Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
THE LOST BEASTS - The Teacher



The Teacher


“PAYAH!” WOLFE MERUTUK. Laki-laki berambut putih itu menggaruk kepalanya gusar. Ia melihat sekeliling, memperhatikan gadis-gadis cantik dari tim lain yang berjalan mendahului. “Hei, Ashlen!” panggilnya sambil menyikut Ashlen, tetapi tidak kena.


Ashlen tidak menoleh atau menyahut. Ia menyimpan tenaga untuk sisa perjalanan mereka dari Invisible Gate sampai penginapan. Mereka baru saja berangkat dari Maple Island melalui portal, tetapi energinya sudah terkuras mendengar keluhan remaja serigala puber di dekatnya itu karena tidak setim dengan gadis mana pun.


“Ashlen!” Wolfe memanggil lagi. “Kau tidak menyukaiku, kan? Kalau begitu, bertukarlah dengan gadis di tim Adniel. Kudengar mereka akan ke Malice Island.”


“Dengar, aku di sini bukan untuk mendengar omong kosongmu.” Akhirnya Ashlen menjawab, ia memandangi Wolfe dengan mata yang sayu. “Bukan juga untuk memenuhi keluhanmu. Pulang dan merengeklah ke kawananmu! Itu pun jika mereka masih mau dengar.” Ia tersenyum sinis dan berbalik hendak pergi.


Wolfe menarik kerah kemejanya dengan kasar. “Apa katamu?” Ia menggeram. Gigi taringnya mencuat di sudut bibir. Ia terlihat makin mengintimidasi dengan sepasang iris keemasan yang berkilat kesal.


“Oh?” Ashlen memasang wajah sok polos, ia tertawa mengejek. “Kau punya masalah pendengaran sekarang?” Didorongnya bahu kokoh Wolfe sampai genggamannya terlepas. “Jangan kaget begitu. Kau menggangguku duluan, pikirmu aku akan diam saja?” ujarnya seraya merapikan kerah dan pin jubahnya.


Ashlen mengangkat tangan seolah menyerah. “Aku tak ingin terlibat masalah dengan guru.”


“Kau bermasalah denganku.”


“Tidak,” sangkal Ashlen dengan senyum kecil. “Sudah selesai. Jangan melewati batasmu. Aku bisa menggali lebih dari sekadar aib, jika aku mau.”


“Kau—”


“Wah, kalian akrab sekali.” Nastradamus menepuk punggung Wolfe keras, mengejutkan remaja itu. Ia tersenyum secerah langit musim panas. Penyihir pirang bertubuh pendek itu menatap kedua kawan jangkungnya bergantian. Nastradamus selalu tahu kapan harus muncul sebelum semuanya di luar kendali. Ia memastikan Wolfe yang selalu berkobar-kobar tidak terbakar apinya sendiri dan Ashlen yang seperti laut tidak tiba-tiba menjadi tsunami. “Kita hampir ketinggalan rombongan. Mereka sedang menuju loket 22. Jangan sampai Mr. Stroud menganggap kalian memperlambat seperti Tris.”


Wolfe melirik Ashlen yang tersenyum sinis. Ia mendengkus dan berjalan lebih dulu.


Di dekat Invisible Gate, terdapat sebuah pohon ash raksasa. Ashlen lupa namanya apa, terlalu sulit untuk disebut. Pohon itu adalah pohon ash paling besar, paling megah, paling hebat, dan paling indah di antara semua pohon. Akar-akarnya yang menjalar di permukaan bisa dijadikan tempat loket. Terdapat serentetan tempat loket berbentuk unik. Mulai dari bentuk tubuh pegasus dan centaurisde, torso, dan lain-lain. Di antara semua loket, Loket 22 terlihat paling sepi dan bentuknya pun biasa saja.


Setelah membeli karcis, masih di pohon yang sama, ketujuh tim karyawisata dibawa turun menggunakan rootlift. Rootlift membawa mereka menuju stasiun bawah tanah tempat transportasi lalu caterpilartrans akan membawa ke penginapan.


“Kereta ulat? Yang benar saja!” Wolfe meledek saat mereka keluar dari rootlift dan berjalan mendekati peron stasiun 22/2. Ia tidak sendirian, banyak siswa yang juga ragu ketika sebuah kereta api berwarna hijau keabuan berhenti di depan mereka dan pintu-pintu di tubuhnya terbuka otomatis. Di dalam caterpilartrans lantainya empuk, lampunya hijau lembut, dan dindingnya berkedut ketika disentuh. Interiornya sama seperti kereta pada umumnya, tetapi tanpa jendela.


