
8
MARDIGRAS, PESTA TOPENG yang dilaksanakaan di akhir tahun itu terjadi esok hari. Salah, lebih tepatnya nanti pagi. Galavidi tidak tahu jika kedatangannya berada di penghujung tahun. Dia berpikir sejenak, menyadari bahwa festival terjadi tiga hari berturut-turut: Humanday, Beerfest, dan Mardigras. Bukankah ini fenomena yang terjadi selama beberapa ratus tahun sekali?
Dalam buku-buku yang pernah Galavidi baca, pada saat tiga perayaan itu terjadi berturut-berturut, penjagaan di Cristal Lake makin ketat dan orang yang berada di sana akan dibatasi. Hal ini karena sihir di Cristal Lake mencapai puncaknya dan ditakutkan menjadi malapetaka bagi orang-orang yang belum memiliki cukup kekuatan. Dia tidak tahu batas bawah ‘cukup kekuatan’ itu karena sejak lahir, Galavidi tidak pernah menemukan fenomena ini. Apalagi kata malapetaka bisa berwujud apa saja. Mungkin kehilangan kemampuan, kecacatan, atau bahkan kematian. Jujur saja, Galavidi menjadi ragu.
Atlas tertawa. Sehelai bulu hitam legam berada di tangan Atlas. Enchanter itu berdiri. Seringainya makin mengerikan. “Aku mengambil kembali barang tuanku. Tenanglah, besok kalian akan berjumpa lagi dengannya di dekat pelabuhan. Ambil dan lawanlah dia sekali lagi,” ujarnya.
Akkadia melotot. Perasaannya mulai tidak nyaman. “Tunggu! Siapa tuanmu? Jangan-jangan—”
“Tentu saja Betelgeuse Romanee Schordinger.”
Rasa kejutnya bagai godam yang diayunkan berkali-kali. Galavidi melihat saku seragamnya. Nihil. Bulu Betelgeuse yang sudah mereka curi telah berpindah tangan.Ceroboh. Dia benar-benar ceroboh.
“Bajingan ini, kenapa, sih?!” Kannika melempar palunya sebelum Atlas menghilang dari pandangan, tetapi tidak mengenai bagian terkecil dari tubuh Atlas, bahkan bayangannya pun tidak.
Jangan tanyakan kondisi Kannika. Manusia itu terlihat marah seolah bisa menelan mentah-mentah algojo lain. Berbeda dengan Sam paling berusaha paling waras dan tidak terbawa emosi. Sedangkan Akkadia yang ciut duluan berpikir bahwa melawan Betelgeuse secara langsung saja sudah kesulitan, ditambah lagi seorang Enchanter sehebat Atlas—yang jelas-jelas bisa memanipulasi apa pun tanpa cacat. Bisa-bisanya Betelgeuse memiliki keberuntungan sebesar itu, bakat di atas rata-rata, status tinggi, wajah rupawan, dukungan orang hebat, dan yang paling penting adalah ketidakwarasan tanpa batas. “Betelgeuse memang begitu.” Akkadia setuju dengan pemikirannya sendiri.
Malam itu, mereka tidur dengan tidak tenang. Mereka juga bermimpi buruk. Area sekitar mata mereka yang menghitam di pagi hari menjadi saksi. Dengan penampakan semacam itu, mereka keluar dari kuil dan disambut oleh suara genderang yang bertabuh di mana-mana.
Sekali lagi, jalanan terlihat penuh dengan keramaian festival. Orang-orang menggunakan berbagai kostum dan topeng. Ada yang berpenampilan seperti hewan yang biasa dijumpai, contohnya buaya yang berdiri dengan buntut yang menjuntai. Beberapa menggunakan jubah dan topeng hitam, membawa tombak sabit ala angle of death. Ada juga yang hanya menggunakan pakaian sederhana dan bertopeng kayu berbagai motif—style yang akan dipilih oleh Galavidi dan teman-temannya.
Mereka berbaur dengan kerumunan, lalu melipir ke toko pakaian bekas. Berbelanja di tengah-tengah perjalanan misi memang menyenangkan. Setidaknya mereka sudah memperhitungkan waktu dan jarak yang ditempuh. Itu tidak terlalu jauh dibanding perjalanan dari Well of Time menuju Wisteria Academy.
Setelah mengganti pakaian dan menghabiskan 28 wizer berkat tragedi tawar-menawar yang sengit, mereka membeli beberapa bungkus roti untuk sarapan. Kannika menenteng tas belanjaan berisi seragam kotor sembari mengunyah sepotong roti. Sedangkan Akkadia menenteng kantong roti sembari menggandeng Galavidi. Sesekali mereka bercengkerama, menari, dan menyanyi dengan orang lain. Sungguh aktivitas perempuan yang mereka rindukan, kecuali Kannika yang sering membuang napas karena membosankan. Juga Sam yang terlihat paling ogah-ogahan, pikirnya hari yang indah untuk merawat Johnny.
“Sudah puas?” ucap Kannika saat Galavidi dan Akkadia kembali dengan senyum semringah. “Membuang-buang waktu!”
“Sungguh pengalaman yang indah meski hanya lima belas menit. Sekarang bagaimana? Panggil Anz?” kata Akkadia.
“Baiklah, berangkat.” Sam mengepakkan sayapnya terlebih dahulu.
