
Curfew
“AMBIL JARUM SUNTIK, biru, setengah milliliter ....” James berpesan, tetapi tidak sempat menyelesaikan kalimat karena lebih dulu hilang kesadaran.
Shalima membalikkan tubuh guru Virologi tersebut, menyibak jasnya yang penuh dengan berbagai perkakas. Sarung penahan pisau lempar, bola bom asap, dan sederet jarum suntik berisi cairan yang tidak dikenalnya kecuali satu. Shalima mengambil jarum suntik berisikan cairan biru, sama dengan yang digunakan James kepada Sam di dalam kereta ulat pada awal field trip. Mata cokelatnya menyapu hamparan tempat mereka berada. Tujuh orang anak buah Krov. Di dalam tabung terdapat lima mililiter, masih tersisa beberapa puluh tetes jika mereka harus naik caterpilartrans lagi.
Gadis penyembuh itu berkeliling, menyuntikkan bius satu per satu pada anak buah Krov sebelum membuang darah dari Equalizer dan membasuhnya dengan air bersih. Binar cahaya hitam berubah redup dan ia dapat merasakan sesuatu mengalir kembali ke dalam tubuhnya. Sebaris mantra diucap, Shalima meletakkan tangannya pada punggung Sam dan James, membiarkan energi kehidupan mengalir ke dalam tubuh mereka.
Kulit berjalinan dengan kulit, luka yang mereka terima perlahan menutup. Merlin menyangga tubuhnya dengan tongkat. Kepalanya pening karena belum sepenuhnya pulih dari efek Equalizer. Ia mengambil artefak tersebut, mengamatinya selama beberapa menit sebelum dilemparkan ke dalam tas.
Pandangan Merlin beralih ke arah Sam. Apa yang waktu itu termasuk rencananya dengan Sir James? Atau, memang sekrup di otaknya ada yang lepas sehingga ia bisa dengan bebas mencari perkara di saat sulit? Ia menghela napas, memutuskan untuk menyimpan pertanyaan tersebut ketika mereka sudah keluar dari pulau ini. Gemertak terdengar dari tangan Sam, sebagian tulangnya yang patah perlahan bergerak kembali ke posisi semula di bawah kulit. Ew.
Merlin berkeliling, mengamati anak buah Krov yang terlelap. Kepalanya bertopang dagu. Sebuah lampu bohlam figuratif muncul di atas kepalanya. Ia mengumpulkan mereka di tengah tanah lapang, merapal sebuah mantra, dan lubang vertikal seukuran manusia muncul menelan mereka, menyisakan kepala yang menyembul dari tanah. Ia menepuk tangan puas. Mereka akan bangun sekitar dua atau tiga hari lagi dan barangkali menghabiskan seharian penuh berusaha keluar dari tanah.
Sepuluh menit kemudian, proses penyembuhan berhenti. Kondisi mereka sudah kembali seperti baru, minus bekas biru pada wajah James dan beberapa bulu yang lebih pendek pada sayap Sam. Gadis penyembuh tersebut mengatur napas dan merapal mantra sekali lagi, berfokus pada tangan kiri Sam yang terkena darah Hydra. Lukanya sudah sembuh, tetapi masih terdapat bekas luka kimiawi yang tidak bisa hilang. Shalima menyikut lembut lengan Merlin yang hampir tertidur. Merlin mengerjap kaget, refleks mengacungkan tongkat ke arahnya. Kemudian, mereka tertawa.
Merlin mengangkat barang bawaannya. “Kita pulang?”
“Yup. Kita pulang.”
Pepohonan kering berjajar sepanjang jalan yang mereka jejaki menuju Invisible Gates. Suasana cenderung sepi. Mereka yang tinggal di pulau ini kebanyakan tidak memiliki dana untuk berpergian ke luar atau memang tidak diterima di pulau lain. Tim Enam duduk di bangku tanah buatan Merlin. Sungguh, tempat ini sepi sekali sampai tidak ada yang berinisiatif menyediakan kursi bagi mereka yang menunggu.
Cuaca hari ini tidak seperti ketika mereka sampai. Matahari bersinar terang, jalanan ramai penuh penjual, pengemis, dan sepertinya beberapa pencopet. Sam mampir sebentar ke sebuah kios dengan tulisan diskon lima puluh persen untuk membeli apel dan sebuah lubang silet muncul di bagian bawah tasnya ketika kembali.