“Apa yang bisa dilakukan kereta ini?” Wolfe bertanya skeptis sambil memeriksa bangkunya. “Mereka bahkan tak punya sabuk pengaman. Pantas loketnya sepi.”


“Duduklah dengan tenang,” tegur Thann, senior yang bertanggung jawab pada tim.


Tiba-tiba saja sabuk hitam muncul dari bangku dekat leher dan melingkari tubuh mereka seperti huruf X. Peluit dibunyikan tiga kali dan kereta bergerak maju, sangat pelan.


“Bagus sekali! Kita akan sampai besok.”


Dua menit setelah mengatakannya, caterpilartrans melaju dengan kecepatan tak wajar. Seolah tiba-tiba saja ulat ini dapat sokongan tenaga roket.


Ashlen memegangi sabuk dan merutuk ketika caterpilartrans tiba-tiba saja berputar, miring, terbalik, dan meliuk-liuk seperti rollercoaster. Ditambah lagi lampunya meredup hingga seluruh kereta berubah remang-remang. Para siswa berteriak-teriak panik dan suara orang yang akan muntah terdengar di mana-mana. Kereta melambat dan berhenti sempurna tak sampai lima belas menit setelah keberangkatan. Peluit dibunyikan sekali dan sabuk menghilang. Wofe berlari keluar paling kencang, bersumpah tak akan naik kereta lagi.


“Hei, Nastradamus! Masih hidup?” Ashlen mengguncang pelan tubuh kawan penyihirnya sampai ia terbangun.


Butuh waktu tujuh menit sampai semua siswa selesai menguras isi perut mereka. Wolfe muncul dan berbau muntahan, sementara wajah Nastradamus hampir menyaingi rambut rekan werewolf-nya itu. Senior mereka yang tegar sudah banjir keringat dingin dan Ashlen merasa kehilangan dengkulnya.


“Di mana ini?”


“Maple Hostelry,” jawab Thann sambil mengusap leher, suaranya sejernih mata air. “Ini penginapan kita. Hadiah dari raja Fallen Angels sebelumnya.”


Maple Hostelry adalah pondok berlantai dua dengan atap-atap kerucut seperti topi penyihir. Pemberhentian caterpilartrans tepat di depannya. Konon, bangunan ini menyesuaikan jumlah ruangan yang berisi kamar dengan banyak pengunjung. Ruangan hanya bisa dibuka dengan kartu ID anggota kamar dan kamar hanya bisa dibuka dengan kartu ID pribadi. Mereka dipersilakan masuk usai sepasang goblin yang saling menyahuti omongan memberi sambutan.


“Namaku Fa. Aku akan menunjukkan kamar kalian.”


Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka. Sesosok goblin setinggi lutut dan berwajah keriput seperti kulit pohon menyapa mereka dengan wajah tak ramah dan nada datar. Ia mengenakan jas kerja seperti pelayan hotel dan memimpin jalan dengan langkah-langkah kecil menuju lantai dua.


“Goblin yang ramah,” komentar Nastradamus.


“Tidak,” bantah Thann sambil menggeleng. “Ia punya enam kembaran lain dan tidak mau menoleh jika namanya tidak disebut dengan benar. Sulit membedakan mereka.”


“Yah, aku bisa melihatnya,” timpal Wolfe, menatap ngeri kembaran Fa yang berkeliling lantai dua menunjukkan kamar untuk tim lain. Wajah mereka sama, warna tubuh, bahkan pakaian. “Seseorang harus memperkenalkan benda bernama papan nama pada mereka.”


Fa berhenti di depan sebuah kamar dan meninggalkan tim. Ia tidak berbalik walau Nastradamus mengucapkan terima kasih.


Thann menempelkan kartu ID-nya di kenop pintu yang menyala hijau. Bunyi kunci terbuka terdengar dan mereka berjalan masuk.


“Kalian boleh melakukan apa saja hari ini. Perjalanan dimulai besok. Silakan pergi dan kembali sebelum santap siang. Kalian boleh pergi lagi usai itu hingga matahari terbenam.” Thann menatap rekannya satu-satu. “Kita akan bertemu guru pembimbing sebelum perjalanan dimulai, besok.”


 “Aku akan ke Library Wood.” Nastradamus mengikat tali sepatunya usai berbenah. “Kau mau ikut, Ashlen?”


Ashlen menggeleng.


“Kau mau pergi ke suatu tempat?”


Ashlen menoleh ke balik bahu. “Kau akan pergi dengan Nastradamus?”


“Tidak.” Thann memperbaiki sepatu di tumitnya.


