
ELEMENT
“MERLIN. KUAKUI KAU pintar, hampir genius malah. Kalau kau tekun mempelajari satu elemen saja, sihirmu bisa jadi setara dengan murid kelas tiga, tahu.”
“Berisik. Diam. Tidak tanya. Keluar dari kamarku!”
Artefak adalah benda arkeologi atau peninggalan bersejarah yang biasa dicari karena kelangkaan atau efek luar biasanya. Artefak paling sering ditemukan pada reruntuhan bekas peradaban kuno, tetapi tidak jarang pula dijumpai kasus pembuatan artefak oleh individu dengan kemampuan luar biasa seperti Lord of Darkness.
James memutar permata pada cincin di jari tengah tangan kiri. Secara perlahan, ruang di hadapannya terdistorsi dan sebuah portal berukuran sepuluh kali sepuluh sentimeter muncul. Cincin ini bernama Talaria, artefak yang dibeli pada pelelangan dengan harga dua puluh kali gaji bulanannya. Efeknya adalah membuat portal yang terhubung dengan tujuan yang dibayangkan oleh pengguna. Sayang sekali akurasinya rendah sehingga penggunaan artefak ini terbatas pada tempat yang benar-benar dikenal olehnya, atau tempat di mana akurasi bukanlah masalah.
Portal di hadapan mereka sekarang terhubung ratusan meter di atas Cursed Oath Altar sebagai kamera pengintai untuk memperoleh informasi. Mereka mengamati area di sekitar dan mendapati sebuah sampan perlahan bergerak dari Cursed Oath Altar menuju sebuah pulau di sebelah selatan. James memindahkan portal tersebut lebih dekat dengan permukaan air supaya mereka dapat melihat lebih jelas siapa penumpangnya. Terdapat tiga orang di atas sampan, seorang pria dengan dua dayung di tangan dan dua orang yang tersungkur tanpa tanda-tanda kehidupan di belakang.
“Dua orang di belakang itu … mayat?” Sam menunjuk dengan ragu. Tidak ada penjelasan lain untuk apa pria di depan mengayuh dua dayung jika rekan di belakangnya bisa membantu, bukan?
James mengernyitkan dahi, berusaha memindahkan portal sedekat mungkin tanpa sepengetahuan target. “Kemungkinan besar begitu.”
Cursed Oath Altar adalah altar persembahan tempat dikorbankannya jiwa-jiwa pelaku kriminal yang tidak beruntung sebagai sumber energi alat sihir produksi Malice Island. Hilangnya satu atau dua mayat di antara ratusan lainnya tidak akan terlihat mencolok.
Sampan terus didayung hingga mencapai pulau tujuan. Pria tersebut turun sambil membopong kedua jasad sebelum menghilang di antara pepohonan rimbun yang melingkupi keseluruhan pulau, membuat pengamatan lebih lanjut mustahil dilakukan. James menutup portal dan memberi isyarat agar timnya mengikuti dari belakang.
“Dua koin emas? Oh, masih ada teman kami yang akan tinggal satu malam lagi. Fallen Angel, laki-laki, sayapnya hitam. Seluruh kamar akan dibayar olehnya. Senang berbisnis juga dengan Anda!”
Setelah meninggalkan penginapan, mereka berjalan menuju gerbang utara City of Ruse. Cuaca tidak seburuk kemarin sehingga lebih banyak orang berlalu-lalang. Sam menggenggam tasnya erat, khawatir kalau-kalau salah satu penduduk yang menyenggol sebenarnya berniat untuk menyilet bagian bawah tasnya. Sesampainya di gerbang utara dan membayar dua koin emas sebagai biaya keluar, mereka berdiri di kaki pegunungan tinggi, pemisah antara mereka dan perairan Black Sea.
“Kita serius akan mendaki sejauh ini?” Merlin menelan ludah, lututnya bisa-bisa lepas setelah sesi pendakian selesai. Andai saja ia membawa flyboard dari akademi.
Sam tersenyum lebar. “Bukan kita. Cuma kau, Sir James, dan Shalima. Aku, kan, bisa terbang.” Ia merentangkan sayap putih bersihnya, mengepakkannya satu dua kali sebagai pemanasan, dan mulai terbang ke puncak tertinggi.
Merlin menoleh ke arah James yang mengeluarkan tongkat gunung dari tasnya. Guru Virologi tersebut memang terkenal tidak pernah memakai flyboard bahkan ketika berada di lingkungan akademi. Shalima mulai berjalan mengikuti Sam yang memandu jalan dari atas. Senior tersebut juga terlihat seperti seorang yang aktif bergerak, jauh berbeda dengan Merlin yang kesehariannya dipenuhi oleh buku dan latihan sihir.
Shalima menepuk pundak juniornya dengan senyum pahit. “Jangan khawatir. Kalau lututmu lepas, nanti bisa kusembuhkan, kok.”
“Ayo, jalan! Semakin larut kita berangkat, semakin aktif hewan laut di Black Sea nanti.” James bertepuk tangan dua kali, meneriakkan perintah dari jalur landai kaki gunung.
