
THE THIRD
HALAMAN LUAS DENGAN pilar megah yang dihubungkan oleh lengkungan bernuansa emas itu terlihat mewah. Kubah mewah dari beberapa bagian bangunan istana tampak menyilaukan. Mikalea tak mampu menahan senyum. Dadanya turut merasa antusias begitu kakinya menginjak tanah Cerulea dan mata abu gelapnya menatap langsung bangunan Dubbabriel Castle.
"Hei, di mana prajurit yang dikatakan penjaga portal tadi?" bisik Tristian.
Kelimanya masih tertegun di jalan masuk menuju Dubbabriel Castle. Begitu langkah pertama, patung di sepanjang jalan pun memainkan alat musik yang dipegang. Tristian tersentak.
Seseorang dari kebun kecil dekat kolam menghampiri kelimanya dengan senyum. "Selamat datang!" Pria tua itu menyambut Tim Lima dengan tergopoh. Ia membawa gunting kecil dan sekeranjang anggur hijau.
"Halo, Tuan Tukang Kebun!" sapa Tristian.
Sementara itu, Mr. Jonathan memberi salam dengan sedikit membungkuk yang diikuti siswanya. "Kami tim dari Maple Academy ...."
Belum selesai Mr. Jonathan memperkenalkan diri, pria tua itu memotong dengan tawa elegan sembari melepas sarung tangannya. Kemudian, seorang kurcaci muncul entah dari mana. Berjalan tergopoh menyambut keranjang, gunting, dan sarung tangan pria tua itu. Sekejap, pria tua dengan pakaian berkebun itu berganti penampilan menjadi sangat mewah.
Dari dalam barisannya, Mikalea menundukkan badan dan pandangan. Satu tangan menyilang di dada lalu ia mengucap, "Salam, Lord Raialtan Dabrizield Mal'Ara."
Keempat temannya terkejut dan lekas mengikuti Mikalea dengan canggung.
Lord of Greyness tersenyum ramah dengan wajah dipenuhi jenggot dan kumis yang mulai beruban. Tangan hangatnya segera menepuk rombongan yang datang dari jauh ini. Ia mengangguk. "Mikalea Midagad, aku pernah mendengar tentangmu."
Mikalea sedikit mengangkat kepala lalu menatap canggung Lord of Greyness penasaran. Namun, tak ada jawaban untuk memuaskannya.
Tristian memperhatikan jari tangan kiri Lord of Greyness tanpa berkedip. Seluruh jarinya dipenuh cincin batu mulia berbagai warna yang berkilauan, sementara tangan kanannya menggunakan sarung tangan mewah terbuat dari emas.
"Aku sudah menunggu kalian sambil berkebun," ucap Lord of Greyness sembari mengangkat tangan kanan. Patung di sepanjang jalan pun berhenti memainkan musik sambutan.
Kelimanya mengikuti langkah Lord of Greyness menyusuri pilar dengan lengkung khas di latar Dubbabriel Castle. Meja besar yang dipenuhi hidangan pun menarik perhatian, ditambah aroma khas daging asap, menggugah perut Nathan.
"Sepertinya aku lebih suka tinggal di tempat ini daripada harus kembali ke Maple Academy," bisik Tristian di telinga Elleanor. Ia bahkan sudah menyimpan kipas kecilnya di dalam tas. Hidupnya mulai damai sejak menginjakkan kaki di New Caerula.
Meja besar yang bahkan bisa digunakan bersama seluruh siswa Maple Academy itu hanya digunakan oleh enam orang. Ada patung kusam wanita setengah badan di meja. Sebuah ornamen meja makan yang unik. Lord of Greyness duduk di kursi utama, mempersilakan semuanya untuk makan, sementara beberapa kurcaci campuran goblin melayani di setiap suapan. Ia selalu tersenyum ke arah patung di tengah meja.
"Apa patung itu juga bisa hidup, Yang Mulia?" tanya Nathan.
