
Zurück Zu Dimmen
MEREKA HAMPIR SAJA melupakan satu syarat lagi dalam permainan Fenrir. Claryn dan Lily bertukar pandang, sedangkan Vendard menyatukan alisnya. Keheningan menyatu bersama ingatan yang diputar kembali. Mereka mengungkap secara bersamaan.
"Satu syarat lagi."
Mr. Samael melangkah perlahan. "Ya, cahaya bulan sempurna."
"Mengapa Fenrir meminta kita menemuinya pada saat cahaya bulan sudah sempurna?" Lily bertanya tak mengerti.
Vendard merenung, mencoba meraba-raba ingatannya. "Werewolf akan menjadi kuat bila terkena cahaya bulan, apalagi cahaya bulan sempurna—"
"Akan menjadi lebih kuat?" potong Claryn penasaran.
Vendard berjalan perlahan dengan tangan kiri yang memegang rambut. Kakinya berhenti di langkah ketiga. “Aku tidak tahu kalau untuk Fenrir.”
Mr. Samael merentangkan tangan kiri dengan kedua jari seperti menarik sesuatu. Dalam sekejap sebuah buku dari ruang multifungsi melayang dan mendarat di atas telapaknya.
Lily melebarkan retina. "Sir, buku apa yang kau tarik dari ruang multifungsi?"
Buku tersebut berdiri menghadap pada ketiga murid. Judul Werewolf begitu terlihat jelas di sampulnya. Mr. Samael hanya melentikkan kedua jari dan lembar-lembarnya bergulir dengan cepat. Ketiga murid takjub melihatnya. Setelah berhenti di halaman yang dicari, Mr. Samael berjalan ke arah dinding kristal dengan pemandangan Gleitser Wood yang cukup kecil dilihat dari Chrisella Castle.
"Fenrir juga termasuk werewolf," ungkap Mr. Samael. Jari tangannya menyusuri setiap tulisan. "Bila cahaya bulan jatuh dengan sinar yang begitu sempurna, Fenrir akan menyerapnya sehingga kekuatan apa pun yang dimiliki akan bertambah dan kemungkinan besar akan menjadi lebih kuat. Apakah mungkin itu muslihat dari Fenrir?"
"Jika itu benar, Claryn bisa diandalkan untuk menyerap cahaya bulan," usul Lily.
Claryn tersenyum memahami dan melanjutkan, "Ya. Untuk sekarang kita harus fokus dalam pembuatan bunga terlebih dahulu.” Efek dari asap napas dingin mulai berkurang di, itu artinya ia sudah sedikit pulih.
Setelah kedua syarat dari Fenrir dapat diselesaikan, Tim Empat mulai bergegas untuk menyiapkan pembuatan bunga golden hibiscus. Ruangan multifungsi berubah menjadi ruangan yang penuh dengan perabotan di sebelah kiri dan rak-rak buku berjajar di sebelah kanan. Lily hendak berjalan untuk mengambil mangkuk kecil, sementara Vendard langsung meletakkan cetakan bunga di atas meja dengan Claryn yang sudah mulai bersiap-siap.
Mr. Samael berjalan ke ruang multifungsi. Setelah tiga langkah, ia langsung membalikkan badan. "Aku akan mencari tahu tentang periwinkle, di samping kalian membuatnya."
"Yes, Sir!" Mereka menjawab kompak.
Setelah mengambil mangkuk kecil, Lily kembali bergabung dengan Claryn dan Vendard. Ia mengambil serbuk sari dan memasukkannya. "Warna dari golden hibiscus lebih mengarah ke oranye terang.”
"Kemungkinan besar warna yang aku hasilkan akan pucat karena ini hanyalah serbuk sari. Jika hari itu yang kau ambil satu kelopak, mungkin—"
Vendard memandang keduanya dan memotong, "Setidaknya tetap akan menjadi golden hibiscus walaupun warnanya pucat."
Claryn terdiam karena memikirkan sesuatu. Setelah lima detik dilanda keheningan, ia menyeringai ke arah Vendard dengan alis yang bergerak naik turun. Vendard menelan ludah dengan perasaan curiga. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
Claryn mengagetkan Vendard dengan menepuk bahu. "Cowok bertubuh tinggi yang kuat dan berani, apakah kau bisa membuat kuali yang berisikan api berwarna oranye terang?" Entah itu kata-kata pujian atau hinaan, bahkan senior di sampingnya juga ikut tertawa.
