Maple High School Academy Year 2

Maple High School Academy Year 2
BLUE LIGHT STONE - Sonne



Sonne


"AKU TAHU APA yang sedang kau pikirkan," kata Vendard.


Lily menggeleng pelan. "Jangan sok tahu!" Kakinya berdiri menghadap ke luar Chrisella Castle dan menatap sebuah sinar yang tampak memancar menerangi pepohonan. "Warna oranye yang lebih besar adalah sonne."


Mr. Samael membenarkan. "Ya. Matahari mempunyai energi yang begitu besar sehingga warna yang dihasilkan tidak akan pucat. Mungkin saja akan sama persis seperti golden hibiscus."


Vendard menatap dengan perasaan lega karena tidak perlu membuat kuali yang berisikan api. Ia sangat bersyukur bukan karena apa-apa, tubuhnya akan merasa kepanasan jika melakukan itu. "Jadi aku tidak perlu membuat kuali? Baiklah, akan kumasukkan lagi rantai ini!"


Claryn melentikkan jemari. Sebuah cahaya kecil menerobos mata Vendard sampai membuatnya memejam dalam beberapa detik. "Clar, apa yang kau perbuat? Kau ingin aku mengikat tubuhmu? Kau rasakan—"


"Kau harus tetap membuat kuali!" potong Claryn.


Vendard menggerakkan kepala pelan dengan bahu terangkat. Mulutnya ingin saja berkata tidak, tetapi sesuatu seperti menahannya.


  "Kau harus tetap membuatnya, Vendard!" titah Mr. Samael. Ia membalikkan badan menghadap meja. "Cahaya matahari yang begitu panas dengan kegunaan kuali yang akan tetap menyimpan suhunya justru hal bagus."


Vendard menghela napas pasrah. Sudahlah, mereka tidak akan merasakan apa yang dirasakannya. Berkorban demi Nona James. Tidak! Apa hubungannya?


Setelah menyusun cara pembuatannya, Tim Empat keluar dari Chrisella Castle dan berkumpul di halaman belakang.


Mr. Samael menatap langit. Matahari bersinar dengan terang. "Semoga kita membuatnya dengan benar! Aku akan membuat sebuah mantra di ruang multifungsi. Jika masih ada kendala, kalian cukup menyebutkan namaku. Aku akan segera datang." Ia menatap ketiga muridnya.


Mereka mengangguk mengerti lalu Mr. Samael menghilang dengan percikan asap.


"Baiklah, mari kita mulai! Clar, kau harus menyerap cahaya matahari dan membuatnya di cetakan, sedangkan aku akan meniupkan kehidupan ke dalamnya!" titah Lily.


Claryn menatap yakin ke arahnya. "Baiklah!"


Vendard merasa sedikit bingung. "Untuk apa aku membuat kuali jika tidak ada gunanya?"


Lily dan Claryn sama-sama menggelengkan kepala.


"Untuk apa?"


"Kau masih belum paham, Vendard? Kau gunakan kuali untuk menyimpan bunga itu. Mungkin kau juga bisa menggunakan kuali untuk mengarahkan cahaya!” jelas Lily.


Claryn ikut menjelaskan,  "Aku hanya butuh cahaya dari matahari, Vendard yang kuat, bukan menyerap langsung dari matahari. Kalau aku akan menyerap semua cahayanya, siapa yang akan menerangi Bumi? Kau hanya perlu meletakkan kuali itu di bawah cahaya matahari yang jatuh—"


"Memantulkan cahaya maksudmu?" potong Vendard sembari menatap gadis itu.


Lily berdiri dengan geram dan mendorong Vendard. "Cepatlah! Waktu kita tidak banyak!"


Vendard tidak melakukan perlawanan apa pun. Ia melangkah dengan membawa kuali dan duduk di bawah sinar matahari. Tangannya mengatur posisi kuali yang mulai menyerap pantulan tersebut dan mengarahkannya ke arah Claryn. Sementara itu, Claryn merentangkan kedua tangan. Cahaya tersebut melayang, menggumpal tepat di antara kedua telapak tangannya, dan perlahan jatuh ke dalam cetakan.


"Lily, kau boleh meniupkan kehidupan ke dalamnya di samping aku yang terus membuatnya!" perintah Claryn.