Pria dengan jubah emas diwarnai pernik permata warna-warni itu menggeleng, membuyarkan pikirannya sendiri. "Ah, tidak! Versi asli dari patung itu sedang menikmati waktunya bersama para dayang. Istriku." Ia memperjelas begitu melihat tatapan bingung tamunya.
Tak berapa lama, kurcaci berkulit hijau semu cokelat menyediakan roti gandum di piring Lord of Greyness.
"Kudengar Yang Mulia tidak menyukai roti," ucap Mikalea, membuka obrolan.
Lord of Greyness tersenyum. Ia mengangkat rotinya yang telah diolesi madu sumaline setelah melepas sarung tangan. "Jika aku tidak menyukainya, bukan berarti aku tidak akan memakannya. Kau, orang tuamu, dan seluruh rakyat Whispering Sand pasti tidak akan pernah tau rasa madu sumaline dan hanya makan roti sepanjang hidup."
Tristian mengangguk. Rasanya ia sependapat dengan Lord of Greyness. "Benar, Yang Mulia," sahutnya sembari menatap Mr. Jonathan yang duduk di seberangnya. "Jika aku berharap tidak ikut field trip ini, bukan berarti aku benar-benar tidak ikut."
"Itu karena kau tidak ada kesempatan untuk kabur saja, Tristian," sindir Elleanor.
Tristian mengangguk ringan sembari menikmati dagingnya.
Nathan yang tak fokus dengan obrolan pun memulai topik lain. Mata birunya tak lepas dari tangan kanan Lord of Greyness yang baru saja melepas sarung tangannya. "Apa yang terjadi dengan tangan Yang Mulia?"
Lord of Greyness memperhatikan telapak tangan kanannya yang masih memiliki luka belum mengering. "Ini?" ia memasang raut serius, "karena alergi," jawabnya disertai tawa. Tatapan Lord of Greyness beralih ke arah para kurcaci yang bergotong royong membawa loyang besar berisi patung yang serupa dengan patung di meja—dengan versi lebih bersih dan lebih mengembang. Mereka mengganti patung lama dengan yang baru.
"Kenapa diganti?" gumam Mikalea.
"Karena itu terbuat dari roti gandum. Aku tidak ingin melihat patung istriku berjamur."
"Tentu saja aku memiliki yang seperti itu di kamarku. Tapi, untuk di meja makan, aku ingin membuatnya dari bahan makanan."
Sekeranjang buah berwarna cokelat gelap dengan bulir kecil yang bergerombol menjadi bulatan sebesar genggaman tangan disajikan. Begitu digigit, air buah sumaline langsung melimpah. Kelimanya langsung menyesap sari manis itu lalu mengunyah serat lembutnya.
Selesai dijamu hidangan lezat, kelimanya diajak mengelilingi bagian luar istana yang megah. Sembari menatap pemandangan kolam di tepian pilar dengan lengkungan itu, Lord of Greyness menceritakan wilayah tempat Dubbabriel Castle ini berdiri. Keluarga Lord of Greyness memiliki alergi turun-temurun terhadap salah satu jenis tanaman nymphaea, yaitu caerulea nymphaea.
Mikalea menggeleng. Rasanya ia tak pernah tahu jika nymphaea memiliki jenis itu, padahal ia anak yang tumbuh dengan pengetahuan mengenai tanaman di tanah Whispering Sand karena keluarga ayahnya selalu membuat ramuan penyembuh.
"Tanaman itu sudah langka atau malah memang sudah punah, tapi kau pasti pernah melihatnya sekali." Tak berapa lama, beberapa wanita dengan pakaian tertutup menghampiri begitu Lord of Greyness mengangguk pelan. Mereka membawa nampan berisi kain. "Ini adalah kain sutra etnik khas Whispering Sand. Pola kain ini menunjukkan bahwa kalian tamuku, jadi kalian bisa menjelajahi wilayah mana pun selama tujuh hari nanti." Ia menepuk bahu tamunya, sementara para dayang menyampirkan benda itu di bahu mereka.