"Kau cukup membuat kuali saja, cepatlah! Kita bukan menyuruhmu menaiki caterpilartrans," kata Lily.
Mr. Samael berjalan dan membaca setiap judul buku. Tangannya berhenti pada buku dengan judul Periwinkle, mengambilnya, dan langsung duduk. Baru saja membuka halaman pertama, bibirnya melebarkan senyum. "Periwinkle adalah tanaman yang sulit ditemukan dan bisa tumbuh hanya setahun sekali. Tumbuhan ini mempunyai banyak warna. Semua warna mampu meluluhkan. Jika benar-benar membutuhkan periwinkle, bisa dengan membuatnya. Akan tetapi, warna yang dihasilkan tidak akan keluar. Berbeda halnya dengan pembuatan periwinkle yang mendapatkan cahaya besar dari luar. Setidaknya ada warna yang dihasilkan meskipun sedikit pucat."
"Aku akan menyerap cahaya itu dan membuatnya di cetakan. Cepatlah, Vendard!" bentak Claryn dengan mata menyala.
"Baiklah! Sebaiknya kau hilangkan mata menyala tajam itu, cewek bersayap!" protes Vendard.
Claryn membalasnya dengan membulatkan mata. Vendard tak acuh. Secepat mungkin ia mengambil rantai di dalam tubuh dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan sudah bersiap-siap untuk mengubahnya. Setelah rantai itu berada di telapak tangan, Vendard menangkupkannya bersamaan dengan mulut yang komat-kamit. Sebuah kuali kecil dengan api oranye terang—sesuai permintaan gadis bersayap itu—melayang di tengah-tengah tangannya.
"Groß." Lily terkagum.
Mr. Samael merasa tidak puas dengan halaman pertama dari buku tersebut. "Fenrir meminta golden hibiscus, tetapi kita akan menggunakan cetakan periwinkle. Meskipun sama-sama mempunyai lima kelopak, warna keduanya jelas sangat berbeda. Periwinkle tidak mempunyai putik, sedangkan golden hibiscus mempunyai putik yang tipis dan sedikit panjang. Jelas sekali semuanya berbeda."
Vendard refleks menaruh kuali tersebut di atas meja kristal.
"Tunggu!" larang Lily. Tangan Vendard langsung mengambilnya dengan cepat. "Hampir saja kau mencairkan meja kristal itu!"
"Tidak!" Claryn menggeleng, "meja tersebut tidak akan mencair. Frozen Ocean tidak akan pernah mencair sekalipun sedang musim panas."
Vendard kembali menaruh benda itu di atas meja. Lily menabur serbuk sari ke dalam cetakan dengan perlahan. Claryn merentangkan kedua tangannya, mengambil napas yang begitu dalam. Matanya memejam dengan mulut bergerak pelan. Perlahan-lahan sinar berwarna oranye muncul meskipun sedikit samar.
Mr. Samael terus membaca setiap lembar buku. Entah di halaman ke berapa, ia tersenyum yakin. Ternyata dugaanku benar. Setelah mendapatkan semua pengetahuan dari buku Periwinkle, ia kembali berdiri untuk mencari buku tentang golden hibiscus. Setelah berhasil ditemukan, ia mulai membaca dengan badan menghadap ke arah ketiga murid. "Golden hibiscus sering dicari karena dapat menambahkan kekuatan. Bunga yang memang tidak mudah ditemukan dan pemiliknya hanyalah seorang Sif. Bukan hanya sebagai penambah kekuatan, tetapi semua orang seakan lupa dengan kegunaannya yang lain."
Netra Claryn kembali terbuka, retinanya menangkap jelas sebuah cahaya dari api yang mulai melayang dan jatuh ke dalam cetakan.
"Aku tidak mengira kau begitu hebat, gadis bersayap," seloroh Vendard.
Sial, cahaya itu meredup. Mata Claryn begitu merah menyala menatap Vendard. "Jangan menggangguku! Aku bisa kehilangan kefokusan!"
