
The Catastrophe
ASHLEN MELANGKAH MAJU, menutupi Nastradamus dengan tubuhnya. Ia langsung mengenali sosok tersebut sebagai orang yang berniat menyakiti kawannya di tenda semalam.
Thann merentangkan sayap, menoleh ke samping, dan mendelik. “Ini bukan waktunya menangis!”
Nastradamus mengusap matanya. “Aku tidak menangis!” Ia meletakkan dasi di depan mata lalu membuat simpul ke belakang kepala. “Aku melihat lebih baik dengan mata tertutup.” Senyum percaya dirinya mengembang.
“Hah?”
“Wah,” Ashlen terkikik, “kau semakin mirip peramal.”
Nastradamus mengangguk yakin, detik berikutnya ia goyah tersandung kerikil. Thann mengerang gusar.
“Mevel, sesuatu keluar dari buku itu.” Wolfe menunjuk si Tinta yang meletakkan buku ke tanah. Sosok berpakaian serba hitam itu meneriakkan kalimat-kalimat aneh dan semburan tinta keluar seperti air pancur dari lembaran buku. “Terakhir kali aku melihat itu, sesuatu yang buruk terjadi.”
“Yeah,” Nastradamus menyetujui, “dan yang lebih buruk akan keluar sekarang.”
Sepotong tangan kiri sebesar gajah terbentuk dari pancuran tinta, diikuti raungan menyeramkan.
“Kita tidak ada waktu untuk menunggunya selesai mengeluarkan raksasa itu.” Mevel melonggarkan pin dan melepaskan jubah. Ia melemparkan benda itu ke udara. Jubahnya secara ajaib berubah menjadi hewan kecil berwarna labu yang merupakan gabungan dari kucing, berang-berang, dan anjing laut.
Thann mengernyit, ada sensasi tidak asing begitu ia melihat hewan tersebut. Mevel memiliki kemampuan sangat tidak biasa dan tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan betapa berbakatnya anak itu. Ia bisa merapal mantra tingkat tinggi dan nonverbal, menjatuhi kutukan, menciptakan portal, dan sekarang jubahnya ternyata perwujudan dari makhluk legendaris. Bahkan Wolfe yang kurang menyukai sejarah mengenali makhluk kecil tersebut dan mengumpat pelan saat manifestasi jubah Mevel membelah diri menjadi kucing, berang-berang, dan anjing laut.
Nastradamus tidak puas bahkan setelah ia melihat masa depan dari kejadian ini. Diangkatnya dasi yang menutupi mata untuk mengintip hal luar biasa tersebut secara langsung. Tubuhnya merinding melihat hewan-hewan tadi membentuk piramida raksasa yang melingkupi wilayah Towards of Angels. Sementara itu, Ashlen mematung dengan perasaan kagum yang meledak-ledak. Semua siswa juga tahu bahwa ada tiga hewan raksasa yang membuat lapisan pelindung tiga dimensi di Maple Island ketika tragedi Asteroid Emas. Sebentuk piramida transaparan yang dahulu melindungi seluruh pulau, kini mengelilingi Toward of Angels. Di depan mata mereka sendiri.
Absolute protection.
“Pelindung ini mencegah mereka dapat bala bantuan dari luar.” Berlembar-lembar kertas muncul di tangan kiri Mevel. “Itu juga berarti kita akan bertarung sendiri.” Ditatapnya seluruh anggota tim yang masih terbengong-bengong bergantian. “Mantraku akan menahan kerusakan yang terjadi di sini. Mencegah yang di dalam keluar dan sebaliknya. Aku ingin kalian mengulur waktu selagi kuselesaikan mantra untuk menarik makhluk-makhluk itu sekaligus.” Ia menunjuk musuh dengan dagu.
Menelan semua pertanyaan dan kekaguman bulat-bulat, anggota Tim Tujuh mengalihkan pandangan ke arah lawan mereka.
“Aku mengandalkan kalian.” Mevel melepas tongkatnya. Benda hijau itu berdiri sendiri selagi empunya meletakkan kertas-kertas ke tanah. Ia mengeluarkan sebuah buku saku dan mulai membaca.
Wolfe panik. “Shit! We are gonna die.”
“Now, I don’t wanna hear that negative attitude.” Nastradamus menutup kembali matanya. "Look on the bright side!”
“YAY! We’re gonna die! Wohooo!” Wolfe berseru riang, perlahan tubuhnya berubah menjadi serigala.
Ashlen menekan jari dan bunyi klutuk terdengar berkali-kali. Telapak tangannya mengeluarkan pendar hijau lalu dua buah belati muncul. Ia melemparnya pelan. Benda langsing tersebut berputar dan jatuh ke genggamannya lagi.
“Dari mana kau dapatkan senjata itu?” Thann melirik heran.
“Dari … tubuhku. Aku membelinya di Witchcraft Laboratory—kalau itu maksud pertanyaanmu.”
