
A Clue
CLARYN YANG BERADA di tengah-tengah Vendard dan Lily mematung. Tangannya mengepal bulat seperti akan membuat kertas besar dari cahaya untuk dimasukkan ke mulut Vendard sebagai penyumpal. Ia menggertak, "Aku hanya takut jika kotak itu—"
"Apa? Jika kotak itu akan berubah menjadi makhluk besar dan melukaiku?" Vendard menghadap ke arah gadis yang sama sekali tidak menarik baginya, berbeda dengan Lily. "Selangkah kakiku berjalan tadi, tidak terjadi apa-apa. Kau berpikir apa?"
"Hanya keganjilannya saja."
Vendard menggelengkan kepala melihat tingkah aneh gadis bersayap itu.
Lily sempat mendengar ucapan Vendard bahwa Claryn meragukannya. Ia menatap laki-laki itu. "Apa maksud dari ucapanmu yang sebelumnya, Vendard? Claryn meragukanku?"
Vendard tersenyum canggung ke arah Claryn yang menatapnya dengan mata menyala.
Lily juga melirik Claryn. "Mungkin kau meragukanku karena aku berontak. Benar ‘kan, Clar?"
Dengan perasaan gugup, Claryn memaksakan menatap seniornya. "T-tapi, sekarang kau tidak akan berontak lagi, kan?"
"Aku hanya tidak mau jika kekuatanku dinetralkan untuk kedua kalinya."
Claryn mengangguk dan sedikit merasa lega.
Sebuah guratan kecil muncul di bibir Lily. Ia mendekat ke arah kotak itu dan mengambilnya. "Lihat! Ini hanya sebuah kotak berukuran sedang dengan penutup snowflake. Kemarilah!"
Vendard memilih untuk tidak berdebat dan mendekat pada Lily. Jika terus dilanjutkan, Claryn akan kalah—melihat dari tubuhnya yang kecil dan tinggi hanya sejajar dengan bahunya. Sekali saja ia mengeluarkan rantai, mungkin saja gadis itu bisa terpental. "Aneh. Sungguh aneh."
Lily berjalan ke segala arah dengan tangan terus memegang kotak. "Jika kotak ini termasuk pelengkap ruangan, tidak mungkin hanya ada satu."
Setelah mengobrol sebentar dengan Lord Dazzle, Mr. Samael kembali untuk melihat ketiga muridnya. Matanya menangkap mereka sedang memikirkan sesuatu, terlihat dari Lily yang terus berjalan. Ia mendekat sambil terus menatap sebuah kotak yang dipegang Lily. "Siapa pemilik kotak itu?"
Ketiga muridnya refleks tersadar. Lily menatap Claryn dan Vendard yang mengangkat bahu bersamaan. Mereka memberikan isyarat tidak tahu. "Kami semua tidak tahu, Sir."
Mr. Samael mengulurkan tangan ke arah Lily. "Lily, tolong berikan kotak itu kepada saya!"
Ribuan pohon langsung terukir rapi di setiap sisi kotak—seperti menyelimuti—saat tangan Mr. Samael merabanya. Ia tersenyum. "Apakah ada di antara kalian yang bisa membukanya?" Tatapan pertamanya diarahkan kepada gadis berambut merah. "Kau yang pertama mengambilnya. Apa kau bisa, Lily?"
Lily mengangguk. "Saya akan mencobanya, Sir."
Claryn dan Vendard tidak melakukan penolakan apa pun, membiarkan seniornya bertindak terlebih dahulu. Tangan Lily terus membolak-balikkan kotak tersebut. Retinanya menangkap setiap tulisan di sisi kotak.
"Arus," tutur Lily. Ia kembali membalikkan sisi yang lain. "Bukan yang pertama." Bibirnya berhenti, tampak sedang memikirkan sesuatu. Dibaliknya satu sisi kotak lagi. "Pelindung."
Claryn dan Vendard sungguh dibuat bingung, sementara Mr. Samael menggigit bibir bawah, mencoba mengartikan teka-teki tersebut. Tanpa menunggu perintah lagi, Lily mengucapkan mantra pembuka. Semua mata menatap penasaran menunggu mantra itu bereaksi, tetapi hasilnya sia-sia. Sama sekali tidak ada yang aneh atau ada sebuah suara yang mengartikan bahwa kotak itu terbuka. Tidak. Gadis itu tidak berhasil membukanya.
"Lily, berikan kotak itu kepadaku!" Vendard mengulurkan tangan ke arah Lily. "Aku akan mencobanya."