Lily mendorong tubuh Vendard pelan. "Kau ini. Diamlah, Vendard!"
Claryn kembali melakukan hal yang sama, tetapi tetap saja cahaya yang dihasilkan terus meredup. Cukup lama berdiri karena memikirkan kalimat ‘kegunaannya yang lain’. Mr. Samael akhirnya duduk. Dua buah buku dengan judul yang berbeda terbuka di hadapannya. Tangan kirinya terus membuka lembar buku berjudul Golden Hibiscus, sedangkan tangan kanannya membuka lembar buku Periwinkle. Tiba-tiba saja sebuah cahaya keluar dari kedua buku dan membuat lembar-lembarnya terbuka dengan cepat. Kedua buku itu tertutup selama beberapa detik dan kembali terbuka di halaman yang sama.
Mr. Samael bingung harus mengekspresikan perasaannya dengan apa. Tulisan dari kedua buku tersebut sangat berhubungan sehingga ia menyimpulkan, "Sebuah cetakan periwinkle dapat digunakan dalam pembuatan golden hibiscus untuk meluluhkan hati. Warna golden hibiscus yang dihasilkan sangatlah berbeda jauh, tetapi jika menginginkan warna yang sama, harus menyalurkan cahaya dengan energi begitu besar dan selalu menyimpannya di tempat hangat. Golden hibiscus dapat menguatkan dengan periwinkle yang bisa meluluhkan. Dapat dijadikan sebuah bunga yang mampu menyerap kekuatan dan meluluhkan hati jika proses pembuatannya benar."
Lily berjalan untuk menemui Mr. Samael. "Sir, kami mempunyai masalah."
Mr. Samael beranjak dengan kedua tangan mengambil buku. "Apa yang terjadi?" Ia duduk dengan mata yang meneliti cetakan. "Apa cetakan ini yang bermasalah?"
"Warna yang dihasilkan terus meredup, Sir," jawab Vendard.
Claryn menghela napas. "Aku terus berusaha, tetapi—"
Lily yang hendak duduk langsung memotong ucapan Claryn. "Sir, apakah kau bisa memberikan mantra permanen?"
Semua pandangan menatap tidak mengerti ke arahnya. Tidak ada yang salah dengan ucapannya, bukan? Lily benar, jika Mr. Samael memberikan mantra permanen ke dalamnya, mungkin saja cahaya bunga tersebut akan bertahan lama.
"Tidak! Aku tidak bisa memberikan mantra permanen dalam pembuatan bunga tersebut," tolak Mr. Samael.
Ketiga murid menatapnya penuh tanya. Mr. Samael sedikit berjalan dengan kedua tangan memegang buku yang sudah terbuka di halaman sama.
Vendard membenarkan posisi untuk menghadap ke arah Mr. Samael. "Kenapa, Sir? Bukankah mantra permanen akan membuatnya bertahan lebih lama?"
"Dari kedua buku yang aku baca, pembuatan tersebut harus benar karena bisa menjadi sebuah bunga yang dapat menyerap kekuatan dan meluluhkan hati. Di samping itu, aku tidak bisa karena bunga tersebut hanyalah imitasi."
Ketiga murid menghela napas pasrah. Syarat dari permainan Fenrir bukanlah hal yang mudah dan sedikit tidak masuk akal. Itu semuanya sangat berisiko. Tim Empat tidak boleh salah dalam pembuatan bunga tersebut.
"Baiklah, kita akan membuatnya dengan benar dan semoga saja warnanya akan bertahan," kata Claryn.
"Aku akan meniupkan kehidupan di samping kau yang membuatnya," tambah Lily.
Claryn mulai menyerap cahaya api dan menyalurkan ke dalam cetakan dengan Lily yang meniupkan kehidupan. Vendard terus membuat api menyala dengan besar. Satu per satu kelopak mulai tumbuh, tetapi kembali meredup.
"Kalian harus menggunakan kekuatan cahaya yang lebih besar jika ingin membuat cahayanya bertahan lama," usul Mr. Samael.
Ujung bibir Lily terangkat sedikit dengan wajah yang tampak memikirkan sesuatu.