
The Library Wood
SEORANG PENGAWAL ISTANA yang diperintahkan kanselir mengantarkan mereka ke perpustakaan kastil. Perpustakaan kastil itu besarnya luar biasa, desainnya mirip aula dengan tangga spiral untuk mencapai buku-buku dan perkamen yang menutupi seluruh dinding kanan ruangan. Terdapat atlas Winterland yang dilukis di dinding sebelah kiri, sementara di kedua sisi pintu masuk ada lubang-lubang seukuran bola sepak untuk meletakkan gulungan-gulungan yang kertasnya berwarna kuning. Di tengah-tengah ruangan ada sebuah meja panjang dan sofa, sedang di depannya ada beranda berpintu ganda yang diapit lemari dan jam dari kayu elm.
Di atas pintu beranda ada dua puluh foto raja terdahulu. Raja Habriel yang kini memerintah ada di tengah-tengah. Pria itu dilukiskan memiliki mata biru dengan bentuk menyerupai mata elang, hidungnya mancung, garis rahang tegas yang ditumbuhi rambut-rambut hitam tipis, dan bibirnya entah tersenyum atau tidak. Rambutnya berwarna hitam berombak menyentuh bahu. Ia mengenakan mahkota berhias permata dan sepasang sayap keemasan membentang gagah.
Luas perpustakaan ini menakutkan. Ashlen yakin ia bisa tersesat di dalam sana. Wolfe juga pasti setuju karena tampang jeri terlukis di wajahnya, sedangkan Nastradamus terngaga. Penyihir pirang itu terlihat lapar dan kehausan yang bukan untuk makanan atau minuman. Tanpa menunggu menit berganti, ia sudah berada di anak tangga melingkar. Wolfe mendengkus dan menyeret kaki mendekati sofa. Wajahnya berseri-seri saat dua troli kudapan berjalan masuk.
Di sebelah Ashlen, Thann terlihat tak yakin ingin melakukan apa. Menurut Ashlen, seniornya ini bukan tipe yang seperti Wolfe, tetapi tidak gila seperti Nastradamus. Mungkin ia suka belajar dalam kadar normal sepertinya dan melihat buku-buku sebanyak ini justru membuatnya bingung ingin memulai dari mana.
Jadi Ashlen menawarkan, “Mau ke luar?” Ia melirik beranda yang pintunya terbuka. Sesuai dugaan laki-laki di sampingnya itu mengangguk.
Beranda itu menghadap halaman samping kastil, tempat di mana sebuah rumah kaca berkubah dibangun. Ashlen pernah dengar bahwa rumah kaca di kastil Winterwall ditumbuhi oleh tanaman-tanaman langka yang sebagian besarnya beracun. Rumah kaca itu dikelola langsung oleh selir raja terdahulu yang merupakan ibunda Raja Habriel.
“Jadi kau berasal dari Winterwall, ya.” Ashlen membuka percakapan.
Thann meliriknya sebentar, sedikit heran dengan bagaimana Ashlen bisa mengetahuinya. “Ayahku bangsawan Winterwall. Kami tinggal di Maple Island sekarang.”
“Ibumu dari Malice Island?”
“Apa?” Thann tidak menutupi keterkejutannya, kedua alisnya terangkat dengan pandangan bertanya-tanya. “Bagaimana kau tahu?”
“Tadinya tidak, tapi kau memberitahuku.”
“Kapan?”
“Barusan. Saat kau bilang, ‘bagaimana kau tahu?’. Itu saja sudah cukup. Selain itu, membungkuk kepada patung umumnya dilakukan orang-orang Malice.” Ashlen tertawa kecil. Ia teringat dengan patung Lord pertama Malice Island yang dibangun di tengah-tengah Kota Tearsong. Orang-orang biasa ke sana untuk berdoa, meminta berkat, atau sekadar membungkuk hormat. “Para pengawal istana bahkan tidak melirik kedua patung penjaga itu. Tapi, kita malah membungkuk seperti akan mengajak putri berdansa.
“Itu kebiasaan, bergerak sesuai insting. Sayapmu yang hitam mengingatkanku pada Malice Island, tetapi melihatmu bisa menemukan kendaraan khusus yang mampu membawa kita sampai ke kastil membuat dugaan bahwa kau berasal dari sini menguat. Kalau ayahmu bangsawan Winterwall, maka sisanya ibumu. Itu jelas sekali.”
