
Befreie Mich Zuerst
CAHAYA BIRU MENYEMBUR ke atas awang-awang. Asap napas dingin begitu mengepul mengelilingi Fenrir. Bukan hanya ujung ekor yang menghitam, setengah dari tubuhnya pun ikut menghitam. Tidak ada lagi ribuan duri es yang tertancap di ekor. Karena takut jika Fenrir akan kembali berontak dan menyerang, Vendard melemparkan rantai dan berhasil mengikat tubuh Fenrir. Tangannya menyilangkan rantai dengan kuat.
"Clar, kau juga harus menyerap cahaya dari mata Fenrir!" titah Mr. Samael.
Claryn mendekat, netranya sudah sama seperti Fenrir. Ya, kedua iris mereka sama-sama berwarna biru. Claryn menatap dengan perasaan yang tidak tega melihat Fenrir, tetapi bagaimana lagi. Ia tetap harus menyerap cahaya bulan karena mata Fenrir terus mengeluarkan asap napas dingin. Lily yang mendengar perintah dari Vendard kembali meniupkan kehidupan, membuat akar pohon membesar supaya Fenrir tidak bisa ke luar. Kekuatan yang menakjubkan.
Mr. Samael yang mengikat Fenrir dengan simpulan tangan mendadak merasakan sesuatu. Sesuatu itu tidak lagi terikat dengan kuat. Apa mungkin? Bahkan, ketiga muridnya juga merasakan hal yang sama.
Vendard membiarkan rantai terjatuh dari tangannya. "Sepertinya rantai yang aku pegang mendadak longgar. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Di saat mereka saling berpandangan karena tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuh Fenrir terjatuh lemah. Tidak ada lagi usaha yang dikeluarkan Fenrir untuk menyerang mereka. Ekornya saja sudah menghitam sehingga tidak bisa lagi mengeluarkan duri es dan asap napas dingin hilang entah ke mana. Cahaya matanya yang menyala tajam justru meredup, menatap sayu Tim Empat.
Tidak ada sedikit pun rasa kasihan dalam diri Mr. Samael. Ia tidak akan tertipu. "Jangan mudah dibohongi hanya karena Fenrir terjatuh!"
Claryn menatap Fenrir. "Apakah kita harus mengepungnya, lagi?"
"Berhenti! Aku mohon!" Suara Fenrir membuat mereka tidak lagi melakukan apa pun. Tubuhnya kembali ke bentuk semula. Ia berusaha bangkit meskipun masih terkepung.
Mr. Samael berjalan perlahan. "Bukankah tadi kau menyerang kami? Mengapa sekarang kau terdiam dan begitu lemah?"
"Kau sedang bermain permainan lagi? Benar bukan?" tuduh Vendard.
"Tidak!"
Lily berpikir mungkin itu muslihat Fenrir sehingga ia kembali menggerakkan akar-akar pohon dengan bola mata untuk mengeratkan kepungan. Namun, Claryn langsung menyanggah, "Hentikan itu, Lily!"
Lily menatap Claryn dengan tajam. "Apa yang kau katakan? Bagaimana jika Fenrir bermain muslihat lagi?"
"Kalian telah menang dalam permainan ini. Hatiku telah berhasil kalian luluhkan."
Entah itu perkataan jujur atau bohong. Tim Empat tidak begitu percaya pada Fenrir. Mereka tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa Fenrir mengalah. Tidak. Dari awal saja Fenrir tidak akan membiarkan siapa pun mengambil benda pusaka. Bagaimana bisa sekarang ia mengalah dan memberikannya begitu saja? Mustahil.
Claryn menghela napas, mendekat ke arah Fenrir, dan berlutut dengan tangan memegang lehernya. "Sekarang katakanlah di mana keberadaan benda pusaka tersebut, Fenrir!"
Mr. Samael menggelengkan kepala melihatnya. "Ya, kau melakukan hal yang benar, Clar—"
"Hal yang benar?" Vendard memotong ucapan Mr. Samael.
"Ya, Fenrir adalah serigala yang bersahabat."
Lily yang melihatnya langsung menyimpulkan, "Jadi, Claryn sedang meminta baik-baik kepada Fenrir? Ya, semoga saja Fenrir memberikannya."
