
THE TENTH
BARU SAJA MELEWATI portal, seseorang langsung menyergap Elleanor. Ia mengedarkan pandangan. Sebelumnya ia hanya meninggalkan Mr. Jonathan, Nathan, Tristian, dan Karkadann yang masih terkunci oleh energi guru Zoologi—kini tampak bertambah berkali-kali lipat. Ia juga menatap wujud werewolf Mr. Jonathan yang masih terpaku karena harus menjaga kedua portal tetap terbuka dan mengunci Karkadann.
Salah satu dari gerombolan itu mendekati Elleanor. Tubuhnya kekar dengan pakaian minim dan keringat yang membuat tubuhnya berkilauan. “Terima kasih atas bantuanmu,” ucapnya yang dipiting kedua anak buahnya.
Mr. Jonathan lekas menutup portal begitu Elleanor berhasil kembali, termasuk portal Mikalea. Walaupun Mikalea belum kembali, ia tak ingin akar caerulea direbut gerombolan barbar ini.
Pemimpin gerombolan lekas merentangkan tangan ke arah Mr. Jonathan. Kobaran api merah keluar dari telapak tangannya ke arah moncong werewolf Mr. Jonathan. Seketika, ia lepas kendali dan Karkadann melesat pergi dalam hitungan detik. Mr. Jonathan menjadi bulan-bulanan gerombolan barbar yang menguasai kemampuan api. Beberapa dari mereka menyerang dengan api hingga ia melangkah mundur menjauh, bahkan ada beberapa bagian bulunya yang terbakar.
Situasi yang tepat saat seluruh mata terpana menyaksikan aksi perundungan terhadap werewolf raksasa itu. Elleanor mencoba menyerang orang yang memeganginya lalu berlari ke arah Tristian dan Nathan. Sebuah tongkat kayu berwarna gelap ditodongkan oleh orang yang ditugaskan menyandra Nathan dan Tristian. Elleanor balas menatapnya tajam tanpa rasa takut sembari memberikan daun agas pada Nathan.
“Suruh Tristian makan ini. Efeknya tidak akan sebesar jika diramu, tapi setidaknya bisa sedikit mengurangi gejalanya,” ucap Elleanor.
Nathan lekas menjejalkan beberapa helai daun agas, sementara Elleanor menjaga keduanya dari pria barbar. Begitu melihat Tristian memberi sedikit respons, ia langsung menggerakan air dari dalam pasir yang menyembur menyerang penyandra.
Laki-laki berambut pirang itu berlari menyusul Mr. Jonathan. Beberapa sumber air menyembur dari dalam pasir, memadamkan api yang terus dikobarkan untuk memojokkan guru Zoologi itu. Begitu musuh lengah karena serangan air Nathan, Mr. Jonathan segera menerkam pemimpin mereka. Namun nahas, ia berhasil menghindar dan mengejek Mr. Jonathan.
Mr. Jonathan mengentakkan satu kaki werewolf-nya. Seketika beberapa anak buah gerombolan barbar itu terlempar. Namun, sebagian besar yang memiliki kemampuan di atas rata-rata masih berdiri dengan tegap. Werewolf berbulu hitam itu menyeringai melihat keangkuhan mereka karena tak terpengaruh dengan serangan yang ia berikan.
“Hanya segini kemampuan anjing ini?” ejek pria bertubuh kekar dengan kepala botaknya.
“Sir!” Terdengar suara Mikalea dari kejauhan, terbang ke arah keributan.
Pemimpin gerombolan barbar itu sepertinya pria berkepala botak. Ia menghadang Mikalea sembari memicingkan mata. Bibirnya terangkat sebelah begitu melihat wajah Mikalea baik-baik. “Halo! Lama tidak berjumpa,” sapanya lalu menoleh ke belakang sayap Mikalea. “Masih berguna meski tidak sempurna. Orang tuamu hebat juga.”
Mikalea mengerutkan dahi. Mata abunya mengamati setiap lekuk wajah pria yang memiliki garis penuaan yang tampak jelas. Ia mengenal tatapan itu meski wajahnya terlalu samar untuk diingat. “Kau orang yang memotong sayapku!”
Pria itu tertawa. “Aku tidak berniat memotong sayapmu. Kau sendiri yang mendatangi pedangku waktu itu.”
