
Lord of Darkness
“LORD OF DARKNESS, jumlah korban Midnight Phantasmagoria kali ini 829 orang. Dua kali lipat dari angka biasanya.”
“Jangan khawatir, semua berjalan sesuai rencana.”
“Mohon maaf kalau saya lancang, Lord, tetapi kami mendapat kabar bahwa penjaga portal sengaja mempersulit perizinan ke luar pulau beberapa hari sebelum kejadian—”
“Kau tidak mendengarkan? Semua, sesuai, rencana!”
James memandangi langit yang penuh dengan awan hitam, bergulung dan berputar diiringi sambaran petir hitam di sana-sini. Jika bukan karena perintah langsung Kepala Sekolah untuk tidak berhenti sebelum mencapai kastil Lord of Darkness, pasti ia akan menyuruh kelompok berteduh, atau menyewa penginapan untuk semalam. Badai terlihat tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Barangkali ia bisa merapal barrier untuk melindungi mereka dari hujan, tetapi mantra tersebut akan menghabiskan mana-nya jika dipertahankan hingga kastil Lord of Darkness. Lagi pula terlalu riskan untuk menghabiskan mana ketika mereka tidak tahu bahaya apa yang akan menyambut sepanjang perjalanan.
“Sungguh menyusahkan.” James mendesis. Ia menatap Sam dari kejauhan. Bocah tersebut mengejar payungnya yang tertiup angin, terbawa jauh sampai ke gang-gang gelap. Beruntung Shalima menahannya sebelum Sam ikut hilang.
The Prof melihat koleganya yang bimbang dan melemparkan sebotol ramuan berwarna hitam-biru. “Ramuan anti air, minum setengah dan tuangkan sisanya pada pakaianmu. Kita menerobos badai, suka ataupun tidak.”
James menatap, tak percaya The Prof baru saja melemparkan botol ramuan yang harganya seperempat gaji bulanan. The Prof memberikan ramuan yang sama kepada para siswa sambil menyerukan supaya mereka segera berdiri dan berangkat.
Mereka menyusuri jalanan Kota Ruse yang kini sepi. Beberapa mata mengintip dari jendela, penasaran siapa yang masih berani menerjang badai. Gerobak dorong dan berbagai kios ditinggalkan begitu saja tanpa dirapikan, beberapa kantung berisi koin emas berserakan di lantai. Sam mengerutkan dahi, setidak penting inikah harta benda bagi mereka? Shalima menyadari sesuatu dan menyuruh Merlin menundukkan tongkatnya yang teracung ke langit. Langit berkilat hitam sekali lagi dan petir menggelegar dengan sangat kencang.
Petir hitam mendarat dari langit, meluluhlantakkan kios buah di sebelah mereka menjadi butiran debu. Sam yang hendak memungut koin di bawah kaki sontak menarik tangan, Merlin refleks merangkul senior di sebelahnya, dan seorang werewolf anggota kelompok Rafael yang pendengarannya lebih peka meringkuk sambil menyumbat telinga dengan jari. James hendak menyuruh mereka berteduh sebentar, setidaknya sampai petir berhenti menyambar. Namun, The Prof terus melangkah maju.
“Tetap berjalan! Tidak ada yang berhenti sampai kita mencapai kastil Lord of Darkness.”
Sam hendak mengatainya tidak memiliki hati, tetapi memang perintah Kepala Sekolah begitu. Ia membantu rekannya berdiri dan melipat sayap, mengantisipasi kalau-kalau petir tiba-tiba menyambar. Merlin hampir tertinggal karena kakinya masih bergetar dan jantungnya berdisko akibat sambaran petir yang tiba-tiba. Ia ingin pulang saja.
Mereka akhirnya mencapai ujung lain dari Kota Ruse. Gerbang keluar dipenuhi barisan peminta-minta yang tidak peduli dengan cuaca mengerikan. Sam melemparkan beberapa keping koin ke arah mereka dan segera diserbu. Ia sering mendengar kabar bahwa Malice Island adalah tempat yang penuh dengan kriminal, penipu, dan pemeras. Namun, suasana terasa relatif aman selama mereka melintas. Penjaga gerbang tidak mengacuhkan keberadaan mereka dan membiarkan peserta field trip keluar dari kota tanpa gangguan.
