
Highland Frontier
KOTA KERAJAAN MENJELANG petang berudara sejuk. Kereta kuda sudah mulai meramaikan jalanan yang tak kunjung senyap. Aroma menggugah selera yang berasal dari kedai-kedai penyaji makanan bercampur dengan bising orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga menghiraukan keberadaan sekelompok remaja yang berderap mendekati salah satu kedai.
Terletak di penghujung jalan, bangunan berlantai dua yang memiliki banyak jendela, berdiri kokoh dengan mengeluarkan harum panggang yang menggiurkan. Sejenak, Evander yang sudah tidak bisa menahan laparnya menggerutu pada penjual yang lihai memancing pelanggan untuk masuk.
Ketika masuk ke kedai, mereka disambut dengan uap mengepul dari arah panggangan. Meja-kursi sudah tidak tersusun rapi, orang-orang berkubu dengan perbincangan masing-masing yang semuanya terlihat sudah berumur. Perapian berukuran besar sekaligus interior ruangan didominasi oleh barang-barang berbahan kayu, menimbulkan suasana hangat.
“Anak muda, ada yang saya bantu?” Seorang pria paruh baya berbadan kurus dengan kumis dan jenggot yang menutupi bagian dagunya menghampiri. “Hari ini adalah Festival Humanday, di sini kami menyediakan menu khusus. Apakah kalian ingin mencobanya?”
Evander tergelitik untuk mengiyakan penawaran tersebut, tetapi Ashlen sudah mencubit lengannya seraya menyahut, “Terima kasih, Sir. Akan tetapi, kami kemari untuk mencari rekan kami yang hilang.”
Candra menambahkan, “Seorang remaja laki-laki akan terlihat mencolok di sini, bukan?”
“Ah, jika maksud kalian remaja Warlock itu.” Pria tadi menunjuk satu-satunya remaja yang berada di dalam ruangan tersebut. Navarro terlihat fokus dengan kudapannya. “Dia yang kalian cari, bukan? Namun setahuku, dia tidak pernah membawa rekannya ke sini.” Pandangan pria tersebut menyiratkan kecurigaan. “Apakah betul kalian rekannya?” tanyanya penuh selidik.
Evander hendak bersuara, tetapi Ashlen sudah mendahului. “Lebih tepatnya, kami juniornya.”
“Ah, baiklah. Aku tidak akan menghalangi.” Pria itu akhirnya berjalan menjauh, menghampiri pelanggan yang baru datang. Sempat terdengar cakap-cakap diselingi gelak tawa. Ashlen memilih duduk di salah satu meja yang membelakangi meja Navarro.
“Ketua, apakah baik-baik saja kita duduk di sini? Bukankah tadi kita sepakat menunggu kedatangan Werewolf itu?” Evander berbisik. “Kita bahkan tidak punya uang untuk membayar makanan, bukan?”
“Kau berisik sekali, Evan.” Ashlen mendorong bahu Evander pelan. “Menjauhlah dulu. Kita memang tidak akan makan.”
“Tidak makan? Apa kau gila? Kita cuma duduk saja, begitu? Tidakkah kau malu?” protes Evander. Kulit Elf sewarna madu itu bersemu merah, percampuran antara amarah dengan rasa malu.
“Kau berisik sekali, Evan,” kata Candra menirukan Ashlen. Ia menoleh pada Evander. “Setidaknya pikirkan tentang misi, bukan soal isi perut saja.”
“Kau!” Evander berdiri, dia menarik kerah jubah Candra. Sang Wizard berdesis akibat rasa sesak. Ashlen menarik lengan Evander, sedikit membantingnya hingga membuat Evander terduduk.
“Tidakkah kalian bisa tenang sedikit?” keluh Ashlen. Ia menggeleng pelan, lalu menghela napas. “Misi kita cuma satu. Jangan ditambah.” Perkataan tegas dari Ashlen cukup untuk membungkam kedua orang berbeda ras tersebut.
Selang sejenak setelah pertengkaran, mereka melirik pada meja Navarro yang tampak kosong. Sontak saja mereka mengumpat pelan. Ashlen segera bangkit, dia menarik tudung jubah milik Evander, membuat sang Elf memekik pelan. “Ashlen!” serunya yang diabaikan oleh ketua tim.
Candra mengikuti dari belakang. Dia tersenyum tipis ketika mendengar Ashlen berseru, “Diam, Pirang! Ini semua gara-gara kekonyolanmu itu.”
Kepala Sekolah ternyata orang yang merepotkan! Ini sudah kedua kalinya mereka kehilangan jejak. Untung saja, ketika keluar dari kedai mereka tidak ditagih apa-apa. Hanya harus menahan malu akibat tidak membeli apa pun.
