
9
LANGIT MENJADI LEBIH pekat daripada mendung. Wajah Galavidi menegang ketika gerimis sekelam dan sekental tinta menetes makin deras. Gerimis itu membuat dadanya sesak. Melalui Anis, dia bisa melihat kengerian suasana ini dari segala sisi. Jika bukan salah satu teknik kebesaran Atlas, orang-orang dekat pelabuhan akan mengetahui pertempuran yang baru dimulai ini.
Senyum asimetris Betelgeuse muncul. Betapa bangganya Fallen Angel itu ketika rapalan mantranya memunculkan enam Undead kelas biasa yang bergerak seperti orang terkena serangan epilepsi dan satu makhluk buruk rupa yang dicuri dari neraka. Memang terlihat biasa saja, tetapi cukup membuat tim Charming kesusahan. Pasalnya, makhluk curian itu bisa menyeimbangi Sam. Apalagi pada punggungnya yang bengkok terdapat sepasang sayap kelelawar kusut dan berlubang kecil-kecil di bagian bawahnya. Terlihat jelas, dia bisa terbang.
Meski sempat kebingungan, Sam cukup mengerti kalau nasib tim Charming dipertaruhkan. Cincin es dan sayapnya muncul bersamaan. “Kenapa aku sudah membencimu padahal baru pertama kali bertemu? Senyuman itu sangat mirip dengan foto teman angkatanku di Databook Siswa, Ashlen.”
Sam melemparkan kepalan es ke makhluk jelek itu. “Ya Bangsat, sini!”
Dia terbang dan mencari ketinggian yang tepat untuk melawan musuhnya. Namun, sebelum dia mendapatkan posisi yang dirasa baik, makhluk itu mengeluarkan aroma busuk yang menyengat. Pada gigi-giginya yang kuning terlihat mengeluarkan cairan hijau yang aneh. Setelah itu meledakkan bola-bola kecil di sekitar Sam. Fallen Angel itu terbatuk-batuk. Aromanya lebih buruk daripada kotoran kuda. Sam terhuyung disusul tendangan yang mampu mendorongnya sejauh empat meter.
Ketimbang rasa sakit di organ dalam, Sam merasa kulitnya melepuh seolah mengalami pembusukan—yang makin lama makin perih dan menyakitkan, lalu mati rasa. Warnanya kulitnya yang pucat, sedikit demi sedikit makin menggelap.
“Menjijikkan!” umpat Sam.
Di sisi lain, Anz terbang rendah sampai kepakan sayapnya menerbangkan debu-debu tanah. Akkadia duduk di atasnya penuh siaga dengan pancing yang sudah dikeluarkan dari tas punggung. Akkadia sedikit membungkuk dan menajamkan penglihatan. Tangannya menggenggam rambut-rambut kepala Ans. Di siang cemerlang ini, dia hanya bisa membanting Undead dari tempat tinggi dan meremukkannya sampai tidak bisa bangun lagi. Namun, ternyata cara itu tidak berhasil sebab Undead-Undead ini masih bisa bangkit dan menyatukan tulang belulangnya kembali.
Akkadia mengumpat, “Udah mati, masih saja nyusahin orang!”
Sedangkan Galavidi menjaga jarak dan mengubah Wand of Two Characters yang semula dalam bentuk tongkat sepinggang menjadi tongkat sihir sependek lima belas sentimeter. Dia berseru, “Sprogimas!”
Bola sihir kecil muncul dari ujung tongkat, memelesat mengenai salah satu Undead dan meledak. Tentu saja dengan daya ledakan yang sekecil itu, tidak ada luka serius di Undead sasarannya. Galavidi merasakan sedikit penyesalan karena tidak mempelajari mantra-mantra yang diajari Mr. Samael dengan baik.
Dia berseru lagi, “Arest Momentos.” Seberkas cahaya muncul dengan cepat mengenai sasaran, membuat pergerakan Undead itu melambat. “Ann, sekarang!” teriak Galavidi.
Kannika yang semula ingin memukul Undead lain langsung berpindah haluan dan segera memukul sasaran Galavidi keras-keras. Bunyi debak disusul gelebuk terdengar. Mereka semringah ketika Undead itu tidak bangkit kembali. Betelgeuse yang mendapat perlindungan penuh dari Undead-Undead itu terlihat terkesan. Dia bertepuk tangan, empat kali cukup. Galavidi resah. Jika terus seperti ini, mereka akan kelelahan sebelum serpihan cermin dihancurkan. Apalagi kondisi Kastel Bulan belum mereka ketahui. Maka dari itu, Galavidi menyusun rencana dadakan. Makin cepat Betelgeuse terluka, makin baik.
“Kita tidak baik-baik saja. Aku melihat Sam memegangi perutnya. Sepertinya dia sudah di ambang batas. Bagaimana ini?” Akkadia berteriak membuat Galavidi reflek menoleh ke arah Sam.