Mereka terus berjalan hingga Hutan Bayangan terlihat di depan mata. Hutan tersebut benar-benar penuh dengan pepohonan, sampai nyaris tidak ada celah yang bisa dimasuki oleh manusia. Sekarang mereka berada beberapa meter di pintu masuk hutan. Pepohonan di belakang bergerak menutupi jalur masuk. Tidak lama kemudian, sesosok makhluk melompat dari pepohonan. Makhluk tersebut bertubuh mungil—sekitar setengah meter, berkulit merah, dan mengenakan mantel cokelat tua. Kepalanya menyerupai burung dengan bola mata bulat yang bersinar dalam gelap. Sebuah lentera dipegang tangan kirinya, sementara di tangan kanannya terdapat sepucuk surat yang diberikan kepada The Prof. Makhluk tersebut membungkuk dan menunggu.
The Prof membuka surat setengah basah tersebut dan membaca isinya keras-keras. “Selamat datang di Hutan Bayangan. Saya akan memandu Tuan menuju kastil Lord of Darkness.”
Makhluk tersebut berkoak sebagai tanda meminta para tamu untuk mengikutinya dan mulai berjalan menyusuri Hutan Bayangan. Sam mengernyitkan dahi karena tidak melihat ada jalan yang cukup untuk dimasuki laki-laki dewasa seperti The Prof dan Pak James. Lentera yang dibawa makhluk tersebut didekatkan pada salah satu pohon dan pohon tersebut berubah menjadi transparan. Tidak seluruh pohon yang ada dalam hutan ini memiliki wujud fisik. Sebagian hanyalah ilusi yang dibuat Lord of Darkness untuk menyesatkan para penjahat yang berniat menyusup. Mereka segera mengikuti makhluk tersebut sebelum kehilangan jejak.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan kastil utama Heart of Malice. Kastil tersebut terbuat dari batuan alam berwarna hitam dengan ratusan celah yang berfungsi sebagai jendela pada dinding. Shalima secara naluriah merasakan bahwa mereka sedang diawasi oleh puluhan pasang mata yang tidak dapat mereka lihat. Makhluk berkepala burung yang mengantar memberi isyarat agar salah satu kelompok masuk ke kastil. James mempersilakan kelompok The Prof untuk masuk terlebih dahulu sebagai tanda terima kasih atas potion yang tadi diberikan. Akhirnya kelompok James berdiri di luar untuk mengeringkan pakaian mereka.
Merlin membuat api kecil di ujung tongkatnya untuk menghangatkan diri. Makhluk berkepala burung di sebelah mereka berjalan mendekat, ikut mengeringkan badan. Ia mengambil buku catatan perjalanan field trip dan mulai mencorat-coret halamannya.
Sam mengangkat alis. “Merlin, ngapain?”
“Menggambar satwa endemik Malice Island. Siapa tahu dapat poin plus.” Gadis tersebut mengubur wajah pada buku catatannya, mendongak sesekali untuk referensi model gambar.
“Kalau begitu lihat hewannya, jangan lihat aku!”
Sam dan kelompoknya memasuki pintu besar yang langsung terempas menutup. Mereka berjalan di atas karpet hitam yang digelar sepanjang jalan menuju ruangan utama Lord. Pintu berdekorasi tengkorak besar terbuka dan mereka disambut oleh Lord di atas singgasananya.
“Selamat datang di Malice Island. Silakan mengambil tempat duduk!”
Mereka duduk di sofa merah yang menghadap pada takhta Lord of Darkness. Di depan mereka, sebuah meja penuh dengan sajian yang terlihat asing. Makhluk berkepala burung tadi mendekat ke arah Lord of Darkness yang segera mengangkatnya ke atas pangkuan.
“Oh, Lotapple! Kerja bagus mengantarkan tamu-tamuku ke sini.” Lord of Darkness mengelus kepala makhluk tersebut.
Sam mengira bahwa Lord of Darkness sebagai pemimpin Malice Island adalah seorang yang menyeramkan, tetapi pemandangan ini mengatakan sebaliknya.