Keramaian masih berlangsung di pusat kota. Cakrawala sudah berganti kelabu, beberapa jenis hewan langka bersayap melintasi langit bersama kawanannya. Lentera berbagai jenis sudah dipasang di sisi jalan, menerangi sudut kota yang tidak lepas dari festival. Tiba-tiba, suara lantang menghentikan langkah mereka.
“Ketua!”
Kemudian untuk membantu Arion yang buta arah kembali ke Tunnelove, Johanes berniat mengajak Arion singgah di rumahnya yang berada di Blue Harbor. Ketika mereka melewati Light of City, Arion yang menemukan kelompoknya segera pamit pada Johanes dan berjanji akan mengunjungi rumah pria tua itu saat ia dan kelompoknya sedang senggang.
“Baiklah. Hati-hati, Anak Muda.” Nasihatnya masih serupa, seolah-olah kehidupan pria itu memang penuh kewaspadaan. “Jika di kelompokmu ada seorang Wizard, katakanlah bahwa rumahku terlihat paling mencolok di antara tempat di Blue Harbor dekat dengan Spell Industry.”
Baru saja Arion mengalihkan pandangan untuk mendapatkan atensi kelompoknya, sosok Johanes yang beberapa saat lalu memberikan nasihat itu sudah tidak terlihat di mana-mana. “Loh? Dia hilang?” Walaupun kebingungan, Arion tetap berusaha memanggil Ashlen karena Evander terlihat sedang berselisih pendapat dengan Candra. “Ketua!”
Arion bercerita dengan antusias. Werewolf itu menceritakan bahwa dia hampir saja terkena masalah akibat Kesatria Sihir yang datang. Mata hijau milik Arion menatap Candra dengan binar semangat.
“Haha, Can! Terima kasih.” Ia menepuk-nepuk bahu Candra lumayan keras. Laki-laki Wizard berbadan kurus itu hampir terjungkal karenanya. “Maaf-maaf, aku terlalu bersemangat.” Arion terus berkata, “karena sebelumnya kau sudah bilang padaku tentang alasan itu, jadinya aku bisa bebas dari kejaran mereka. Hahaha. Luar biasa, bukan?”
Evander menyimak pembicaraan mereka dan turut menimpali, “Memang alasan apa yang kau pakai?”
“Kurasa bukan urusanmu juga.”
“Kau!”
Ashlen yang sedari tadi memimpin jalan, berbalik dan menatap tajam pada Evander. Diberi peringatan tersirat, sang Elf terdiam.
Sejak berpisah dengan tim, Arion masih merasa wajah mereka terlihat murung, karena penasaran, dia bertanya, “Bicara soal misi, apakah kalian sudah berhasil mendapatkan cermin itu?”
“Belum,” Candra berkata pelan, “kita kehilangan jejak Navarro lagi.”
“Kepala sekolah itu sungguh merepotkan!” sahut Evander bersungut-sungut. “Dia cerdik sekali dalam menghindar.”
Ketika sampai di penghujung jalan sebelah utara, mereka dihadapkan dengan dua jalur. “Jalan mana yang mau kita ambil?” tanya Ashlen yang sudah berhenti melangkah.
Evander segera menjawab, “Kanan! Aku yakin dia ada di jalur kanan.”
“Kenapa kau begitu yakin Navarro ada di sana?”
Evander tersenyum jumawa seraya menepuk dada. “Percaya padaku, kita akan selalu beruntung jika memilih wilayah kanan.”
“Entah kenapa, aku tidak memercayaimu, Elf.” Raut wajah Arion memicing curiga. “Bisa saja nantinya kita tersesat, bukan? Itu akan merugikan tim! Apa kau mau bertanggung jawab untuk itu, huh?”
“Kali ini, aku setuju dengan Evan.”
Takjub dengan respons dari Candra, Evander menyela pembicaraan, “Wow, wow, tumben sekali kau mau sepemikiran denganku? Apa ini tandanya gencatan senjata? Hoho, aku tidak menyangka kau mudah menyerah, Can.”
“Hentikan bualan itu, Evan. Aku malas berdebat denganmu.”
“Astaga kalian ini.” Ashlen menggeleng dan menghela napas perlahan. “Can, lanjutkan opinimu. Jangan terpengaruh oleh provokasi dari Evan.”
“Ketua, itu tidak adil! Can sendiri yang bilang duluan kalau—”
“Diam, kau, Evan!”