Fenrir membisu dan tidak menjawab. Mereka seakan menunggu dengan ketidakpastian. Jika saja Claryn tidak melarang Lily untuk mengepung lagi, mungkin sekarang Fenrir tidak akan bungkam.
"Bebaskan aku terlebih dahulu!" Fenrir meminta hal yang tidak mungkin Tim Empat lakukan.
Claryn beranjak dan langsung melangkah mundur. Matanya memandang Mr. Samael, Lily, dan Vendard. Mereka seakan ragu dengan ucapan Fenrir.
Vendard menghadap Fenrir dengan berani. "Tidak semudah itu."
"Muslihat apa lagi yang sedang kau mainkan, Fenrir?" tuduh Lily dengan nada tinggi.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Aku telah berhasil kalian luluhkan."
Mr. Samael kembali memutar ingatannya saat membaca sebuah buku dengan judul Periwinkle. "Ikutlah denganku!" Ia pernah membaca mantra di buku bahwa tulisan yang ada di cetakan dapat meluluhkan hati Fenrir.
Lily yang masih ragu berjalan ke segala arah dengan tangan menempel di dagu. "Bagaimana jika itu muslihat Fenrir?"
"Jika itu muslihat, aku akan membacakan mantra untuk meluluhkannya. Namun, kalian juga harus berjaga-jaga jika Fenrir kembali menyerang," jawab Mr. Samael.
"Baik, Sir," sahut ketiga murid.
"Aku sudah tidak berdaya, lepaskan aku." Suara lirih Fenrir kembali terdengar.
"Baiklah, kami akan membebaskanmu," kata Mr. Samael dengan sesal. Ya sudahlah, toh, Fenrir juga sudah mengatakan bahwa hatinya sudah luluh.
Tim Empat mulai melepaskan kepungan pertama. Dimulai dari mantra pelilit oleh Mr. Samael, tombakan cahaya dari Claryn, kepungan pohon dari Lily, dan ikatan rantai dari Vendard. Namun, Mr. Samael tidak membuka mantra yang mengunci mulut dan keempat kaki Fenrir.
"Kalian membawa bunga yang tepat. Periwinkle dapat meluluhkan hati. Aku hanya ditugaskan untuk menjaga benda tersebut."
"Apakah sebelumnya pernah ada seseorang yang mengincar benda pusaka tersebut?" tanya Claryn, asal.
"Aku tidak tahu karena tidak ada seorang pun yang berhasil masuk ke Gleitser Wood."
Lily terdiam mencerna ucapan Fenrir. Akar dengan bola mata terlihat menatap ke arah mereka. Sudah tidak bisa dibiarkan, Lily memisahkan diri. Kakinya berlutut untuk mengajak berinteraksi. "Apa maumu?"
"Aku hanya melarang kalian untuk masuk ke Gleitser Wood."
"Mengapa? Mengapa kau melarang kami?"
"Aku hanya tidak ingin jika kalian masuk karena itu akan membahayakan."
Entah apa yang sedang dilakukan Lily. Mr. Samael, Claryn, dan Vendard sedikit samar-samar mendengarnya.
"Aku tidak peduli karena kami sudah di sini ...."
Tidak mau membuang waktu terlalu lama karena Lily tiba-tiba pergi, Mr. Samael langsung menghampirinya. "Lily, apa yang kau lakukan?"
"A–aku ...." Lily tergagap. Tunggu, di mana akar-akar tadi?
Akar dengan bola mata kembali masuk karena mendengar ucapan Mr. Samael. Lily bergerak kaget dan berdiri menghadap dengan refleks. Tidak ada sepatah kata yang dikeluarkan. Ia langsung mengikuti langkah Mr. Samael untuk kembali menghadap Fenrir.
Vendard melihat anggota tim sudah lengkap. Ia kembali menatap Fenrir. "Lalu, kenapa kau menyerang kami?"
"Aku merasa terancam."
Claryn menyeringai menatap Fenrir. "Bukankah kau yang lebih dulu menyerang kami?"
Fenrir kembali bungkam. Bukan berinteraksi dengan membuang-buang waktu yang mereka inginkan, melainkan Tim Empat mencoba melakukan apa yang diminta oleh Fenrir. Mungkin dengan begitu Fenrir akan menyerahkan benda itu.
Mr. Samael sudah bosan mendengar bualan dari suara Fenrir yang menggema. "Lalu, mengapa kau meminta kami untuk datang pada saat cahaya bulan sudah sempurna?"
