
Wisteria Academy
SUMUR TUA YANG memiliki ukiran bebatuan dan sepenuhnya hampir tertutupi oleh tanaman rambat, terlihat terbengkalai dengan dedaunan yang berguguran di sekitarnya. Well of Time, sumur yang sudah ratusan tahun tidak berfungsi menjembatani masa lalu dengan masa depan, menjadi malapetaka bagi siswa Maple Academy yang hendak mengikuti turnamen di Autumnland.
Hasil dari perjalanan 465 tahun ke masa lalu—berbekal dengan informasi misi baru, yang mendadak berubah akibat portal yang menghubungkan mereka dengan masa lalu—Mr. Navarro dan Lord Betelgeuse menyampaikan mandat berupa pencurian serpihan cermin dari kelompok Half-Blood Noblesses Squad, di mana kalangan anti-prefek menyebutkan Kepala Sekolah termasuk bagian dari mereka.
Belasan siswa Maple Academy yang terpilih dalam misi—terdiri empat tim dengan target misi yang berbeda-beda—dimuntahkan ke udara, secara bergilir keluar dari Well of Time. Tim dengan Wizard berambut salju menjadi korban pertama yang berhasil keluar dari sumur. Tubuh yang daya tahan cukup kuat terhadap sihir seperti Dwarf bergaris keturunan Wizard menyusul belakangan. Candra saja sudah bersyukur badannya hanya mengalami pegal-pegal. Tidak seperti gadis buta dari tim sebelah, tubuhnya membentur tanah dengan suara cukup keras. Bukan berniat untuk tidak mengacuhkan kawan, mengingat penderitaan yang mereka alami, terasa sukar bahkan untuk sekadar bertegur sapa.
Werewolf berbadan bongsor, meringkuk di tanah. Ia tidak berhenti mengoceh perihal bokongnya yang menghantam bebatuan berduri. “Aku rasa kita mesti membuat petisi pada Kepala Sekolah. Bukan hanya tugas kita mendadak diganti, setidaknya pendaratan kita di negeri antah-berantah ini harus terjamin,” keluh laki-laki dengan rambut perak yang paling mencolok di antara rekan kelompoknya.
“Ini tetap di Autumnland. Hanya … kita berada di masa lalu. Setidaknya, gunakanlah kupingmu dengan bijak mendengar arahan dari Kepala Sekolah,” timpal Candra Menhera, bangsawan Autumnland berdarah-campuran yang elemennya kontradiktif, tetapi didominasi dengan gen Menhera, keturunan dari wilayah Darksville.
“Wow … aku baru tahu kalau mulutmu itu dapat berfungsi. Awalnya, aku kira itu hanya pajangan, seperti topeng yang menutupi sebagian wajahmu.” Sindiran itu berasal si pirang Elf yang memandang sinis pada Candra.
Keturunan Fallen Angel, tetapi tidak memiliki sayap dan bertanggung jawab sebagai ketua tim, melerai pertengkaran anggotanya. “Jika kalian tidak berhenti mengoceh, aku pastikan kalian tidak bisa bersuara suara lagi.” Perkataan Ashlen berlanjut, “Evan, lebih baik kau segera bagikan ramuan anti-mual.”
Elf yang namanya disebut, segera membagikan cairan pereda mual. Terlebih bagi Arion, Werewolf yang terlihat paling menderita dengan wajah pucat dan mulut komat-kamit. Ternyata, ramuan Evander terbilang cukup ampuh untuk mengurangi rasa mual dan meringankan rasa remuk pada tubuh akibat berbenturan dengan tanah ketika keluar dari Well of Time.
Cahaya matahari yang menyilaukan, tetapi tidak menyegat di kulit, membuat Candra menahan diri untuk tidak melepaskan jubahnya. Pakaian mereka secara otomatis telah berganti menjadi warna lilac dengan gaya pakaian abad pertengahan yang menutupi kemeja putihnya.
"Sebaiknya kita bergegas, hari sudah beranjak siang. Kita tidak seharusnya membuang waktu di sini," kata Ashlen. Ia meminta Candra untuk memimpin jalan. Sebagai satu-satunya penyihir di kelompoknya, tidak heran jika Candra mengetahui topografi Autumnland. Aroma manis dari pohon willow dan suara deburan ombak dari arah tenggara, tempat karang terjal penghubung Well of Time dengan Wisteria Academy, akan terlihat seperti pulau terisolasi ketika air laut di sekelilingnya sedang naik.
Mereka melewati Purple Coral, karang terjal dengan topografi yang tidak seimbang. Anggota tim kesulitan untuk sampai di puncaknya, di mana kastel Wisteria Academy berada. Seandainya Candra tidak mengingatkan mereka tentang pesan dari Lord Betelgeuse mengenai larangan penggunaan sihir, Evander pasti sudah lebih dulu memanggil hewan kontraknya. Ia paling malas jika harus menyusuri jalanan berkelok-kelok dan menanjak dengan kondisi mandi keringat.