Candra menjelaskan bahwa sebetulnya ia juga setuju dengan pendapat Ashlen kalau Navarro bisa saja mengelabui mereka. “Mengingat dia yang awalnya berbaur di keramaian, kurasa akan mustahil jika dia memakai strategi yang serupa.” Jika jalur kiri tampak seperti keramaian yang diterangi oleh cahaya lampion, lain halnya dengan jalur kanan yang mengarah pada kesunyian dengan cahaya yang minim.
Akhirnya, tim serempak mengikuti perkataan Evander, tentu saja setelah mereka mempertimbangkan alasan dari Candra. Karena jalur yang mereka tuju hampir mendekati perbatasan Highland—dataran tinggi yang tidak memiliki pemukiman penduduk di sekitarnya—Candra menginterupsikan agar mereka berhenti. Atmosfer di perbatasan Highland dengan Ligh of City dikelilingi oleh pohon-pohon berukuran tinggi-besar. Pencahayaan di sekeliling hanya berupa pantulan dari rembulan. Suasana terlalu hening, meskipun keindahan sumber daya melimpah di sana.
Banyak tanaman yang bisa dijadikan bahan ramuan pengobatan. Mata sang Elf yang bisa melihat dalam gelap, berbinar cerah layaknya menemukan segepok harta karun. Evander hendak mencabut beberapa tanaman sebagai bekal mereka, tetapi segera diperingatkan oleh Ashlen.
“Akhir-akhir ini kau galak sekali, Ashlen,” komentar Evander yang masih tidak terima karena gagal memetik tanaman obat yang diinginkannya.
“Itu karena kau terus mencari masalah!” tegas Ashlen. “Apa kau merasakan sesuatu yang aneh juga, Rion?”
Arion mengangguk ragu. “Untuk memastikannya, haruskah aku bertransformasi sekarang, Ketua?” tanya sang Werewolf. Kemampuan Arion memang terbatas jika memakai wujud manusia.
Ashlen menggeleng. “Tidak perlu menyia-nyiakan tenagamu. Simpan saja.” Selang sejenak kembali berkata, “Dan, oh! Siapkan cakar beracunmu untuk jaga-jaga.”
Dari balik salah satu pepohonan rindang, sebuah siluet muncul. Samar-samar ada aura kehijauan yang menyelimuti bayangan yang berderap mendekati mereka.
“Ternyata kalian mampu mengejar sejauh ini.” Warlock itu tidak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan grimoire yang tersembunyi di balik jubahnya.
Walaupun daerah perbatasan ini terpencil dan markas Kesatria Sihir berjarak lumayan jauh, Candra dapat memastikan bahwa tidak butuh waktu lama bagi para pasukan itu untuk sampai ke tempat mereka. Melihat Navarro bersiaga mengeluarkan sihirnya, tampaknya mereka harus bergegas!
Saat Navarro merapalkan sebuah mantra, akar-akar menjuntai dari pohon-pohon besar mencuat dari berbagai arah dan menyerang mereka. Ujungnya yang runcing serta serangan dadakan tersebut mampu membuat tim kelabakan. Arion menjadi korban pertama yang pipinya tergores oleh akar tersebut. “Sial!”
Ashlen memotong akar tumbuhan itu dengan belati, tetapi bagai tiada habisnya, akar-akar tersebut akan terus tumbuh meskipun sudah terputus dari induk pohonnya sekalipun. Ia hanya bisa mengambil langkah mundur sembari menangkis serangan dari akar tersebut.
“Can, lindungi aku!” Untuk pertama kalinya Evander meminta bantuan dari penyihir kurus itu. Harga diri sebagai bangsawan Fallen Angel mati-matian ia tekan demi kesuksesan misi. Karena sebagai penyihir yang energi mana-nya lebih sensitif untuk terdeteksi, Candra tidak bisa membangkitkan Lucifer. Sebagai gantinya, dia mengandalkan kekuatan Necromancer dengan memanfaatkan benda mati di sekitarnya dan membantu tim untuk mendapatkan penglihatan yang jernih dengan mantra yang telah dirapalkannya.
Navarro yang sudah mengaktifkan Absolute Protection menjadi kesialan bagi tim dalam menghadapi Warlock yang satu ini. Tubuh Werewolf Arion sudah penuh luka-luka akibat benturan yang ia dapatkan ketika berusaha menembus pertahanan tersebut. Bulu putih keabuan itu tampak berbintik merah-merah. Ia sempat memaki Evander yang sempat-sempatnya salah mengarahkan anak panah.
“Fokus, Pirang! Kau dapat membunuhku, tahu!”