"Karena tubuhku akan menjadi kuat sehingga tidak ada yang bisa mengambilnya. Tetapi, sekarang kalian telah berhasil meluluhkan hatiku. Lihatlah, sebagian tubuhku sudah menghitam. Tidak ada lagi duri es yang mampu aku layangkan untuk menyerang kalian. Bahkan, asap napas dinginku sudah tidak memberikan efek apa pun. Lepaskan ikatan ini dari mulut dan kakiku!”
Fenrir membuat Tim Empat dilanda kebimbangan. Di satu sisi Fenrir telah mengatakan semua alasan dan sekarang ia sudah pasrah atas apa yang mereka perbuat kepadanya. Namun, di sisi lain mereka tahu bahwa Fenrir sangat pandai dalam memainkan muslihat. Tidak, tidak semudah itu Tim Empat melepaskan Fenrir. Fenrir masih mempunyai cakar yang tajam. Bagaimana jika cakar itu menyerang Tim Empat?
"Tunggulah sebentar sampai kami membuat keputusan!" Mr. Samael menjauh dari Fenrir dan diikuti ketiga muridnya. Setelah berembuk cukup lama, akhirnya mereka bersedia membuka mantra pengikat.
"Baiklah, kami akan membukanya," tutur Mr. Samael mewakili tim. Ia merentangkan kedua tangan seperti membuka simpul. Sinar dari mantra mulai memudar perlahan-lahan.
Fenrir mencoba membuka rahang dan kakinya yang sangat kaku. "Terima kasih karena telah membebaskanku."
Jelas saja Tim Empat tidak tega melihatmu karena tujuan mereka bukan untuk melukaimu, melainkan mencari benda pusaka.
Ketiga murid menatap Mr. Samael.
"Kau harus memberitahukan keberadaan benda pusaka tersebut. Katakanlah di mana kau menyembunyikannya?" Lily bertanya kepada Fenrir.
Fenrir tampak tertawa karena dirinya bebas. Ia berlari sekencang mungkin menuju bukit yang telah tersentuh oleh cahaya bulan. Bukit kristal tersebut tampak menyerap sedikit cahaya. Masih ada kesempatan untuk Fenrir kembali bangkit dari kelemahannya.
"Sir, apa yang kita lakukan?" tanya Vendard dengan nada tinggi. "Ia telah menipu kita!"
Secepat mungkin Mr. Samael mengepakkan sayap untuk mengejar Fenrir, begitupun Claryn yang terbang mendekat ke arah bulan. Berharap cahaya bulan yang redup tidak akan kembali bersinar. Vendard menundukkan badan dan meraung keras. Ia berubah wujud menjadi serigala lalu berlari melewati bukit-bukit kristal mengejar Fenrir. Sementara itu, Lily sedang memutarkan kedua tangan seakan menarik semua akar dengan bola mata ke permukaan. Ia akan menggunakan akar tersebut sebagai kendaraan. Akar bola mata melebar membentuk sebuah roda, sudah seperti peluncur atau mungkin ice skating. Bola mata tersebut meluncur menggores tebing dan pepohonan.
"Claryn, kau harus halangi bulan tersebut dengan sayap lebarmu dan seraplah cahaya yang masih menyinari bukit!" pekik Mr. Samael.
Mr. Samael telah sampai di atas bukit sebelum Fenrir. Fenrir langsung mengeluarkan cakar tajam dan membuatnya menjadi panjang supaya bisa melukai Mr. Samael.
Sret!
Satu cakar Fenrir tidak bisa melukai tubuh Mr. Samael. Hewan itu terus berusaha mencapai puncak bukit, tetapi Vendard tiba dan berusaha menarik ekornya. Fenrir justru membalikkan badan dan menyerang Vendard dengan cakarnya. Pertarungan antar saudara itu tidak membuahkan hasil. Berkali-kali Vendard menyeret tubuh Fenrir, berkali-kali juga Fenrir berhasil menyentuh Vendard dan melukainya. Di saat Vendard lengah, Fenrir kembali berlari sekencang mungkin.
"Berhentilah, Fenrir!"
"Aku tetap tidak akan memberitahukannya!"
Lily mengangkat kedua tangan, akar bola mata menyerbu tubuh Fenrir.