“Wolfe mana?” Nastradamus mengintip kotak sepatu dan tidak menemukan sepatu kulit cokelat milik Wolfe.


“Dia dan Jace pergi tadi,” jawab Ashlen. “Kalian tidak akan tersesat, kan?”


“Santai saja. Sudah dulu, ya!” Nastradamus melambaikan tangan dan keduanya menghilang di balik pintu.


Tak lama setelahnya, Adniel datang dan mengajak Ashlen berkeliling Warmfill—sebuah desa tempat tinggal segala ras yang terletak di sepanjang pantai dan merupakan pusat perekonomian Winterwall.


“Bukankah aneh?” Adniel tiba-tiba berucap.


Ashlen mengerutkan dahi. “Apanya?”


“Winterland dibagi menjadi empat wilayah kerajaan: Winterwall, Frozen Ocean, Whispering Sand, dan Malice Island,” kata Adniel sambil menatap langit yang sesekali ditutupi bayangan malaikat bersayap, tidak seperti kawan di sebelahnya. “Setiap tempat akan dikunjungi dua tim untuk menemukan benda magis yang akan jadi objek belajar sekaligus koleksi sekolah. Tapi, timmu …,” ia menatap Ashlen dalam, “kalian satu-satunnya tim dengan guru pembimbing misterius dan perjalanan di pusat kerajaan, Winterwall.”


Ashlen tertawa renyah. “Seru, kan?”


 Usai sarapan keesokan paginya, semua tim dikumpulkan di aula lantai satu. Kepala Sekolah memberikan pesan-pesan penting dan menginfokan keberangkatan akan kembali dilakukan dengan caterpilartrans. Seisi ruangan menjadi ribut. Mereka berhasil ditenangkan ketika keputusan voting diambil. Keenam kembaran Fa menyebar ke aula dan membagikan buku panduan.


Ashlen menerima buku itu dan mengeluarkan bolpoin dari selipannya.


“Mr. Sol?”


Ashlen menoleh, bukan karena ia dipanggil. Ditatapnya Mikalea yang belum mendapatkan buku. “Kale, lihat di dahinya ada titik dua. Dia Mr. Re,” jelasnya lirih. Seketika goblin yang tadi memberi buku padanya menoleh. Mikalea tercengang.


Hm, mereka berlagak tuli jika bukan namanya yang disebut.


Ashlen menulis keterangan penolakan dalam bukunya begitu ada aba-aba. Keputusan terakhir menyatakan bahwa transportasi diganti. Transportasi alternatif lain adalah skyship, sebuah kapal terbang raksasa yang mampu menutupi matahari dan dikendalikan oleh beberapa ahli sihir.


“Gara-gara kapal terbang ini Miss Elafir marah-marah,” gumam Nastradamus lesu sambil mengorek kupingnya yang berdenging. Omelan Wakepsek itu masih terngiang di kepalanya, secara harfiah.


“Lebih baik dikatai manja berkali-kali daripada harus naik kereta itu lagi,” timpal Wolfe.


“Wah, sepertinya ada yang trauma karena meremehkan ulat.”


“Diam, Ashlen!”


Empat petugas skyship merapalkan mantra dari atas geladak, mengarahkan angin untuk merentangkan layar-layar. Kapal raksasa itu bergerak mulus, melintasi Warmfill yang seperti petak-petak hijau dan cokelat hingga tiba di Invisible Gate.


“Semoga beruntung, Ashlen.” Adniel menepuk bahu Ashlen.


“Tidak.” Ashlen menyingkirkan tangan Adniel dari bahunya. “Semoga beruntung, Ad.”


Adniel mendengkus. Ia berbalik dan berjalan masuk ke portal.


“Jadi, di mana Miss Grewynn atau Miss Venmaris?” Wolfe mengedarkan pandangan sambil mengendus udara. “Aku tidak mecium aroma parfum mereka.”


“Kau menjijikkan.”


“Apa aku mengganggumu? Tidak!”


“Sayangnya, Miss Grewynn atau Miss Venmaris tidak akan datang. Akulah pembimbing kalian.”


Ashlen dan Wolfe berbalik. Di belakang mereka, Thann dan Nastradamus tersenyum aneh sambil mengapit seorang anak kecil bertongkat clover daun empat yang hampir setinggi tubuhnya.


“Perkenalkan, namaku Mevelion Navarrious. Kepala Sekolah, Mr. M. Navarro memintaku mengawasi kalian.” Anak laki-laki itu mengangguk dengan wajah serius yang imut.


Wolfe tertawa garing. “Bercanda, kan?”