Evander berdecak tidak suka. Panggilan itu sangat menganggunya. Walaupun Candra memiliki warna rambut yang serupa dengannya, entah dendam apa yang dimiliki anggota prefek dan Arion yang seringkali memanggilnya dengan sebutan tersebut. “Perhatikan saja langkahmu jika tidak ingin mati sia-sia!”
Anak panah yang terbentuk dari serpihan es itu beradu dengan dinding pelindung Navarro. Kekacauan tersebut bertambah dengan Ashlen dan Arion yang menyerang secara bergantian untuk membuat Navarro terpojok dan segera menghilangkan pelindung yang menyusahkan itu.
Ketika Navarro terpaksa menurunkan kadar pertahanan dari Absolute Protection, Ashlen melemparkan belatinya hingga berhasil menggores bahu Navarro. Keseimbangan tubuh yang terganggu itu dimanfaatkan oleh Arion yang mencakar lengan Navarro yang memegang grimoire, tetapi ia harus terpental akibat serangan mendadak dari tanah yang mengakibatkan tubuhnya menghantam batang pohon berduri. “Arch ….” Evander segera mendekati Arion untuk mengobati lukanya.
Mereka berpikir keras, Navarro belum mengeluarkan mantra lain atau memanggil roh kontraknya. Jika itu terjadi, maka mereka akan kerepotan. Walaupun sudah mendapatkan luka serius, ternyata mereka mendapatkan peruntungan baik. “Memang pantas disebut sebagai Kepala Sekolah, kemampuannya bukan main,” kata Arion dengan tubuh luka-luka, tetapi berhasil mencakar bagian punggung Navarro. Cakar tersebut memiliki racun yang sulit disembuhkan, minimal dapat melumpuhkan lawannya agar kesulitan bergerak.
Tepat ketika dinding pelindung itu mulai menipis, Ashlen bernyanyi dengan irama cepat. Detik itu dimanfaatkan tim, Evander mengunci pergerakan tangan Navarro dengan serpihan es, dia bahkan berani-beraninya mengunci mulut Navarro agar tidak bersuara sehingga tidak bisa merapalkan mantra. Beruntung mereka belum berhadapan dengan Navarro yang bisa merapalkan mantra nonverbal.
Oh Tuhan, semoga saja dia tidak dendam, kata Evander membatin.
Mereka mengepung Navarro dari berbagai sisi, mungkin hanya Candra yang masih sempat menghitung dalam hati perkiraan datangnya Kesatria Sihir. Humanday belum berakhir!
Selepas pelindung milik Navarro itu dihilangkan, akibat mana yang terus menggerogoti pemakainya, Candra melihat segel hitam pada tengkuk Navarro. Dia segera mencabut benda tersebut ketika segel pada serpihan cermin itu berhasil dipatahkan. Namun, dalam proses tersebut memakan banyak mana. Tubuh kurusnya bertumpu pada satu kaki, napas sudah tersenggal dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, ditambah dengan lirikan tajam dari Navarro membuat Candra merasa tercekik. Akhirnya, dia melempar serpihan cermin tersebut pada Ashlen.
Telinga Werewolf Arion menangkap suara langkah kuda yang kian mendekat. “Gawat, Ketua! Sebaiknya kita bergegas lari dari sini,” ungkapnya dengan panik.
Ashlen mengangguk paham. Karena posisinya paling dekat, ia duduk di punggung Werewolf Arion, sementara Candra sudah diseret oleh Elf pirang dengan Rusa Kerineia yang baru saja dipanggilnya.
“Ck, hanya kali ini aku mau menolongmu,” desis Evander setengah hati menolong Candra. Amarah pada laki-laki Wizard itu belum sepenuhnya surut.
Navarro hendak mengejar mereka, tetapi puluhan anak panah sudah melayang ke arah tim yang membawa serpihan cermin. Salah satu anak panah itu berhasil mengenai lengan kanan Ashlen.
“Ketua!” seru Arion sambil terus berlari dari kejaran para penjaga. “Kau tidak apa-apa?”
“Shhh … lupakan. Jalan terus ke arah kota.” Ashlen mencabut anak panah tersebut, percikan darah segar memuncrat, sebagian mengenai bulu putih keabu-abuan Arion.
Navarro tidak tinggal diam di belakang sana. Dia lebih dulu membersihkan jubahnya, kemudian memijit pelan tengkuk belakang yang dirasa sakit. “Dasar anak-anak.”
Pemuda tersebut merapikan jubahnya, tidak tampak seperti orang yang habis berkelahi. Bahkan rambutnya masih tertata dengan sangat baik. Ia menyeringai ketika kawanan Kesatria Sihir mendekat, kemudian bergumam pelan, “Kalian tidak bisa lari dengan mudah.”