Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
BLUE LIGHT STONE - Periwinkle



Periwinkle


VENDARD MEMEJAMKAN MATA dengan erat. Otot-otot di tangan kanannya mulai membesar seakan terisi penuh oleh lipatan lemak. Badan yang membusung memperlihatkan begitu kuatnya ia. Perlahan-lahan tangan kirinya mengecil, sudah seperti sapu lidi. Hanya beberapa detik saja, matanya kembali terbuka lebar. Rupanya ia sudah memasukkan tangannya ke tubuh.


Claryn menyenggol lengan Vendard kasar. "Vendard! Lebih baik kau seperti itu. Terlihat lebih ...." Irisnya terus meneliti laki-laki bertubuh tinggi besar itu dengan tawa yang tertahan. "Lebih kuat dan berani!”


"Kau mau aku mengikat tubuhmu?" ancam Vendard dengan nada tinggi.


Mr. Samael membuang wajah dengan sedikit tawa kecil.


"Jika kalian terus seperti itu, akan ada benih bunga yang baru di antara putik dan benang sari!" seloroh Lily.


Tubuh Vendard refleks bergeser dari Claryn dan mendekat ke arah gadis berambut merah. "Lebih baik aku mati supaya kau bisa menghidupkanku daripada harus menjadi bunga yang baru!"


Apakah ada yang salah dengan hati Mr. Samael? Ia benar-benar mencerna ucapan Vendard. Sudahlah, itu bukan apa-apa. Entah dalam keadaan sadar atau tidak Vendard berucap seperti itu, sampai-sampai wajah Lily terlihat merah merona dan mungkin tersipu malu.


"Cepatlah sebelum Fenrir menyerang kita!" desak Claryn.


Tim Empat mulai mencari batang pohon kecil, sementara Fenrir terlihat bosan memandang mereka. Setelah mendapatkannya, Vendard mengubah rantai menjadi pisau dan langsung memahat batang pohon menyerupai tangan. Tanpa menunggu lama lagi, Lily meniupkan kehidupan ke dalamnya lalu menempelkan ke tubuh Vendard dengan sedikit cahaya dari Claryn supaya tampak menyatu dibarengi Mr. Samael yang membacakan mantra.


Entah berapa kali Fenrir sudah melemparkan duri es ke arah pepohonan kecil. Tim Empat sama sekali tidak memedulikannya. Setelah tangan palsu tersebut menempel sempurna di tubuh Vendard, barulah mereka kembali menghadap Fenrir.


"Apakah kalian ingin merasakan asap dingin dan duri es lagi?"


Vendard mendengkus kesal. "Kau ini! Bersabarlah, kami akan memberikannya!"


Mata Fenrir langsung menyala terang sampai Tim Empat memalingkan wajah.


"Tunggulah!" Mr. Samael langsung memberikan kuali berapi yang berisikan golden hibiscus imitasi kepada Vendard. Setelah itu, Vendard berjalan perlahan ke arah Fenrir.


"Ayo, Vendard yang kuat dan berani. Kau pasti bisa! Jangan perlihatkan ketakutanmu!” goda Claryn.


Vendard ingin saja mematahkan sayap Claryn, tetapi ia tidak boleh terpancing emosi. Ia tiba di hadapan rahang Fenrir yang terbuka dengan lebar. Barisan gigi yang tajam menandakan betapa buasnya hewan itu. Vendard merasa ada ribuan gumpalan asap napas dingin di dalamnya. Meskipun sangat takut, ia berdiri dengan berani. Tangannya perlahan membuka kuali tersebut. Mr. Samael terus membacakan mantra yang ia tiupkan ke arah Vendard. Bersyukurlah Fenrir tidak mengetahuinya karena memejamkan mata. Claryn dan Lily justru saling pandang dengan harapan semua akan berhasil.


Lidah Fenrir tampak meraba-raba rahang karena Vendard belum memasukkan bunga itu. "Cepatlah! Masukkan bunga itu ke lidahku!"


Dengan tubuh yang terus bergetar, tangan palsu Vendard mulai bergerak masuk membawa golden hibiscus imitasi. Bunga tersebut sudah mendarat selamat di atas lidah Fenrir dan tiba-tiba saja asap napas dingin merenggut dengan cepat. Vendard memfokuskan mata, berharap menyaksikan bagaimana bunga itu masuk, tetapi sia-sia. Setelah bunga itu menghilang, tubuhnya refleks mundur. Sialnya ia sangat kuat sehingga tangan palsu itu melonggar dan lupa dibawa kembali. Benda tersebut terkulai di rahang Fenrir.