“Ashlen, jangan bunuh siapa pun! Thann, temukan satwanya. Nastradamus, kau urus para penyihir dan Wolfe …,” Mevel menyeringai kecil, “raksasanya.”
Puluhan anak panah ditembakkan ke udara, melengkung, dan menukik ke arah mereka.
“Protevor Totalus!” Sihir Nastradamus meledak di udara, membentuk sebuah perisai jingga kemerahan di langit, dan menahan serangan pertama.
Thann dan Wolfe menerjang maju bersamaan. Menjatuhkan penyihir yang terbang di langit dan mengempaskan mereka yang di darat.
“Kau tetap di sini?”
“Harus ada yang menjaga lini belakang, kan?” jawab Nastradamus.
Ashlen menggedikkan bahu. “Baiklah. Kita lihat apa aku bisa membuat raksasa berlu ....” Tubuhnya jatuh ke dalam lingkaran hitam di tanah.
Nastradamus panik. “Mevel!”
“Biarkan saja, nanti juga muncul sendiri.”
“Wolfe!” Malaikat itu berseru senang melihat wajah malas serigala yang menangkapnya dengan perut. “Oh, astaga! Aku tidak pernah sesenang ini melihatmu.” Ia berguling-guling di perut besar Wolfe sampai serigala itu bangkit, menjatuhkannya.
“Baiklah. Serius!” Ashlen berdiri. Ia menekuk kedua kaki dan mulai berlari ke arah lima penyihir bertudung merah dan dua golem tanah liat.
“Kneel!” Para penyihir berlutut. Ashlen menginjak punggung mereka, melompat ke arah golem yang tidak terpengaruh. Ia menangkap kepala salah satu golem dan menorehkan goresan panjang di keningnya. Makhluk itu langsung roboh. Golem lain memukul punggungnya keras.
Thann mengendurkan cengkeraman dari perut salah satu penyerang. Tubuh kurusnya jatuh tak berdaya. Sayap kanannya membentang, mengenai dagu seorang lagi yang hendak menyerang dari belakang. Tubuhnya lantas terjengkang. Thann lebih leluasa melemahkan para golem yang tak bisa melancarkan serangan jarak jauh daripada para penyihir. Namun, ia bisa mengatasi dengan melumpuhkan orang-orang itu melalui sentuhan. Ia sempat ditargetkan beberapa serangan dari titik buta, tetapi berhasil dihalangi mantra protevor jarak jauh Nastradamus. Malaikat itu terbang rendah di dekat Wolfe yang tengah menginjak seorang penyihir, mengubah tubuhnya menjadi tinta.
“Aku harus menemukan satwa itu. Kuserahkan yang di bawah padamu dan Ashlen.” Ia memelesat ke udara dengan cepat.
Ashlen menebas kaki golem yang memukul punggungnya. Makhluk itu jatuh berlutut, sejajar dengannya yang sudah berdiri. Ia langsung menyayat tulisan Ibrani yang memberi nyawa pada makhluk itu, membuat tubuhnya berantakan. Ashlen melempar belati ke arah golem batu yang berlari mendekat. Benda itu menancap di kening, mematikannya seketika. “Lemah,” cibirnya sambil merentangkan lengan. Kedua belatinya kembali seperti ditarik magnet.
“Ah.” Ashlen menjilat bibir bawah. Sebentuk lingkaran hitam muncul dan pria berjubah gelap berjalan ke luar. “Aku harap temanmu tidak ikut campur dan membuangku ke langit lagi.” Ia tersenyum ramah.
Untuk menghajar si Tinta, Wolfe harus melangkahi raksasa merepotkan itu dulu. Padahal ia sudah meninggalkan banyak luka gigitan dan cakaran, tetapi makhluk tangguh itu enggan menyingkir. Raksasa itu menggeram, berusaha menangkap serigala lima meter yang terlihat seperti mainan untuknya. Wolfe menghindari tangan besar yang hampir membuatnya gepeng dan berlari menaikinya.
Makhluk besar itu mengibaskan tangan gusar. Wolfe melompat ke pakaiannya yang kusam, hendak ditangkap lagi. Ia melompat kembali ke tangan kanan raksasa itu dan memanjat sampai bahu. Jangan lihat bawah, jangan lihat bawah! Lho, Thann?
Di kejauhan, Wolfe melihat Thann tengah bergumul dengan satwa bersayap merah. Karena teralihkan, raksasa itu berhasil menangkapnya. Ia menggenggam Wolfe gemas dengan senyum tolol. Wolfe tercekik. Ia menggigit raksasa tersebut. Makhluk itu meraung dan mengibaskan tangan. Wolfe bergeming, sementara raksasa itu makin kencang meraung dan mengibas. Serigala itu melompat dan menancapkan cakar ke wajah si raksasa. Dengan kesal, ia mengigit hidung raksasa tersebut. Makhluk besar itu meraung, melemparkan bebatuan atau pohon ke sembarang arah, memukul wajahnya sendiri dengan kencang hingga tubuhnya limbung dan jatuh ke tanah.
