Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
EXPEDITION FOR EQUALIZER - Ember



Ember


“SAM UINE, FALLEN Angel dari Frozen Ocean. Pelanggaran satu, meninggalkan asrama setelah pukul sembilan dan membuat jam asrama berteriak sepanjang malam; dua, membekukan jam ajaib dan meninggalkan asrama setelah pukul sembilan; tiga, memperlambat jarum jam dengan sihir es dan meninggalkan asrama—kau punya dendam apa, sih, dengan jam asrama Fantasi?”


“Remaja seharusnya tidak diwajibkan tidur pukul sembilan, Pak.”


James menurunkan kaki ke puncak kepala Sam, meretakkan cincin es yang tadi melayang di atasnya. “Buat petisi kalau kau mau mengubah peraturan!”


 Pepohonan rimbun sepanjang jalan menaungi para siswa yang berjalan menuju portal Maple Island. Mereka berkerumun sambil bersenda gurau menunggu Kepala Sekolah membuka portal menuju Invisible Gates untuk memulai field trip. Dua gadis duduk di bawah pohon berdaun biru, Shalima Sero dan Merlin Seraphina. Keberadaan mereka terlihat ganjil di tengah kelompok lain yang beranggota tiga sampai lima orang, plus satu guru pendamping.


“Uh, halo!”


“Halo kepalamu! Kalau kau terlambat lima menit lagi, bisa-bisa kelompok kita ditinggal tahu!” sewot Merlin. Di tangannya buku catatan yang digunakan untuk latihan menggambar runes.


Shalima menepuk pundak juniornya menenangkan, sementara yang berambut biru memalingkan wajah karena kesal. “Sam, itu apa di jidatmu?” Ia mendekati Sam yang berdiri kaku dengan secarik kertas tertempel di dahi; tertulis bermacam rune rumit yang belum diajarkan kepada siswa kelas tiga.


“Kertas hukuman. Sedari tadi aku mencari Pak James Dakota. Katanya kertas hukuman akan dicabut sebelum field trip dimulai, tapi beliau tidak ada di ruangannya. Jadi, ya ….” Sam tidak meneruskan kalimatnya.


Shalima pernah mendengar tentang kertas hukuman ketika pelatihannya sebagai prefek. Kertas hukuman diberikan kepada siswa yang melanggar peraturan asrama secara rutin dan tidak bisa dicabut sebelum perintah tertulis dilaksanakan. Ia memicingkan mata, sepertinya ada beberapa tulisan yang bisa dibacanya dari kumpulan rune tersebut. “Lantai, bersihkan, laboratorium, koloseum—”


“Bersihkan lantai koloseum dan laboratorium dengan kain pel.” Sebuah suara rendah memotong. James Dakota muncul secara tiba-tiba dari belakang Sam. Ia menggumamkan selarik mantra sambil menarik kertas hukuman tersebut. Seketika rune memudar dan James memasukkannya ke saku jas. Guru Virologi tersebut kemudian memandangi muridnya satu per satu. “Shalima Shero, Merlin Seraphina, dan Sam Uine. Karena beberapa urusan, aku menggantikan Valina Grewynn sebagai pendamping kelompok kalian.” Sebaris kalimat, tegas, dan tanpa basa-basi. Shalima dan Merlin mengangguk menerima pernyataan sang pengelola asrama.


“Bukannya seorang guru seharusnya memberi alasan yang jelas kepada muridnya?” Namun, tidak dengan Sam. Bukan berarti ia suka mencari masalah, hanya saja sejak kecil apa pun yang ada di pikiran selalu dikatakannya.


James mengambil kembali kertas yang tadi dilepasnya dari dahi Sam. “Mau kutempelkan lagi di jidatmu?”


“Tidak, Pak. Terima kasih.”


Gagak berkoak lantang, tanda field trip akan dimulai. Kepala Sekolah membuka portal Maple Island dan mereka pun masuk mengikuti guru masing-masing.


