucap dalam hati, Awas kau, Evander!


Sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka bisa kembali bergerak. Memang hanya sebentar, tetapi kalau di tempat seangker itu sudah cukup untuk menyiksa mental tiga gadis yang masih polos itu. Cyrus juga merasa jatuh tertimpa tangga. Baginya, tadi itu adalah siksaan berat dan perbuatan yang benar-benar tidak bisa dimaafkan.


Gadis Fallen Angel melanjutkan perkataannya yang terpotong. “Efeknya berapa lama?”


“Jangan sekarang! Kita harus cepat-cepat keluar!” Ayaka merebut jarum dari tangan Claryn lalu menyimpannya ke dalam tas. Racun pada jarum dibuat sendiri oleh gadis itu. Bakatnya, Poison Touch, mampu meracuni apa pun lewat sentuhan, termasuk cairan.


“Tunggu, siapa mereka?” tanya gadis Elf sambil menunjuk ke arah tiga siswa tadi.


“Tidak usah dipikirkan, bantu aku menyeret anak ini!” titah Claryn.


Leena pun membantunya memapah Cyrus keluar dari toilet. Kebetulan tidak ada orang, sehingga mereka tidak ketahuan. Beberapa saat setelah keluar, lelaki itu akhirnya pulih dan langsung melepaskan diri dari teman-temannya. Ia memang lega kalau pelaku adalah tim sendiri, tetapi ia juga kesal karena aksi pembunuhannya digagalkan.


“Kenapa kalian menggang—” Ucapannya terhenti. Ketiga gadis itu menatap dengan ekspresi yang kurang mengenakkan, membuatnya tidak jadi marah.


Yah, aku tahu aku salah, aku juga tahu kalau perempuan tidak bisa disalahkan. Sebaiknya menyerah dan siap telinga saja.


Claryn mendekat, memposisikan wajah dengan telinga Cyrus agar lelaki itu bisa mendengar dengan jelas. “Kau lupa tadi aku bilang apa? Aphelion, tiga hari lagi, dan kau malah membuang-buang waktu di sini. Kau ingin misi kita gagal? Satu lagi, bisa-bisanya kau berkelahi dengan siswa Wisteria.”


“Bukan aku. Lagian belum satu jam juga aku pergi, harusnya tidak masalah,” elak Cyrus. “Namun, lupakan saja! Kau lihat tadi? Tim lain sudah mulai bekerja dengan baik, sedangkan kita? Tidak ada.”


Leena yang sudah tidak sanggup menahan amarah pun langsung menepuk kening lelaki itu dengan keras. “Panas, wajar sih. Bisa-bisanya kau bilang begitu. Kita belum melakukan apa-apa karena kau menghilang. Paham?”


“Baiklah, maaf. Apa yang harus kita lakukan? Diskusi selesai, ‘kan?”


Claryn menggeleng. “Tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita berpencar dan cari Al—”


Tiba-tiba lelaki itu mendekat dan langsung membekapnya. Awalnya ia bingung, tetapi mulai paham ketika tiga murid di kamar mandi tadi berjalan melewati mereka. Saat tiga siswa itu sudah pergi, Cyrus pun melepas dan tanpa sepatah kata langsung berlari meninggalkan tim.


“Tunggu, dia mau ke mana?” tanya Ayaka. Berbeda dengan yang lain, ia tidak paham hanya karena ucapan ketua tim belum selesai.


“Dia pergi mencari dan seharusnya kita juga begitu,” jawab sahabatnya.


 Claryn pergi mencari Aleesia di sebelah kanan gerbang, Ayaka yang tidak berani sendirian memutuskan untuk ikut dengan Leena mencari di sebelah kiri, sementara Cyrus pergi ke halaman kastel. Tempat itu masih ramai seperti saat mereka baru datang.


Orang-orang berdesakan mengerubungi stan yang didirikan oleh siswa. Dalam keramaian seperti ini pasti akan sulit untuk mencari seseorang, apalagi jika orangnya belum pernah ditemui dan hanya tahu namanya. Cyrus pun menghampiri sebuah stan yang sepi, hanya sekitar dua atau tiga orang. Setelah dilihat ternyata stan itu sepi bukan karena lokasi kurang strategis ataupun penjualnya kurang rupawan, tetapi barang yang dijual di sana sangat tidak bermutu.


Foto ini mencurigakan, apa ia Aleesia? Stan ini isinya benda-benda aneh milik Navarro dan kawan-kawannya. Cyrus melirik salah satu siswi yang berjaga di stan. Gadis itu langsung salah tingkah, mungkin karena ia terlalu tampan sehingga tatapannya memiliki efek pemikat yang kuat. Aku harus bagaimana agar dia tidak curiga?


“Kau mau beli?” tanya siswi itu secara spontan.