“Dompetku hilang.” Sam merengut. Apel yang tadi dipegangnya dikembalikan ke kios penjual.
Merlin menghela napas, melangkah ke kios yang sama dan membeli satu kantong. Ia kemudian duduk di depan Sam, menikmati apelnya tanpa menawari. Sam merengut kuadrat sampai Shalima membujuk Merlin untuk memberikan satu.
Bunyi sol sepatu bertemu jalan berbatu mendekati mereka. Kelompok The Prof sampai di gerbang sepuluh menit setelah waktu yang dijanjikan. Pakaian mereka terlihat lusuh, lubang bekas senjata terlihat di beberapa titik. The Prof mengambil tempat duduk di sebelah James. Merlin menggerakkan jari, kursi tanah mereka bertambah panjang dua meter untuk mengakomodasi pendatang baru.
“Kau dapat artefaknya?”
James menjawab dengan gumaman tidak jelas, tangannya merogoh tas dan mengeluarkan tengkorak yang sudah dicuci bersih pada koleganya. The Prof menerima benda tersebut, mengamati, dan me
“Memang licik Lord of Darkness generasi ini. Ketika sampai di Witchcraft Laboratory, kelompokku diserang oleh puluhan orang. Puluhan, kubilang. Setelah satu jam bertahan, rombongan pasukan baru datang membantu.”
“Oh, kaghasihan”
“Kau bicara apa? Aku tidak paham. Satu lagi, kenapa topeng?”
James merenggangkan topeng rubahnya yang digunakan menutupi memar di wajah. “Jangan bertanya.”
The Prof kemudian menceritakan perjalanan kelompoknya: bagaimana mereka bertahan satu jam penuh melawan puluhan penyerang, tentang wanita yang menyambut mereka masuk yang ternyata adalah istri Lord of Darkness, dan proses mereka menghabiskan waktu selama seminggu mempertahankan Witchcraft Laboratory dari serangan beberapa kelompok—bukan anak buah Krov—yang mengira The Prof mendapatkan sesuatu setelah keluar dari kastil Lord of Darkness.
“Istri Lord of Darkness?”
“Benar. Katanya semua sudah direncanakan olehnya untuk memancing kelompok yang ingin menggulingkan kekuasaan Lord of Darkness. Bisa-bisanya tamu yang baru diterima dari akademi dijadikan umpan!”
Setelah reuni kecil-kecilan selesai, mereka bersiap untuk kembali ke Winterwall sesuai perintah. Sam, Merlin, dan Elleanor mengambil tas dan mengusap tanah yang menempel di bagian bawahnya. The Prof membuka portal, menuntun agar siswa dari kelompoknya masuk terlebih dahulu. Kondisi mereka terlihat lebih buruk karena tidak memiliki penyembuh dalam kelompok. Shalima dan Merlin masuk setelah mereka. Sam hendak memasuki gerbang ketika James menahan bahunya, memutar tubuh bocah tersebut, dan menempelkan kertas mantra di jidatnya. Wajahnya berubah muram.
“Sir, Anda bilang kertasnya akan dicabut waktu field trip dimulai.”
“Daghn ahnya segwahaktu fghield tghrip. Jahgngan luhapa pel lahgntai labhaoragtorhium dahn koglosheum dehngagn behrgsih.”
“Sir, topengnya.”
“Dan, hanya sewaktu field trip. Jangan lupa pel lantai laboratorium dan koloseum dengan bersih.”
Sam membuka mulut, hendak memprotes, tetapi akhirnya mengurungkan diri. Ia berjalan lunglai ke arah portal lalu menghilang. James tersenyum lebar di bawah topeng rubahnya. Kertas mantra yang tadi bukan berisi hukuman mengepel lantai seperti kemarin, melainkan rune berisi izin untuk keluar dari asrama setelah pukul sembilan. Bisa dipakai dua kali seminggu. Sebagai pengelola asrama, ia memiliki kekuasaan untuk membengkokkan peraturan sedemikian rupa dan keberanian—kesembronoan—Sam kemarin pantas diberikan apresiasi.
Barangkali jam malam memang seharusnya bukan pukul sembilan.
Owariii!