"Wah, hebat!" Nathan terkagum. Ini pertama kalinya ia mendapat hadiah dari orang paling penting sekelas Lord of Greyness.
Mikalea masih tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Rasanya ia ingin memamerkan kain pemberian Lord of Greyness pada orang tuanya.
"Bagaimana dengan benda yang harus kita cari?" tanya Nathan.
"Santai saja. Itu, kan, hanya game. Kita nikmati jalan-jalannya, ketemu atau tidak ketemu bukankah tidak masalah?"
Elleanor melirik Tristian sinis. "Sekarang kita tahu siapa beban kelompok ini."
"Maaf, Yang Mulia. Bagaimana dengan clue-nya?" tanya Mr. Jonathan.
Lord of Greyness tersenyum menatap kelimanya bergantian lalu tertawa. "Bukankah sudah kuberitahu?" Kelimanya menggeleng pelan. "Pokoknya aku sudah menjelaskan clue-nya. Semoga kalian beruntung!" Ia berpamitan setelah menepuk bahu Mr. Jonathan.
"Apa dia punya gangguan ingatan?" komentar Tristian lirih. Seketika, tangan Elleanor tak tahan untuk memukul mulutnya.
Tristian memelototi Elleanor lalu beralih duduk di tepi kolam jernih. "Bukankah sekolah hanya mau kita membawa barang untuk kenang-kenangan kalau kita pernah field trip di sini? Jadi, kita bisa berikan kain etnik ini saja. Kita bisa tinggal di sini menikmati fasilitas dan keindahan Dubbabriel Castle selama tujuh hari," usulnya dengan tatapan berbinar ke arah halaman luas yang dipenuhi tatanan rapi kebun.
"Sedari tadi Lord hanya menceritakan istrinya, madu sumaline, dan asal-usul penamaan wilayah ini," ucap Elleanor tanpa memedulikan omong kosong Tristian.
"Yang namanya benda pusaka pasti disimpan di tempat aman, tempat paling aman. Ya, di istana sendiri," sela Tristian.
Semuanya mengutuk Tristian. Meski perkataannya benar, tetapi bukan itu jawabannya.
"Kuperhatikan dari tadi, Lord sangat suka menggabungkan hal yang ia suka dengan yang ia benci," jelas Nathan membahas madu sumaline yang dimakan dengan roti gandum dan patung istri tercinta Lord of Greyness yang dibuat dari roti gandum.
"Jadi, kita harus mencari roti gandum!" simpul Tristian.
"Aku sangat ingin menghukummu sepulang field trip nanti, Tristian Lightheart!" ucap Mr. Jonathan dengan penuh tekanan saat menyebut nama Tristian.
"Apa kalian memperhatikan tangan kanan Lord?" Mikalea menautkan alisnya. "Bukankah seharusnya seorang Lord tidak terluka?"
"Benar!" sahut Nathan. "Ribuan prajurit pasti melindunginya, pelayan kurcaci juga tadi selalu mengetes makanan yang akan dimakan."
"Pasti ada sesuatu yang melukainya dan hanya Lord sendiri yang tahu."
"Bukankah Lord alergi dengan tanaman yang disebut tadi?"
Mikalea menggeleng ragu. "Aku tidak pernah tahu jenis nymphaea itu. Lagi pula tanaman itu sudah punah, kan?"
"Lord bilang itu tanaman langka atau mungkin hampir punah," sela Tristian lagi. Ia menekankan kata mungkin yang membuat semua orang berpikir.
"Benar! Bagaimana jika benda tersebut disimpan di tanaman langka itu? Dan, luka di tangan Lord merupakan reaksi alerginya? Bukankah luka di tangannya tadi belum sepenuhnya kering? Beliau pasti belum lama memeriksa benda itu," jelas Nathan bersemangat.
"Jadi, kita harus mencari benda yang tidak tahu apa dan disimpan dalam tanaman langka yang entah di mana. Dan, lagi, belum pasti benda itu benar-benar berada di tanaman itu?" ucap Tristian terdengar sangsi. Namun, semuanya mengangguk yakin.