Cyrus memandangi foto tersebut sambil tersenyum, lalu berkata, “Gadis ini cantik sekali, andai dia bisa jadi milikku.”


“Seleramu bagus, tapi jangan terlalu berharap. Dia itu Aleesia, seorang putri sekaligus idola di akademi. Tidak mudah untuk mendapatkannya, kau bahkan tidak lebih baik dari Hilarion. Daripa—“


“Sudah cukup, aku permisi.”


 Cyrus melanjutkan pencarian setelah berusaha meraup informasi keberadaan Aleesia dari para siswa di akademi. Sudah lama ia berkeliling, tetapi tidak juga menemukan gadis dengan ciri-ciri dalam foto. Akhirnya ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah taman, mencari udara segar usai berdesakan dengan orang-orang di halaman kastel. Ia memikirkan soal timnya, berharap mereka sudah menemukan Aleesia atau lebih bagus lagi, mendapatkan serpihan cermin. Meskipun itu mustahil dilakukan tanpa sepengetahuannya.


Saat sedang duduk santai, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Cyrus mengira itu Claryn atau anggota tim yang lain, sehingga ia refleks menutup telinga karena takut diomeli. Namun, ia sadar kalau tangan yang menyentuh tidak sehalus biasanya, lebih mirip tangan laki-laki, berarti bukan timnya. Cyrus membuka telinga kemudian berbalik. Ia terkejut, ternyata siswa yang tadi dianiaya di kamar mandi.


“Aku mau minta maaf soal yang tadi,” ujar lelaki berambut hitam itu.


Cyrus bingung dengan ucapannya. Ia tidak kenal dan bahkan tidak mau kenal, tetapi anak itu tiba-tiba datang menemuinya dan meminta maaf. “Kau datang hanya untuk itu?”


Ia duduk di samping Cyrus sambil merapikan kemejanya, lalu berkata, “Tidak, aku punya pertanyaan. Kenapa kau mencari Aleesia?”


“Aku hanya ingin bertemu dengannya,” jawab Cyrus dengan santai demi menghilangkan kecurigaan. Sial, orang ini tahu dari mana?


“Jika aku jadi kau, aku tidak akan menemuinya, apalagi bicara empat mata.”


“Kenapa?”


“Kau akan bernasib sama sepertiku, diserang oleh fan fanatiknya. Yah, meskipun tidak seburuk aku,” jawabnya. Lelaki itu sebenarnya adalah seorang Warlock yang dibenci oleh para siswa penyihir di akademi dan makin dibenci ketika suatu hari terlihat sedang berduaan dengan Aleesia.


Sepertinya akan sulit jika Aleesia sepopuler itu, batin Cyrus.


“Oh iya, namaku Arcus,” ujarnya sembari mengulurkan tangan.


Orang ini kenapa? Siapa juga yang mau berkenalan. Cyrus tidak menghiraukan dan langsung pergi begitu saja.


 Hari makin sore, orang-orang mulai keluar dan meninggalkan Wisteria Academy. Mereka berempat pun berkumpul lagi di dekat Tunnelove. Sudah banyak informasi yang didapat, tetapi Aleesia masih belum ditemukan. Akademi memang luas, tetapi mustahil sesulit ini untuk mencarinya, apalagi sampai berjam-jam.


“Apa yang harus kita lakukan? Cyrus, jangan-jangan kau tidak mencari dan malah bermain-main,” tuduh Leena.


“Jangan asal bicara! Salahkan saja temanmu, seharusnya kita bisa menemukannya lebih cepat jika dia juga berpencar.”


“Apa katamu? Jangan salahkan Ayaka!”


“Diam! Kenapa kalian malah ribut? Bantu aku memikirkan rencana selanjutnya!” tegur Claryn. Ia pusing karena pencarian Aleesia ternyata lebih sulit dari yang dikira.


Awalnya dengan diadakannya Humanday, ia pikir akan mudah. Namun, mencari saja susah apalagi mengambil serpihan cermin itu darinya.


Cyrus melipat kedua tangan di depan dada. “Kalau sudah begini, mau ba—“


“Diam sebentar, Cyrus! Lihat ke sana!” potong Claryn sembari melihat ke arah gerbang.


Seorang gadis berambut hitam sepinggul keluar dari Tunnelove kemudian berjalan melewati mereka. Ia memang memakai seragam yang sama dengan siswi lain, tetapi aura kebangsawanan terpancar jelas hanya dari cara berjalannya. Apalagi setelah ia menarik rambut ke belakang dan memperlihakan telinganya yang agak runcing. Meskipun ketiga gadis itu belum pernah melihat penampilan Aleesia, tidak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui kalau gadis itulah orangnya, putri dari Elvangel sekaligus salah satu pemegang serpihan cermin yang selama ini mereka cari.


Cyrus pun mengepalkan kedua tangan, bersiap untuk melancarkan aksi.


“Apakah ini saatnya?”