Merlin merengut. Tidak ada jalan lain, ya?
“Sam! Gendong, dong!”
Sekarang mereka berada di puncak gunung yang satu jam lalu rasanya tidak mungkin untuk didaki. Merlin mengumpulkan napas yang seakan dirampas dari paru-parunya. Shalima duduk di sebelahnya, mengalunkan mantra penyembuh sembari menempelkan tangan pada kaki juniornya. James dan Sam mengamati sesuatu di bawah sana. Sebuah perahu kecil ditambatkan pada sebatang pohon.
Mereka telah mengamati perahu dari tempat berdiri selama lima belas menit. Tidak ada tanda-tanda pemiliknya akan datang. James awalnya khawatir bahwa perahu tersebut adalah jebakan dari kelompok penyerang yang mereka tangkap kemarin. Namun, kekhawatirannya menghilang setelah mengamati perahu tersebut dengan saksama. Perahu itu terlihat tua, penuh lubang, dan tidak layak pakai. Setelah turun dan mengumpulkan napas, Shalima memeriksa kondisi perahu tersebut.
“Bagaimana, Shal?” James mengamati lingkungan sekitar. Tergantung pada jawaban yang diterima, ia bisa jadi harus mencari alat transportasi lain untuk mencapai pulau tujuan.
“Bisa diatur, Sir.” Shalima menyentuh kayu di sekitar lubang pada perahu. Ia menutup mata, berkonsentrasi pada mantra di pikirannya.
Pada tahun ketiga, kemampuan penyembuhnya telah diasah hingga tingkat yang lebih tinggi. Ia kini mampu menyembuhkan bukan hanya dirinya dan orang lain, melainkan juga benda organik lainnya seperti kayu dan tanaman. Cahaya biru menyelimuti perahu tersebut dan perlahan kayu di sekitar lubang tumbuh menutupi cacat yang ada. Lima menit kemudian, perahu tersebut terlihat pulih kembali seperti baru.
Setelah James memberikan antitoksin supaya kelompoknya tidak terpengaruh oleh perairan beracun Black Sea, mereka menaiki perahu menuju pulau di selatan Cursed Oath Altar. Sam membuat dayung dari es yang diberikannya satu kepada Sir James. Mereka melintasi perairan tenang, begitu tenang sampai rasanya mereka tidak sedang berada di Malice Island.
“Hei, menurutmu siapa yang meninggalkan perahu di sana?” Merlin membuka pembicaraan di sela lantunan mantra angin untuk mendorong perahu agar berlayar lebih cepat.
Shalima mengangkat alis. “Barangkali pelaut yang mencari ikan? Perahu ini juga rusak, tidak aneh kalau ditinggalkan pemiliknya karena tidak bisa dipakai lagi.”
“Memangnya ada ikan yang bisa hidup di perairan beracun ini? Kalaupun ada, bukannya nanti dagingnya ikut menjadi beracun dan tidak bisa dimakan?”
“Benar juga. Lagi pula katanya bahan makanan diproduksi di Kota Tearsong yang perairannya tidak terhubung langsung dengan Black Sea.”
Mendengarkan obrolan dua gadis di belakangnya, Sam tanpa sadar mengamati permukaan air yang begitu tenang sampai terasa ganjil. Bukannya seharusnya ada beberapa makhluk laut berenang ke atas karena terusik oleh kayuhan dayungnya? Ia menempelkan telinga pada geladak kapal untuk mendengarkan lebih jelas suara dari bawah air. Jantungnya berhenti sejenak ketika sebuah raungan mengerikan menyerbu telinga.
Perahu berhenti bergerak. Mereka menatap satu sama lain, berusaha untuk tidak membuat suara apa pun. Misalkan di langit sebuah hutan tidak terdapat burung sama sekali, kesimpulan yang dapat ditarik adalah terdapat sesuatu yang membuat kehidupan di tempat tersebut tidak memungkinkan. Barangkali predator, polusi, atau semacamnya. Jika pada sebuah perairan tidak terdapat hewan laut sama sekali …..
“Barrier!”
James merapal mantra pelindung tepat ketika kepala seekor ular naga menerjang mereka. Gaya dari terjangan tersebut mendorong perahu mundur beberapa meter dari makhluk tersebut, memberikan mereka kesempatan untuk melihat lebih jelas. Makhluk tersebut adalah Hydra muda berkepala tiga setinggi empat meter, taring dengan racun yang menetes ke permukaan air, dan raungan keras memekakkan telinga.
“Sam, buatkan kita pedang es!” James bertitah.
Sam melemparkan sebilah parang es pada Sir James dan membuat satu lagi untuk dirinya. Bertarung di dekat permukaan air memberinya lebih banyak kesempatan untuk menggunakan sihir es.
Merlin merapal sihir api. Pada buku diktat pelajaran Zoologi, kemampuan regenerasi Hydra biasanya dihentikan dengan membakar bekas penggalan kepalanya. Meskipun begitu, jika diberikan pilihan, ia akan memilih menggunakan sihir untuk teleportasi sejauh-jauhnya dari tempat ini.