Lily mengangguk. Matanya terpejam dalam beberapa detik dan kembali terbuka. Mulutnya sudah tampak seperti lingkaran yang kecil. Sebuah kabut putih tipis melayang perlahan menyentuh cetakan. Satu per satu kelopak mulai tumbuh. Claryn memberikan isyarat kepada Vendard untuk memperbesar kualinya. Vendard mulai membulatkan tangan membentuk lingkaran besar. Perlahan-lahan kuali tersebut membesar dengan cahaya yang sangat terang.


Sementara itu, Mr. Samael yang berada di dalam ruang multifungsi sudah berhasil membuat beberapa mantra. Ia membuat mantra peluluh untuk Fenrir dan mantra yang membuat warna dari bunga imitasi itu bertahan lama.


Vendard membiarkan kuali dan menahannya dengan dudukan. Ia langsung menghampiri Claryn dan Lily karena tubuhnya tidak tahan dengan panas matahari yang menyengat. Matanya meneliti cahaya yang mulai terbentuk dari cetakan bunga. "Apakah cahaya yang aku pantulkan tidak begitu besar?" tangannya menunjuk cetakan, "lihatlah, cahaya dari bunganya meredup!"


Claryn dan Lily berhenti dan menatap cetakan. Cahaya itu memang sudah membentuk bunga periwinkle, tetapi perlahan memudar.


"Cahayanya mampu bertahan sebentar," jelas Claryn.


Lily menatap Claryn dan Vendard secara bergantian. "Bukankah yang kita lakukan sudah benar?"


"Ya, semua prosesnya sudah benar. Cahaya yang aku pantulkan juga cukup terang. Apa seharusnya kita tidak menggunakan kuali?"


Claryn dan Lily memiliki pemikiran yang sama. Mungkin saja mereka tidak perlu menggunakan kuali. Masih banyak berbagai macam benda yang bisa mereka gunakan.


"Apa aku harus membuat benda yang lain?" tawar Vendard.


"Ya. Mungkin sebuah cermin?" Claryn dan Lily berujar bersamaan.


Setelah mengubah kuali menjadi cermin, Vendard kembali memantulkan cahaya yang diserap oleh Claryn dan membentuknya ke dalam cetakan dengan Lily yang terus meniupkan kehidupan. Bunga periwinkle sudah tumbuh sempurna dengan lima kelopak, tetapi cahayanya tetap saja meredup. Mereka menghela napas pasrah. Setidaknya itu berhasil walaupun cahayanya meredup. Mereka merasa sedikit puas dan tersenyum melihatnya.


"Sedikit, Sir. Tetapi, kami berusaha mengulangnya dan mengubah kuali menjadi cermin," jawab Vendard.


Mr. Samael melangkah dan sampai di depan cetakan.


Claryn menghela napas. "Warnanya hanya mampu bertahan sebentar, Sir."


Mr. Samael langsung bertindak dengan membacakan mantra ke dalam cetakan tersebut. Sebuah sinar menghasilkan warna yang begitu pekat meskipun cahayanya sedikit meredup.


Vendard meneliti. "Jika menyimpan di tempat dengan suhunya yang sama seperti matahari, mungkin warnanya akan bertahan lama."


"Kau harus menjaganya!" titah Lily.


"Sampai tiba saatnya untuk kembali menemui Fenrir. Kau pasti bisa, Vendard yang kuat," tambah Claryn.


Vendard berjalan perlahan. "Ya, aku setuju, tetapi mustahil jika menyembunyikannya di dalam tubuhku. Aku akan merasa kepanasan dan tidak bisa bertahan selama itu."


"Aku yang akan menyembunyikannya," pungkas Mr. Samael.


Setelah syarat dari Fenrir selesai, mereka kembali meminta penjaga untuk mengantarkan ke Gleitser Wood. Jika sudah berhasil dan ingin kembali ke kastil, mereka hanya perlu menggerakkan tangan di dalam arus Gleitser.


