Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE WANDERING CAERULEA - THE SEVENTH



THE SEVENTH


"SIR, BANGUNLAH! TRISTIAN dalam bahaya." Mikalea menggoyang-goyang tubuh Mr. Jonathan yang mengubah wujud menjadi serigala dan tidur melingkar menghangatkan Nathan dan Elleanor dengan bulu hitam lebatnya di bawah pohon.


Mata besar Mr. Jonathan pun terbuka pelan. Namun, Mikalea tak mau bersabar, ia lekas menyibakan kelopak mata Guru Zoologi itu. "Kau mendapatkan informasi? Bagus! Sekarang tidurlah, kita lanjutkan perjalanan besok." Pria itu malah memberi celah baru untuk Mikalea menghangatkan diri dan bergabung dengan yang lain, bersandar di perutnya.


Mikalea bergeming dengan gurat protes.


"Maaf, dana kita tidak cukup untuk menyewa penginapan." Mr. Jonathan menjawab raut wajah Mikalea.


"Bukan itu. Tristian dalam bahaya!"


"Ah, benar juga!" Mr. Jonathan mengedarkan pandangan. Seharusnya efek ramuan yang Tristian minum sudah habis. Namun, sepanjang mata serigalanya menyapu kegelapan, tak ada sosok Tristian terlihat atau terendus keberadaannya.


"Dia ada di Ramadtaal Sand. Seseorang melihatnya di sana," terang Mikalea.


"Apa? Jadi selama ini dia tidak ikut kita?" Mr. Jonathan bangkit, sementara Elleanor dan Nathan terbangun begitu tubuhnya terjatuh ke pasir dingin, ditambah kibasan ekor Mr. Jonathan menyapu seluruh tubuh mereka.


Mikalea menatap Nathan yang masih setengah sadar. "Nathan, kau baik-baik saja?" Begitu mata biru Nathan menangkapnya, kesadaran laki-laki itu langsung kembali penuh. "Kau tidak apa? Sayapmu?"


Nathan lebih panik. Ia memutar tubuh Mikalea yang tak bersayap. "Cepat! Perlihatkan sayapmu! Aku mau melihatnya!"


"Sayapku baik-baik saja. Tristian yang seharusnya dikhawatirkan. Kakakku mengikutinya sampai ke sana tadi, tapi sekarang dia harus melanjutkan patroli. Jadi, kita harus cepat ke Ramadtaal Sand sebelum dia lebih jauh." Mikalea mengambil tas Mr. Jonathan dan mengeluarkan flyboard mereka.


"Bagaimana dengan bunga caerulea?" tanya Elleanor.


"Kita cari Tristian dulu," jawab Mr. Jonathan dengan tegas.


"Jadi misi mencari bunga caerulea kita ubah menjadi mencari Tristian," gerutu Elleanor.


"Bagaimana jika kau berada di posisi Tristian?" Suara Mikalea meninggi. Ia menghampiri Elleanor dengan langkah mantap. Mr. Jonathan berusaha menghentikan karena waswas keduanya akan saling menyerang.


Elleanor berkacak pinggang di depan Mikalea. "Aku akan tetap diam dan mengikuti rombongan ke mana saja!"


Mikalea menatap Elleanor dalam-dalam lalu alisnya mengerut. "Jangan-jangan kau sudah tahu sejak awal kalau Tristian tidak pernah ikut rombongan," tudingnya.


"Anak-anak!" Mr. Jonathan mencoba menghentikan adu mulut.


Elleanor mendengkus kesal menatap lawan bicara yang jauh lebih tinggi darinya. "Memangnya hanya aku saja? Bukankah kau juga sudah tahu? Mr. Jonathan juga pasti sudah tahu sejak awal sebagai seorang guru dan pembimbing?"


"Apa?" Mr. Jonathan protes begitu namanya turut dituduh. "Aku bahkan tidak bisa mencium keberadaan Tristian. Kalian juga tahu, kan, ramuan itu bisa menghilangkan jejak sekecil apa pun."


Mikalea menatap Mr. Jonathan yang berdiri di antara keduanya, menuntut penjelasan. "Sepertinya memang benar apa yang Tristian katakana, bahwa Mr. Jonathan Stroud tidak pernah membantu dan tidak pernah melakukan pekerjaannya dengan benar! Semua ini karena Mr. Jonathan merusak tongkat Tristian!”


