
Rock Paper Science
TEMARAM LILIN BIRU menerangi meja kayu yang mengilap, berjejer rapi sepanjang dinding ruang kerja James Dakota. Di tangannya terdapat beberapa lembar dokumen yang dibaca hati-hati. Di akademi, kontrak kerja bersifat mengikat dan bisa jadi ada satu dua klausa yang dengan cerdik diselipkan pada dokumen untuk menambah beban kerjanya.
Mevelionious Navarro, kepala sekolah Maple Academy, menunggu dengan sabar di sudut ruangan sembari mengamati lukisan antik seorang bocah bersayap yang terbang terlalu dekat dengan matahari. Sepuluh menit dan sepuluh jam tidak jauh berbeda bagi laki-laki keturunan peri-penyihir dengan masa hidup ratusan kali lipat lebih panjang dibandingkan James itu.
Setelah proses pengecekan ulang entah yang ke berapa kali, James akhirnya meletakkan lembaran tersebut di atas meja. Kakinya diselonjorkan ke setelah satu jam ditekuk.
“Jadi,” Mr. Navarro menghampiri meja mahogani, “terima atau tidak?”
James menghela napas. Mr. Navarro bisa saja langsung menetapkan tugas tanpa memberitahu terlebih dahulu. Semua dokumen ini hanyalah formalitas, bentuk kebaikan hati untuk memberikan James kesempatan bersiap diri menjalankan tugasnya. Dokumen tersebut berisi persetujuan mengambil posisi sebagai pengelola asrama. Artinya setumpuk dokumen yang harus ditandatangani paling tidak setiap satu minggu dan—terselip kecil sekali di sudut halaman kedua—mengurusi siswa pelanggar peraturan. Bukan pelanggar peraturan biasa, melainkan mereka yang membuat para kepala asrama menyerah untuk menegur.
“Deal.” James menekan stempel pada perkamen sebagai tanda pengesahan kontrak.
Mr. Navarro menerima dokumen tersebut dengan ucapan terima kasih lalu menyelipkannya di sela jari. “Oh, jangan lupa. Karena banyak komplain dari keluarga siswa, terutama keturunan bangsawan, aksi pendisiplinan tidak boleh dilakukan menggunakan sihir.”
“Tidak ada yang seperti itu di dokumen.” James mendengkus. Belasan kali lembaran tadi dibolak-balik olehnya ternyata masih ada yang terlewat.
“Ada, kok. Bunyinya ‘pendisiplinan ditegakkan sesuai aturan akademi’. Salah sendiri terburu-buru menekan stempel.” Mr. Navarro tersenyum lebar. Ujung sepatunya diarahkan ke pintu, bersiap ke luar setelah puas mendapatkan persetujuan kontrak. “Jangan khawatir, siswa juga tidak diperbolehkan untuk menggunakan sihir terhadap pendisiplin. Kalau mereka melanggar, baru pendisplin boleh menggunakan mantra dengan dalih membela diri.”
“Lalu, untuk siswa yang tidak menggunakan sihir? Ada juga werewolf, fallen angel, dan siswa yang keahliannya mencampur ramuan, kan?”
Mr. Navarro menjentikkan jari. Sepasang barbel besi muncul di meja kerja James. “Yang tidak diizinkan cuma sihir, kok. Sisanya, mah, bebas.”
Krov melangkah maju. Sihirnya sudah tidak bisa digunakan dan senjatanya terlempar entah ke mana. Anak buah yang dapat dihitung dengan jari terkapar di atas tanah, aliran mana mereka dikacaukan terlalu parah oleh Equalizer. Yang ada di hadapannya tinggal seorang pria dengan cukuran janggut tidak rapi dan gadis penyembuh yang berlutut di sisi Sam. Semua berjalan menyimpang dari rencana. Namun, jika ia bisa menghajar pria bernama James ini, keadaan akan kembali ke pihaknya.
Sekalipun badannya tertutup jas, Krov dapat menebak bahwa guru Virologi ini setidaknya empat sampai lima kilogram lebih berat darinya. Tangan yang mengepal berurat memperlihatkan bahwa James yakin ia memiliki keuntungan dalam pertarungan jarak dekat. Terpisah dua meter, James melayangkan pukulan lurus dengan tangan kanan.
Keras, tetapi mudah dibaca. Krov mengelak ke samping, menangkap pukulan tersebut. Lengan tangkapan sebagai poros, ia memutar badan untuk menopang tubuh James. Kakinya mengentak hebat pada tanah, membanting guru Virologi tersebut tanpa ampun.