“Oh, tidak!" Mata Vendard hampir keluar melihat hal itu.


Cahaya biru dari mata Fenrir mengeluarkan asap napas dingin. Ia menatap tajam ke arah Vendard sambil mendengus geram. Mr. Samael, Claryn, dan Lily melongo melihatnya.


Lily menggelengkan kepala dan menatap Mr. Samael. "Sir, bagaimana ini?"


"Kita harus bersiap-siap, sebelum sesuatu mendekat! Terus perhatikan Fenrir!" tegas Mr. Samael.


Tubuh Fenrir bergerak tidak terkendali, ekornya melayang membawa ribuan duri es ke arah Vendard. Secepat mungkin Vendard mengeluarkan kembali tangannya. Ia juga berubah wujud menjadi seekor serigala. Namun, tubuhnya tidak akan sama dengan Fenrir yang begitu besar.


Duri es mulai menyerbu Vendard. Cakar tangan laki-laki itu terus membelah duri es dengan tubuh yang bergerak menghindar. Ekornya melayang gesit, mencoba melindungi tubuh dari duri. Kedua kakinya menjadi tumpuan. Kepalanya menunduk saat duri es mengincar. Jantungnya berdegup dengan napas tidak beraturan. Sepertinya Fenrir sangat murka. "Aku sungguh kewalahan karena ribuan durinya. Bantu aku!"


Fenrir sudah tidak bisa dibiarkan. Mr. Samael, Claryn, dan Lily berlari untuk membantu Vendard, tetapi tiba-tiba Fenrir mengarahkan rantai dari kakinya ke arah mereka.


Claryn bergerak maju sembari mengembangkan sayap untuk mengendalikan rantai yang bergerak ke segala arah dengan cahaya dari tangan. Sementara itu, Mr. Samael mengepakkan sayap untuk menghalangi rantai. Lily melihat akar-akar pohon yang pernah mengikat kakinya dan langsung meminta mereka untuk mengikat rantai Fenrir meskipun harus memohon berkali-kali.


"Aku tidak tahu apakah akar itu berguna atau tidak. Setidaknya itu bisa menghentikan gerakan dari rantainya," ujar Lily.


Akar-akar tersebut mulai membesar dan berusaha menangkap rantai Fenrir. Ujung rantai yang mengincar tubuh Lily tertangkap basah oleh Claryn sehingga gadis itu mengeluarkan cahaya untuk menghalaunya.


Sungguh, semua itu tidak terduga. Tim Empat berusaha melawan dengan berbagai cara, tetapi Fenrir terus menyerang tanpa ampun ataupun memberi mereka sedikit rasa kasihan. Tidak. Fenrir tidak akan membiarkan mereka selamat.


"Kalian harus merasakan akibatnya karena telah menipuku! Bunga itu bukanlah golden hibiscus! Bunga apa yang kalian berikan kepadaku?"


Vendard terus memecahkan duri es yang mengincarnya. Mr. Samael, Claryn, dan Lily bekerja sama untuk mengikat rantai tersebut. Fenrir menatap cahaya bulan yang begitu sempurna. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Ya, kau benar. Bunga itu bukan golden hibiscus, melainkan periwinkle," ungkap Lily.


Tim Empat benar-benar sudah menipu Fenrir. Fenrir tidak bisa lagi melayangkan duri es ataupun menyerang dengan rantai. Akar-akar pohon dengan bola mata yang hampir menangkap rantainya kembali masuk karena hewan itu menyemburkan asap napas dingin.


Sayap Mr. Samael muncul dan melebar. Sayap yang begitu besar. Ia terus mengepakkan sayap berkali-kali dan membelakangi tubuh Fenrir, berharap bahwa asap napas dingin tersebut perlahan memudar.


Asap itu terus menyembur meskipun Fenrir memundurkan langkah menuju cahaya bulan. Seketika saja Vendard mengubah rantai menjadi perisai. Mr. Samael bersama Claryn melebarkan sayap untuk melindungi Lily. Satu dari kedua sayap Mr. Samael terus mengepak di sekitar asap yang perlahan berhasil dihilangkan. Kemudian, matanya mendapati Fenrir yang tengah berlari. Setelah asap napas dingin menghilang, mereka berusaha mengejar hewan itu.


