
THE FOURTH
TRISTIAN MEMIMPIN JALAN dengan sapu terbang ajaibnya. Perlahan ia melayang sepuluh jengkal dari pasir lalu meninggi perlahan menjauhi timnya. Wajahnya semringah begitu gagang sapu yang terbuat dari kayu leguminosae itu membawanya membumbung. Mr. Jonathan menyeimbangi kecepatan Tristian dengan keempat kaki berbulu hitamnya. Ia harus ekstra hati-hati atau Elleanor dan Nathan yang menumpang di punggungnya terjatuh.
"Wah! Aku benar-benar tidak percaya dia bisa bertingkah seperti itu, padahal dia yang memuntahiku saat di caterpilartrans," kata Nathan. Mata birunya tak lepas dari Tristian yang sedang terbang meliuk-liuk menggunakan sapu terbang ajaibnya, berbaur dengan penduduk lokal yang sedang berseliweran di udara.
"Tolong jangan berteriak di telingaku!" gerutu Elleanor.
"Maaf.” Nathan berbisik.
"Menjauh dari telingaku!" Elleanor bersandar di tubuh werewolf Mr. Jonathan. Jemari kecilnya makin erat berpegangan pada bulu hitam werewolf itu.
Nathan memandang ke arah Tristian dan Mikalea yang terbang bebas. Ia tak berani menatap Elleanor. Sebenarnya ia tak bermaksud membuat Elleanor kesal, tetapi juga tak ingin membuat dirinya makin dibenci seniornya.
"Jangan mengganggu lalu lintas penerbangan atau kartu identitasmu akan ditahan!" Mikalea menyejajarkan posisi terbangnya dengan Tristian.
Tristian celingukan mencari sosok yang dibicarakan Mikalea. Mikalea berhasil meraih dan menjaganya untuk terbang dengan tenang di sisinya. Tak berapa lama, seekor kumbang merah menghampiri keduanya. Ia memperhatikan sosok Tristian yang tampak asing menggunakan sapu terbang di lingkungan yang semuanya menggunakan sayap.
"Ras Penyihir, huh?" Kumbang itu meneliti penampilan Tristian lalu menatap ke dataran. "Dan, dua orang yang menunggangi werewolf?" Matanya memicing keheranan.
"Kami sedang field trip di sini." Mikalea menjelaskan.
"Kami tamu Lord Raialtan Dabrizield Mal'Ara." Mr. Jonathan menghampiri kedua siswa laki-lakinya sembari menunjukkan kain etnik yang terkalung di leher masing-masing.
Kumbang itu mendekatkan matanya yang bisa memanjang ke masing-masing kain lalu melepaskan mereka begitu mengetahui kain etnik tersebut asli dari Lord of Greyness. Mikalea kembali memimpin jalan menuju Ubudtaal Sand di wilayah Asfartaal Sand. Seingatnya, para nymphaea tinggal di rawa Ubudtaal Sand meski tak ada ingatan tentang nymphaea berjenis caerulea.
Kelimanya terbang dengan kecepatan yang telah ditentukan oleh wilayah Whispering Sand. Jalur udara perlahan tak terlalu ramai begitu tiba di perbatasan Abyadtaal Sand dan Asfartaal Sand, wilayah yang memiliki tambang batu mulia. Sekali lihat, batu mulia berwarna-warni menarik perhatian mata Tristian yang mulai cekung. Mikalea segera mendorong ujung gagang sapu Tristian agar kembali ke arah yang benar. Ia sangat tahu bahwa bocah ini akan selalu mudah terhipnotis, apalagi sekarang laki-lak itu terlihat mulai berhalusinasi.
"Sebentar saja! Aku hanya mau mengambil lima batu dengan warna yang berbeda," rengek Tristian yang masih terobsesi perhiasan Lord of Greyness.
"Sir, Tristian sepertinya dehidrasi!" teriak Mikalea dari atas.
"Cepat bawa dia turun!" Mr. Jonathan mempercepat langkahnya.
"Kau kira batu yang tergeletak begitu saja di pasir tidak ada pemiliknya?" Mikalea menarik paksa Tristian agar kembali ke jalan yang benar, tentunya sambil terus mendengar rengekan laki-laki itu sepanjang jalan.