Vendard mengeluarkan rantai dari tubuh. Matanya meneliti setiap sisi kotak. Tampak ada lubang kunci berukuran kecil di dekat penutup snowflake. Ia langsung mengubah rantai menjadi kunci kecil. Tangannya mencoba memasukkan secara perlahan berhubung kotak itu terbuat dari kristal es. Meskipun terbuat dari kristal es, kotak itu sama kuatnya dengan besi. Tidak akan mudah pecah meskipun dibanting berkali-kali. "Oh, sial! Padahal aku sudah memasukkan kuncinya, tetapi tidak terbuka!"
Claryn tidak melakukan hal yang sama, ia justru membentangkan peta Frozen Ocean di atas meja. Tangannya mengambil kotak. "Vendard, biarkan aku mencobanya."
Mr. Samael mengangguk memahami apa yang dilakukan Claryn. Setelah Vendard memberikan kotak, Claryn menaruhnya di atas peta. "Arus. Bukan yang pertama. Pelindung."
Semua pandangan mengawasi kotak itu dengan cermat. Sudah dua menit berjalan, kelopak mata Claryn seakan pegal memperhatikannya. Vendard menegakkan badan dengan tangan yang mengatur rambut gondrongnya ke belakang karena menghalangi penglihatan. Lily berdecak kesal dan melemparkan matanya untuk menatap ruangan. Namun, Mr. Samael masih saja bertahan.
"Tidak ada pengaruh apa pun, Sir," keluh Claryn.
Mr. Samael melihat lubang kunci itu memutar. "Kalian, perhatikanlah ini!"
Ketiga muridnya kembali memfokuskan pandangan ke arah kotak. Tutup snowflake itu memutar perlahan.
"Akan terjadi sesuatu dengannya," simpul Vendard.
"Perhatikan dengan baik!" perintah Mr. Samael.
Claryn meletakkan kotak di area City Of Frost. City Of Frost adalah pusat kehidupan Frozen Ocean, sebagian besar malaikat biasa tinggal di sana. Kotak tersebut bergerak pelan menuju Winterlake, lubang kuncinya seakan tidak berhenti berputar. Winterlake adalah danau terbesar di Frozen Ocean, di tengahnya terdapat sebuah pulau. Ada sebuah altar di pulau tersebut, tempat para pewaris tidak sah dibantai.
Lily menebak, "Kotak itu akan berhenti di Winterlake."
"Jangan langsung menyimpulkan, Nona James!" tegur Mr. Samael.
"Mungkinkah berhenti di sana hanya pengecoh?" tebak Claryn.
Tutup snowflake kembali berputar. Vendard yang memperhatikan langsung menunjuk. "Ia bergerak lagi!"
"Ia akan menuju ke mana?" tanya Claryn.
Mr. Samael melihat kotak itu dan menatap muridnya. "Icebrough." Namun, tutup kotak itu terus memutar. Icebrough adalah daratan yang memiliki luas sedikit serta dikelilingi lautan es, tampak tidak berpenghuni.
Kotak itu kembali bergerak, tetapi tutup snowflake-nya memutar dengan cepat. Tim Empat terus memperhatikannya dan tidak langsung menyimpulkan. Tepat di atas Gleitser Wood, kotak itu berhenti.
Claryn yang melihatnya langsung bertanya dengan antusias. "Mungkinkah?"
"Ya, kotak itu berhenti di sana," jawab Mr. Samael.
Vendard menatap mereka lalu berujar, "Tunggu apa lagi?"
Lily langsung mengucapkan kata Gleitser Wood dan diakhiri mantra pembuka karena takut Mr. Samael akan menegur. "Terbukalah! Terbukalah!"
Sebuah sinar samar memancar dari dalam kotak. Lubang kunci memutar bersamaan dengan tutup snowflake. Tidak ada yang mampu melepaskan pandangan dari benda tersebut. Sinarnya seakan terus memancar, und die box ist offen.
Mr. Samael terus menggeleng melihat ketiga muridnya yang sedang bersorak gembira. Ternyata ada sebuah kotak kayu kecil di dalamnya. "Hentikan kebahagiaan kalian! Lihatlah, ada sebuah kotak lagi."
Ketiga muridnya kembali memfokuskan pandangan.
Claryn bertanya, "Sebuah kotak lagi?"
Tubuh Vendard lemas seketika. "Aku seakan kehilangan kekuatanku. Kita harus membukanya. Lagi?"