Shalima mengambil inisiatif untuk membuka pembicaraan. “Terima kasih, Lord telah menurunkan badai untuk mempermudah perjalanan kami ke kastil Yang Mulia.”
James melirik siswinya. Tidak salah Shalima dipilih menjadi prefek. Dengan adanya badai disertai petir yang menyambar tanpa ampun, kriminal-kriminal yang biasanya menyambut para pendatang mengurungkan diri.
Lord of Darkness menyeringai lalu tertawa lebar. “Murid Maple Academy memang benar-benar istimewa! Silakan menikmati suguhan khas Malice Island di depan kalian sambil menunggu badai selesai.” Ia kemudian memulai ceritanya. “Dulu, dulu sekali. Pada waktu Midnight Phantasmagoria pertama, sekelompok penyihir elite mendominasi malam dan menjarah kediaman para bangsawan.”
James menyesap teh, tidak berniat untuk menginterupsi. Midnight Phantasmagoria adalah satu malam yang menjadi tradisi Malice Island, di mana mereka dibebaskan untuk bertindak tanpa dikekang oleh peraturan. Ia teringat bahwa terdapat film dengan premis yang sama di dunianya dahulu.
“Peristiwa tersebut terulang lagi di Midnight Phantasmagoria kedua. Maka dari itu, saya memulai proyek untuk menyeimbangkan kekuatan antara kelompok yang diberkati dengan kemampuan sihir dan yang tidak.” Sam mengangkat alis. Inikah proyek yang melahirkan artefak tujuan field trip ini? “Sayangnya pada Midnight Phantasmagoria ketiga, kelompok tersebut tidak terlihat lagi. Menurut kabar angin, mereka diracuni sebelum malam berlangsung. Oleh karena itu, proyek tersebut saya batalkan dan prototipe percobaan dibuang begitu saja karena perlu dana yang besar untuk memeliharanya.”
“Lalu, Yang Mulia, di manakah prototipe tersebut dibuang?” Shalima mengejar kalimat Lord of Darkness, sedikit terlalu bersemangat untuk mencari artefak yang ditugaskan. Lord of Darkness mengangkat bahu.
“Siapa yang tahu? Sudah puluhan tahun sejak Midnight Phantasmagoria pertama. Barangkali ingatan saya yang mulai bermasalah.” Lord of Darkness melirik ke luar jendela. “Ah, badai rupanya sudah selesai. Silakan kalian segera memulai pencarian kalian. Sayang saya hanya bisa memberikan tujuh hari izin berkunjung.”
Dua penjaga yang mengenakan zirah dari ujung kepala hingga kaki mengantarkan mereka keluar dari ruangan. Sebelum pintu tertutup, Lord of Darkness berteriak kepada mereka. “Jangan khawatir, petunjuknya akan segera menemui kalian, kok!”
Kelompok James kini berdiri di depan gerbang utama kastil.
“Kita diusir.” Merlin merengut. Padahal ia masih ingin menikmati manisan khas Malice yang disuguhkan tadi.
James menggaruk kepala. Mereka tidak memiliki cukup petunjuk untuk pergi mencari artefak. Ia menimbang-nimbang pilihan untuk pergi ke Witchcraft Laboratory dan berkumpul dengan kelompok The Prof. “Untuk sementara, kita kembali ke City of Ruse dan menginap di sana. Saya akan hubungi The Prof dan menanyakan tentang clue yang diberikan Lord of Darkness kepada beliau.”
James memberikan perintah dan mereka berjalan melewati Hutan Bayangan untuk yang kedua kalinya. Ternyata pohon ilusi terlihat transparan jika dilihat dari arah kastil sehingga penghuninya dapat keluar dari hutan dengan mudah. Setengah jalan menuju Kota Ruse, Shalima mendengar sesuatu dari semak-semak di sekitar. Ia menyenggol siku Pak James.
“Sir, kita sedang diikuti.”
“Aku tahu. Satu orang di sebelah selatan, dua orang di barat laut. Siapkan barrier-mu dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan.”
“Sir, selatan di sebelah mana, ya?”
Belum sempat James menjawab, dua orang melompat dari semak-semak dan satu orang meluncurkan anak panah dari puncak pohon.