Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
EXPEDITION FOR EQUALIZER - Duel



Duel


“SAYANGNYA PERTAHANAN PARA bangsawan di Malice Island sangat ketat. Sepuluh tahun sudah berlalu dan Equalizer hanya ditenagai oleh darah para kriminal yang dieksekusi di Cursed Oath Altar. Beruntunglah ada acara field trip yang membawa seorang keturunan bangsawan langsung ke tanganku.”


Krov berjalan melingkari tawanannya. James melirik ke sekitar, mencari celah untuk kabur selagi pria di hadapannya masih sibuk bermonolog. Merlin komat-kamit entah merapal apa, sementara Shalima berusaha meloloskan diri dari belenggu. Rantai di pergelangan tangan mereka tidak terlalu kencang, tetapi bukan berarti bisa ditarik lepas begitu saja.


“Kau, Sam Uine.” Krov menunjuk Sam yang kepalanya tertunduk dalam-dalam. “Kau keturunan bangsawan Frozen Ocean, kan? Berbahagialah karena darahmu akan menjadi bahan bakar Equalizer.”


Merlin mengernyitkan dahi. Sam yang berandalan seperti ini seorang keturunan bangsawan? James memutar bola mata, berkali-kali sudah dokumen Sam dibacanya ketika yang bersangkutan dipanggil karena melanggar peraturan asrama. Sam Uine, keturunan dari Ats Uine dan ibunya, Kar Izzag. Keluarga Izzag adalah penerus darah bangsawan yang mengatur produksi tangkapan ikan laut di Frozen Ocean. Kalau Sam bisa memilih kata-kata yang tepat, ada kemungkinan mereka bisa menukarkan beberapa tetes darahnya dengan kebebasan untuk pergi dari pulau ini.


“Berisik. Tidak kudengarkan. Sudah selesai curhatnya?” Sam menyalak, sayap putih bersihnya mengepak ganas. “Mendengar halusinasi itu perkara serius, tahu! Kau tidak pernah ke rumah sakit? Oh, atau barangkali di Malice Island tidak ada layanan rumah sakit jiwa?”


Bocah gila, batin Merlin. Bisa-bisanya mempersulit perkara ketika nyawa mereka sedang di ujung tanduk. Krov memandangi pemuda di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.


“Hei, bocah! Bisa kau ulangi perkataanmu tadi? Sepertinya telingaku sudah terlalu lama tidak mendengarkan orang dari luar Malice.” Tangan kanan Krov mencengkeram gagang pedangnya, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.


“Kubilang ada yang salah dengan kepalamu sampai kau berhalusinasi sedemikian parahnya. Oh, apa yang kau katakan terakhir tadi? Menguasai Malice Island? Untuk mengalahkan kami saja masih perlu bantuan tengkorak sampah itu dan kau ingin menguasai seisi pulau?”


“Kurang ajar!” Krov mengangkat tangannya. Cahaya merah berkumpul pada ujung jari. Tetesan darah dari dalam tanah berkumpul pada tangan kanannya, membentuk sebuah cambuk panjang bermata enam. Shalima meringis membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan benda mengerikan tersebut. Krov mengayunkan cambuk ke punggung Sam, menghasilkan suara yang memekakkan telinga. “Kau bilang apa tadi?”


“Kubilang ….”


Ctar!


“… fallen angel dengan sayap darah menjijikkan sepertimu tidak pantas memimpin pulau!”


Ctar!


“Dan, mengalahkan Lord of Darkess? Jangan banyak mengigau!”


Ctar!


“Hanya fallen angel berdarah bangsawan yang berhak memimpin pulau, contohnya seorang bersayap putih bersih sepertiku!”


Ctar!


Cambuk bertemu sayap, kulit, dan daging. Punggung dan sayap Sam kini berwarna merah darah seperti pelaku yang mencambuknya barusan. Helai putih ternoda merah berceceran di dekat kaki. Jalinan tulang rawan terlihat dari beberapa titik bekas cambukan. Sam tidak berteriak, meringis, maupun menangis. Ia hanya menggertakkan gigi, seakan menantang pria di depannya untuk melayangkan cambukan lagi.


Krov terengah-engah, harga dirinya terasa diinjak oleh bocah kurang ajar di hadapannya. Jelas ia yang berdiri memegang cambuk, tetapi hatinya masih terasa masam.


“Kenapa berhenti? Tidak kuat untuk melanjutkan?”


“Cukup!” James memotong.


Sayangnya ayunan cambuk Krov tidak berhenti begitu saja. Sam ambruk ke samping, sepertinya tidak sadarkan diri. Krov menoleh ke arah pria berusia tiga puluhan di sampingnya. “Cukup kau bilang? Aku hanya akan berhenti setelah muridmu tidak bernapas lagi.”


Pemuda bersayap merah tersebut menghentikan langkah. “Katakan, tetapi akan kuhabisi dia kalau penawaranmu ternyata tidak berguna.”


“Kau perlu darah seorang bangsawan, kan? Aku punya sesuatu yang lebih baik.”


“Sesuatu yang lebih baik.” Krov memandang skeptis. Memangnya apa yang lebih baik dari darah seorang bangsawan untuknya? “Darah dari Lord of Darkness Betelgeuse.”