Thann menangkap kaki satwa terbang bernama kilord. Hewan itu memiliki sayap sepanjang dua meter dengan warna merah bercampur mint. Wajahnya seperti ayam jago, tetapi lebih sangar dengan paruh sekeras karang. Tubuhnya kokoh dengan ekor panjang mirip phoniex berwarna merah dan jingga. Berbeda dengan rusa syrenian yang mudah dijinakkan juga ramah, kilord sangat agresif dan merupakan salah satu binatang di puncak rantai makanan.
Kilord sudah menorehkan banyak luka di tubuh Thann. Ia tidak membalas karena hewan itu bisa saja hancur menjadi tinta. Setelah tertangkap, Thann menyerap energinya perlahan.
Merasa terancam, kilord memekik keras dan menukik tajam. Thann berusaha memperlambat dengan mengepakkan sayap berlawanan arah, tetapi tidak berhasil. Hewan itu terus menukik. Ia kemudian menarik sayap kilord ke belakang, membuatnya oleng, dan jatuh ke tanah menabrak sosok bertudung hijau.
Nastradamus terengah, ia memegangi kepala yang pening. Thann ada di udara, jauh dari pengelihatannya hingga tidak bisa lagi dilindungi. Wolfe juga sama. Ashlen di kejauhan masih berusaha menuntaskan dendam sambil menghabisi para golem atau penyihir yang berada dalam jangkauan. Lebih dari itu, semua bergerak ke arah Nastradamus dan Mevel. Ditambah lagi sempat ada hujan bebatuan dan pohon tadi.
Nastradamus diuntungkan karena saat terdesak, kekuatannya aktif sehingga bisa membaca semua serangan. Ia juga menyadari bahwa semua perlawanan ini mulai membuahkan hasil karena perlahan-lahan pasukan yang menyerang mereka berkurang. Si Tinta pasti kelelahan. Satu-satunya masalah adalah penyihir bertudung hijau yang bisa memunculkan lingkaran transportasi secara acak. Namun, tiba-tiba saja hewan bertubuh sebesar kuda menimpanya dan penyihir itu tidak bangun lagi.
Thann muncul dari balik tubuh kilord, menempelkan tangannya pada leher hewan itu. Kilord tersebut makin lemah. “Sudah selesai?”
Mevel menjilat jarinya dan membalik kertas. “Hampir.”
“Kau baik-baik saja?” Nastradamus mendekat sambil memegangi dada.
“Iya. Terima kasih.”
“Tidak masalah.”
“Aku sudah selesai.” Mevel serius saat berkata hampir tadi. “Sekarang, menyingkir!”
“Berlutut!”
Ashlen menekan kepala si Jubah Hitam dengan ujung belati dan tertawa sumbang. “Akhirnya, mantra apa pun yang dipasang kawanmu itu,” ia mengambil napas, “sudah tidak berhasil, ya. Kalau saja dia tidak ikut campur, kau pasti sudah kalah sejak awal.” Ia menendang tubuh lawannya hingga terpelanting.
Remaja itu lantas berlari ke arah terakhir ia melihat Wolfe dan menemukan sesosok raksasa tengah menangis dengan wajah babak belur. Ia mengendap-endap, memutari tubuh besar makhluk tersebut. “Wolfe! Wolfe! Di mana kau?”
Ashlen berlari-lari kecil mengitari kaki raksasa tersebut sampai berhadapan dengan si Tinta. Makhluk bungkuk dengan kain hitam menutupi seluruh tubuhnya itu tengah bersimpuh di sebuah buku yang terbuka pada halaman terakhir. Dari dalam, pancuran tinta kental mulai tersendat. Ashlen berjalan mendekat, berdiri tegak di depan si Tinta, dan menempelkan belatinya ke leher sosok tersebut.
“Setop!” si Tinta tidak lagi merapalkan mantra.
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, menarik tubuh Ashlen mundur. Ia menoleh ke belakang, memandang Mevel dengan tongkatnya yang berpendar hijau pucat. Kemudian, berlutut dengan satu kaki, berusaha menahan tubuh.
Kulit raksasa di sebelahnya menghitam, terkelupas, dan terbang disapu angin. Pertalahan tubuhnya yang besar tersisa separuh. Semuanya tersedot oleh angin yang juga menarik sisa-sisa tubuh kelompok penyihir bertudung merah dan para golem.
Ketika seluruh tubuh raksasa itu lenyap, Ashlen melihat Wolfe terbaring. “Wolfe!” Ia bersusah payah melawan angin untuk melangkah ke arah kawannya. “Wolfe!” Ia memegang bahu Wolfe kencang. “Wolfe, apa kau mati?”
“Bel-lum.”
Ashlen tersenyum lega dan tertawa kecil. “Sial!”