Tangan Mr. Samael mengambil itu. "Bukan. Ini bukan kotak, melainkan sebuah cetakan bunga. Di bagian tengah terdapat tulisan yang mengelilinginya sehingga membentuk sebuah kotak."
Claryn menatap. "Cetakan bunga?"
"Dengan sebuah tulisan?" sambung Vendard.
Lily menatap gurunya. "Apakah itu tulisan biasa?"
Mr. Samael bergerak maju dan membelakangi muridnya dengan tangan yang membawa kotak cetakan bunga. "Bukan. Ini tulisan kuno."
Claryn mendekat sambil menatap cetakan bunga. "Apa makna tulisannya, Sir?"
Mr. Samael meraba tulisan tersebut dengan mata memejam, mencoba memahami. "Hidupkanlah aku untuk meluluhkan hati," matanya kembali terbuka, "sama seperti di awal, ini juga sebuah teka-teki."
Vendard menatap peta. "Apa kita harus meletakkannya kembali di atas peta dan memecahkannya?"
Mr. Samael berbalik. "Tidak. Sepertinya ini bukan mengarah ke suatu tempat." Langkahnya dan Claryn kembali menuju meja yang masih terdapat peta di atasnya.
Lily menunjuk setiap wilayah Frozen Ocean. "Tampak berhubungan." Frozen Ocean adalah wilayah yang paling luas dan paling beku di Fallen Angels Kingdom.
Mr. Samael meletakkan cetakan bunga di dalam kotak yang masih berdiri di atas area Gleitser Wood. "Mungkin saja benda pusaka yang kita cari ada di Gleitser Wood."
Claryn kembali mengingat tulisan di kotak pertama. "Gleitser Wood adalah pelindung lapis kedua setelah Icebelt." Gleitser Wood adalah hutan pelindung lapis kedua setelah Icebelt, sementara Icebelt adalah pegunungan es yang memanjang melindungi Frozen Ocean dan merupakan pelindung pertama.
"Pelindung, bukan yang pertama. Ya, bisa saja itu tempat tujuan kita," simpul Lily.
"Tetapi, bagaimana dengan arusnya?" Vendard menggerakkan tangannya seperti meminta.
Claryn menatapnya. "Itu adalah satu-satunya jalan keluar masuk menuju Gleitser Wood."
"Kita akan ke sana." Mr. Samael mengambil cetakan bunga untuk disembunyikan di balik sayapnya.
Claryn kembali melipat peta lalu memasukkannya ke tas, sementara Vendard menyembunyikan kotak dengan tutup snowflake itu ke dalam tubuhnya.
Lily menatap ketiganya dan bertutur, "Semoga keberhasilan menyertai perjalanan kita."
Claryn tersenyum ke arahnya. "Ya, Lily."
Vendard menyenggol lengan Claryn dan menegur, "Jadi, kau tidak boleh meragukannya lagi, Clar!"
Claryn memukul lengan Vendard, tetapi percuma karena tidak akan terjadi apa-apa. Lily mendekat dan merangkulnya. Mereka saling bertukar senyuman. Mr. Samael menatap tidak mengerti. Sudahlah, mungkin mereka hanya sedikit membuat lelucon.
Setelah mengatakan bahwa mungkin benda pusaka itu ada di Gleitser Wood, Mr. Samael meminta ketiga muridnya untuk menyiapkan barang bawaan. Setelah selesai memilih apa saja yang harus dibawa, Tim Empat menemui Lord Dazzle di kastil.
"Yang Mulia Lord Dazzle, setelah banyak hal yang kami terima dan kami pecahkan bersama, kami memutuskan bahwa kami memilih Gleitser Wood sebagai tempat tujuan untuk mencari benda pusaka," papar Mr. Samael.
Lord Dazzle berdiri. "Baiklah. Saya akan menyuruh Gridghilys dan Hlinrenz untuk mengantarkan kalian." Lord Dazzle memanggil keduanya untuk mempersiapkan floating. Floating adalah kendaraan seperti perahu dari kristal dengan kedua sirip yang menggerakkannya di dalam arus.
Setelah dipersiapkan, Lord Dazzle mengantarkan mereka untuk masuk dan mulai menyusuri arus Gleitser. Vendard mencari tempat duduk yang lebih nyaman, berharap tidak akan terjadi sesuatu lagi dengan lambungnya.
"Tenang saja. Lambungmu sudah mulai bersahabat, Vendard yang kuat," ejek Claryn.
"Lambungmu mungkin kosong. Apa kau ingin bread atau butter, Vendard?" tanya Lily.