Setibanya di Ubudtaal Sand, Mr. Jonathan kembali ke tubuh manusia. Sementara itu, Tristian langsung ambruk di atas pasir, sapu terbangnya mengecil dan kembali ke dalam saku celananya. Wajahnya pucat dengan mata sayu dan semangat hidup yang hampir tidak ada. Ia berkata, "haus," tanpa suara.
Mr. Jonathan mengeluarkan persediaan air minum dari tas ajaibnya, memberikan beberapa teguk untuk siswanya. Namun, ternyata bukan hanya beberapa teguk. Satu botol penuh air masih belum mengobati dahaga di tenggorokan Tristian. Ia terus meminta lebih dan lebih.
"Apa dia pikir kita menyimpan air minum untuk dirinya sendiri?" celetuk Elleanor yang belum mendapatkan setetes pun air.
"Aku hampir mati kehausan, kau tahu!” jawab Tristian.
"Memangnya hanya kau saja yang kehausan? Aku perempuan dan aku ras Manusia. Di antara kalian, seharusnya aku yang fisiknya paling lemah. Bukankah kau bisa memakai sihirmu? Apa gunanya tongkatmu ini?" Elleanor merampas tongkat sihir dari port di pinggang Tristian lalu melemparnya ke sembarang arah.
Tristian lekas bangkit dengan mata memelotot. Ia membuka telapak tangan dan tongkat itu kembali ke genggamannya. Meski begitu ia tak terima dengan perlakuan seniornya.
"Tris?" Mikalea berdiri tepat di hadapan Tristian yang sudah mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Elleanor. "Kita satu tim, dia teman kita, dan ini bukan di Maple Island!"
Sementara itu, Mr. Jonathan meminta bantuan Nathan membuat sumber air untuk mengisi persediaan. Mr. Jonathan menggunakan kaki werewolf-nya untuk menggali pasir lebih cepat, sedangkan Nathan menarik air dari dalam pasir agar naik.
Tristian mendorong Mikalea sembari merapal mantra dan mengarahkan pada Elleanor. "Dari awal aku tak suka dengan ras Manusia. Seharusnya kau mematahkan kebencianku, tapi kau malah membuatku semakin membenci rasmu!"
Mr. Jonathan segera menerkam Tristian sehingga mereka bergulung di pasir. Satu kaki werewolf Mr. Jonathan menahan seluruh tubuh Tristian di pasir. "Menyerang teman sendiri hanya dilakukan oleh orang lemah! Kau tidak lemah, kau penyihir hebat! Jadi bersikaplah seperti yang seharusnya."
Tristian berusaha melepaskan diri dari genggaman kaki besar Mr. Jonathan. Ia menatap werewolf berbulu hitam itu dengan tajam. “Baiklah! Aku tau. Lepaskan aku!”
Mr. Jonathan menyingkirkan kakinya, kembali ke tubuh manusia, dan menyusul Tristian yang berjalan melewati Elleanor dengan tatapan kesal.
"Makan itu air!" teriak Tristian.
Mikalea, Nathan, dan Elleanor mengisi botol-botol. Benda itu disimpan di tas Elleanor, sementara dua sisanya disimpan di tas Nathan. Kelimanya pun melanjutkan perjalanan menuju rawa setelah tenaga terisi. Mikalea memimpin jalan. Udara tetap terasa panas meski beberapa pohon dan daun bergoyang-goyang.
"Apa di sini tidak ada satu pun rumah?" tanya Mr. Jonathan.
Elleanor tampak beberapa kali membenahi posisi tasnya yang melorot dari bahu. Tristian yang berjalan di belakang pun merasa terganggu dengan gerakan tiba-tiba Elleanor. Ia merebut tas gendong lalu beradu mata dengan gadis berkacamata itu.
"Hutan apa yang tidak ada pohon rindangnya sama sekali? Hanya ada sehelai dua helai daun," komentar Tristian di barisan belakang sembari mendorong Elleanor agar lekas berjalan.