Di perjalanan menuju kastel Wisteria Academy, tim merencanakan strategi untuk dapat merebut serpihan cermin dari Navarro. "Bisa dikatakan bahwa misi kita ini, gampang-gampang, susah. Kita harus tetap waspada. Meskipun Kepala Sekolah dalam versi yang lebih muda, aku yakin bahwa kekuatannya di atas kemampuan kita." Ashlen menjelaskan, sambil memperingatkan tim untuk selalu siaga. Bahkan, memberikan ancang-ancang untuk rencana kedua, apabila tindakan Navarro tidak sesuai dengan prediksi mereka. "Asalkan kita bekerja sama, kita dapat meminimalisir kerugian."
Arion diberi peringatan khusus oleh Ashlen untuk tidak sembarangan membual, apalagi sampai mengungkap misi mereka kepada orang lain. "Bersikaplah lebih bijak. Aku bisa saja membeberkan informasi yang aku miliki tentang kau, yang tidak diketahui oleh banyak orang."
Ashlen tersenyum tipis, lalu berbisik pelan pada Elf yang terlihat tegang. "Kau ada baiknya jangan mengacaukan mood-ku." Ditepuknya bahu Evander sebanyak dua kali, lantas berbalik, melanjutkan perjalanan.
Mereka sampai di gerbang Wisteria Academy, spanduk bertuliskan "Festival Humanday" terpampang jelas. Kesatria Sihir berzirah dengan wajah seram-ramah, berjaga ketat. Keramaian dan barisan orang yang antre di depan gerbang kastel menyambut mereka. Ashlen memimpin jalan dan masuk antrean lebih dahulu.
Setelah melewati gerbang, mereka sampai di Tunnelove, terowongan panjang dengan bunga wisteria yang menjuntai indah. Melihat gadis paling galak seangkatannya berada di tim sebelah, Arion berderap cepat, menyela perundingan tim sambil memamerkan senyuman tak berdosa. “Sip. Sana laksanakan. Jangan kayak timku yang sudah bau-bau mengenaskan.” Tahu-tahu Arion sudah berada di antara Sam dan Akkadia. Gadis incarannya sudah bersiap memukul Arion dengan senjata pamungkas. Namun, Kannika harus mengurungkan niatnya karena Sam sudah lebih dulu menarik lengannya untuk kerja rodi, agar tidak terjadi keributan yang merugikan tim mereka.
Baru beberapa menit mereka melintasi Tunnelove, keberuntungan berada di pihaknya. Mereka melihat Navarro berjalan santai di bawah terowongan tersebut. Kepala Sekolah dengan penampilan lebih muda, raut wajahnya terlihat agak ramah. Entah kenapa, setelah menjadi Kepala Sekolah, ia terlihat menakutkan. Mungkin akibat mengurusi siswa bermasalah yang menghabiskan banyak tenaga dan urat wajahnya jadi sering tegang.
Navarro sepertinya sudah menyadari jika dirinya dibuntuti oleh sekelompok anak muda dari masa depan. Ia berderap dengan cepat, berbaur dengan kerumunan orang-orang.
Setiap diadakan festival, siswa Wisteria Academy dibebaskan keluar-masuk dari kastel, itu memudahkan penyamaran mereka di sekitar halaman kastel. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bisa merebut serpihan cermin.
Ashlen menepuk bahu Arion, berbisik pelan, "Ganti rencana kedua." Tanpa membantah, Arion mengundurkan diri, berjalan menjauhi kerumunan.
Situasi berubah. Candra, Ashlen dan Evander berpencar. Mereka berusaha memangkas jarak dengan Navarro.
Kerumunan semakin bertambah ketika matahari hampir berada di puncak kepala. Riuh-ramai percakapan antar penjual-pembeli meramaikan suasana. Puluhan Kesatria Sihir berjaga ketat di penjuru halaman kastel.
Setelah agak lama, terdengar suara gemuruh, tidak besar dan tidak berbahaya, tetapi cukup ampuh membuat orang-orang jadi panik. Orang-orang membicarakan penyebab kegaduhan, sebagian sudah berjalan menjauhi stan. Kesatria Sihir memberikan instruksi dan sebagian berlari mencari sumber kekacauan. Hingga tersisa separuh dari jumlah awal Ksatria Sihir yang berpatroli.
Memanfaatkan kekacauan tersebut, Ashlen mengaktifkan Deadly Voice berupa nyanyian dengan suara lirih. Sebagian orang bertanya-tanya, bernyanyi di tengah keramaian mungkin ide buruk. Sementara itu, tim sudah dulu meminum ramuan untuk mengurangi efek samping dari Deadly Voice.