Mr. Jonathan menghela napas sembari mengusap brewok dan kumis tipisnya. Ia tak mau terlibat lebih jauh dalam perkelahian. Buru-buru ia menepuk dada Mikalea dengan tangan yang bersinar kehijauan lalu ganti mengusap kepala Elleanor. Seketika kepala dan dada yang berapi-api itu mereda. Seharusnya ia menghemat energi untuk menjinakkan hewan gaib liar berbahaya. Namun, ia lebih kewalahan menghadapi siswa liarnya alih-alih menghadapi hewan gaib liar yang akan mengancam nyawa.


Belum sempat Elleanor menjawab, Mr. Jonathan lekas mendorong Mikalea menjauhi Elleanor sebelum terjadi ronde kedua.


Keempatnya tak menyadari sejak kapan langit pasir menjadi terang, rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Mr. Jonathan lekas berubah menjadi werewolf, Elleanor bergegas memanjat ke punggung guru Zoologi itu, Mikalea membentangkan sayapnya bersiap terbang, sementara kaki Nathan masih terpaku menatap ketiga orang yang baru saja selesai berseteru. Benaknya gusar, ia memainkan kuku jari.


"Nathan, ayo! Sebelum semakin siang dan terik!" Elleanor membuyarkan pikiran Nathan.


Netra biru Nathan bergantian menatap ketiga anggota Tim Lima. Ia menggeleng perlahan. "Aku tunggu di sini saja."


"Apa?"


"Kenapa?"


Elleanor dan Mikalea bersahutan melempar pertanyaan.


Seketika jajaran pedang runcing mengarah ke leher Nathan. Laki-laki itu bergidik ngeri melihat ujung runcing yang mengilap itu hampir menyentuh kulitnya. Kemudian, menatap Mikalea dan sayap pedang yang mengacung ke arahnya dengan tajam.


"Kau sudah mengacau lagi dengan bersikap seperti ini!"


Hati Nathan makin kecil. Semua yang ia lakukan rasanya selalu salah, padahal ia tak pernah bermaksud untuk mengacau.


Elleanor menarik Mikalea dan sayapnya menjauhi Nathan. "Kita tidak punya banyak waktu untuk bertengkar!" bujuknya seolah lupa bahwa ia juga membuang waktu untuk bertengkar tadi.


"Anak-anak, kita kemari untuk field trip, ingat? Di sini saya berharap kita bisa belajar tentang kerja sama tim. Jika Nathan kesulitan mengontrol kemampuannya bukan berarti kita harus membuangnya, jika Mikalea tidak bisa menahan emosi bukan berarti kita harus saling serang, jika Tristian membuat masalah bukan berarti kita harus membiarkannya, jika Elleanor salah bukan berarti kita harus menghakiminya. Mengerti?" Mr. Jonathan menatap ketiga siswanya yang mengangguk berbarengan.


 Berat hati Tristian menyerahkan diri untuk menjadi bulan-bulanan hewan itu. Ia perlahan mengintip, takut. Tinggal dua tiga langkah hewan itu menancapkan tanduk ke arahnya. Mata hitamnya menemukan sesuatu yang menarik jauh di belakang hewan itu. Ada kuil kecil yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.


"Holeora!" Seketika Tristian jatuh ke dalam lubang yang ia buat sendiri sebelum hewan itu menyerang. Suhu di dalam lubang pasir jauh lebih panas, membuatnya memelotot kaget.


Cukup lama Tristian memperbaiki ikatan yang kuat agar tongkatnya bisa menyatu dan bisa digunakan lagi meski kekuatannya sangat menurun jauh. Ia membuat peta sendiri di pasir sembari perlahan menghabiskan persediaan minum tanpa sadar. Laki-laki itu membuat posisi lubangnya dan posisi kuil yang cukup jauh. Kemudian, menghitung jika berlari sejauh itu, apakah hewan itu memiliki kemungkinan muncul dari bawah pasir atau sudah mengejarnya sejak keluar dari lubang. Energinya tak akan mampu berlari menghindari hewan itu.


Tristian menatap ke atas, sepertinya tak ada harapan. "Aku baru saja menggali kuburanku sendiri," gumamnya.