Tak berapa lama Mikalea menghentikan langkah, diikuti keempat temannya. Kabut pasir terbentuk karena langkah mereka. Mereka menyejajarkan kaki menghadap rawa kering yang terhampar di depan mata, terlihat seperti adonan kue kering. Nathan mencelupkan ujung sepatunya, barangkali hamparan yang Mikalea sebut rawa itu hanya tanah keras yang bisa diinjak. Namun, ternyata dugaannya salah. Air di bagian dalam pun bergelombang menyisir permukaan atas yang kering tanpa ada satu pun tumbuhan hidup di dalamnya.
Mikalea tampak kecewa. "Seharusnya mereka ada di sini," gumamnya.
"Sudahlah," ucap Elleanor menenangkan.
"Sudahlah? Kita jauh-jauh datang ke sini meninggalkan Dubbabriel Castle yang mewah dan nyaman itu hanya untuk ini?" protes Tristian sembari mencabut tongkat sihirnya dari port dan langsung menembakan mantra ke sembarang arah.
“Anak-anak, hentikan!” teriak Mr. Jonathan yang sudah mulai malas menghadapi perdebatan siswanya.
Seketika, suara decitan pohon yang kesakitan menembus telinga Elleanor. "Kau gila! Kau menyakiti tumbuhan yang tidak bersalah!" Ia mendorong Tristian.
"Kubilang berhenti! Atau, kalian harus menuliskan kejadian ini di buku catatan perjalanan kalian!" ancam Mr. Jonathan. Tristian dan Elleanor tak menghiraukan. Keduanya masih saling bersungut.
"Kuperhatikan sedari tadi, sepertinya kau sangat berusaha membuatku kesal, huh?" Tristian selangkah maju berhadapan dengan gadis dengan rambut dikepang itu. Ia menodongkan tongkat sihir yang berpendar pada ujungnya, pertanda telah diisi mantra dan menunggu ditembakkan.
"Tristian Lightheart!" Mr. Jonathan menaikan suaranya. Tanpa pikir panjang, ia lekas merebut tongkat sihir siswanya dan dipatahkan dengan energi werewolf.
Tristian tertegun, kompak bersama tiga murid yang lain. Ia mematung memerhatikan tongkat sihirnya terbelah menjadi dua di kedua tangan guru Zoologi itu.
Emosi Mr. Jonathan perlahan mereda lalu mengikuti arah pandang para siswa ke genggaman tangannya. Ia tak berniat mematahkan tongkat sihir itu. "Tris, maafkan ...."
Langkah mundur Tristian menghentikan kata-kata Mr. Jonathan. Laki-laki itu mengambil kembali tongkat sihirnya dari Mr. Jonathan. "Aku benci tim ini! Seharusnya aku berada di asrama sekarang, atau ikut ke Frozen Ocean, atau ke Winterwall. Malice Island pun tak apa!"
"Tris ...," panggil Nathan yang dipotong dengan pelototan Tristian.
Tristian ingat masih menyimpan ramuan hijau yang ia pesan di Waymart dengan menghabiskan uang tabungannya selama setahun. Ramuan yang bisa menambah energi, durasi, dan bisa menghilangkan jejak. "Anggap aku tidak pernah ada di tim ini!" Ia lalu menenggak habis ramuan itu dan menggunakan kemampuannya menjadi transparan.
"Tris, maaf," bisik Mikalea, lesu. Meski bukan ia yang mematahkan tongkat sihir, tetapi ia merasa semua ini berawal dari kesalahannya.
"Tristian, aku benar-benar minta maaf! Kau boleh marah, kau boleh melakukan apa pun yang kau suka, tapi kau harus tetap ikut perjalanan ini. Jika tidak, kau tidak akan tau jalan pulang ke Maple Academy," kata Mr. Jonathan ke arah Tristian terakhir terlihat tadi. Tak ada jawaban dari Tristian. Indra menciumannya pun tak bisa melacak posisi Tristian. "Kuanggap kau setuju. Oke?"
Elleanor masih sibuk mengeluarkan suara seperti gesekan daun yang tertiup angin. Kadang seperti gesekan daun yang digoyang kasar dan berganti seperti gesekan daun kering yang beterbangan. Tak berapa lama ia menoleh ke arah timnya yang sedang duduk bersandar di batang pohon dengan gurat sedih lalu menggeleng.