Mr. Jonathan segera menerkam pria itu, tetapi gerakannya bisa dibaca. Pria itu mengarahkan telapak tangan pada Mr. Jonathan. Nathan sigap menghadang api yang berkobar itu dengan air sebelum melukai Mr. Jonathan. Begitu keadaan berbalik, Mr. Joanthan berhasil menyandra pemimpin mereka. Mikalea, Nathan, dan Elleanor melingkar melindungi tubuh werewolf raksasa jelmaan Mr. Jonathan.
“Serang mereka! Kalian kira mereka akan benar-benar membunuhku, huh?” teriak pria botak yang diinjak dengan satu kaki depan Mr. Jonathan.
“Satu kali kalian berani menyerang, akan kucabik dia dengan taring dan cakarku,” ancam Mr. Jonathan sembari mengeluarkan cakar runcingnya.
Tak berapa lama segerombolan pria berjenggot menghampiri dengan menarik seutas tali merah yang berkilauan, mencencang leher Karkadann. Hewan itu digiring dengan kasar.
“Hampir saja kita kehilangan buruan kita,” ucap salah satu dari mereka sebelum akhirnya terkejut begitu melihat posisi pemimpinnya berada di bawah kaki seekor werewolf.
Mr. Jonathan menunjukkan taringnya, lengkap dengan liur yang menetes. Tak gentar menghadapi tali merah berkilauan lain dari saku mereka meski ia tahu bahaya dari benda itu bagi makhluk berdarah hewan sepertinya.
Mikalea mengeluarkan sayap pedangnya, siap bertarung.
“Kale, kau dapat barangnya?” bisik Elleanor.
Mikalea mengangguk.
“Oi! Kalian lupa meninggalkan dia?” seru seorang pria muda tanpa senjata. Ia sedang mencengkeram kerah baju hitam Tristian. Tristian yang masih lemah hanya menjadi boneka hidup. Samar-samar kesadarannya kembali meski tubuhnya masih sulit dikendalikan.
“Kalian tinggalkan Tristian sendiri?”
“Kukira dia bisa mengurus dirinya setelah mendapat daun agas,” terang Elleanor.
“Lepaskan aku! Aku mau muntah jika diputar-putar,” ucap Tristian dengan lidah yang masih kelu. Kalimatnya sama sekali tak bisa dipahami siapa pun yang mendengarnya. Ia terus bergerak ke kanan dan kiri mengikuti gerakan tangan pria muda itu.
“Sudah kubilang, aku mual,” kata Tristian lemah sembari menikmati tubuhnya yang tergeletak di pasir abu.
Terdengar peluit panjang dari langit lalu begitu banyak orang bersayap dengan pakaian zirah modern terbang menukik. Seketika gerombolan barbar itu kalang kabut. Tanpa melepaskan pemimpinnya, Mr. Jonathan tegak berdiri memperhatikan beberapa pasukan gerombolan musuh dan tersisa beberapa pasukannya.
“Kale, kau tak apa?” Pria muda yang memiliki wajah hampir mirip dengan Mikalea bertanya.
Mikalea mengangguk. Ia siap bertarung bersama tim keamanan Whispering Sand, tetapi Mr. Jonathan menahannya.
“Selesaikan tugas kita! Rebut kembali Karkadann itu. Dia jinak jika tali merah itu masih mengikatnya,” titah Mr. Jonathan.
Mikalea, Elleanor, dan Nathan pun bekerja sama mengambil alih kendali tali itu. Ketiganya mendapat perlindungan ekstra dari wujud werewolf Mr. Jonathan dan pasukan keamanan Whispering Sand yang dipimpin Dominic dan Brevitio.
Proses penyatuan akar dan caerulea membuat pergesekan energi. Angin badai membuat gulungan debu pekat mengitari. Tubuh Mikalea rasanya seperti ditarik oleh akar di genggamannya. Kabut tebal dari pasir kelabu membuat jarak pandang sangat pendek, bahkan Elleanor yang berdiri beberapa langkah darinya pun tak bisa dilihat.
Perlahan kabut menipis begitu tetesan air mengguyur. Awan gelap mini yang Nathan buat berhasil mengurangi polusi udara. Setangkai bunga caerulea lengkap dengan akarnya pun berhasil disatukan Mikalea.
“Kale, cepat pergi sebelum ada yang melihat dan berusaha merebutnya!” usul Nathan.