Seusai tiba di sisi lain Invisible Gates, mereka dibawa menuju loket 22 yang berbentuk akar pohon raksasa. Mereka memasuki celah untuk tiba di dalam rootlift yang menampung seluruh rombongan menuju stasiun caterpilartrans—kereta berbentuk ulat bawah tanah. Berdiri di belakang Tim Tujuh, penglihatan mereka terhalang oleh anggota yang tinggi besar. Sam, James, dan Shalima keluar setelah lift terbuka dan mengamati interior ruangan berbau getah pohon. Shalima menengok ke kanan dan kiri.


“Ada yang lihat Merlin?”


Yang barusan disebut menyusul tergopoh-gopoh dari belakang. Ujung sepatunya penyok dan wajahnya terlihat masih menahan sakit. “Kakiku diinjak.”


“Oh, ya? Diinjak siapa?” Shalima berlutut dan merapal mantra penyembuh pada kaki juniornya.


“Si itu ….” Merlin menekan pelipis, berusaha mengingat wajah sang pelaku. “Yang tinggi, ganteng, rambutnya uban semua.”


“Mikalea?”


“Ah! Iya, Mikalea.”


“Parah, duh. Nama teman sendiri nggak hafal.” Si gadis penyembuh menepuk debu dari jubahnya sebelum berdiri. Matanya berkelana sejenak sebelum mendarat pada Sam. “Hei, Merlin! Coba kalau nama dia siapa?”


“Udin?” Merlin spontan menjawab tanpa rasa bersalah. Sepatu Sam gesit bergerak maju. “Hei, Sam! Kakiku JANGAN DIINJAK LAGI, ADUH!”


Shalima menghela napas panjang melihat kelakuan juniornya. “Yuk, lanjut jalan, yuk!”


“Kalian punya ember?” James memecah keheningan di kursi dua kali tiga mereka.


“Tidak, Pak.” Mereka bertiga menjawab sambil mengangkat alis. Kenapa tiba-tiba bertanya sesuatu yang tidak berhubungan dengan field trip?


“Hmm, intinya saja. Karena saya juga tidak membawa, kalau kalian tidak tahan mabuk perjalanan, silakan bilang dan nanti akan saya berikan penawarnya.”


Mereka spontan menggeleng. Ulat itu hewan yang lambat, kan? Ralat, hanya Sam dan Merlin, sementara Shalima mengubur wajah dalam-dalam ke tas di pahanya. Suara kondektur menggema di seisi kereta, mengumumkan bahwa kereta akan mempercepat laju.


Tiga, dua, satu.


Sontak mereka tersentak, kecuali James yang berpegangan pada sandaran tangan. Kereta melaju dengan kecepatan yang tidak kira-kira. Sam mulai merasa mual dan memberikan isyarat untuk meminta penawar mabuk. Merlin yang melihat hendak meminta satu pula ketika Shalima menahan tangannya dan berbisik, “Jangan.”


Merlin ikut membenamkan kepala ke tas di paha dan menanyakan kepada senior di sisinya. “Kenapa, Kak?”


“Sakit, serius.”


“Banget?”


“Banget.”


Merlin mengernyitkan dahi setengah tak percaya ketika Sam tiba-tiba berteriak. Ia mengangkat kepala lalu mendapati James dengan sebuah jarum suntik di tangan dan Sam yang kini tak sadarkan diri. James mengangkat alis, menanyakan apakah ia ingin penawar juga. Merlin menggeleng sopan dan kembali membenamkan wajah ke tas, menahan mual. Ia ingin pulang saja.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti puluhan jam, mereka pun sampai di tujuan. Maple Hostelry, bangunan tempat menginap yang dimiliki oleh Kepala Sekolah. Shalima mengantar Merlin ke tempat pemberangin terdekat sambil menepuk-nepuk punggungnya. Rangkaian acara dihentikan sebentar karena seluruh siswa mual, muntah, atau sedang dibopong James karena tidak sadarkan diri. Sambil menunggu siswa memulihkan diri, dua goblin berwajah sama menyambut dan menjelaskan cara kerja penginapan.


James memasuki ruangan terlebih dahulu dan menaruh tubuh Sam di salah satu kamar. Ia kemudian memastikan bahwa Shalima dan Merlin paham cara kerja Hostelry. Kemudian, berpesan bahwa dirinya akan berkeliling Winterwall untuk mencari bahan percobaan. Mereka memiliki waktu yang bebas digunakan sampai hari esok.