Mikalea menghela napas. "Haruskah kita kembali ke Dubbabriel Castle dan menanyakan clue-nya pada Lord Raialtan Dabrizield Mal'Ara?"
Ketiganya diam, tanda tak setuju. Tristian yang mendengar ide konyol Mikalea pun mendengkus kesal. Ia masih tak berniat menunjukkan diri.
"Apa di sini juga ada petugas kehutanan?" tanya Elleanor.
Mikalea bingung. Pandangannya mengikuti arah pandang Elleanor ke balik semak belukar yang digulung oleh tiupan debu pasir. Samar-samar tampak seekor lebah kecil serupa dengan warna pasir cokelat muda. "Bukan, itu hanya lebah biasa. Di Aakhdartaal Sand dekat sini ada peternakan lebah dan ulat sutra."
Elleanor segera mengeluarkan suara dengungan, menghentikan perjalanan lebah kecil yang melewati rombongannya. Gadis berambut panjang dikepang itu tampak bicara serius dengan lebah tadi. Gurat wajahnya pun berubah semringah begitu lebah itu terbang melanjutkan perjalanannya. "Aku tahu di mana para nymphaea itu!"
Ketiganya lekas menatap Elleanor antusias, menunggu penjelasan informasi yang gadis itu dapat dari lebah tadi. Nymphaea memang pernah tinggal di rawa ini sebelum para pengikut Pangeran 4 Ras membantai mereka. Setelah itu, mereka dipindahkan dan hidup subur di perairan Aakhdartaal Sand.
"Aakhdartaal Sand tidak jauh dari sini," ucap Mikalea, tetap bersemangat.
"Tristian? Kau masih akan begitu? Aku minta maaf, akan kuganti tongkatmu nanti." Ucapan Mr. Jonathan tak mendapat respons.
"Tris, aku minta maaf telah membuat kalian kesulitan," ucap Mikalea. Bola lumpur dari rawa melayang mengotori bagian belakang jubah oranyenya. Setidaknya ada respons dari Tristian.
Kelimanya mengular, melanjutkan perjalanan. Tristian yang berada di baris belakang pun menghentikan langkah begitu mendengar sesuatu di belakang, seperti suara pasir berjatuhan. Ia terhenti sejenak, menatap rombongan tim yang sudah beberapa langkah di depan dan sesuatu di belakang sana. Sesuatu yang memancarkan semburat cahaya berwarna-warni di balik semak-semak. Beberapa saat Tristian dilema, meski akhirnya membuat keputusan bulat. Ia melambaikan tangan ke arah rombongan tim yang mulai menjauh dari pandangan lalu bergegas lari ke arah sumber suara.
Mata Tristian berbinar saat mengintip dari semak. Ada seekor hewan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Hewan ini bisa ia banggakan di pertemuan Club Pencinta Satwa Gaib nanti. Begitu sadar bahwa sedang dalam keadaan tak terlihat, ia pun mendekati hewan yang sedang mengendus area tepi rawa tempat timnya beristirahat tadi. Mata merah hewan itu sedang menatap Tristian tajam, sementara Tristian hanya fokus pada tanduknya yang memancarkan semburat cahaya berwarna disertai uap yang terus mengitari.
Tristian berhenti sejenak begitu mata hitamnya bertemu dengan mata merah hewan bertubuh badak dengan kaki kuda itu. Laki-laki itu meraba tubuh dengan raut bertanya-tanya. Seharusnya ia masih dalam mode tak terlihat sampai beberapa jam ke depan, seharusnya hewan apa pun tak bisa melihat atau mengendus keberadaannya.
"Apa ramuan ini palsu?" Mata Tristian membulat dengan tubuh gemetar begitu hewan itu menatapnya sebagai mangsa. Ia memperhatikan pasir, langkahnya sama sekali tak meninggalkan jejak.
Apa itu keistimewaan hewan di hadapannya? Seketika Tristian pun berlari ke sembarang arah, menerobos dedaunan dan semak liar di bawah terik matahari.