"Clar, kau harus cepat menyerap cahaya bulan!" perintah Mr. Samael.


Claryn mulai bersiap-siap untuk mengepakkan sayap. Matanya memperhatikan Fenrir yang sedang menuju sebuah tebing di mana pancaran cahaya bulan mengarah dengan sempurna. "Aku akan menyerap cahaya bulan. Mohon bantu aku dan bekerja samalah untuk mengalihkan perhatiannya!"


"Kau harus berdiri di mana cahaya bulan itu jatuh dengan tepat," kata Mr. Samael.


Claryn terbang dengan sangat cepat. Ia sudah tiba sebelum Fenrir.


"Kau tidak akan bisa lari, Fenrir! Percuma saja, kau tidak akan bisa menghindar!" teriak Lily.


Mr. Samael mengepakkan sayap dan berdiri di hadapan Fenrir. Sebuah mantra yang keluar dari mulutnya seolah-olah menahan kaki Fenrir. Lily yang melihat itu langsung mengendalikan pohon untuk mengepung, tetapi Fenrir terus berusaha menyerang. Fenrir menggerakkan kepala yang sudah bersiap-siap dengan asap dingin ke arah Lily. Vendard yang mengetahui itu langsung mengubah rantainya menjadi cermin.


"Lily, aku akan melindungimu! Jangan bergerak sedikit pun!" teriak Vendard. Ia tiba dengan cepat sehingga berhasil melindungi Lily saat asap napas dingin itu mendekat. Matanya menatap wajah Lily dalam. "Kau tidak perlu takut. Aku ada bersamamu.”


Lily mendekat dengan tangan yang memegang erat baju Vendard. Asap napas dingin yang menyentuh cermin berhasil diarahkan Vendard ke ribuan pohon. Mr. Samael yang melihat itu langsung membacakan mantra ke arah Fenrir untuk mengunci mulutnya. Selain kekuatan sayap, Mr. Samael juga ahli dalam segala mantra.


Cahaya bulan yang mengarah ke tebing sudah mulai berkurang. Claryn tak peduli dengan Fenrir yang akan melemah. "Lily, kau harus cepat mengepung Fenrir!"


Lily kembali merentangkan tangan dengan lebar. Akar pohon itu mulai membesar dan menjalar ke tubuh Fenrir, mengepungnya. Vendard menggunakan kesempatan itu untuk mengikat pohon dengan rantai, sementara Claryn menutupnya dengan tombakkan cahaya.


Mata Fenrir begitu lemah saat menatap cahaya bulan yang sudah sedikit meredup karena Claryn yang terus menyerapnya. Mr. Samael membulatkan kedua tangan ke arah Fenrir lalu menutupnya seperti simpulan untuk mengelilingi tubuh Fenrir supaya hewan itu tidak berontak lagi.


"Lepaskan aku!" Tunggu, bukankah Mr. Samael sudah mengunci mulut Fenrir? Bagaimana mungkin ia masih bisa berbicara?


Mr. Samael menatap tak mengerti. "Bukankah aku sudah mengunci mulutmu?"


"Mungkin kau lupa, ini wilayah kekuasaanku. Suaraku menggema di mana-mana. Meskipun mulutku terkunci, hatiku tidak!"


Tidak mungkin usaha yang mereka lakukan sia-sia. Ketiga murid itu menatap khawatir ke arah Mr. Samael. Cahaya bulan sudah meredup sempurna, tetapi ada setitik cahaya yang masih menyala. Cahaya tersebut bersinar di tubuh Fenrir. Fenrir menggerakkan kepala menatap Tim Empat tajam. Cahaya biru dari matanya menyala dengan buas.


"Sir, bagaimana bisa?" tanya Claryn.


"Kita sudah mengepung Fenrir. Tidak mungkin dia bisa keluar," tambah Lily.


Vendard meneliti tubuh Fenrir. "Mungkin cahaya dari mata Fenrir menyala, tetapi lihatlah, ujung ekornya mulai menghitam."


Ya. Golden hibiscus imitasi mulai bereaksi di dalam tubuh Fenrir. Mr. Samael pun memerintah, "Kita harus mengucapkan tulisan itu!"


Keadaan membisu, memperlihatkan Fenrir yang terkepung dengan kuat. Tim Empat saling pandang dan berucap, "Hidupkanlah aku untuk meluluhkan hati."