“Suruh Ketua kembali ke sini,” balas Galavidi. “Sial! Betelgeuse tidak bisa diremehkan walau cuma sedetik!”
Keberadaan Sam yang semula kontras di langit menjadi tidak terihat. Dia menghilang dari jangkauan mata.
Kali ini Kannika tertelan dengan emosinya sendiri. Palu yang semula berukuran normal menjadi sebesar godam dan pangkalnya dientakkan, membuat tanah sedikit bergoncang. Galavidi makin pusing karena kondisi tidak dalam kendali. Dia menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang punggung.
“Ann, kendalikan dirimu!” Suaranya tidak sampai karena terhalang oleh riuhnya angin. “Kami tidak menginginkanmu masuk ke dalam mode ini, Ann. Ann! Dengarkan aku!”
Dibanding melawan Undead, Galavidi berusaha mendekati Kannika. Meski tubuhnya nyaris terbawa angin berkali-kali, Galavidi mampu memegang tangan Kannika dengan erat. Dia berkata, “Ann, kendalikan dirimu dan berpikirlah dengan jernih.”
Amarah Kannika mereda.
Sesaat setelah itu, jerit Akkadia terdengar samar-samar. Sam jatuh dan kehilangan kesadaran dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Beruntung Anz bisa menyusul Sam agar tidak terjatuh ke tanah. “Makhluk itu juga di ambang batas, tetapi pertahanan Sam tidak bisa lebih lama dari ini,” ucap Akkadia meski tidak bisa didengar baik oleh Galavidi dan Kannika.
“Agh!” Galavidi mengambil ramuan bubuk secara acak dari kantong yang diletakkan di sebelah tas pinggang Kannika, lalu bersuara kencang. “Akka! Lindungi aku.”
Tidak butuh waktu lama, Akkadia membuat tali pancingnya melingkar dipinggul Galavidi lalu menjaganya dengan serius. Jari jemarinya dilemaskan beberapa kali, lantas mengambil ancang-ancang lari di belakang Kannika.
Kali ini, Betelgeuse berada segaris di depannya. Kannika melemaskan pergelangan tangan lalu melempar palunya kuat-kuat. Sasarannya bukan Undead, melainkan Betelgeuse. Sedangkan Betelgeuse hanya tersenyum remeh saat melihat palu Kannika memelesat cepat, dan menggeleng-geleng sambil mencebik ketika Undead di depannya yang memposisikan diri untuk menerima serangan itu. Kannika tidak tersinggung. Dia justru tersenyum.
Saat rasa tidak beres muncul, Betelgeuse terlambat menyadari Galavidi berlari mendekatinya dan menaburkan bubuk ramuan. Beruntung Betelgeuse langsung menggunakan kemampuan Mind Control-nya. Galavidi menjadi diam. Saat itu suara ledakan dan kelap-kelip muncul akibat pertarungan Sam dan makhluk buruk rupa. Terlihat jelas bahwa Sam nyaris mencapai batasnya. Namun, rencana Galavidi tidak berhenti. Tali pancing Akkadia bergerak merambat ke tubuh Betelgeuse. Fallen angel berdarah iblis itu menatap sang Demigod sekilas dan pertahanannya runtuh. Dia tidak menyadari Kannika meluncur mendekati kakinya dengan palu yang sudah berada di tangan.
“Kena kau!” teriak Kannika saat palunya berhasil mengenai pergelangan kaki Betelgeuse.
“Ugh!” Betelgeuse meringis kesakitan. Dia pikir, Galavidi yang mengambil peran melukainya. Ternyata dia tertipu. Dia pikir, ramuan bubuk itu merugikan dirinya. Ternyata hanya ramuan penyembuh memar, alvera cream.
“Tidak dalam dugaanku.” Betelgeuse mengakui kekalahan. “Meski aku benci ini, tetapi aku lelaki sejati. Jadi, aku harus memenuhi janji”
Gerimis seperti tinta telah tidak ada dan langit menjadi cerah kembali. Atlas memberikan bulu sayap Betelgeuse tanpa banyak bicara. Sedangkan Betelgeuse berujar, “Kuberi waktu lima belas menit untuk pergi dari pelabuhan. Jika tidak, aku akan mengambilnya dengan tanganku sendiri.”
Galavidi ingin mengatakan sesuatu, tetapi berat untuk diungkapkan. Pada akhirnya, dia hanya mengembuskan napas besar lalu membopong Sam yang kelelahan. Kepergian mereka menuju pelabuhan utama dengan langkah terantuk-antuk hanya dipandangi oleh Betelgeuse yang menggumamkan sesuatu. “Sekarang berjuanglah sendiri karena bantuanku hanya diizinkan sebatas ini,”