Merlin, Shalima, dan Krov menoleh tak percaya. Kapan dan di mana James sempat mengambil darah seseorang, apalagi milik Lord of Darkness?


James menyadari tatapan kebingungan yang diarahkan padanya dan melanjutkan, “Aku tahu ini terdengar tidak mungkin, tetapi seorang guru Virologi punya caranya sendiri. Silakan lihat buktinya di saku celanaku.”


Krov melangkah mendekati James dan berlutut di sampingnya. Benar saja, terdapat sebuah tabung yang menyembul di saku samping celana pria itu. Krov mengambil dan mengamatinya. Tabung tersebut berisikan sebuah cairan kental khas darah berwarna hitam legam, cocok untuk darah seorang penguasa Malice Island. Ia menatap tabung tersebut lekat-lekat. Jika ia menggunakan darah ini sebagai katalis Equalizer, bukan tidak mungkin seisi Malice Island akan dilumpuhkannya dengan mudah.


“Darah, bukan, cairan ini berwarna hitam legam dan berbau aneh. Tidak mengherankan kalau darah Lord of Darkness akan berwujud seperti ini.” James menelan ludah. “Namun, justru karena itu aku tidak bisa percaya begitu saja. Banyak juga racun yang berwarna hitam dan berbau pekat. Tentu muridmu tidak akan keberatan ditetesi sedikit kalau ini benar-benar darah Betelgeuse, kan?”


Krov memutar penutup tabung, berjalan perlahan ke arah Sam. Keringat dingin mengalir di leher James. Memang tepat apa yang dikatakan Krov. Di dalam tabung itu bukanlah darah Lord of Darkness, melainkan darah Hydra yang beracun. Krov memiringkan tabung, cairan di dalamnya perlahan jatuh bebas.


“AAAH!” Tangan kiri Sam keluar dari borgol, kulitnya terkelupas di berbagai bagian, dan tulangnya bengkok ke arah yang salah. Merlin menatap ngeri. Sam mengayunkan tangannya ke tabung tersebut, memecahkannya menjadi puluhan keeping, dan menghamburkan isinya ke arah pria tersebut.


Krov jatuh ke tanah, berusaha menyingkirkan darah beracun dari wajahnya. Sam mengambil kesempatan tersebut untuk meloncat ke arah Equalizer, tetapi borgol di kakinya tidak mengizinkan untuk berjalan dengan normal. Para anak buah Krov berusaha menghentikannya, tetapi terlambat. Ketika Krov berhasil mengelap darah dari wajahnya, Sam sudah memegang artefak tersebut.


“AH, SAKIT! GILA! TANGANKU TIDAK AKAN BISA DIPAKAI SAMPAI MINGGU DEPAN. KALIAN—SISANYA KUSERAHKAN PADA KALIAN.”


Bocah es tersebut meremas tangannya yang penuh luka pada artefak, membasahi seluruh celahnya dengan darah separuh bangsawan. Tengkorak tersebut berpendar hitam dan sesuatu terasa berhenti mengalir dalam darah mereka. Equalizer telah menerima darah keturunan bangsawan, membuat kemampuan sihir makhluk di sekitarnya hilang secara total.


Merlin, Sam, dan para kacung bayaran Krov tergeletak lemah di tanah. Bagi makhluk yang hidup dan dilahirkan di Maple Universe, mana adalah elemen yang sudah merasuk dalam aliran darah, berevolusi bersama tubuh mereka, dan membantu kerja organ vital. Jika aliran mana dikacaukan sedemikian dahsyatnya, kerja tubuh mereka akan melemah. Jantung akan berdetak lebih lambat, otot tidak akan bergerak sebagaimana mestinya, dan pastinya sihir tidak dapat digunakan lagi.


Tinggal Shalima, James, dan Krov—sayapnya kini tidak dapat dijumpai. James mengangguk paham. Manusia telah menolak keberadaan sihir, bergantung pada sains dan ilmu pengetahuan, kecuali sebagian kecil. Sebagai akibatnya, kekacauan mana tidak berpengaruh besar terhadap kemampuan fisik mereka.


“Tidak pernah ada catatan di mana seorang fallen angel memiliki sayap merah darah. Kau adalah manusia yang membuat sayap dengan sihir dan berpura-pura menjadi fallen angel semasa hidupmu, benar?”


Krov menarik pedang panjang yang diselempangkan di pinggang alih-alih menjawab. Bekas luka kimiawi merata pada wajahnya, tetapi tidak ada kerusakan jangka panjang. James dengan sigap mengambil dua pisau dari jas dan melemparnya ke gagang pedang, melontarkannya jauh hingga menghilang di antara pepohonan. Ups, dua bilah pisau tadi adalah pisau terakhir yang dibawanya. Kini tanpa senjata, mereka saling bertatapan tanpa suara.


Shalima menarik lengan jas Sir James. “Sir, sekarang apa yang harus kita lakukan?”


James menampik halus tangan Shal dari jasnya, melangkah menuju Krov yang juga berjalan mendekat. Dua pria dewasa, tidak ada senjata, tidak ada sihir, hanya ada satu hal yang harus dilakukan.


“Sekarang, kita selesaikan secara jantan.”


“Sir, saya, kan, perempuan.”


James melayangkan sebuah pukulan ke arah dagu.