Ashlen berhasil mencapai titik terdekat dengan Navarro. Candra menyusul di belakang, dengan ancang-ancang menggenggam wand atau tongkat sihir keemasan yang tersembunyi di balik jubah. Wand of Bloodstone, merupakan tongkat sepanjang 10 sentimeter milik Candra, dengan batu Bloodstone—yang menjadi ikonik sumber daya paling langka di daerah Darksville, salah satu wilayah di bagian tenggara Autumnland—terdapat di kedua ujung tongkat.
Sekecil mungkin, Candra mengeluarkan sihirnya berupa bayang-bayang hitam yang merayap ke tubuh Navarro untuk mendeteksi keberadaan benda yang dicari. Pada dasarnya, getaran kecil yang tidak menimbulkan bahaya, kemungkinan besar tidak akan dihiraukan oleh Kesatria Sihir.
"Lambat sekali!” Evander menggerutu, “Jika begitu, sudah sejak awal mestinya aku yang mulai." Ia berada di barisan belakang, mengamati Candra yang baginya tidak efektif dalam bertindak. Pikirnya, akan lebih baik menggunakan sihir besar sekaligus, supaya lebih cepat terselesaikan. Bukan tindakan diam-diam yang memakan banyak waktu. Evander sudah memutuskan. Ia tidak peduli ketika Ashlen hendak memarahinya.
Sudahlah. Lupakan. Jalankan misi dahulu.
Kekuatan dari Evander mampu membuat pergerakan orang-orang di sekitarnya terhenti. Dalam waktu sepuluh menit ke depan, mereka akan terlihat seperti patung, dengan tubuh yang dikelilingi oleh serpihan es. Untuk menghindari kesadaran orang-orang, Ashlen memanipulasi pikiran mereka dengan nyanyian. Sedangkan Candra, ia meningkatkan sihirnya untuk menemukan serpihan cermin. Ayolah ..., cepat!
Bermenit-menit berlalu, Candra berhasil menemukan letak benda yang mereka cari. Sayangnya, sebelum Candra sempat merebut cermin, dinding penghalang dengan aura kehijauan membuat Ashlen dan Candra yang berada dalam radius terdekat dengan Navarro terpental. Sempat terdengar celaan dari Ashlen, Candra menyeka sudut bibirnya.
Sial sekali, padahal sedikit lagi berhasil terebut.
Serpihan es yang sempat mengelilingi orang-orang dan menghentikan pergerakan mereka sudah hilang. Semuanya kembali beraktivitas normal. Pikiran mereka telah disetel oleh Ashlen, sehingga mereka menyangka tidak ada kejadian aneh, selain laki-laki muda yang tiba-tiba bernyanyi.
Keributan lain terjadi di dekat gerbang kastel. Ekor mata Candra menangkap dua sosok yang dikenalinya. Gadis Dwarf dengan rambut yang dikepang rapi—Lyra—berjalan cepat, mengikuti langkah panjang milik gadis Werewolf berambut merah dengan potongan pendek, Zanesha.
Padahal biasanya, mereka selalu tak akur, terlebih dengan tubuh mini Lyra. Zanesha terlihat seperti ibu tiri yang menyeret anaknya untuk pulang dari festival. Mereka menerobos paksa antrean menuju Tunnelove, walaupun mendapatkan caci-maki dari orang-orang akibat bersikap sembrono, tetapi petugas pemeriksaan tetap membiarkan mereka untuk lewat.
Kelonggaran peraturan yang dilakukan petugas pemeriksaan, menarik atensi Kesatria Sihir. Letak mereka dekat dengan tim Candra. Bisa-bisa, identitas tim terkuak jika ketahuan. Candra menggeleng pelan untuk mengembalikan fokus, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Misi mereka baru saja dimulai. Karena gagal dalam percobaan pertama, Ashlen melanjutkan rencana, ia memanipulasi lagi pikiran orang-orang. Namun, rupanya Kesatria Sihir berderap menuju ke arah mereka. Waktunya mepet sekali!
Candra dan Ashlen berusaha melemahkan kekuatan Navarro dan memaksanya melepaskan kekuatan Absolute Protection yang bagi mereka sangat merepotkan. Evander membantu dari belakang. Ia melepaskan anak panah yang terbuat dari serpihan es untuk menembus pertahanan Navarro.
Sayangnya, bukannya mendapatkan keberuntungan, karena ikut panik. Ia tergesa-gesa dan tidak mengontrol mana yang keluar untuk menghentikan pergerakan orang-orang sekaligus menahan langkah Kesatria Sihir. Akibatnya, para Kesatria Sihir itu benar-benar mendekat ke arah mereka dengan murka!
Evander mengeluh dalam hati, Seharusnya aku tidak ceroboh seperti sekarang! Bisa-bisa kita semua mati bahkan sebelum jam makan siang berlangsung.