Suhu di lubang ini membuat Tristian berkeringat makin banyak. Kantong matanya pun menghitam dengan tatapan sayu. Bagaimana jika ia mati lalu angin membuat pasir-pasir menguburnya perlahan dan teman-temannya tak ada yang tahu di mana letak kuburannya?  Tristian mulai berhalusinasi memikirkan reaksi teman-temannya jika ia benar-benar mati dan terkubur di sini tanpa batu nisan.


"Akhirnya tidak ada Tristian!" ucap Elleanor lega.


"Jika Tristian masih ada bersama kita, pasti kita pulang dengan tangan kosong ditambah hukuman karena tidak menyelesaikan tugas," ucap Mikalea dengan senang.


Nathan turut mengangguk. "Akhirnya tidak ada lagi yang mengintimidasiku."


"Beban tim kita sudah berkurang. Ayo, kita selesaikan misi kita!" Suara Mr. Jonathan terdengar lebih bersemangat.


Tristian kesal membayangkan wajah Mr. Jonathan. Ia menghela napas panjang saat menatap langit berpasir sembari melepas dasinya yang berantakan lalu diikatkan di kepala. "Setidaknya aku harus mati dengan keren! Di Maple Academy nanti akan diumumkan Tristian Lightheart meninggal dalam peperangan melawan hewan buas di tanah pasir Whispering Sand!"


"Silanurtbi!" Sebuah tangga akhirnya muncul setelah berkali-kali Tristian salah pelafalan.


Tristian mengintip, tetapi hewan itu tak terlihat di mana pun. Ia yakin jika hewan itu sedang bersembunyi untuk menjebaknya. Ia bergegas berlari ke arah kui kecil yang terbuat dari batuan membentuk seperti piramida, dengan panggung di atasnya dan banyak lengkung pintu di bawahnya. Tak berapa lama, hewan itu keluar dari bawah tanah, membuat kabut pasir tebal. Tristian menggunakan sihirnya untuk membuat pasir makin berhamburan hingga debu mengepul tebal. Berharap dengan begitu, ia bisa kabur.


"Astaga! Berapa banyak jumlah penduduk Whispering Sand? Kenapa tidak ada siapa pun di sini atau setidaknya lewat saja? Lord of Greyness, pulangkan saja aku!" keluh Tristian sembari terus berlari tanpa arah.


Hewan itu berlari keluar dari kepulan debu pasir dan menunggu Tristian muncul, sementara rombongan Tim Lima berhenti di dekat kuil sembari memerhatikan pasir abu gersang dengan banyak bebatuan bekas puing yang terbakar ribuan tahun lalu.


Mr. Jonathan menatap jauh ke arah kepulan debu pasir. Terlihat seperti badai pasir kecil, tetapi hewan aneh seperti badak raksasa itu lebih menarik perhatiannya. "Astaga! Itu Karkadann.”


Mikalea mendengar sekilas lalu mengikuti arah pandang Mr. Jonathan yang setengah bergidik ngeri. Ia menatap takjub, memerhatikan baik-baik hewan itu. Ciri-cirinya persis seperti mitos yang beredar. Tubuhnya besar, dari kejauhan seperti badak raksasa, tetapi kakinya ramping dan kuat seperti kuda; ekornya panjang, runcing, lincah, dan kuat seperti jangkar kapal. "Akhirnya, kita menemukannya!"


"Tristian?"


Mikalea menggeleng. "Karkadann. Kata akar nymphaea, hewan itu tau apa yang kita cari."


Mr. Jonathan mengerutkan alis sembari mengusap rambut cepaknya. "Kita harus menemukan Tristian dulu."


"Tapi, yang kita cari sudah ada di depan mata, Sir!" kata Elleanor.


Mikalea menatap Karkadann dari kejauhan, benaknya tak ingin melewatkan kesempatan ini. Berhubung Mr. Jonathan dan Elleanor sedang berdebat, sementara Nathan fokus menatap Karkadann seolah sedang merencanakan sesuatu. Diam-diam ia mengubah diri menjadi Tristian, berlagak terengah dan lemas dengan pakaian kotor dan compang-camping, muncul dari belakang kuil.


"Bukankah itu Tristian?" Nathan menunjuk ke arah kepulan debu gelap yang menipis begitu air buatannya mengguyur area tersebut.


Buru-buru Mikalea mengubah wujudnya kembali sebelum Mr. Jonathan melihat dirinya menyamar menjadi Tristian.