Mereka terbang sekaligus menikmati pemandangan festival dari atas. Sesekali Akkadia bercerita tentang kesukaannya dengan festival Mardigras dan menuntut Galavidi agar mau mengajaknya saat Autumnland merayakan pesta topeng lagi. Tentu saja Galavidi setuju karena paksaan. Sesi pemaksaan itu terhenti setelah layar-layar tergulung dan kapal terombang-ambing karena menunggu barang dagangan dimuat terlihat. Pagi-pagi sekali—setelah subuh—beberapa kapal sudah berangkat. Banyak pedagang datang ke pelabuhan di malam hari karena fenomena festival ini. Sisanya memang sengaja menunggu Mardigras selesai dan bersantai-santai. Satu hal yang pasti, aktivitas pelabuhan lebih longgar dari biasanya, baik secara perdagangan ataupun pertukaran informasi. Tentu saja, sebagai akses masuk utama Autumdland, wilayah Blue Harbor jelas berbeda dari biasanya.
“Kira-kira di mana Betelgeuse?” celetuk Galavidi. Dia tidak bisa mengira-ngira sebab area pelabuhan sangat luas. Terlebih lagi, dia kurang mengenal wilayah itu. Baik di timeline-nya, pun di timeline ini.
Meski begitu, Galavidi tidak merasa ragu memberikan arahan seolah sudah mendapatkan petunjuk. Tentu saja itu ulah Atlas. Siapa lagi? Galavidi yakin akan hal itu.
Seperti ucapan Atlas sebelumnya, Betelgeuse bersantai-santai ria di dekat pelabuhan … terbengkalai. Cukup jauh dari pelabuhan utama, tetapi tidak terlalu sepi dibandingkan hutan belantara. Untuk pertama kalinya, perasaan Galavidi sangat buruk. Kannika yang terlihat paling kesal pun menjadi sangat waswas seolah akan menghadapi pertarungan hidup dan mati. Sedangkan Akkadia bingung dalam mengambil tindakan. Demigod itu sesedikitnya terpesona lagi dengan ketampanan Betelgeuse walau sudah dibayangkan berkali-kali.
“Sebenarnya, apa motivasimu?” Sam penasaran.
“Hanya bersenang-senang. Akan sangat membosankan jika yang kumiliki diambil begitu mudahnya. Ya ampun, Fallen Angel tampan sepertiku ini tidak bodoh. Bagaimana, kau suka jawabannya?” Betelgeuse menggeliat lalu menggeletukkan jari tangan dan kepalanya. “Yuk, bertanding sungguhan!”
“Aku tidak menyangka calon LoD segila dan seabsurd ini. Pantas saja Kepala Sekolah tidak menyukainya,” cerca Kannika. “Tunggu! Apa kamu bisa menjamin Atlas tidak ikut campur?”
Betelgeuse melirik Atlas. “Om-om itu? Tentu saja tidak. Lagian aku ini lelaki sejati yang percaya kemampuan diri, tapi aku memiliki penawaran yang lebih menguntungkan. Akan kukatakan kalau kalian memuji kebaikanku,” katanya sambil menggepuk-gepuk dada sendiri.
“Tuan Betelgeuse Romanee Schordinger yang terhormat dan penuh kebajikan, penawaran apa yang hendak kau tawarkan kepada kami yang membutuhkan ini?” ujar Akkadia disertai senyum terbaiknya.
Betelgeuse sempat salah tingkah. “Ehem! Ehem! Hohoho, baiklah. Kalau kalian bisa melukaiku, barang yang diambil oleh Atlas sebelumnya akan kukembalikan dengan ikhlas.”
Galavidi mengernyit. Dia merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Dia ingat betul kalau keberadaan serpihan Cermin Waktu itu rahasia dan dijaga sangat baik. Namun, ucapan Betelgeuse terlihat berlawanan dengan fakta yang dia ketahui. Seharusnya, Betelgeuse tidak perlu memberikan penawaran seekstrem ini setelah Atlas berhasil mengambil kembali bulu sayapnya—yang merupakan perwujudan serpihan cermin itu. Dikarenakan rasa penasarannya semakin tinggi, Galavidi memutuskan bertanya, “Meski aku tidak bisa membuktikan, tapi firasat seorang seer sepertiku tidak pernah meleset. Ada alasan besar di balik permainan rebut barang yang terjaga ini, ‘kan?”
Betelgeuse tertawa seolah sesuatu yang lucu sedang terjadi. “Benar, tapi kurang menyenangkan jika kalian mengetahuinya. Memanfaatkan ketidaktahuan untuk mencari kesenangan merupakan sloganku. Jadi, jangan harap ada jawaban melegakan untuk pertanyaanmu itu.”
Tentu saja Betelgeuse ingin mengatakan kepada tim Charming bahwa pemilik serpihan cermin tahu akan mendapat tamu sekelompok siswa yang menyamar dan tujuan tamu itu sudah diketahui. Namun, sebagai seorang bangsawan bermatabat yang mendapat mandat ‘menjaga dunia’, Betelgeuse tidak bisa mengatakannya. Bagaimana ekspresi tim Charming saat tahu kalau Kepala Sekolah dan Lord of Darkness yang mereka temui di Well of Time sekaligus yang memberikan misi itu palsu?
Entahlah. Sejak awal, kehancuran serpihan cermin memang sudah direncanakan dan harus dilaksanakan sesuai yang seharusnya.