Thann mengangguk-angguk paham. Ia tersenyum kecil. “Ibuku bangsawan dari Keluarga Azazel.”
“Wow!” Gantian Ashlen yang terperangah. Wajah terkejutnya seperti dibuat-buat. “Pangeran, huh? Darah bangsawanmu kental sekali, ya.”
Thann tidak berkomentar. Ia malah balik berkata, “Kau sendiri juga berasal dari Malice Island, kan?”
“Sekali lihat saja langsung jelas, bukan? Kau tidak akan bisa membuat kesimpulan apa pun seperti yang kulakukan.”
Thann tertawa kecil sambil menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jari. Tawa miliknya terdengar seperti gemercik air hujan yang jatuh ke tanah. “Dengan rambut sehitam dan mata semerah itu,” katanya sambil melirik Ashlen dengan sepasang iris gelap. “Tentu mudah. Sayang, kau tak punya sayap.”
Ashlen berbalik dan bersandar di pagar. Tangannya bergerak menyentuh beberapa kepangan kecil rambut di kepala kanannya, terus bergerak sampai ke belakang untuk memperbaiki kucir rambut. “Kalau aku punya sepasang sayap sepertimu, Lord pasti akan mengangkatku menjadi anaknya.”
Keduanya menoleh saat suara berat pintu perpustakaan terdengar dan tudung jingga bertelinga kucing milik Mevel menyembul. Anak buah kanselir yang mengantarnya menunggu di depan pintu lalu membungkuk pergi bersama belasan pengawal di perpustakaan saat anak laki-laki yang kini berada di tempat Wolfe dan Nastradamus mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.
“Yang Mulia Raja memberi kita tantangan,” katanya, lantas mendudukkan diri di sofa tunggal berlengan. Ashlen dan Thann duduk di sofa panjang sebelah kanan tangannya, sementara Wolfe dan Nastradamus di sisi berseberangan.
“Seminggu sebelum trip ini dilaksanakan, Yang Mulia Raja Habriel merayakan festival untuk menyambut hari ulang tahun sang Pangeran. Di hari ketiga festival itu diadakan, terjadi penyerangan terhadap Library Wood oleh sekelompok orang tak dikenal. Mereka mengambil beberapa buku dan diduga hendak mencari informasi mengenai Angelogy.” Mevel menatap anggota tim bergantian. “Angelogy adalah tempat yang sangat rahasia. Bahkan ras Malaikat belum tentu mengetahuinya.”
Ashlen dan Thann mengangguk setuju. Bagi mereka, tempat itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
“Jadi dugaan tersebut bisa saja tak benar. Kelompok ini mungkin mengincar hal lain.” Mevel menjeda sebentar dan menghela napas. Suaranya dipelankan. “Aku dan Raja Habriel menduga, bahwa mereka menginginkan benda yang juga kita cari.”
Seluruh tim menahan napas. Mengapa ada orang yang menginginkan benda untuk objek belajar dan koleksi sekolah?
“Seperti yang kita tahu, sekolah sudah mengurus kedatangan kalian kemari sejak berbulan-bulan lalu. Entah bagaimana, informasi tersebut bocor baru-baru ini dan target mereka pun berubah menjadi kita. Kelompok ini tidak bisa menemukan benda tersebut karena hanya Raja Habriel yang bisa memberi petunjuk lokasinya.” Mevel menyandarkan punggung dan menghela napas. “Sayangnya, Keluarga Diamont House—bangsawan yang bertanggung jawab atas pertahanan dan perlindungan—belum menemukan keberadaan kelompok ini. Mereka bisa berbaur dengan mudah di City of Angels, pemukiman utama para malaikat atau Warmfill jika berasal dari ras lain.”
“Ini jelas sekali umpan.” Ashlen memotong. Semua menoleh padanya yang sedang menekuk jemari tangan bergantian sampai berbunyi. “Mereka sengaja melakukan penyerangan itu agar Raja memerintahkan kita mengawasi Library Wood. Yang Mulia Habriel tak mungkin memberikan petunjuk jika ada pihak lain di luar sana; berkeliaran, menginginkan hal yang sama, dan berpotensi membahayakan. Kemungkinan besar kelompok ini akan membiarkan diri tertangkap oleh kita. Dengan begitu, Raja Habriel menyerahkan petunjuknya, tim inilah yang akan diserang.”