James berdiri dan mengusap memar di pipi. Krov melompat maju, memutuskan mengambil inisiatif serangan. Tinju bertemu tinju, pukulan demi pukulan dilayangkan. Awalnya terlihat seimbang, tetapi perbedaan dalam kepiawaian segera tampak jelas. Kepalan tangan Krov mendarat di pipi, terlalu cepat untuk ditahan. Satu lagi pada perut dan dagu, James terhuyung ke belakang dan terpaksa melontarkan tendangan lebar untuk membuat jarak di antara mereka. Krov melompat ke belakang, napasnya terengah-engah.
Krov memang tidak pernah latihan angkat berat, tetapi seluruh kacungnya adalah mereka yang dikalahkan dalam pertarungan tangan kosong. Memang benar daerah Malice menganut hukum rimba, siapa yang kuat akan memimpin. Selama ia menyesuaikan diri dengan pengacauan mana, banyak pendatang yang menyusup, berniat mencuri artefak untuk dijual ke pasar gelap. Krov menghadapi mereka satu per satu, tanpa sihir meskipun terkadang dengan senjata.
James terlihat kacau, memar menghiasi kulit wajah dan napasnya tidak teratur. Ia memasukkan tangan ke jas, membuat Krov sigap mengambil ancang-ancang. Guru Virologi tersebut mengeluarkan tangan dari jas setelah beberapa lama, kosong. Krov menggertakkan gigi. Jadi lawannya hanya mengulur waktu untuk memulihkan diri? Ia menerjang, berniat untuk mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin. Staminanya tidak terlalu mendukung pertarungan jangka panjang. Pulau kecil yang ditinggali selama sepuluh tahun terakhir tidak menyediakan nutrisi yang cukup untuk memelihara tubuhnya dengan benar.
Pukulan gesit mendarat pada pelipis James, tetapi pegawai akademi tersebut bahkan tidak repot-repot menahan. Kaki pria berjas tersebut tertanam mantap di tanah, menjaganya tetap berdiri untuk serangan balasan. Hantaman keras pada ulu hati membuat Krov limbung. Mereka sekali lagi saling bertukar pukulan. Krov mulai kewalahan menghadapi rentetan pukulan dan akhirnya berhasil menyelipkan sebuah tendangan pada dagu, melontarkan James ke tanah yang dingin. Ia mengambil jarak, tangannya mati rasa. Bagaimana bisa James yang sudah babak belur bergerak seperti seseorang yang masih segar bugar?
Krov melihat tubuh yang tergeletak di tanah. Tendangan barusan sepertinya membuat James tidak sadarkan diri. Ia mengalihkan pandangan ke arah Shalima yang tersentak mundur. Gadis tersebut menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada pilihan, ia harus melindungi Sam dan Merlin yang tidak berdaya. Tongkat kayu di tangannya gemetar diacungkan ke depan.
“M-maju sini kau!” Shalima menghardik, tetapi suaranya yang terguncang tidak terdengar meyakinkan.
Krov mengepalkan tangan sekali lagi. Ia tidak pilih-pilih dalam menghajar lawan, pria maupun wanita. Kakinya sedang melangkah ke gadis penyembuh ketika bahunya dicengkram erat.
“Urusan kita belum selesai.”
Tidak mungkin.
James yang tadi terkapar di tanah sekarang jelas berdiri di belakangnya. Wajah guru Virologi tersebut penuh lebam dan berdarah, membuatnya lebih mengerikan ketika dilihat dari dekat. Tangannya menarik Krov turun, memperkenalkan hidungnya dengan dengkul kanan. Krov meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawan dan berhasil. Sikutnya menggasak pipi James, membuat pria tersebut jatuh tersungkur untuk yang kesekian kalinya.
Krov terhuyung, tangan kanannya memegangi hidung yang patah. James perlahan berdiri kembali, seakan luka pada sekujur tubuhnya tidak pernah ada. Seringai lebar memperlihatkan deretan gigi putih, kontras dengan wajahnya yang bersimbah darah. Krov menatap ngeri, kakinya mundur secara tidak sadar. Tangannya sudah mati rasa dan napasnya seperti akan putus kapan saja.
“Kau! Kenapa kau masih berdiri!”
James berjalan mendekat, perlahan tetapi pasti. Krov menggertakkan gigi, mengambil kuda-kuda untuk sesi tukar pukulan terakhir. Pukulan Krov mendarat pada kening James, meretakkan tinjunya tanpa dampak yang berarti. Lutut James menghantam ulu hati, mengirim si berandalan langsung ke alam bawah sadar.
“Kau … memang pandai bertarung.” James mengelap darah bercampur keringat di wajah. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah jarum suntik berisikan campuran painkiller dan stimulan. “Sayangnya aku tidak pernah bertarung dengan jujur.”