Tim Empat sudah berada di tempat Claryn yang terkena asap napas dingin. Malam di tengah-tengah Gleitser Wood tidak terlalu menakutkan karena bulan yang bersinar sempurna. Tidak ada tanda-tanda Fenrir di sana. Kabut-kabut melayang membentuk sebuah gumpalan besar lengkap dengan goresan cahaya biru. Mereka menatap tidak mengerti. Mungkinkah ada hewan lain selain Fenrir? Gumpalan kabut itu tampak menyatu dan membentuk seekor makhluk. Makhluk yang sangat mereka kenali. Geraman kembali terdengar, cahaya tajam dari matanya terus menyala. Perlahan-lahan asap napas dingin membentuk sebuah tubuh dan muncullah Fenrir.


"Kalian kembali."


Tim Empat berdiri tegap dengan badan yang begitu kokoh. Sebuah keyakinan akan kemenangan terpancar di wajah mereka, tetapi seakan ada yang aneh dengan tubuh Fenrir. Ia menjadi lebih besar.


"Apa nama dari bunga tersebut?"


"Golden hibiscus," jawab Lily mewakili tim.


Fenrir tidak tahu bahwa bunga yang mereka bawa adalah imitasi. Mereka saling pandang dengan harapan bunga tersebut dapat bekerja dengan baik untuk meluluhkan hati Fenrir. Hewan itu menyemburkan asap napas dingin. Wajahnya begitu senang dan mungkin tertawa.


"Cepatlah! Salah satu dari kalian harus memasukkannya ke mulutku!"


Oh, tidak! Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Fenrir? Mr. Samael, Claryn, dan Lily menatap tajam ke arah Vendard.


"Vendard yang kuat dan berani, bukankah kau memiliki hubungan darah dengan Fenrir? Cepat kau berjalan maju untuk memasukkannya!" titah Claryn dengan suara pelan.


Vendard tidak bisa lagi mengekspresikan wajahnya yang sangat ketakutan. Ia menelan ludah kuat-kuat dengan jantung yang berdegup hebat. Tangannya begitu gemetar sampai menjalar ke tubuh. "Bagaimana jika ia menggigit tanganku? Sama seperti yang pernah dialami Tyr? Tidak! Aku tidak mau."


"Cepatlah! Aku sudah tidak sabar!"


"Tunggulah sampai salah satu di antara kami bersedia!" pekik Mr. Samael.


Tim Empat berembuk terlebih dahulu sebelum benar-benar menyerahkan bunga tersebut. Ketakutan ketiganya sama seperti Vendard. Bagaimana jika Vendard benar-benar kehilangan tangannya? Tidak bisa dibayangkan.


Mr. Samael mengajak ketiga muridnya untuk sedikit menjauh dari Fenrir. "Kau yang harus memberikannya, Vendard."


"Tidak! Sebaiknya kau saja, Sir!" tolak Vendard.


Lily berjalan ke segala arah dengan tangan yang menempel di dagu. Rupanya ia sedang memikirkan sesuatu. Setelah mendapatkannya, ia berhenti dan menghadap tim. "Aku akan membuat tangan palsu dari batang pohon."


Claryn tersenyum dan menambahkan, "Aku yang akan menyalurkan cahaya untuk mengubahnya menyerupai tangan asli!"


Sungguh, Vendard tidak mengerti dengan rencana mereka. Ia tidak rela jika tangannya harus menjadi tumbal, tetapi bagaimana lagi? Daripada Bumi hancur karena serangan Asteroid, tidak apa jika ia harus merelakan tangan. Meskipun di dalam hati ingin pergi dan tidak akan mengikuti field trip jika tahu akan begini.


Mr. Samael menepuk pundak Vendard. "Tenang saja, aku akan memberikan mantra supaya tangan palsu tersebut berjalan sendiri ke dalam lidah Fenrir!"


"Kau serius, Sir? Syukurlah, tanganku akan tetap utuh."


"Aku tidak bisa menunggu lama! Siapakah salah satu di antara kalian yang bersedia memasukkannya?" Suara pohon yang tumbang karena goresan duri es tidak mereka pedulikan dan meskipun suara Fenrir terus mendengung di telinga.


Lily tak tahan mendengarnya karena pengeng. "Tunggulah, Fenrir!"


Fenrir benar-benar tidak sabaran. Untung saja Tim Empat baik hati sehingga tidak lagi mengepungnya.