Mevel mengangguk setuju. “Raja Habriel juga berpikir demikian. Dengan kurangnya informasi mengenai para penyerang, beliau menugaskan Tim Tujuh untuk menjaga Library Wood.”
“Tunggu!” Nastradamus berseru dengan raut khawatir, “bukankah itu yang mereka inginkan? Agar kita berada di Library Wood?”
“Justru karena itulah kita harus ada di sana.” Thann menyahut sambil melipat tangannya di depan dada. “Berada di Library Wood mungkin satu-satunya cara untuk menyergap mereka. Kalau keluarga bangsawan saja tak mampu mencari mereka, apa mungkin kita bisa?” ia berdecak, “bersikaplah realistis.”
Nastradamus mengangguk pelan, setuju penuh keraguan.
“Maksudmu, kita menjadi umpan?” Wolfe menaikkan alisnya.
“Benar. Kita adalah umpan,” Mevel mengangguk, “umpan yang akan menghentikan sang predator.”
“Tugas ini mempertaruhkan banyak hal. Benda yang kita cari mungkin hanya akan menjadi objek belajar kalian dan koleksi sekolah. Namun, sekecil apa pun daya magisnya, tidak boleh dimanfaatkan untuk hal buruk.”
Pesan itu terngiang-ngiang di dalam kepala Nastradamus. Terlepas dari Mevel tidak bicara seperti anak seusianya, ia juga merasa berat hati ketika anak itu memutuskan agar tim melakukan penjagaan secara terpisah.
Library Wood adalah hutan dengan luas berhektare-hektare. Seluruh pohon di hutan ini pun berdaun selembar kertas. Setiap pohon melambangkan sebuah buku—walau tetap ada buku-buku kuno yang disimpan dalam rak-rak khusus. Pohon-pohon itu disebut Pohon Ilmu. Library Wood menggunakan sejumlah magicnologi di dalamnya, yakni seperangkat teknologi bersihir. Seperti puluhan robot berbentuk burung untuk mengantar pengunjung ke pohon yang sesuai dengan apa yang mereka cari. Ada juga piringan-piringan yang bisa melayang dan kursi bersayap untuk meraih kertas di pohon-pohon tertinggi atau jika ingin berkeliling tanpa khawatir kehilangan tempat. Pohon-pohon Ilmu yang masih dalam bentuk bibit dijaga ketat di bawah pengawasan pustakawan dan robot khusus sampai bisa menumbuhkan kertas pertamanya. Seiring berjalannya waktu, pohon-pohon di Library Wood makin rimbun karena mereka menumbuhkan setiap kejadian penting yang tengah berlangsung atau informasi yang kelak akan berguna.
Nastradamus menekan kepalanya. Mengapa hingga saat ini belum ada pengelihatan apa pun? Ia menaikkan potongan rambut yang sedikit menutupi mata kiri, berharap bisa melihat sepotong masa depan yang berguna. Ia menarik napas. Udara di sekitar panas dan dingin sekaligus. Bulu kuduknya berdiri. Sensasi aneh itu merayap di atas kulitnya, seperti seekor laba-laba. Selalu seperti ini ketika masa depan akan terlihat, tetapi sebelum sempat melihat apa pun, selembar kertas Pohon Ilmu terjatuh sepuluh langkah jauhnya.
Nastradamus mengerjap dan sensasi aneh tadi menghilang. Ia mengernyit curiga dan terjungkal kakinya sendiri saat lembaran itu bergerak-gerak seperti ikan kekurangan air.
Cairan hitam dan kental memuncrat dari dalam kertas tersebut, mengotori tanah di sekitarnya. Kertas itu masih memuntahkan tinta tanpa henti, makin lama terus melebar hingga mengubah tanah di sekitarnya menjadi hitam mengilap seperti kain basah. Nastradamus terpaku melihat jemari tangan yang muncul dari dalam kertas. Pertama hanya jari, kemudian lengan, dan dengan cepat sudah sampai pinggang. Makhluk itu menopang tubuh dengan kedua lengan seperti baru keluar dari kolam. Ia bergetar ketakutan, menjerit kaget lalu jatuh tak sadarkan diri ketika sosok tanpa wajah dari dalam kertas itu berusaha menggapainya.