Setelah sesi pukpuk dan menganginkan diri, Shalima mengantar juniornya ke kamar. Ia memutuskan untuk tidur demi menghilangkan pusing akibat kereta ulat. Merlin yang kondisinya lebih parah memutuskan untuk mengikuti, sementara Sam masih belum terbangun dari bius sampai waktu bebas mereka selesai.


Esok harinya, mereka berkumpul dan Kepala Sekolah memberikan arahan terakhir sebelum berangkat menuju Invisible Gates. Kepala Sekolah hendak mengantarkan mereka ke caterpilartrans lagi ketika seluruh siswa memprotes. Beliau pun mengadakan voting untuk seluruh siswa dan staf. Hasilnya adalah, seratus dibanding nol dengan pilihan mencari kendaraan lain atau menaiki caterpilartrans lagi. Akhirnya dengan menggunakan koneksinya sebagai kepala sekolah, beliau menyewa skyship, kapal magis yang dapat berlayar di udara.


Di kapal udara tersebut, mereka melihat keseluruhan isi Winterwall dari atas. Mulai dari dua kastil utamanya yang dikelilingi tembok tinggi dengan patung malaikat besar penjaga gerbang, Castle of Angels tempat tinggal para bangsawan, City of Angels yang riuh dengan penduduk bersayap di bawah kaki bukit landai, Warmfill tempat berbagai ras berkumpul dan benda-benda dari berbagai daerah yang belum pernah mereka lihat diperjualbelikan, sampai Invisible Gates tempat mereka akan turun dan memulai perjalanan.


Sambil menggambar sketsa Kota Winterwall pada buku catatannya, sesuatu terlintas di pikiran Merlin. Jika hasil voting seratus dibanding nol, bukannya Kepala Sekolah juga memilih tidak menaiki caterpilartrans, ya?


Sisa perjalanan diisi dengan menunggu pesawat mendarat sambil berpura-pura tidak mendengarkan omelan bendahara sekaligus wakil kepala sekolah kepada Kepala Sekolah yang menggunakan sepotong besar anggaran hanya untuk transportasi siswa. Setelah keluar dari skyship, sesuai kelompok mereka tiba di Invisible Gates. James meminta kelompoknya memeriksa barang bawaan sekali lagi sebelum ia membuka portal menuju Malice Island dengan destinasi City of Ruse.


 “Maaf, Bapak, tapi untuk masuk ke City of Ruse tanpa membayar, perlu ada stempel resmi Maple Academy.”


Shalima, Sam, dan Merlin duduk bertopang dagu di tangga batu. Sudah setengah jam mereka di sini, ujung lain portal di Invisible Gates. Penjaga City of Ruse memintai berbagai macam persyaratan yang makin lama menyulitkan, atau mereka bisa memilih untuk membayar dengan harga setara dua ramuan sihir termahal di toko Maple Academy. James dan The Prof—pendamping kelompok yang sedaerah dengan mereka—kukuh memperlihatkan izin yang mereka dapat dari Kepala Sekolah. Beruntung James memiliki artefaknya, Talaria—portal sepuluh kali sepuluh sentimeter yang digunakannya untuk mengambil berbagai persyaratan di ruang kerja. Stempel Maple Academy, surat identitas guru, sertifikat membuka portal. Sam yakin bahwa penjaga City of Ruse hanya mengarang mengenai persyaratan dan ingin membuat mereka membayar biaya masuk.


Tiba-tiba langit Malice Island berubah gelap, awan-awan hitam berkumpul dan berputar di atas kepala mereka. Kilat hitam melintas seiring petir menyambar pohon terdekat, menyebabkan penjaga City of Ruse panik dan segera menyelesaikan proses administrasi. Mereka hendak melanjutkan perjalanan ketika badai turun disertai hujan lebat dan angin kencang.


James menyenggol lengan The Prof. “Mau menunggu badai selesai?”


The Prof menggelengkan kepala. “Ingat pesan Kepala Sekolah, jangan berhenti sebelum sampai di kediaman Lord of Darkness.”