“Kami akan menyusul dengan Mr. Jonathan. Kau bawa Tristian, dia harus segera mendapat penanganan,” sambung Elleanor.
Siapa pun yang berusaha menggapai Mikalea, akan berhadapan dengan kakaknya yang paling posesif, Dominic. Setelah berhasil kabur dari peperangan itu, Mikalea melesat terbang ke arah lembah dekat Anxo-megapolis, sedangkan Mr. Jonathan meminta Dominic dan Brevitio menarik mundur pasukannya begitu Mikalea berhasil menjauh.
Mr. Jonathan memegang kendali tali merah berkilauan yang mengikat leher Karkadann. Ia menatap gerombolan barbar itu dengan tatapan mengancam, sebelum akhirnya melepaskan ikatan tali. Seketika hewan itu menghambur dengan ganas dan memburu gerombolan barbar yang memasang tali di lehernya.
“Terima kasih atas bantuan kalian.” Mr. Jonathan menundukkan kepalanya pada Dominic dan Brevitio.
Griffin cokelat itu pun merunduk, memberi penghormatan pada werewolf besar di hadapannya. Kemudian, turut mengantar mereka menyusul Mikalea ke lembah dekat Anxo-megapolis untuk kembali ke Winterwall.
Mikalea mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lembah begitu berpamitan pada Brivito dan Dominic. Ia menatap Tristian yang bahkan tak mampu untuk mengejeknya atau sekadar menyombongkan diri. “Dengar! Kita masuk ke pasir isap. Kita akan tiba di laut dangkal Tears of Sahara. Semoga tepat waktu.”
“Skyship pasti masih menunggu sampai kita datang. Semoga kita bisa bertemu The Prof. Di skyship, hanya The Prof satu-satunya harapan kita,” ucap MR. Jonathan.
Kelimanya masuk ke pasir isap. Sekita pasir itu melemparkan kelimanya ke dalam lautan dangkal. Nathan menjaga Tristian selama dalam lautan. Tak sulit baginya untuk berenang sembari menyeret tubuh lemah seseorang. Kelimanya pun menepi dari lautan dangkal Tears of Sahara yang airnya berwarna merah muda. Kelimanya bernapas lega begitu menatap langit berwarna biru dengan awan tipis yang tersebar.
“Hei, hei! Pelan, kawan!” pekik Mr. Sol, staf hotel yang mendampingi Tim Lima.
Tristian yang baru saja beranjak duduk setelah membuka mata pun terbelalak lalu memperhatikan sekitar. Dinding nuansa kayu, ranjang empuk, meja kayu dengan segelas air putih, lampu dinding yang meremang. “Apa ini mimpi?” gumamnya.
“Tris?” Suara semringah Nathan terdengar nyaring. Gurat senyum di wajahnya tampak natural. Ia menghampiri laki-laki berpakaian serba hitam dengan jubah oranye yang tergantung di tiang dekat ranjang. “Teman-teman, Tristian sadar!”
Mikalea dan Elleanor bergegas masuk ke ruang pemulihan di Maple Hostelry.
“Sudah berapa lama aku tidak sadar?”
“Kurang lebih satu minggu. Kau melewatkan perjalanan bersama kami,” goda Mikalea.
“Eh, mana mungkin!”
“Kau tidak sadar satu hari, Tris! Oh, ya, kau memiliki utang pada tumbuhan agas di Ubudtaal Sand. Utang permintaan maaf dan nyawa pada mereka. Kau harus minta maaf karena tidak sengaja melukai mereka dengan mantra saat kita berkelahi, juga berkat daun dari mereka kau bisa bertahan sedikit lebih lama untuk dibawa sampai kemari,” terang Elleanor.
Tristian tertegun beberapa saat. Sekelebat ingatan tiba-tiba muncul di benaknya. “Terima kasih sudah membawaku kembali dan tidak meninggalkanku.” Matanya berkaca-kaca. Mata hitam berairnya menemukan sosok Mr. Jonathan di depan pintu. Seketika ingatan perkelahian di Ramadtaal Sand pun muncul. “Sir, maaf aku telah memandangmu sebelah mata.”
Kelimanya pun berkumpul untuk mengenang kejadian selama seminggu kemarin dengan tawa dan haru. Saling menceritakan perasaan masing-masing di setiap terjadi tragedi. Satu per satu bercerita kejadian paling berkesan dan tak akan pernah terlupakan.